Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Inni Fadilatul Adawiyyah, Editor: Sholahuddin
Selasa, 14 April 2026 06:58 WIB
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang masuk semalaman. Aktivitas itu terus berulang hingga malam hari. Tanpa disadari, otak dipaksa menerima terlalu banyak informasi dalam waktu yang sangat singkat. Keadaan seperti ini membuat banyak orang merasa mudah lelah secara emosional. Tubuh mungkin tidak banyak bergerak, tetapi pikiran terus bekerja tanpa henti. Ada rasa cemas ketika tertinggal berita, takut jika pesan belum dibalas, dan merasa harus selalu mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan. Akibatnya, manusia sulit benar-benar beristirahat karena pikirannya terus dipenuhi berbagai hal.

Media sosial menjadi salah satu penyebab terbesar dari kondisi tersebut. Banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk scrolling tanpa tujuan yang jelas. Mereka berpindah dari satu video ke video lain, dari satu unggahan ke unggahan lain, tanpa benar-benar mendapatkan manfaat. Kebiasaan ini membuat seseorang merasa sibuk sepanjang hari, padahal waktunya habis untuk hal-hal yang tidak terlalu penting.

Dalam Islam, waktu dipandang sebagai sesuatu yang sangat berharga. Allah bahkan bersumpah dengan waktu dalam Surah Al-‘Ashr sebagai tanda bahwa waktu memiliki nilai yang besar dalam kehidupan manusia. Quraish Shihab menjelaskan bahwa waktu adalah modal utama manusia. Jika waktu tidak digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat, maka manusia akan berada dalam kerugian, baik di dunia maupun di akhirat (Nurchoironi dan Nurrohim, 2025). Masalahnya, banyak orang modern kehilangan kemampuan untuk mengatur waktu dengan baik. Mereka sering merasa tidak punya cukup waktu untuk belajar, bekerja, beribadah, atau beristirahat. Padahal, sebagian besar waktunya justru habis untuk membuka media sosial, menonton video pendek, membaca komentar, atau sekadar melihat kehidupan orang lain. Aktivitas yang tampak sederhana itu ternyata menguras energi mental karena dilakukan terus-menerus tanpa jeda.

Surah Al-‘Ashr menjelaskan bahwa manusia akan merugi kecuali mereka yang memiliki iman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran (Nurchoironi dan Nurrohim, 2025). Empat hal ini penting untuk menjaga seseorang tetap sehat secara emosional. Ketika seseorang memiliki tujuan hidup yang jelas, waktu tidak akan mudah habis untuk hal-hal yang sia-sia.

Kelelahan emosional juga muncul karena manusia modern terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Media sosial membuat seseorang terus melihat pencapaian, kebahagiaan, dan kesuksesan orang lain setiap hari (Badruddin, 2024). Ada yang terlihat sudah sukses di usia muda, memiliki pekerjaan bagus, tubuh ideal, atau kehidupan yang tampak sempurna. Hal-hal seperti itu sering membuat seseorang merasa hidupnya tertinggal.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya. Banyak orang hanya menunjukkan sisi terbaik dari hidup mereka, sementara kesedihan, kegagalan, dan masalah pribadi disimpan rapat-rapat. Ketika seseorang terus membandingkan dirinya dengan gambaran yang tidak utuh itu, ia akan lebih mudah merasa tidak cukup baik. Dari sinilah rasa cemas, sedih, dan lelah mulai muncul.

Selain itu, media digital juga membuat banyak orang terbiasa memahami sesuatu secara cepat dan instan, termasuk dalam urusan agama. Banyak konten agama hanya berisi potongan ayat, kutipan singkat, atau video pendek berdurasi beberapa detik. Akibatnya, sebagian orang merasa sudah memahami agama hanya dari satu potongan informasi tanpa berusaha mencari penjelasan yang lebih lengkap. Kesalahan memahami ayat seperti ini terjadi karena banyak orang hanya membaca terjemahan tanpa melihat tafsir, sebab turunnya ayat, dan penjelasan para ulama. Di media sosial, potongan ayat yang emosional dan provokatif jauh lebih mudah viral dibanding penjelasan yang tenang dan mendalam. Akibatnya, masyarakat menjadi terbiasa menerima informasi agama secara instan dan dangkal (Nurrohim dan Agami, 2025).

Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi cara berpikir, tetapi juga memengaruhi kesehatan emosional seseorang. Orang yang terlalu sering mengonsumsi konten penuh amarah, kebencian, atau permusuhan akan lebih mudah merasa tegang dan curiga terhadap orang lain. Ia sulit menerima perbedaan dan lebih mudah tersulut emosi (Hidayat dkk.). Pada akhirnya, hidup terasa semakin berat karena pikirannya dipenuhi oleh hal-hal negatif.

Surah Al-‘Ashr sebenarnya memberikan pelajaran penting bahwa manusia perlu saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (Nurchoironi dan Nurrohim, 2025). Artinya, manusia tidak cukup hanya memiliki ilmu, tetapi juga harus memiliki sikap tenang, sabar, dan bijaksana dalam menyikapi keadaan. Sikap ini penting di tengah dunia digital yang bergerak terlalu cepat dan sering membuat manusia bereaksi tanpa berpikir panjang.

Karena itu, hidup di tengah notifikasi membutuhkan kesadaran baru. Tidak semua informasi harus dibaca, tidak semua perdebatan harus diikuti, dan tidak semua pesan harus dibalas saat itu juga. Manusia perlu memberi ruang bagi dirinya sendiri untuk beristirahat dari kebisingan digital.

Mengurangi waktu bermain media sosial, membuat jadwal penggunaan ponsel, dan lebih banyak mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat dapat menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan emosional. Dunia digital memang tidak bisa dihindari, tetapi manusia tetap bisa memilih bagaimana cara menggunakannya. Jika tidak hati-hati, teknologi yang seharusnya membantu justru dapat membuat manusia kehilangan waktu, ketenangan, dan arah hidupnya sendiri.

Share:

Berita Terbaru

Pendidikan, Kepemimpinan, dan Masa Depan Bangsa: Refleksi dari Indonesia dan Iran

Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan fondasi kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan suatu bangsa. Jika ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah bagaimana negara...

Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...