Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka

Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Sholahuddin
Selasa, 9 Desember 2025 12:37 WIB
Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Hanif Syairafi Wiratama (dok.pribadi).

“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.”

Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak seolah menjadi ziarah spiritual: menahan diri, menjaga ucapan, menghormati alam. Ada kesadaran mendalam bahwa gunung bukan tempat untuk berlaku sewenang-wenang. Di sana, manusia belajar rendah hati bahwa alam bisa mengajarkan lebih banyak tentang kebesaran Tuhan daripada khotbah yang panjang.

Namun, begitu kaki turun dari ketinggian, kesadaran itu seperti tertinggal di antara kabut. Ucapan kasar kembali muncul, sampah bertebaran di jalan, ego membesar di tengah kehidupan sosial. Gunung menjadi tempat suci sementara, bukan cermin nilai permanen. Padahal, bukankah tauhid seharusnya berlaku di mana pun, bukan hanya di tempat yang dianggap “suci”?

Fenomena ini menunjukkan cara berpikir yang masih mistis, bukan tauhidi. Banyak orang menjaga lisan dan perilaku di gunung bukan karena kesadaran iman, tapi karena rasa takut terhadap “penunggu hutan,” “penguasa gunung,” atau “kutukan alam.” Di kota, rasa takut itu menguap karena “penunggunya” tak terlihat. Maka, muncul pertanyaan penting:
Mengapa kita lebih takut kepada alam daripada kepada Tuhan yang menciptakannya?

Inilah yang dalam pandangan Tan Malaka disebut sebagai logika mistika cara berpikir yang digerakkan oleh perasaan dan kepercayaan tak rasional. Dalam Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), Tan Malaka menulis bahwa bangsa yang berpikir mistis lebih tunduk pada mitos ketimbang fakta. Ia mencontohkan, manusia bisa takut pada hantu di kuburan, tapi tidak takut pada kebodohan yang membuatnya tertinggal.  Jika kita tarik ke konteks ini, banyak orang lebih takut “disapa makhluk halus di gunung” ketimbang malu membuang sampah di halaman rumah. Takut pada kekuatan mistik, tapi abai terhadap dosa sosial dan ekologis yang nyata.

Kesatuan Iman, Etika, dan Lingkungan

Dalam Islam, tauhid bukan sekadar keyakinan bahwa “Tiada Tuhan selain Allah,” tetapi juga kesadaran bahwa seluruh alam semesta tunduk kepada satu sistem ketuhanan yang sama. Itu berarti: menjaga lingkungan, berkata baik, dan bersikap adil adalah bagian dari ibadah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Dijadikan bagiku bumi ini sebagai masjid dan alat bersuci.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa seluruh bumi adalah ruang ibadah. Maka, membuang sampah sembarangan atau berkata kotor di mana pun sama nilainya dengan menodai tempat suci. Tidak ada alasan bahwa di gunung harus sopan, sementara di rumah boleh semaunya.  Tauhid yang benar menjadikan manusia konsisten beriman di alam maupun di pasar, di masjid maupun di media sosial.

Logika Mistika Menurut Tan Malaka

Tan Malaka, tokoh revolusioner yang rasional dan progresif, menyebut logika mistika sebagai hambatan berpikir kritis. Ia menulis:

“Selama manusia lebih percaya pada hantu daripada pada hukum sebab-akibat, maka bangsa itu takkan maju.”  Bila kita hubungkan dengan perilaku beragama hari ini, logika mistika membuat manusia takut melanggar simbol, tapi tidak takut menyalahi substansi. Ia takut bicara kotor di gunung karena “pamali”, tapi tidak merasa bersalah menyebar hoaks di media sosial. Ia takut menantang alam, tapi berani menipu sesama manusia. Tan Malaka menawarkan jalan keluar melalui Madilog berpikir logis dan ilmiah tanpa kehilangan nilai moral. Dalam konteks keislaman, logika ini sejalan dengan perintah Al-Qur’an:

“Apakah kamu tidak berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44).

Berpikir adalah bagian dari ibadah. Tauhid tanpa berpikir hanyalah kepercayaan kosong, sementara berpikir tanpa tauhid hanyalah kesombongan rasional.  Kita hidup di zaman ketika simbol-simbol kesalehan lebih mudah dipamerkan daripada substansinya. Orang rajin unggah foto berdoa di puncak gunung, tapi lupa membersihkan lingkungan rumahnya. Orang pandai mengutip ayat, tapi malas menerapkannya dalam perilaku sosial.

Tauhid yang sejati seharusnya melahirkan kesadaran ekologis dan sosial: bahwa bumi adalah amanah, bukan tempat pelampiasan. Bahwa kata-kata harus dijaga bukan karena takut “kualat,” tapi karena Allah mendengar setiap ucapan. Kesalehan simbolik hanya menenangkan hati sesaat, tapi tauhid rasional membangun peradaban. Ia menuntut konsistensi bahwa iman harus sama kuatnya di puncak gunung dan di pasar tradisional.

Dari Mistisisme Alam ke Spiritualitas Tauhid

Fenomena takut melanggar pantangan di alam menunjukkan bahwa manusia masih mencari Tuhan di tempat-tempat tertentu. Padahal, Allah tidak pernah berpindah tempat. Ia hadir di setiap ruang kehidupan: di antara hiruk-pikuk pasar, di tengah macet jalan raya, di dalam rumah yang sederhana.  Tauhid sejati tidak mengenal ruang sakral dan profan. Semuanya sakral karena semuanya milik Tuhan. Maka, menjaga alam bukan hanya etika ekowisata, tapi juga wujud ibadah tauhid ekologis. Bayangkan jika prinsip “tidak boleh berkata kotor di gunung” diterapkan juga di lingkungan sosial tidak ada lagi ujaran kebencian, fitnah, dan perpecahan. Jika prinsip “jangan buang sampah sembarangan” diterapkan di rumah, kota kita akan jauh lebih bersih.

Krisis kita hari ini bukan kekurangan doa, tapi kekurangan konsistensi. Kita hapal ayat, tapi lupa makna. Kita naik gunung untuk mencari Tuhan, tapi lupa menghadirkan-Nya di dapur, di sekolah, di kantor, dan di jalanan.  Inilah saatnya menurunkan tauhid dari langit ke bumi dari keyakinan abstrak menjadi kesadaran konkret. Tauhid bukan hanya tentang meng-Esa-kan Tuhan, tapi juga menyatukan nilai-nilai kehidupan agar selaras dengan kehendak-Nya. Tan Malaka pernah berkata, “Ilmu tanpa moral adalah buta, moral tanpa ilmu adalah lumpuh.” Begitu pula tauhid tanpa tindakan hanyalah ilusi, dan tindakan tanpa tauhid hanyalah rutinitas kosong.

Jika di gunung kita takut pada alam, di rumah seharusnya kita takut pada Tuhan. Jika di puncak kita menjaga kata-kata karena takut celaka, di kehidupan sehari-hari kita seharusnya menjaga lisan karena tahu Allah Maha Mendengar.  Tauhid sejati adalah kesadaran menyeluruh bahwa tidak ada ruang kosong dari pengawasan dan kasih Tuhan. Gunung hanya tempat kita diingatkan, bukan satu-satunya ruang ibadah. Maka, mari bawa pulang nilai-nilai dari puncak gunung itu. Jadikan setiap langkah di tanah datar sebagai ibadah yang sama sucinya dengan sujud di tempat tertinggi. Karena tauhid bukan tentang di mana kita berada, tapi tentang bagaimana kita berpikir, berkata, dan bertindak di mana pun berada.

Penulis adalah kader muda Muhammadiyah

Berita Terbaru

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton

Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...

Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu

Daftar IsiDakwah yang Kehilangan AkhlakKenapa Fenomena Ini Diberi Panggung?Candaan Boleh, Tapi Jangan BerlebihanKrisis Ilmu di Tengah Budaya ViralDari Popularitas ke PencerahanKembali ke Akhlak dan HikmahFenomena...

MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup

Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...

Kamu Harus Jadi Mubalig…

“Anak-anakku semua harus jadi mubalig/mubaligah.” Meski telah bertahun-tahun, saya masih terngiang-ngiang kata-kata almarhum ayah saya ini. Pernyataan itu berulangkali diungkapkan saat ngobrol santai bersama keluarga....

Mengejar Hikmah, Mencari Arti Kehidupan

Menjalani kehidupan adalah sebuah keniscayaan bagi setiap insan yang bernyawa. Mengisi hari demi hari adalah bagian dari perjuangan. Seringkali perjuangan mengisi kehidupan manusia dinodai dengan...

Leave a comment