Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Solo Membara: Aksi Solidaritas atau Awal Revolusi Tan Malaka?

Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Alan Aliarcham
Kamis, 4 September 2025 14:49 WIB
Solo Membara: Aksi Solidaritas atau Awal Revolusi Tan Malaka?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Keraton Solo. (Blog Bank Mega)

Surakarta, 30 Agustus 2025, kota yang selama ini dipuja sebagai “jantung budaya Jawa” kini terbakar oleh amarah. Solo yang biasanya tenang dengan batik, gamelan, dan keramahtamahan, malam itu menjelma jadi teater perlawanan.

Api menyala di gedung DPRD, kaca pecah, poster “DPR Pengkhianat” berkibar, dan gas air mata bercampur doa-doa yang sebelumnya khusyuk dipanjatkan untuk Affan Kurniawan, seorang ojol yang meregang nyawa di Jakarta.

Pertanyaannya kini sederhana tapi getir: apakah Solo baru saja mengirim sinyal paling jelas bahwa kesabaran rakyat sudah habis?

Dari Doa Menjadi Api

Demo ini bukan aksi yang direncanakan untuk membakar. Semua bermula dari doa. Ribuan ojol dan pelajar berkumpul, menyalakan lilin, menggelar salat gaib. Tetapi doa yang dihirup dengan gas air mata berubah jadi bara. Tan Malaka sudah mengingatkan hampir seabad lalu dalam Massa Actie jika kesabaran rakyat dipaksa menahan, ia akan berubah jadi tenaga ledakan yang tak bisa dihentikan.

Negara dengan wajah aparatnya selalu merasa bisa mengendalikan emosi rakyat dengan semprotan water cannon. Tetapi yang tidak mereka pahami: air yang menyemprot tidak memadamkan api, justru menyiram kemarahan. Dan di Solo, api itu meledak dengan simbolik: gedung DPRD dibakar.

Di mata massa, DPR sudah lama kehilangan makna. Ia tak lagi dipandang sebagai lembaga yang memperjuangkan aspirasi rakyat, melainkan sebagai “tukang stempel” kepentingan elite. Gedung itu, bagi rakyat, hanyalah simbol kosong tempat rapat penuh absensi dan lobi, bukan tempat suara rakyat diperjuangkan.

Maka, ketika api melahap bagian Setwan DPRD Solo, rakyat sebenarnya sedang membakar simbol. Membakar “kertas kosong” yang selama ini mengatasnamakan mereka. Seperti kata Tan Malaka: massa tidak melawan gedung, massa melawan makna di balik gedung. Api itu bukanlah vandalisme. Ia adalah kritik paling telanjang bahwa demokrasi kita sedang sekarat.

Negara yang Panik, Rakyat yang Tertawa Pahit

Pemerintah buru-buru menetapkan status tanggap darurat. Polisi menangkapi “provokator”, walikota berpidato menenangkan, dan media arus utama menulis kata kunci: ricuh, rusuh, anarkis. Tapi coba tanyakan pada massa di jalan: siapa yang benar-benar anarkis?

Rakyat yang menyalakan ban, atau negara yang melepaskan gas air mata ke kerumunan orang yang sedang berdoa? Ironi ini membuat rakyat tertawa pahit. Mereka tahu, narasi negara selalu sama: rakyat salah, aparat benar. Padahal sejarah membuktikan, kekuasaanlah yang lebih dulu mengkhianati rakyat.

Tan Malaka, yang hidup di buangan, penjara, dan pengasingan, tentu akan tersenyum getir melihat Solo. Ia pernah menulis, “Massa adalah tenaga yang bila sadar, ia akan jadi badai. Bila tidak, ia hanya jadi debu yang ditiup angin.” Massa di Solo malam itu mungkin belum sepenuhnya sadar. Tetapi badai kecil sudah dimulai.

Dari duka satu nyawa, ia menjelma jadi perlawanan kolektif. Inilah yang disebut Tan sebagai kesadaran spontan awal dari transformasi menuju kesadaran politik. Bila kesadaran ini disulut terus, jangan kaget bila api di Solo hanyalah prolog dari babak baru perlawanan rakyat Indonesia.

Demokrasi dalam Krisis: Jalanan Sebagai Parlemen

Mari jujur: siapa yang masih percaya DPR benar-benar mewakili rakyat? Lembaga yang sibuk dengan revisi UU yang menguntungkan oligarki, dengan gaji jumbo dan fasilitas mewah, kini menagih legitimasi dari rakyat yang makin lapar dan tersisih.

Demo Solo menunjukkan satu hal: ketika parlemen gagal jadi suara rakyat, jalanan akan mengambil alih perannya. Jalanan adalah parlemen tandingan, dengan mikrofon berupa toa, dengan kursi rapat berupa aspal, dengan notulensi berupa asap ban terbakar. Dan tidak ada yang lebih jujur dari parlemen jalanan.

Pemerintah bisa memadamkan api gedung DPRD. Pemadam kebakaran bisa menyemprot sisa asap. Tetapi panas di hati rakyat tidak akan hilang. Ia akan membara di warung kopi, di markas ojol, di obrolan pelajar. Seperti bara yang tertutup abu, ia menunggu angin kecil untuk kembali menyala.

Angin itu bisa berupa kasus ketidakadilan berikutnya, pernyataan pejabat yang seenaknya, atau UU baru yang melukai rakyat. Sejarah Indonesia menunjukkan pola yang sama: dari 1966, 1998, hingga kini setiap api kecil selalu menyulut kebakaran besar. Pertanyaannya hanya soal waktu.

Api Solo, Sinyal Nasional

Solo bukan sekadar kota budaya. Ia kini menjadi simbol peringatan. Api yang membakar DPRD Solo adalah pesan jelas: rakyat bisa membakar simbol kekuasaan kapan saja jika merasa diabaikan. Tan Malaka pernah berkata: “Revolusi adalah urusan hidup-mati. Tidak ada setengah-setengah.”

Solo telah memberi sinyal itu. Entah akan dibaca sebagai peringatan atau sebagai awal, semuanya tergantung bagaimana elite menanggapinya. Jika tetap tuli, bersiaplah: api itu bisa merambat ke kota lain. Dan ketika massa bersatu, sejarah tak lagi bisa dihentikan.

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...