Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu

Ahmad Suyadi, Editor: Alan Aliarcham
Selasa, 11 November 2025 14:35 WIB
Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi dakwah. (Muhammadiyah)

Fenomena “Gus-gusan” kembali menjadi sorotan publik setelah viralnya seorang penceramah muda yang bercanda kelewat batas, bersalaman dengan perempuan bukan mahram di atas panggung, bahkan tidak terima ketika ditegur oleh seorang habib.

Video itu tersebar cepat di media sosial, memantik diskusi tajam di kalangan umat Islam: apakah dakwah kini sedang kehilangan akhlak, atau justru akhlak sedang dikalahkan oleh popularitas?

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran makna dakwah di era digital. Mimbar yang semestinya menjadi tempat pencerahan kini berubah menjadi panggung hiburan. Pendakwah bukan lagi diukur dari kedalaman ilmunya, tapi dari seberapa lucu, nyentrik, dan viral ia di media sosial.

Dakwah yang Kehilangan Akhlak

Dalam Islam, akhlak adalah inti dari dakwah. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad). Namun, kini justru banyak pendakwah yang melupakan misi utama itu.

Mereka menganggap candaan dan sensasi lebih efektif menarik massa daripada kelembutan dan keilmuan. Padahal, Rasulullah selalu mengedepankan hikmah (kebijaksanaan) dan adab (etika) dalam setiap dakwahnya, bahkan kepada orang yang menentangnya.

Ketika seorang “Gus” dengan santai memegang tangan perempuan bukan mahram di hadapan publik, lalu membenarkannya dengan dalih “itu hanya bercanda”, sesungguhnya ia telah merendahkan nilai-nilai adab yang dijaga para ulama selama berabad-abad. Ia seolah menormalkan pelanggaran etika agama atas nama kelucuan.

Ketika kemudian ia ditegur oleh seorang habib yang dalam tradisi Islam dikenal menjaga adab dakwah dan menolak teguran itu, maka jelas ini bukan sekadar persoalan pribadi, tapi gejala krisis moral di tengah masyarakat yang lebih menyukai hiburan ketimbang hikmah.

Kenapa Fenomena Ini Diberi Panggung?

Pertanyaan penting muncul: kenapa fenomena seperti ini justru diberi ruang besar oleh masyarakat dan media? Jawabannya terletak pada perubahan pola konsumsi keagamaan di era digital. Masyarakat kini cenderung mencari agama yang ringan, menghibur, dan tidak menggurui.

Inilah yang oleh sosiolog Muslim Moeslim Abdurrahman disebut sebagai “agama pasar” agama yang menyesuaikan diri dengan selera massa, bukan dengan tuntunan wahyu. Dalam Islam yang Memihak, Moeslim mengingatkan bahwa ketika agama berubah jadi tontonan, maka ia kehilangan fungsi pembebasannya.

Fenomena ini juga bisa dijelaskan lewat konsep “budaya populer religius” dari Nurcholish Madjid (Cak Nur). Ia pernah menulis bahwa “agama bisa menjadi banal bila hanya berhenti pada simbol dan tidak menyentuh substansi.” Dalam konteks ini, para “Gus-gusan” yang viral lebih fokus pada panggung dan gaya bicara, bukan pada kedalaman makna yang disampaikan.

Dengan demikian, yang ditawarkan bukan lagi pencerahan rohani, melainkan hiburan spiritual sebuah paradoks di mana agama hadir untuk mengundang tawa, bukan untuk menggetarkan hati.

Candaan Boleh, Tapi Jangan Berlebihan

Islam tidak anti humor. Rasulullah SAW pun dikenal memiliki selera humor yang lembut dan menyejukkan. Beliau pernah bersenda gurau dengan sahabatnya, namun tidak pernah melanggar batas kesopanan. Humor beliau mengandung nilai, bukan sekadar tawa.

Sebaliknya, banyak pendakwah hari ini justru menjadikan candaan sebagai inti dakwah, bukan selingan. Mereka beranggapan bahwa agar jamaah betah, harus ada unsur lawak. Akibatnya, makna dakwah berubah menjadi stand-up comedy spiritual.

Padahal, Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis, “Tertawalah sekedarnya, sebab terlalu banyak tertawa mematikan hati.” Pesan ini relevan sekali dengan kondisi sekarang: masyarakat yang terlalu sering tertawa dalam ruang dakwah kehilangan rasa khusyuk dan kedalaman berpikir.

Boleh bercanda, tapi jangan menjadikan tawa sebagai pengganti ilmu. Dakwah seharusnya mendidik kesadaran, bukan memanjakan hawa nafsu untuk hiburan semata.

Krisis Ilmu di Tengah Budaya Viral

Fenomena “Gus-gusan” juga mencerminkan krisis otoritas keilmuan Islam. Siapa pun kini bisa tampil sebagai “ustaz”, “habib”, atau “gus”, cukup dengan modal kamera dan followers. Proses sanad keilmuan (rantai keilmuan yang sah dari guru ke murid) diabaikan begitu saja.

Padahal, Imam Syafi’i menegaskan: “Barang siapa menuntut ilmu tanpa guru, maka gurunya adalah setan.” Artinya, ilmu agama tidak bisa diperoleh instan apalagi dijadikan bahan komedi. Dakwah digital yang kehilangan sanad dan adab akan melahirkan “ustaz instan” yang berani bicara apa saja tanpa dasar, bahkan menolak ketika dikoreksi.

Ironisnya, banyak masyarakat yang tetap membela mereka atas nama “kebebasan dakwah” atau “gaya milenial”. Namun kebebasan tanpa akhlak hanyalah kebebasan yang liar. Islam menempatkan akhlak sebagai pagar, bukan penghalang.

Dari Popularitas ke Pencerahan

Dalam Islam, dakwah sejati bukan diukur dari jumlah penonton, melainkan dari seberapa banyak orang yang tercerahkan. Popularitas bisa datang dari gaya bicara dan canda, tapi pencerahan hanya datang dari hati yang ikhlas dan ilmu yang benar.

Buya Hamka pernah menulis dalam Tasauf Modern: “Agama itu bukan untuk ditertawakan, tapi untuk direnungkan.” Kalimat itu menjadi tamparan keras bagi para pendakwah zaman sekarang yang lebih sibuk mengejar “viral” daripada mendidik umat.

Selayaknya, masyarakat pun harus lebih selektif. Jangan mudah memberi panggung pada siapa pun yang pandai bicara, tapi miskin adab. Karena ketika kita memberi panggung pada kebodohan, maka kebodohanlah yang akan menjadi guru umat.

Kembali ke Akhlak dan Hikmah

Islam tidak melarang berdakwah dengan gaya santai, bahkan mendorong agar pesan disampaikan sesuai zaman. Namun gaya tidak boleh mengorbankan substansi. Boleh humor, tapi jangan sampai menodai nilai-nilai akhlak dan kesopanan.

Dakwah tanpa akhlak hanya akan melahirkan generasi yang hafal tawa, tapi lupa makna. Dan ketika seorang “Gus” lebih sibuk membela diri daripada memperbaiki diri, itu tanda bahwa panggung dakwah sedang kehilangan ruhnya.

Sudah waktunya umat Islam memilih ilmu daripada sensasi, memilih adab daripada tawa, dan memilih pencerahan daripada popularitas. Karena sejatinya, kemuliaan dakwah bukan pada tepuk tangan jamaah, tapi pada akhlak sang da’i yang mencerminkan cahaya Allah.

Berita Terbaru

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka

“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...

Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton

Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...

MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup

Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...

Kamu Harus Jadi Mubalig…

“Anak-anakku semua harus jadi mubalig/mubaligah.” Meski telah bertahun-tahun, saya masih terngiang-ngiang kata-kata almarhum ayah saya ini. Pernyataan itu berulangkali diungkapkan saat ngobrol santai bersama keluarga....

Mengejar Hikmah, Mencari Arti Kehidupan

Menjalani kehidupan adalah sebuah keniscayaan bagi setiap insan yang bernyawa. Mengisi hari demi hari adalah bagian dari perjuangan. Seringkali perjuangan mengisi kehidupan manusia dinodai dengan...

Leave a comment