Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Statusmu Adalah Passionmu

Pujiono, Editor: Alan Aliarcham
Rabu, 5 November 2025 13:45 WIB
Statusmu Adalah Passionmu
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Pujiono.

Di era digital ini, status di media sosial bukan sekadar curahan hati, melainkan juga cermin dari siapa kita dan di mana hati kita tertambat. Bagi seorang guru, dunia maya seharusnya menjadi perpanjangan dari ruang kelas — tempat menebar inspirasi, nilai, dan semangat pendidikan.

Namun, betapa sering kita melihat guru-guru lebih sering menulis tentang pekerjaan sampingan, jualan online, promosi usaha, hobi bola hingga mancing mania, atau hal-hal pribadi — sementara hampir tak pernah ada status tentang muridnya, proses mengajar, kegiatan sekolah, atau lembaga tempat ia bernaung.

Padahal, status adalah tanda cinta. Ketika seorang guru jarang sekali menunjukkan kebanggaannya menjadi pendidik di ruang digital, mungkin di situlah mulai terkikis makna pengabdian. Menjadi guru bukan sekadar bekerja, tapi mengabdi dan menginspirasi.

Cobalah renungkan…

Kalau setiap hari engkau bisa menulis status tentang dagangan, hobi, bola, mengapa tidak menulis satu kalimat sederhana tentang keindahan mengajar hari ini? Kalau bisa mengunggah foto produk, mengapa tidak sekali-sekali mengunggah foto anak didik yang berprestasi, atau kegiatan sekolah yang menumbuhkan semangat belajar?

Karena sejatinya, statusmu adalah passionmu.

Apa yang sering kau tulis, di situlah hatimu berada. Status itu cerminan hati, di mana engkau berada. Kalau emgkau benar-benar mencintai profesi guru, tentunya ada jejak maya satu kalimat sederhana, keindahan mengajar, satu foto kegiatan sekolah, atau satu kisah semangat murid. Itu sudah cukup bahwa hati kita bangga menjadi pendidik.

Saudaraku!!!!!

Bukan berarti dilarang punya pekerjaan sampingan, hobi atau aktivitas lainya — tentu tidak. Tapi jika yang tampak di dunia maya hanyalah bisnis dan usaha pribadi, hobi sementara profesi guru seakan tak pernah disinggung, maka bisa jadi kamu sedang berkamuflase dalam profesi. Kita bekerja sebagai guru, tapi hati kita tidak lagi di dunia pendidikan.

Mari sadari kembali:

Setiap status tentang pendidikan, sekecil apa pun, bisa menjadi dakwah keilmuan. Setiap foto kegiatan belajar, bisa jadi inspirasi bagi guru lain. Setiap kata tentang semangat murid, bisa menyalakan harapan bagi banyak hati. Statusmu itu menjadi etalase cinta dan komitmen terhadap profesimu. Menulislah sebagai guru. Berstatuslah sebagai pendidik.

Karena dari statusmu, orang tahu di mana cintamu. Karena Jika engkau sibuk dan bangga Memposting bisnis, hobi, atau lainya pertanda hatimu sudah tidak sepenuhnya di dunia pendidikan. Galau tingkat tinggi.

Saudaraku….

Boleh punya usaha lain, tapi ingat pangkalan utama. Jangan sampai usaha sampinganmu menutupi profesi utamamu. Sekali lagi….Statusmu adalah passionMu , di mana hatimu berada, guru sejati atau kamuflase profesi. Mari kita jalani amanah ini dengan penuh dedikasi dan pengabdian tingkat tinggi untuk menggapai ridha Ilahi, Semoga kita termasuk guru guru yang berdedikasi dan dapat rahmat ilahi.

Ditulis Untuk Memyambut Hari Guru Nasional 2025

Banyudono, 3 November 2025

Berita Terbaru

SAGU SAMU, Gerakan Bersama Menjemput Masa Depan Sekolah

Sekolah swasta hidup dan berkembang karena kepercayaan masyarakat. Kepercayaan itu diwujudkan dalam bentuk hadirnya peserta didik yang memilih sekolah kita sebagai tempat belajar dan bertumbuh....

Mendesain Pelepasan dan Mendesain Cari Murid

Membuat acara pelepasan siswa yang meriah memang penting. Menata panggung, menyusun susunan acara, mengundang tamu, hingga mendokumentasikan kegiatan bisa dilakukan dalam hitungan hari atau minggu....

Pendidikan, Kepemimpinan, dan Masa Depan Bangsa: Refleksi dari Indonesia dan Iran

Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan fondasi kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan suatu bangsa. Jika ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah bagaimana negara...

Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....