“Pemerintah zalim bener. Curiga kita masuk surga jalur WNI.”
Candaan itu sering lewat di linimasa—lucunya getir, getirnya nyata.
Karena di negeri ini, sabar seolah jadi mata uang utama: harga naik disabarin, janji diingkari disenyumin, ketidakadilan diterima seolah takdir. Tapi benarkah sabar cukup untuk membuka pintu surga? Hidup di negeri ini memang penuh warna. Ada bangga, ada luka, ada harapan yang masih dijaga. Di satu sisi, kita punya alam yang indah, budaya yang kaya, dan rakyat yang hangat. Tapi di sisi lain, kita juga punya birokrasi yang lamban, hukum yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas dan sistem yang sering terasa tak adil bagi mereka yang kecil.
Ketika kesabaran rakyat diuji, banyak yang memilih untuk pasrah. “Ya, mau gimana lagi. Namanya juga Indonesia”. Kalimat itu sering kita dengar, seolah ketidakadilan dan ketimpangan sudah jadi bagian dari identitas nasional. Seolah sabar artinya diam, dan diam artinya ridha. Benarkah Islam mengajarkan begitu?
Dalam Islam, sabar bukanlah sikap pasif yang membiarkan ketidakadilan terjadi, melainkan kekuatan batin untuk terus berjuang di jalan yang benar. Nabi Muhammad SAW sendiri tidak pernah mengajarkan sabar sebagai bentuk kepasrahan tanpa usaha. Beliau bersabar dalam perjuangan, bersabar dalam menegakkan kebenaran, bukan bersabar untuk berdiam diri melihat kedzaliman. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 153: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Sabar adalah energi untuk bertahan dalam kebenaran, bukan alasan untuk berhenti memperjuangkannya. Dalam konteks sosial, sabar justru melahirkan daya juang – karena iman tanpa usaha hanyalah kepasrahan yang salah arah.
Dalam konteks negara, nilai-nilai Islam sejatinya sejalan dengan gagasan welfare state—negara yang menegakkan keadilan sosial. Riwanto dan Suryaningsi (2023) dalam “Realizing Welfare State and Social Justice: A Perspective on Islamic Law” menegaskan bahwa kesejahteraan bukanlah sekadar janji politik, melainkan mandat teologis. Artinya, memperjuangkan kesejahteraan adalah bagian dari ibadah sosial yang bernilai spiritual. Ahmad Nurrohim (2024) juga menulis tentang konsep syukur dalam budaya lokal Bali melalui artikel “Nyuuksemaang: Konsep Rasa Syukur dalam Interpretasi Bahasa Bali”.
Ia menggambarkan bahwa syukur dalam kearifan lokal Indonesia tidak berhenti pada rasa puas, tetapi diwujudkan dalam tindakan—berbagi hasil panen, gotong royong, menjaga harmoni sosial. Syukur sejati bukan berhenti di bibir, tapi menggerakkan tangan dan langkah. Zuhal A. Akbar (2022) pun menyebut dalam “Analisis Filosofis Konsep Sabar dan Syukur dalam Konseling Islami” bahwa sabar dan syukur adalah strategi pengelolaan emosi sosial: cara untuk tetap waras tanpa kehilangan arah perjuangan. Di zaman digital, kesabaran diuji dalam bentuk yang baru. Informasi datang tanpa henti, perdebatan muncul tanpa arah, dan makna sering terpotong di tengah viralitas. Nurrohim (2025) dalam “Revolusi Digital dalam Studi Tafsir Al-Qur’an” mengingatkan bahwa teknologi membuka peluang dakwah dan pendidikan, tapi juga berisiko mengikis makna spiritual ketika tafsir dipahami setengah. Termasuk konsep “sabar”—yang kini sering dipahami sekadar menunggu, bukan memperjuangkan. Padahal, seperti disampaikan Miskahuddin (2021) dalam “Konsep Sabar dalam Perspektif Al-Qur’an”, sabar sejati adalah kemampuan mengendalikan diri
dengan kesadaran spiritual yang utuh—sabar yang menuntun pada perubahan, bukan kepasrahan. Di tengah kehidupan sosial yang timpang, konsep sabar sering disalahpahami. Kita melihat ketidakadilan,namun memilih untuk menunduk; mendengar kebohongan, namun memilih untuk diam. Padahal, sebagaimana dijelaskan Nurrohim (2021) dalam *Lingkungan dan Kewajiban Manusia dalam Al-Qur’an*, manusia adalah khalifah fil ardh—penjaga keseimbangan dan keadilan di bumi. Maka bersabar dalam konteks kebangsaan
berarti tetap berjuang menjaga tatanan sosial, meski jalannya panjang dan penuh ujian.
Masalahnya, keangkuhan dan kesewenang-wenangan sering kali tumbuh karena mereka yang melihat memilih untuk tak peduli. Nurrohim (2022) dalam “Qur’anic Semantics of Arrogance” menjelaskan bahwa sikap sombong dan menolak kebenaran adalah bentuk istikbar—penyakit moral yang menjauhkan manusia dari nurani. Kedzaliman bertahan bukan karena pelakunya kuat, tapi karena saksinya memilih diam. Rasa frustrasi terhadap ketidakadilan sosial memang nyata.
Ketimpangan ekonomi masih tinggi dan suara rakyat sering tak terdengar. Padahal, keangkuhan dan kesewenang-wenangan hanyalah bentuk istikbar—penyakit moral yang membuat manusia buta terhadap kebenaran ([Nurrohim, 2024]). Kalau rakyat terus bersabar tanpa gerak, maka elite akan terus nyaman tanpa koreksi. Kalau rakyat berhenti berharap, maka perubahan pun berhenti di situ. Contoh sederhana, lihat bagaimana kita memperlakukan kenaikan harga bahan pokok. Ketika minyak goreng, beras, atau BBM naik, masyarakat hanya bisa berkomentar di media sosial. Ada yang marah, tapi sebentar. Besoknya kembali bekerja seperti biasa. Kita tidak bodoh—kita hanya terlalu sabar. Padahal, sejarah bangsa ini dibangun bukan oleh kesabaran yang diam, tapi oleh kesabaran yang berjuang. Rakyat yang menolak penjajahan dengan sabar, tapi tetap melawan.Petani yang bertahan di ladang dengan sabar, tapi tetap menanam. Mahasiswa yang bersabar menunggu perubahan, tapi tetap turun ke jalan saat nurani memanggil.
Bukan Sekdar Mengeluh
Lalu bagaimana dengan negeri yang “tidak baik-baik saja” ini? Tugas kita bukan sekadar mengeluh, tapi memperbaiki. Bersyukur atas Indonesia yang Allah titipkan, sebagaimana Nabi Ibrahim bersyukur atas lembah tandus di Makkah (QS. Ibrahim [14]:37). Dari tanah tandus itu lahirlah negeri yang penuh berkah. Begitu pula Indonesia—dari segala ketimpangan dan masalahnya, selalu ada harapan yang bisa disiram dengan syukur dan kerja nyata. Syukur bukan berarti puas, tapi menyadari bahwa negeri ini masih layak diperjuangkan. Kita bersyukur dengan menjaga kebersihan lingkungan, dengan tidak korupsi, dengan membantu sesama, dan dengan terus menyuarakan kebenaran meski pelan.Karena bangsa ini tidak akan berubah hanya dengan doa, tapi dengan doa yang dibarengi usaha.
Dan ketika kita bicara soal kezaliman yang terjadi di sekitar kita, jawabannya bukan hanya sabar. Indonesia tidak butuh rakyat yang hanya sabar, tapi juga rakyat yang tegas dan peduli. Rakyat yang sabarnya aktif, bukan pasif. Yang tahu kapan menunduk, tapi juga tahu kapan berdiri. Ahmad Nurrohim (2016) dalam “Antara Kesehatan Mental dan Pendidikan Karakter” menyebut sabar sebagai bagian dari kesehatan spiritual yang aktif—yang menahan emosi destruktif sekaligus mendorong manusia tetap di jalur kebaikan. Sabar, dalam pandangan itu, bukanlah kesunyian, tetapi gerak yang tenang.
Indonesia tidak kekurangan orang sabar, tapi barangkali kekurangan sabar yang berjuang. Sabar yang tetap turun tangan ketika harga naik, sabar yang berpikir jernih di tengah kekecewaan, sabar yang bekerja di tengah ketimpangan tanpa kehilangan integritas. Maka dari sini kita paham bahwa nilai-nilai Al-Qur’an harus diterjemahkan dalam gerak sosial—etos kerja, tanggung jawab publik, dan keberanian moral. Ketika negeri ini terasa tidak baik-baik saja, tugas kita bukan sekadar menahan diri, tapi memperbaiki dengan sabar yang bernalar. Bersyukur atas Indonesia yang Allah titipkan, sebagaimana Nabi Ibrahim bersyukur atas lembah tandus Makkah (QS. Ibrahim: 37). Karena dengan sabar dan syukur yang aktif, Allah menjanjikan perubahan. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” — (QS. Ar-Ra’d: 11).
Jadi, kalau ada yang bertanya, “Surga Jalur WNI ada nggak sih?” Jawabannya: Ada.Tapi bukan karena kita tahan dengan penderitaan, melainkan karena kita tak pernah berhenti berjuang di tengahnya (Nurrohim, 2024).
Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






