Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Bismillah, Masuk Surga Jalur WNI

Tanjung Alicia Khadijah, Editor: Sholahuddin
Minggu, 26 Oktober 2025 19:25 WIB
Bismillah, Masuk Surga Jalur WNI
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Gambar ilustrasi orang berdoa. [Freepik.com].

“Pemerintah zalim bener. Curiga kita masuk surga jalur WNI.”

Candaan itu sering lewat di linimasa—lucunya getir, getirnya nyata.

Karena di negeri ini, sabar seolah jadi mata uang utama: harga naik disabarin, janji diingkari disenyumin, ketidakadilan diterima seolah takdir. Tapi benarkah sabar cukup untuk membuka pintu surga? Hidup di negeri ini memang penuh warna. Ada bangga, ada luka, ada harapan yang masih dijaga. Di satu sisi, kita punya alam yang indah, budaya yang kaya, dan rakyat yang hangat. Tapi di sisi lain, kita juga punya birokrasi yang lamban, hukum yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas dan sistem yang sering terasa tak adil bagi mereka yang kecil.

Ketika kesabaran rakyat diuji, banyak yang memilih untuk pasrah. “Ya, mau gimana lagi. Namanya juga Indonesia”. Kalimat itu sering kita dengar, seolah ketidakadilan dan ketimpangan sudah jadi bagian dari identitas nasional. Seolah sabar artinya diam, dan diam artinya ridha. Benarkah Islam mengajarkan begitu?

Dalam Islam, sabar bukanlah sikap pasif yang membiarkan ketidakadilan terjadi, melainkan kekuatan batin untuk terus berjuang di jalan yang benar. Nabi Muhammad SAW sendiri tidak pernah mengajarkan sabar sebagai bentuk kepasrahan tanpa usaha. Beliau bersabar dalam perjuangan, bersabar dalam menegakkan kebenaran, bukan bersabar untuk berdiam diri melihat kedzaliman. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 153: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Sabar adalah energi untuk bertahan dalam kebenaran, bukan alasan untuk berhenti memperjuangkannya.  Dalam konteks sosial, sabar justru melahirkan daya juang – karena iman tanpa usaha hanyalah kepasrahan yang salah arah.

Dalam konteks negara, nilai-nilai Islam sejatinya sejalan dengan gagasan welfare state—negara yang menegakkan keadilan sosial. Riwanto dan Suryaningsi (2023) dalam “Realizing Welfare State and Social Justice: A Perspective on Islamic Law” menegaskan bahwa kesejahteraan bukanlah sekadar janji politik, melainkan mandat teologis. Artinya, memperjuangkan kesejahteraan adalah bagian dari ibadah sosial yang bernilai spiritual.  Ahmad Nurrohim (2024) juga menulis tentang konsep syukur dalam budaya lokal Bali melalui artikel “Nyuuksemaang: Konsep Rasa Syukur dalam Interpretasi Bahasa Bali”.

Ia menggambarkan bahwa syukur dalam kearifan lokal Indonesia tidak berhenti pada rasa puas, tetapi diwujudkan dalam tindakan—berbagi  hasil panen, gotong royong, menjaga harmoni sosial. Syukur sejati bukan berhenti di bibir, tapi menggerakkan tangan dan langkah. Zuhal A. Akbar (2022) pun menyebut dalam “Analisis Filosofis Konsep Sabar dan Syukur dalam Konseling Islami” bahwa sabar dan syukur adalah strategi pengelolaan emosi sosial: cara untuk tetap waras tanpa kehilangan arah perjuangan.  Di zaman digital, kesabaran diuji dalam bentuk yang baru. Informasi datang tanpa henti, perdebatan muncul tanpa arah, dan makna sering terpotong di tengah viralitas. Nurrohim (2025) dalam “Revolusi Digital dalam Studi Tafsir Al-Qur’an” mengingatkan bahwa teknologi membuka peluang dakwah dan pendidikan, tapi juga berisiko mengikis makna spiritual ketika tafsir dipahami setengah. Termasuk konsep “sabar”—yang kini sering dipahami sekadar menunggu, bukan memperjuangkan. Padahal, seperti disampaikan Miskahuddin (2021) dalam “Konsep Sabar dalam Perspektif Al-Qur’an”, sabar sejati adalah kemampuan mengendalikan diri

dengan kesadaran spiritual yang utuh—sabar yang menuntun pada perubahan, bukan kepasrahan.  Di tengah kehidupan sosial yang timpang, konsep sabar sering disalahpahami. Kita melihat ketidakadilan,namun memilih untuk menunduk; mendengar kebohongan, namun memilih untuk diam. Padahal, sebagaimana  dijelaskan Nurrohim (2021) dalam *Lingkungan dan Kewajiban Manusia dalam Al-Qur’an*, manusia adalah khalifah fil ardh—penjaga keseimbangan dan keadilan di bumi. Maka bersabar dalam konteks kebangsaan

berarti tetap berjuang menjaga tatanan sosial, meski jalannya panjang dan penuh ujian.

Masalahnya, keangkuhan dan kesewenang-wenangan sering kali tumbuh karena mereka yang melihat memilih untuk tak peduli. Nurrohim (2022) dalam “Qur’anic Semantics of Arrogance” menjelaskan bahwa sikap sombong dan menolak kebenaran adalah bentuk istikbar—penyakit moral yang menjauhkan manusia dari nurani. Kedzaliman bertahan bukan karena pelakunya kuat, tapi karena saksinya memilih diam. Rasa frustrasi terhadap ketidakadilan sosial memang nyata.

Ketimpangan ekonomi masih tinggi dan suara rakyat sering tak terdengar. Padahal, keangkuhan dan kesewenang-wenangan hanyalah bentuk istikbar—penyakit moral yang membuat manusia buta terhadap kebenaran ([Nurrohim, 2024]).  Kalau rakyat terus bersabar tanpa gerak, maka elite akan terus nyaman tanpa koreksi. Kalau rakyat berhenti berharap, maka perubahan pun berhenti di situ. Contoh sederhana, lihat bagaimana kita memperlakukan kenaikan harga bahan pokok. Ketika minyak goreng, beras, atau BBM naik, masyarakat hanya bisa berkomentar di media sosial. Ada yang marah, tapi sebentar. Besoknya kembali bekerja seperti biasa. Kita tidak bodoh—kita hanya terlalu sabar.  Padahal, sejarah bangsa ini dibangun bukan oleh kesabaran yang diam, tapi oleh kesabaran yang berjuang.  Rakyat yang menolak penjajahan dengan sabar, tapi tetap melawan.Petani yang bertahan di ladang dengan  sabar, tapi tetap menanam. Mahasiswa yang bersabar menunggu perubahan, tapi tetap turun ke jalan saat nurani memanggil.

Bukan Sekdar Mengeluh

Lalu bagaimana dengan negeri yang “tidak baik-baik saja” ini?  Tugas kita bukan sekadar mengeluh, tapi memperbaiki. Bersyukur atas Indonesia yang Allah titipkan, sebagaimana Nabi Ibrahim bersyukur atas lembah tandus di Makkah (QS. Ibrahim [14]:37). Dari tanah tandus itu lahirlah negeri yang penuh berkah. Begitu pula Indonesia—dari segala ketimpangan dan masalahnya, selalu ada harapan yang bisa disiram dengan syukur dan kerja nyata.  Syukur bukan berarti puas, tapi menyadari bahwa negeri ini masih layak diperjuangkan. Kita bersyukur dengan menjaga kebersihan lingkungan, dengan tidak korupsi, dengan membantu sesama, dan dengan terus menyuarakan kebenaran meski pelan.Karena bangsa ini tidak akan berubah hanya dengan doa, tapi dengan doa yang dibarengi usaha.

Dan ketika kita bicara soal kezaliman yang terjadi di sekitar kita, jawabannya bukan hanya sabar.  Indonesia tidak butuh rakyat yang hanya sabar, tapi juga rakyat yang tegas dan peduli. Rakyat yang sabarnya aktif, bukan pasif. Yang tahu kapan menunduk, tapi juga tahu kapan berdiri.  Ahmad Nurrohim (2016) dalam “Antara Kesehatan Mental dan Pendidikan Karakter” menyebut sabar  sebagai bagian dari kesehatan spiritual yang aktif—yang menahan emosi destruktif sekaligus mendorong  manusia tetap di jalur kebaikan. Sabar, dalam pandangan itu, bukanlah kesunyian, tetapi gerak yang tenang.

Indonesia tidak kekurangan orang sabar, tapi barangkali kekurangan sabar yang berjuang. Sabar yang tetap turun tangan ketika harga naik, sabar yang berpikir jernih di tengah kekecewaan, sabar yang bekerja di tengah ketimpangan tanpa kehilangan integritas. Maka dari sini kita paham bahwa nilai-nilai Al-Qur’an harus diterjemahkan dalam gerak sosial—etos kerja, tanggung jawab publik, dan keberanian moral. Ketika negeri ini terasa tidak baik-baik saja, tugas kita bukan sekadar menahan diri, tapi memperbaiki dengan sabar yang bernalar. Bersyukur atas Indonesia yang Allah titipkan, sebagaimana Nabi Ibrahim bersyukur atas lembah tandus Makkah (QS. Ibrahim: 37). Karena dengan sabar dan syukur yang aktif, Allah menjanjikan perubahan.  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” — (QS. Ar-Ra’d: 11).

Jadi, kalau ada yang bertanya, “Surga Jalur WNI ada nggak sih?” Jawabannya: Ada.Tapi bukan karena kita tahan dengan penderitaan, melainkan karena kita tak pernah berhenti berjuang di tengahnya (Nurrohim, 2024).

Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...