Indonesia kembali diguncang kerusuhan. Api anarki menjalar di jalanan Solo hingga menyalakan bara kecemasan nasional. Fasilitas publik porak-poranda, massa bergerak dengan pola yang nyaris terlalu rapi untuk disebut spontan. Apakah ini benar-benar letupan rakyat yang marah, atau ada dalang yang sedang bermain catur di balik layar?
Pertanyaan ini menuntut jawaban, sebab sejarah politik negeri ini berulang kali memperlihatkan bahwa anarki kerap dijadikan instrumen kekuasaan, bukan sekadar ekspresi sosial. Sebelum pusaran itu, Rocky Gerung memprediksi bahwa kita sedang dan akan menyaksikan “radical break kekuasaan”—sebuah keterputusan politik yang mengubah peta kekuatan secara drastis.
Tanda-tandanya jelas: abolisi terhadap Tom Lembong dan amnesti bagi Hasto Kristiyanto. Dua langkah yang bukan sekadar kebijakan hukum, tetapi deklarasi simbolik bahwa kekuasaan kini tengah mengatur ulang barisannya.
Abolisi Tom adalah pesan bahwa oposisi ekonomi bisa disingkirkan dengan sekejap, sementara amnesti Hasto adalah sinyal bahwa musuh politik pun bisa dirangkul kembali jika tunduk pada orbit baru. Inilah wajah kasar dari radical break: pemutusan bukan hanya dari tatanan lama, tetapi juga dari prinsip keadilan yang konsisten.
Paradoks Prabowo
Namun, ada paradoks yang mencolok. Di satu sisi, saya memandang langkah Prabowo dalam melakukan bersih-bersih kabinet adalah langkah cerdas, begitu piawai. Ia menunjukkan kapasitas sebagai pemain politik kelas berat yang tahu bagaimana mengamankan lingkaran istana dari infiltrasi.
Tapi ironinya, kecerdasannya seakan tidak tertuang dalam program yang menyangkut kepentingan rakyat. Di luar gerakan simbolik yang menggelegar, rakyat tak melihat arah pembangunan yang jelas. Apa gunanya menyingkirkan beban politik jika jalan keluar untuk pengangguran, pendidikan, dan kemiskinan tetap kabur?
Inilah ironi yang pahit: strategi kekuasaan tampak jenius di puncak piramida, tetapi nyaris nihil substansi di dasar kehidupan rakyat. Maka, radical break yang diagungkan itu jangan-jangan hanyalah bungkus mewah dari sebuah manipulasi politik besar.
Anarki di jalanan berfungsi menciptakan ketakutan, sementara abolisi dan amnesti jadi legitimasi kekuasaan baru. Jika ini benar, maka kita bukan sedang menyaksikan keterputusan menuju reformasi, melainkan sekadar reposisi kekuasaan dengan metode yang lebih kasar, lebih telanjang, dan lebih sinis.
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






