
Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat menghargai keberagaman hiburan. Acara dangdut di lapangan, konser musik pop, atau even budaya besar sering disambut hangat—diterima sebagai alternatif rekreasi sehat dan meriah.
Tapi ketika giliran acara dakwah menghadirkan sosok seperti Dr. Zakir Naik, suasana langsung berubah: muncul penolakan, kritik, bahkan kabar “akan diusir”. Padahal sebagian besar peserta dan panitia menjamin kedamaian dan toleransi.
Kontras Antara Hiburan dan Dakwah
Fenomena ini mengundang tanda tanya: kenapa musik dangdut yang bernuansa sensual sekalipun nyaris tak pernah jadi kontroversi, tapi ceramah agama yang mapan malah dipersoalkan? Bukankah esensi keduanya sama-sama hiburan atau pengisi acara publik?
Analisa sosial-politik menyebut fenomena ini bagian dari selective moral outrage kecenderungan masyarakat dan otoritas dalam menormalkan satu jenis peristiwa sambil menganggap aktivitas lain tabu. Hal ini sering muncul dalam dinamika identitas Islam publik: hiburan bernuansa kebangsaan dipandang biasa, tetapi dakwah dianggap rentan memicu polarisasi.
Baru-baru ini, Dr. Zakir Naik menggelar Indonesia Lecture Tour 2025, dengan satu titik di Malang pada 10 Juli 2025. Panitia memastikan acara berlangsung sunyi—tidak ada debat tajam, hanya dialog ilmiah bertema “Nabi Muhammad dalam perspektif berbagai agama”. Penolakan justru datang dari kelompok masyarakat sesaat sebelum acara, dengan alasan khawatir bisa “mengganggu kerukunan antarumat beragama di Malang”.
Padahal acara tersebut berjalan lancar dengan pengamanan ketat dari Polresta hingga Kodim, serta dihadiri antara 6.000–8.000 orang, termasuk tamu non-Muslim yang diberi tempat khusus dekat panggung. Dua non-Muslim bahkan mengucapkan syahadat secara emosional menunjukkan dampak positif dalam aspek dakwah.
Prinsip Islam tentang Amar Ma’ruf-Nahi Munkar
Dalam Islam, memang ada prinsip amar ma’ruf (mengajak kebaikan) dan nahi munkar (mencegah kemungkaran). Namun, Allah SWT memerintahkan agar nasihat dilayangkan dengan hikmah, sopan, dan bijaksana, bukan dibenturkan sembarangan: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Nahl: 125)
Konsep ini relevan: menolak ceramah Dr. Zakir dengan cara anarkis bukan bentuk nahi munkar, melainkan menutup kesempatan dialog ilmiah. Seharusnya sikap amar ma’ruf mendorong pembelajaran bukan penolakan.
Pendekatan Dakwah dan Landasan Ilmiah
Dr. Zakir dikenal dengan gaya dakwah berbasis komparasi agama. Ia membahas ayat Al-Qur’an dengan rujukan kitab suci lain atau fakta ilmiah. Ini sesuai dengan prinsip Da’wah bil-ilm (dakwah menggunakan ilmu), sesuatu yang sangat diperintahkan dalam Islam. Rasulullah SAW bahkan menekankan:
“Tiada satu pun dari kamu yang beriman hingga dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim)
Semangat ini terlihat saat banyak peserta non-Muslim hadir dengan penuh hormat tanpa paksaan semata ingin memahami Islam secara objektif, bukan dipaksa.
Intoleransi atau Respons Berlebihan?
Mengapa demikian banyak pihak menolak kehadiran Zakir Naik?
1.Sejarah Kontroversial: Dr. Zakir memiliki track record yang memicu kritik di berbagai negara India, Bangladesh, Sri Lanka karena beberapa pernyataannya dianggap provokatif atau berpotensi memecah persatuan.
2.Ketakutan Polarisasi: Sebagian pihak takut ceramahnya mendorong polarisasi, terutama di daerah yang sensitif secara agama. Tapi apakah penolakan semata sudah cukup membuktikan risiko itu?
3.Ada Sentimen Politik dan Ekonomi Hiburan: Industri konser dan hiburan punya beban ekonomi besar. Promosi dangdut dan konser sering mendapat izin cepat—tanpa kontroversi. Sementara acara dakwah dianggap bisa menimbulkan kerumitan sosial dan regulasi, sehingga cenderung dipersulit.
Sebagai umat yang menjunjung amar ma’ruf nahi munkar, kita perlu menyikapinya secara proporsional:
-Umat Islam: Harus memisahkan antara kekritisan terhadap pandangan tertentu dengan penghargaan pada hak berdialog. Penolakan tak boleh menjurus pada pengekangan kebebasan berdemokrasi dan beragama.
-Pemerintah dan Aparat: Sebaiknya mengambil pendekatan berbasis kajian keamanan dan dialog bukan semata reaksi emosional. Koordinasi dengan elemen masyarakat seperti MUI dan FKUB lebih relevan dibanding penolakan frontal.
-Media & Masyarakat Umum: Harus menjaga keseimbangan pemberitaan antara hiburan dan dakwah. Jika konser dangdut dijadikan headline positif, kenapa ceramah keagamaan malah dijadikan headline negatif?
Memang, publik memiliki hak untuk memilih acara hiburan favoritnya dangdut, konser, dll. tanpa dipersoalkan. Namun jika ceramah agama yang dilaksanakan secara tertib malah dibenturkan, maka muncul ketidakadilan budaya (cultural injustice). Padahal prinsip Islam menuntut kebebasan dakwah yang damai, sekaligus memelihara kerukunan dengan cara yang bijak dan beradab.
Dalam kasus Dr. Zakir Naik di Malang dan kota lainnya, sejatinya kita menyaksikan ujian budaya toleransi: apakah kita bisa menerima dialog agama yang berkualitas meski dikemas berbeda dari nada hiburan? Atau justru memilih proteksi diri yang berlebihan?
Semoga momen ini menjadi renungan bersama: bahwa hiburan non-agama bisa diterima luas, maka dakwah yang membawa nilai moral dan spiritual seharusnya juga mendapat ruang sama. Kita berharap ke depan, setiap acara dakwah yang berlangsung dalam koridor hukum dan toleransi mampu diterima, bukan dicurigai atau diusir semena-mena.
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...





