Kehadiran Dr. Zakir Naik dalam rangkaian tour dakwahnya di Indonesia kembali memantik perdebatan publik. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kedatangan ulama asal India ini disambut hangat seperti saat beliau berorasi di Edutorium K.H. Ahmad Dahlan UMS pada Selasa (8/7/2025) malam. Ribuan orang hadir dari berbagai kota untuk mendengarkan ceramahnya yang dikenal lugas, logis, dan penuh data perbandingan lintas agama. Namun, sambutan positif ini tidak seragam. Penolakan terhadap kedatangan Zakir Naik muncul di beberapa titik, salah satunya di Malang, Jawa Timur.
Penolakan ini tentu tidak bisa dianggap remeh. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar perlu diajukan, apakah penolakan ini didasarkan pada logika akademis dan argumentasi intelektual, atau hanya reaksi emosional dan prasangka ideologis? Zakir Naik bukan figur tanpa kontroversi. Retorikanya yang tajam, pendekatannya yang apologetik terhadap Islam, serta kecakapannya dalam debat terbuka menjadikannya tokoh yang dicintai sekaligus ditakuti. Namun, membatasi ruangnya untuk berbicara di negeri yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, hal itu justru bertentangan dengan prinsip dasar demokrasi dan nilai-nilai keilmuan itu sendiri.
Dalam konteks ini, penolakan di Malang perlu dikaji secara kritis. Jika benar bahwa Indonesia adalah rumah bagi toleransi dan dialog, maka semestinya setiap gagasan, betapa pun kontroversialnya, dijawab dengan diskusi yang terbuka, bukan dengan pembungkaman. Mengutip filsuf John Stuart Mill dalam On Liberty (1859), “The best way of combating erroneous arguments is by the open encounter of ideas.” Zakir Naik seharusnya tidak dihindari, tetapi dilibatkan dalam dialog yang sehat dan setara.
Dalam sejarah Islam sendiri, perbedaan pendapat merupakan bagian dari khazanah keilmuan. Imam Syafi’i dan Imam Hanafi berbeda tajam dalam banyak hal, tetapi mereka tidak saling menolak kehadiran mereka. Bahkan, Imam Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menegaskan pentingnya ilmu yang membebaskan manusia dari taklid buta. Ini selaras dengan semangat tajdīd (pembaruan) yang diajarkan oleh para pembaharu Islam, termasuk di Indonesia.
Kejumudan Berpikir
Penolakan terhadap Zakir Naik di Malang mencerminkan satu hal yang harus kita waspadai: kejumudan berpikir. Yakni, ketakutan terhadap ide baru, penolakan tanpa kajian, dan pembungkaman atas nama harmoni semu. Dalam pandangan Tan Malaka, hal seperti ini adalah pengkhianatan terhadap semangat kemerdekaan berpikir. Ia pernah menulis dalam Madilog bahwa logika dan pengalaman adalah fondasi berpikir yang rasional bukan emosi dan asumsi kosong.
Gunawan Mohamad juga pernah menyindir kecenderungan masyarakat Indonesia yang mudah “panik moral” terhadap apa yang mereka anggap asing atau berbeda. Di sinilah ironi muncul, mereka yang menolak atas nama toleransi, justru menampilkan intoleransi terhadap perbedaan gagasan.
Lebih jauh lagi, jika kita tarik ke dalam prinsip maqāṣid al-syarī‘ah, maka menjaga akal (ḥifẓ al-‘aql) menjadi salah satu tujuan utama syariat. Melarang seseorang berbicara atau berdakwah tanpa dasar yang kuat justru bertentangan dengan maqashid ini. Dakwah Zakir Naik, meskipun tajam, tetaplah berbasis argumen dan teks yang bisa diuji validitasnya secara ilmiah. Jika ada yang tidak sepakat, maka seyogianya menjawab dengan argumen, bukan dengan pengusiran.
Indonesia tidak seharusnya menjadi ruang publik yang alergi terhadap perbedaan narasi. Justru, kedewasaan demokrasi dan keislaman masyarakat diuji ketika kita mampu menerima, mengkritik, atau membantah tanpa membungkam. Zakir Naik hadir sebagai peluang untuk menghidupkan tradisi debat keilmuan yang sehat, bukan sebagai ancaman. Mari gugurkan kejumudan, dan rayakan perbedaan melalui logika dan ilmu.
Penulis adalah Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Wonogiri
Tingkatkan Kualitas Layanan, RS PKU ‘Aisyiyah Boyolali Lakukan Groundbreaking Gedung Baru
BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-RS PKU ‘Aisyiyah Boyolali resmi memulai proyek pembangunan perluasan Gedung A. Langkah strategis ini ditandai dengan prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) yang dirangkaikan dengan...
IMM FKIP UMS Gandeng Warga Susun SOP Peringatan Dini Banjir di Desa Carikan
KLATEN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar...
Peduli Korban Gempa NTT, IMM Sukoharjo Gelar Penggalangan Dana
SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Sukoharjo melalui Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat (SPM) menggelar aksi penggalangan dana kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa...
Wayang Kulit Jadi Media Dakwah, IMM Jawa Tengah Angkat Lakon Suta Sudarma
KLATEN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Jawa Tengah melalui Bidang Seni, Budaya, dan Pariwisata bersama LSBO PDM Klaten menggelar Pagelaran...
Teknik Mesin UMS Perkuat Kompetensi SDM Hadapi Era Kendaraan Listrik
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat kesiapan sumber daya manusia (SDM) menghadapi perkembangan teknologi otomotif, khususnya kendaraan listrik. Upaya...
Kwarda HW Solo Siapkan 85 Calon Pelatih Lewat Jaya Melati 1
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM- Kwartir Daerah Hizbul Wathan (Kwarda HW) Kota Solo bersiap menggelar pendidikan dan pelatihan bagi calon pelatih kepanduan HW tingkat dasar atau Jaya Melati...
Kepala SMP Muhammadiyah 1 Simpon Sampaikan 5 Pesan dari Ketua Umum PP Muhammadiyah
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Kepala SMP Muhammadiyah 1 Simpon, Kota Solo, The Favourite School, H.M. Rusmanto, menyampaikan lima pesan penting Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, sebagai...
KKN-MAs Sukses Gelar Program “Isi Piringku” di Kab. Malang
MALANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Dalam upaya meningkatkan kesadaran gizi seimbang sejak dini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah ‘Aisyiyah (KKN-MAs) sukses menggelar program kerja bertajuk “Isi Piringku” di Sekolah...
Monica Subastia Pimpin PP Nasyiatul Aisyiyah Periode 2026-2030
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Puncak perhelatan Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah resmi menetapkan Monica Subastia sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) periode 2026–2030. Penetapan tersebut melalui Sidang...
Eco Bhinneka Muhammadiyah Berbagi Praktik Baik Eco Sociopreneurship di Muktamar NA
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Eco Bhinneka Muhammadiyah menggelar talkshow “Dari Rumah, Menggerakkan Perubahan” dalam rangkaian Tanwir III dan Muktamar XV Nasyiatul Aisyiyah di Hotel Dwangsa Lorin, Colomadu, Karanganyar,...
Haedar Nashir: Muktamar Harus Menjadi Ruang Musyawarah, Bukan Ketegangan
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan agar muktamar tidak dimaknai sekadar sebagai forum organisasi atau pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, muktamar...
Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah Tetapkan 13 Formatur PPNA Periode 2026–2030
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah yang berlangsung di Kota Solo berhasil menetapkan 13 formatur Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) periode 2026–2030, Sabtu (8/8/2026) dini hari....







