Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Ortom

Zakir Naik dan Gugatan atas Kejumudan, Antara Dialog Ilmiah dan Reaksi Emosional

Adam Aryo Gumilar, Editor: Sholahuddin
Jumat, 11 Juli 2025 08:43 WIB
Zakir Naik dan Gugatan atas Kejumudan, Antara Dialog Ilmiah dan Reaksi Emosional
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Adam Aryo Gumilar (dok. pribadi).

Kehadiran Dr. Zakir Naik dalam rangkaian tour dakwahnya di Indonesia kembali memantik perdebatan publik. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, kedatangan ulama asal India ini disambut hangat seperti saat beliau berorasi di Edutorium K.H. Ahmad Dahlan UMS pada Selasa (8/7/2025) malam. Ribuan orang hadir dari berbagai kota untuk mendengarkan ceramahnya yang dikenal lugas, logis, dan penuh data perbandingan lintas agama. Namun, sambutan positif ini tidak seragam. Penolakan terhadap kedatangan Zakir Naik muncul di beberapa titik, salah satunya di Malang, Jawa Timur.

Penolakan ini tentu tidak bisa dianggap remeh. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar perlu diajukan, apakah penolakan ini didasarkan pada logika akademis dan argumentasi intelektual, atau hanya reaksi emosional dan prasangka ideologis?  Zakir Naik bukan figur tanpa kontroversi. Retorikanya yang tajam, pendekatannya yang apologetik terhadap Islam, serta kecakapannya dalam debat terbuka menjadikannya tokoh yang dicintai sekaligus ditakuti. Namun, membatasi ruangnya untuk berbicara di negeri yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, hal itu justru bertentangan dengan prinsip dasar demokrasi dan nilai-nilai keilmuan itu sendiri.

Dalam konteks ini, penolakan di Malang perlu dikaji secara kritis. Jika benar bahwa Indonesia adalah rumah bagi toleransi dan dialog, maka semestinya setiap gagasan, betapa pun kontroversialnya, dijawab dengan diskusi yang terbuka, bukan dengan pembungkaman. Mengutip filsuf John Stuart Mill dalam On Liberty (1859), “The best way of combating erroneous arguments is by the open encounter of ideas.” Zakir Naik seharusnya tidak dihindari, tetapi dilibatkan dalam dialog yang sehat dan setara.

Dalam sejarah Islam sendiri, perbedaan pendapat merupakan bagian dari khazanah keilmuan. Imam Syafi’i dan Imam Hanafi berbeda tajam dalam banyak hal, tetapi mereka tidak saling menolak kehadiran mereka. Bahkan, Imam Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menegaskan pentingnya ilmu yang membebaskan manusia dari taklid buta. Ini selaras dengan semangat tajdīd (pembaruan) yang diajarkan oleh para pembaharu Islam, termasuk di Indonesia.

Kejumudan Berpikir

Penolakan terhadap Zakir Naik di Malang mencerminkan satu hal yang harus kita waspadai: kejumudan berpikir. Yakni, ketakutan terhadap ide baru, penolakan tanpa kajian, dan pembungkaman atas nama harmoni semu. Dalam pandangan Tan Malaka, hal seperti ini adalah pengkhianatan terhadap semangat kemerdekaan berpikir. Ia pernah menulis dalam Madilog bahwa logika dan pengalaman adalah fondasi berpikir yang rasional bukan emosi dan asumsi kosong.

Gunawan Mohamad juga pernah menyindir kecenderungan masyarakat Indonesia yang mudah “panik moral” terhadap apa yang mereka anggap asing atau berbeda. Di sinilah ironi muncul, mereka yang menolak atas nama toleransi, justru menampilkan intoleransi terhadap perbedaan gagasan.

Lebih jauh lagi, jika kita tarik ke dalam prinsip maqāṣid al-syarī‘ah, maka menjaga akal (ḥifẓ al-‘aql) menjadi salah satu tujuan utama syariat. Melarang seseorang berbicara atau berdakwah tanpa dasar yang kuat justru bertentangan dengan maqashid ini. Dakwah Zakir Naik, meskipun tajam, tetaplah berbasis argumen dan teks yang bisa diuji validitasnya secara ilmiah. Jika ada yang tidak sepakat, maka seyogianya menjawab dengan argumen, bukan dengan pengusiran.

Indonesia tidak seharusnya menjadi ruang publik yang alergi terhadap perbedaan narasi. Justru, kedewasaan demokrasi dan keislaman masyarakat diuji ketika kita mampu menerima, mengkritik, atau membantah tanpa membungkam. Zakir Naik hadir sebagai peluang untuk menghidupkan tradisi debat keilmuan yang sehat, bukan sebagai ancaman. Mari gugurkan kejumudan, dan rayakan perbedaan melalui logika dan ilmu.

Penulis adalah Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Wonogiri

Berita Terbaru

Fun Football PCPM Kota Bengawan Pererat Persaudaraan Pemuda Masjid

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kota Bengawan menggelar Fun Football Mini Soccer sebagai puncak rangkaian Semarak Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah di The...

Yayah Khisbiyah Kupas Psikologi Sosial dan Political Stress di Acara IMM Jateng-DIY

MAGELANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Kader dan peserta IMM Jawa Tengah dan DIY mengikuti sesi materi umum hari kedua dengan tema “Peran Psikologi Sosial dalam Mengawal Kebijakan...

IMM Surakarta Tekankan Peran Kritis Mahasiswa dalam Pembangunan Kota

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Surakarta menggelar Stadium General (SG) DAMNas bertema “Disrupsi Masyarakat Urban 5.0” di Gedung Pimpinan Daerah...

Pemuda Muhammadiyah Solo Diajak Aktif Cari Solusi Persoalan Sampah

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Surakarta menggelar puncak peringatan Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah melalui sarasehan kader lintas generasi di Loji Gandrung, rumah...

Mahasiswa Komunikasi UMS Dominasi Ajang Student Mobility di Malaysia

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional melalui program...

IMM Surakarta Buka DAMNas 2026, Bahas Disrupsi Masyarakat Urban 5.0

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Darul Arqam Madya Nasional (DAMNas) yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Surakarta resmi dibuka di Gedung Pimpinan Daerah...

Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Status Quo dalam Gerakan Pada Milad ke-109 ‘Aisyiyah

YOGYAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya pembaruan cara berpikir dan penguatan daya juang organisasi dalam menghadapi perubahan zaman. Haedar menyampaikan...

Refleksi Milad ke-109 ‘Aisyiyah: Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian

YOGYAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menyelenggarakan Pidato Refleksi Milad ke-109 ‘Aisyiyah, Selasa (19/5/2026), di Convention Hall Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. Dengan mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan...

Apresiasi Disiplin dan Kebersihan, SD Muhammadiyah PK Banyudono Umumkan Guru dan Kelas Terbaik

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Upacara bendera di SD Muhammadiyah PK Banyudono, Senin (18/5/2026), berlangsung berbeda dari biasanya. Kepala Sekolah Pujiono memberikan penghargaan kepada guru dan kelas...

Tabligh Akbar Milad ke-94, Pemuda Muhammadiyah Solo Ajak Anak Muda Kembali ke Al-Qur’an 

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM–Pemuda Muhammadiyah Surakarta menggelar Tabligh Akbar dalam rangka Milad ke-94 di Masjid Al Wustho Mangkunegaran, Ahad (17/5/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 300 peserta dari...

Milad ke-109 ‘Aisyiyah, IGABA Boyolali Gelar Festival Tahfiz dan Tari Tembang Dolanan

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Ikatan Guru Bustanul Athfal (IGABA) Boyolali menggelar Festival Anak dan Guru dalam rangka Milad ke-109 ‘Aisyiyah, Sabtu (16/5/2026), di SD Muhammadiyah Program...

Teladani KH Ahmad Dahlan, Penceramah di Kajian Rutin MIM Kismoyoso Ajak Guru Buat Sejarah

BOYOLALI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Kismoyoso Ngemplak Boyolali menggelar Kajian Rutin Guru di Kantin Rumah Kismoyoso, Sabtu (16/5/2026). Kegiatan diawali tadarus Al-Qur’an yang...