Eksistensi Persyarikatan Muhammadiyah telah melebihi satu abad. Selama ini, Muhammadiyah telah menjadi gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, pemurnian akidah dari jurang kejumudan, melalui segenap usaha menolong umat dari ketertinggalan. Ketika Muhammadiyah dirintis pada 1912, Muhammadiyah bertujuan membangkitkan kesadaran umat Islam dari ketertinggalan. Waktu itu umat Islam tertinggal jauh dari kemajuan ilmu pengetahuan, ekonomi, kesehatan dan sosial. K.H. Ahmad Dahlan telah merumuskan model “perlawanan ketertinggalan” Muhammadiyah yakni model kelolaan pendidikan, kesehatan dan layanan sosial bagi umat.
Kiai Dahlan menawarkan model “gerakan Islam” kemadjoen dengan segala tantangan. Tantangan awal Kiai Dahlan yang diterima sangat besar, yaitu surau miliknya dibakar dan keluarganya dipaksa mengungsi. Kendati demikian, Kiai Dahlan tidak kenal mundur. Ia melanjutkan misi Al-Qur’an surat Al Ma’un yakni menolong umat dari ketertindasan dan ketertinggalan melalui model gerakan Islam kemajuan tersebut. Maka capaian sekolah Muhammadiyah adalah menjadi pusat pengetahuan dan kaderisasi Islam kemajuan dengan segala tantangan.
Tantangan AUM Pendidikan
K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan pentingnya pengelolaan pendidikan dan gerakan sosial menyeluruh bagi umat Islam. Periode tahun ini, ribuan sekolah dan ratusan perguruan tinggi Muhammadiyah telah berdiri di berbagai tempat. Jumlah sekolah yang melejit tersebut, perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas pengelolaan dan dampak pengetahuan, keimanan dan akhlak lembaga pendidikan Muhammadiyah kepada umat sekitarnya, bahkan hingga tingkat regional maupun global.
Kepemilikan sebuah pengalaman pribadi menjadi seorang guru sekolah Muhammadiyah menggambarkan bahwa, capaian sekolah Muhammadiyah sebagai pusat pengetahuan dan kaderisasi belum merata. Belum semua sekolah Muhammadiyah mampu meraih prestasi sebagai pusat pengetahuan dan kaderisasi yang membanggakan. Beberapa sekolah Muhammadiyah memiliki jeda dan jarak jauh menuju gerakan Islam kemajuan tersebut. Kondisi tersebut perlu dikaji secara menyeluruh, misalnya pengkajian aspek manajemen, sumber daya insani (SDI) gerak sekolah, ghirroh/semangat memajukan sekolah Muhammadiyah, dll. Salah satu jawaban nyata adalah perjuangan untuk perbaikan dan peningkatan ketahanan sekolah dalam menghadapi persaingan sekolah di sekolah Muhammadiyah. Langkah awal gerakan Islam kemajuan tersebut adalah komitmen warga Muhammadiyah dalam dakwah bidang pendidikan.
Sekolah-sekolah Muhammadiyah punya banyak modal untuk menggerakkan dan meningkatkan mutu layanan pendidikan. Tapi itu tidak cukup jika tidak didesain ulang, supaya bermekaran lagi sekolah-sekolah unggulan dan maju milik Muhammadiyah. Jangan sampai berkat jumlah sekolah yang banyak kita jadi terlena untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan. Latar sejarah Muhammadiyah dalam bidang pendidikan harus jadi pegangan yang kokoh. Idealnya, sekolah-sekolah Muhammadiyah menjadi alat dakwah, pusat pendidikan dan kaderisasi yang melahirkan kader-kader progresif dalam menganalisis persoalan dan tajam dalam memberikan solusi. Kader-kader dididik untuk menolong umat dari ketidakadilan, ketidaksetaraan, dan kebodohan. Jadi sekolah tidak sekadar terus menerus berurusan dengan urusan teknis pendidikan. Harus ada visi yang lebih tinggi.
Menggiatkan Gerak Sekolah
Persyarikatan Muhammadiyah sedang menjalani pembenahan istiqamah. Upaya penguatan dan perbaikan gerakan kemajuan tersebut tersurat dalam Pedoman Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 01/PED/I.0/B Tahun 2018 tentang Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah. Pedoman resmi tersebut mempertegas tentang dasar, prinsip, fungsi, dan tujuan pendidikan Muhammadiyah dalam mengelola lembaga pendidikan menuju gerakan Islam kemajuan. Warga persyarikatan Muhammadiyah bertanggungjawab menjaga dan memastikan kerangka utama visi pendidikan Muhammadiyah tetap berada pada jalur gerakan Islam kemajuan.
Pemikir dunia pendidikan di nusantara sebetulnya sudah sangat maju pada masanya. Selain ada K.H. Ahmad Dahlan, juga kita bisa menengok gagasan Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan adalah memerdekakan manusia (Dewantara: 1961). Konsep pendidikan nasional pertama yang ditulis oleh Bapak Pendidikan Indonesia ini senafas dengan ideologi pendidikan Muhammadiyah. Sebuah konsep ideologi pendidikan yang diselenggarakan dengan penuh keikhlasan sebagai pusat dakwah dan kaderisasi yang mampu mendidik generasi masa depan umat menjadi bertakwa pada Allah, serta menjadi kader berilmu, cakap, mandiri, berkemajuan dan unggul dalam menjalankan kewajibannya sebagai warga negara secara demokratis dan bertanggungjawab.
Kita mesti kembali berpedoman bahwa dasar pendidikan Muhammadiyah adalah nilai-nilai yang bersumber pada Al-Quran, as-Sunnah dan kebijakan Persyarikatan, (Pasal 2: Pedoman Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 01/PED/I.0/B Tahun 2018). Kita sudah memiliki dasar yang kokoh dalam menyelenggarakan pendidikan. Dasar itu sudah kita ramu dalam ideologi Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIKA). Dasar itu adalah sebuah modal yang menjadikan Muhammadiyah sudah sangat kaya serta mapan dalam hal studi kultural sebagai pilar penyangga pendidikannya.
Apakah sekolah Muhammadiyah istiqamah bertahan dalam jalur gerak Islam kemajuan tersebut? Dapatkah Persyarikatan mampu mengakses input, mengolah, mengontrol, menjalankan dan menilainya sebagai sebuah laboratorium studi kultural kepada murid-muridnya? Sedangkan sampai sekarang, sekolah-sekolah Muhammadiyah terdistraksi oleh urusan teknis instrumentalistik, mengejar pemenuhan standar kualitatif. Kondisi tersebut dirasa menyulitkan dalam penerapan AIKA ke dalam penjabaran kurikulum dan program-program sekolah sebagai dasar studi kultural sekolah Muhammadiah. Temuan stagnasi gerakan Islam kemajuan di sekolah Muhammadiyah saat sekarang bahwa, AIKA hanya sebatas muatan lokal dalam kurikulum, program-programnya sekadar ritual dan simbol penghafalan, dialektika dalam pengkajian AIKA di sekolah-sekolah.
Para pengelola sekolah bersama warga muhammadiyah perlu mengevaluasi jalur perjalanan Muhammadiyah menuju Islam kemajuan melalui pendirian sekolah. Capaian sekolah Muhammadiyah menjadi gerakan Islam kemajuan diwujudkan dalam bentuk sekolah Muhammadiyah sebagai pusat pendidikan, kaderisasi, dakwah, dan pelayanan pencerdasan kehidupan umat manusia beriman, bertakwa dan berakhlak mulia sebagaimana dijelaskan Pasal 4: Pedoman Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 01/PED/I.0/B Tahun 2018, bahwa sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak dimaksudkan sebagai sebuah wahana persaingan, mencetak robot sempurna tepat guna untuk bersaing di pasar global. Sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak dimaksudkan untuk bersaing sebagai sekolah unggulan, hanya menerima murid unggulan dan menghasilkan lulusan unggulan, mampu menjadi manusia cerdas. Apakah model AIKA telah diterapkan dalam program kegiatan nyata oleh sekolah Muhammadiyah ditandai dengan kemajuan berpikir nyata dan menjadi pribadi berakhlak mulia bagi para murid-muridnya.
Sekolah Muhammadiyah ditegakkan untuk menjadi sarana pemahaman umat, pusat kaderisasi Muslim berkemajuan. Sebagai pusat kaderisasi, capaian lulusan sekolah Muhammadiyah menghasilkan kader Islam berkemajuan pendukung dan penggerak terwujudnya cita-cita dan tujuan Persyarikatan. Yaitu menghasilkan lulusan yang mewujudkan terwujudnya masyarakat Islam sebenar-benarnya. Karenanya, sekolah-sekolah Muhammadiyah mengutamakan dirinya berfungsi penghasil lulusan berkemampuan hidup sebagai pribadi Muslim yang sebenar-benarnya sebagaimana ideologi AIKA Persyarikatan.
Periode globalisasi meminta sekolah Muhammadiyah menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan menghasilkan kader-kader Muslim berkemajuan unggul. Karenanya, para tenaga pendidik dan tenaga kependidikan serta warga Muhammadiyah memiliki kemampuan mendidik kader-kader terbaik menjadi individu penggagas solusi islami terhadap persoalan-persoalan umat manusia kontemporer. Idealnya kader Muhammadiyah lulusan sekolah-sekolah Muhammadiyah berkompetensi menjadi agen anti-ketimpangan dan ketidakadilan sosial. Keadaan tersebut memerlukan model gerak, program pemelajar dan kegiatan kelas di sekolah di antaranya kolaborasi mata pelajaran sains, humaniora dan AIKA di sekolah Muhammadiyah. Dengan demikian sekolah Muhammadiyah berhasil menjadi pusat pengetahuan, keimanan, ketakwaan bagi siswa-siswa yang ditandai oleh kecakapan intelektual kemanusiaan dan spiritualitas.
Penulis: Sumantoiman, Ns., M.Kes (Ketua LPCRPM PDM Surakarta Periode 2022-2027)
Sumber:
Diki Hermawan dalam Artikel, Moderasi Islam (Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Rusia & Mahasiswa Kazan Federal University). Redaksi Muhammadiyah, editor Fauzan tahun 2020.
Hotman Sugeng Ritonga, A.Andari, Ahmad Husein Nasution. 2023. Dinamika dan Kontribusi Pendidikan Muhammadiyah di Indonesia: Studi Kasus di Sekolah Dasar Didaktika: Jurnal Kependidikan, Vol. 12, No. 4, November 2023 https://jurnaldidaktika.org 731 Universitas Islam An Nur Lampung, Indonesia
Marzuki Noor, Sutrisni Andayani. Pengelolaan Pendidikan Untuk Meningkatkan Mutu Sekolah Muhammadiyah. Artikel Hasil Penelitian, Vol. 5 No. 1 (2023): SNPPM 5 Universitas Muhammadiyah Metro. 2023
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






