“Ada dua kunci kemajuan sekolah, yaitu ketika sekolah dipimpin seorang kepala sekolah yang berani dan pimpinan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) yang peduli”. Kalimat ringkas dan padat makna ini kami peroleh dari salah satu peserta Pendidikan Khusus Kepala Sekolah/Madrasah (Diksuspala) Region II di Medan, Sumatera Utara, saat sesi FGD (focus group discussion) beberapa waktu lalu. Saat itu penulis esai ini bertindak sebagai fasilitator/narasumber.
Kalimat di atas dapat digunakan sebagai kerangka konseptual untuk membaca pasang surut sekolah Muhammadiyah di suatu daerah. Tentu, bisa juga untuk menelaah mengapa suatu sekolah di daerah yang sama, tetapi mengalami perkembangan berbeda-beda. Dengan demikian bisa dirumuskan suatu tesis, atau kerangka konseptual sebagai berikut: “kunci kemajuan sekolah Muhammadiyah adalah kehadiran kepala sekolah pemberani dan pimpinan Majelis Dikdasmen peduli”.
Bagi para pegiat atau praktisi pendidikan Muhammadiyah, kerangka konseptual ini bukan sekadar teori tentang strategi pengembangan sekolah, tetapi juga sekaligus kerangka praksis sosial pengembangan sekolah. Ini artinya bagi seorang pimpinan Majelis Dikdasmen harus menjadi otokritik sekaligus cambuk untuk meningkatkan kepedulian pada pengembangan sekolah. Pada saat bersamaan, bagi kepala sekolah (tentu saja didukung para guru) menjadi telaah diri seberapa tinggi kadar keberaniannya dalam memimpin sekolah selama ini, dan berupaya keras untuk meningkatkan kapasitas keberanian.
Tentu perlu penajaman dan pengkerucutan makna peduli dan pemberani agar tepat sasaran sehingga dosis atau takarannya akurat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peduli berarti mengindahkan, memperhatikan, menghiraukan. Pimpinan Majelis Dkdasmen yang peduli berarti mengindahkan, memerhatikan, dan menghiraukan keadaan sekolah dan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan di sekolah yang diselenggarakannya. Jangan sampai bertindak sebaliknya, yakni meminta kepala sekolah untuk memperhatikan dirinya.
Menurut KBBI, berani berarti mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan dan sebagainya, tidak takut/gentar. Kepala sekolah pemberani berarti seorang kepala sekolah yang memiliki sifat pemberani, atau sangat berani dalam menghadapi dan mengatasi tantangan dan rintangan dalam proses memajukan sekolah.
Model Pimpinan Majelis yang Peduli
Berdasarkan pengamatan dan observasi kecil-kecilan, Ketua Majelis Dikdasmen-PNF Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah saat ini, Didik Suhardi, Ph.D. layak dikedepankan menjadi model pimpinan majelis yang peduli dengan pengembangan sekolah/madrasah Muhammadiyah. Berikut kami tunjukkan beberapa peristiwa: pertama, selama berlangsung Diksuspala selalu membersamai para fasilitator dari awal pembukaan sampai penutupan. Meski sempat menjabat sebagai Sekjend Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendekbud), tetapi pola interaksi sosialmnya sangat egaliter dan cair. Kedua, di sela-sela kegiatan itu, beliau meluangkan waktu mendatangi sekolah/madrasah Muhammadiyah untuk bertemu dengan guru-guru. Bukan untuk berceramah, tetapi untuk mendengar apa yang bapak-ibu guru pikirkan dan rasakan untuk kemudian secara bersama-sama dicari jalan keluarnya.
Mengapa begitu peduli? Karena dibimbing obsesi/visi besar, yaitu membalikkan piramida sekolah/madrasah yang berpola piramida normal (hanya sebagian kecil yang mutunya tinggi dan sebagian besar bermutu sedang dan rendah) menjadi piramida terbalik yakni sekolah yang bermutu tinggi jauh lebih besar dari pada yang mutu sedang maupun rendah. Visi inilah yang menggerakkannya untuk terus berkreasi dan berinovasi dengan hal-hal baru tanpa mengenal lelah. Kepedulian otentik ini dimungkinkan karena sudah selesai dengan urusannya sendiri
Tentu masih banyak lagi pimpinan Majelis Dikdasmen di tingkat wilayah, daerah, bahkan cabang Muhammadiyah yang memiliki kepedulian autentik terhadap kemajuan sekolah Muhammadiyah. Mereka dengan penuh dedikasi dan mencurahkan energi besar untuk membesarkan sekolah Muhammadiyah tanpa pamrih. Ciri kepemimpinan Majelis Dikdasmen model baru adalah peduli, proaktif, egaliter, dan penggerak kemajuan sekolah. Untuk membedakan dengan model lama yang cenderung pasif-reaktif, birokratis-feodalistik, dan penghambat laju perkembangan sekolah.
Model Kepala Sekolah Pemberani
Belakangan ini bermunculan figur-figur perintis-pioner sekolah berkemajuan di berbagai daerah, baik kota-kota di Jawa maupun luar Jawa. Tanpa bermaksud mengabaikan peran lainnya, yang diangkat sebagai model Kepala Sekolah Pemberani adalah Drs. Sutrisno, orang yang paling bertanggung jawab (peran sentral) dalam mentransformasikan SD Muhammadiyah Sapen Jogja dari kondisi awal sekolah “kandang kambing” menjadi sekolah unggul-berkemajuan.
Ada dua pencapaian penting yang dilakukan beliau, yaitu: berani bercita-cita dan berani mewujudkan cita-cita. Pada tahun 1980-an, kala proses awal perintisan, cita-cita menjadikan sekolah unggul-berkemajuan belum terpipirkan di kalangan pimpinan sekolah Muhammadiyah. Dan, ketika cita-cita itu dilontarkan, sebagaian besar menertawakan, sesuatu yang aneh, sesuatu yang ganjil. Pada titik ini, keberanian melahirkan cita-cita dan menyampaikan kepada stakeholder suatu prestasi yang luar biasa.
Baca juga: Para Perintis Sekolah Berkemajuan
Yang lebih luar biasa lagi adalah, keberanian mewujudkan cita-cita agung itu menjadi suatu kenyataan. Dalam mewujudkan cita-cita agung itu, modalnya bukan uang melimpah, tetapi dengan “modal dengkul”, kalau istilah sekarang dinamakan “modal sosial”, yaitu dengan mengubah budaya leha-leha, santai, menjadi budaya disiplin. Dengan demikian, modalitas awal pengembangan SD Muhammadiyah Sapen Jogja adalah kedisiplinan.
Dari pengalaman sukses SD Muhammadiyah Sapen Jigja bisa ditarik pelajaran bahwa keberanian kepala sekolah dalam pengembaraan cita-cita agung, yang dinilai nyleneh, bahkan dianggap gila pada zamannya adalah langkah/modal awal yang berharga, untuk kemudian disusul dengan keberanian mewujdkan cita-cita agung itu menjadi kenyataan.
Apabila dua kunci pengembangan sekolah maupun madrasah dapat dipegang, yaitu pimpinan Majelis Dikdasmen yang peduli dan kepemimpinan kepala sekolah pemberani bisa dihadirkan dan dikolaborasikan maka cita-cita besar yang visioner untuk membalikkan realitas empirik sekolah-madrasah dari piramida normal menjadi piramida terbalik akan terwujud dalam waktu relatif singkat. Semoga…
Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan PDM Kota Solo.
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...
Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka
Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....
Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka
Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...
Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih
Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...
Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”
Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...
Muhammadiyah dan Rokok…
Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...
Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka
“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...
Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton
Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...
Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu
Daftar IsiDakwah yang Kehilangan AkhlakKenapa Fenomena Ini Diberi Panggung?Candaan Boleh, Tapi Jangan BerlebihanKrisis Ilmu di Tengah Budaya ViralDari Popularitas ke PencerahanKembali ke Akhlak dan HikmahFenomena...
MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup
Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...






