Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Dua Kunci Kemajuan Sekolah, Peduli dan Pemberani

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Senin, 2 September 2024 00:01 WIB
Dua Kunci Kemajuan Sekolah, Peduli dan Pemberani
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dr. Mohamad Ali (Dok. pribadi)

“Ada dua kunci kemajuan sekolah, yaitu ketika sekolah dipimpin seorang kepala sekolah yang berani dan pimpinan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) yang peduli”. Kalimat ringkas dan padat makna ini kami peroleh dari salah satu peserta Pendidikan Khusus Kepala Sekolah/Madrasah (Diksuspala) Region II di Medan, Sumatera Utara, saat sesi FGD (focus group discussion) beberapa waktu lalu. Saat itu penulis esai ini bertindak sebagai fasilitator/narasumber.

Kalimat di atas dapat digunakan sebagai kerangka konseptual untuk membaca pasang surut sekolah Muhammadiyah di suatu daerah. Tentu, bisa juga untuk menelaah mengapa suatu sekolah di daerah yang sama, tetapi mengalami perkembangan berbeda-beda. Dengan demikian bisa dirumuskan suatu tesis, atau kerangka konseptual sebagai berikut: “kunci kemajuan sekolah Muhammadiyah adalah kehadiran kepala sekolah pemberani dan pimpinan Majelis Dikdasmen peduli”.

Bagi para pegiat atau praktisi pendidikan Muhammadiyah, kerangka konseptual ini bukan sekadar teori tentang strategi pengembangan sekolah, tetapi juga sekaligus kerangka praksis sosial pengembangan sekolah. Ini artinya bagi seorang pimpinan Majelis Dikdasmen harus menjadi otokritik sekaligus cambuk untuk meningkatkan kepedulian pada pengembangan sekolah. Pada saat bersamaan, bagi kepala sekolah (tentu saja didukung para guru) menjadi telaah diri seberapa tinggi kadar keberaniannya dalam memimpin sekolah selama ini, dan berupaya keras untuk meningkatkan kapasitas keberanian.

Tentu perlu penajaman dan pengkerucutan makna peduli dan pemberani agar tepat sasaran sehingga dosis atau takarannya akurat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peduli berarti mengindahkan, memperhatikan, menghiraukan. Pimpinan Majelis Dkdasmen yang peduli berarti mengindahkan, memerhatikan, dan menghiraukan keadaan sekolah dan kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan di sekolah yang diselenggarakannya. Jangan sampai bertindak sebaliknya, yakni meminta kepala sekolah untuk memperhatikan dirinya.

Menurut KBBI, berani berarti mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam menghadapi bahaya, kesulitan dan sebagainya, tidak takut/gentar. Kepala sekolah pemberani berarti seorang kepala sekolah yang memiliki sifat pemberani, atau sangat berani dalam menghadapi dan mengatasi tantangan dan rintangan dalam proses memajukan sekolah.

Model Pimpinan Majelis yang Peduli

Berdasarkan pengamatan dan observasi kecil-kecilan, Ketua Majelis Dikdasmen-PNF Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah saat ini, Didik Suhardi, Ph.D. layak dikedepankan menjadi model pimpinan majelis yang peduli dengan pengembangan sekolah/madrasah Muhammadiyah. Berikut kami tunjukkan beberapa peristiwa: pertama, selama berlangsung Diksuspala selalu membersamai para fasilitator dari awal pembukaan sampai penutupan. Meski sempat menjabat sebagai Sekjend Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendekbud), tetapi pola interaksi sosialmnya sangat egaliter dan cair. Kedua, di sela-sela kegiatan itu, beliau meluangkan waktu mendatangi sekolah/madrasah Muhammadiyah untuk bertemu dengan guru-guru. Bukan untuk berceramah, tetapi untuk mendengar apa yang bapak-ibu guru pikirkan dan rasakan untuk kemudian secara bersama-sama dicari jalan keluarnya.

Mengapa begitu peduli? Karena dibimbing obsesi/visi besar, yaitu membalikkan piramida sekolah/madrasah yang berpola piramida normal (hanya sebagian kecil yang mutunya tinggi dan sebagian besar bermutu sedang dan rendah) menjadi piramida terbalik yakni sekolah yang bermutu tinggi jauh lebih besar dari pada yang mutu sedang maupun rendah. Visi inilah yang menggerakkannya untuk terus berkreasi dan berinovasi dengan hal-hal baru tanpa mengenal lelah. Kepedulian otentik ini dimungkinkan karena sudah selesai dengan urusannya sendiri

Tentu masih banyak lagi pimpinan Majelis Dikdasmen di tingkat wilayah, daerah, bahkan cabang Muhammadiyah yang memiliki kepedulian autentik terhadap kemajuan sekolah Muhammadiyah. Mereka dengan penuh dedikasi dan mencurahkan energi besar untuk membesarkan sekolah Muhammadiyah tanpa pamrih. Ciri kepemimpinan Majelis Dikdasmen model baru adalah peduli, proaktif, egaliter, dan penggerak kemajuan sekolah. Untuk membedakan dengan model lama yang cenderung pasif-reaktif, birokratis-feodalistik, dan penghambat laju perkembangan sekolah.

Model Kepala Sekolah Pemberani

Belakangan ini bermunculan figur-figur perintis-pioner sekolah berkemajuan di berbagai daerah, baik kota-kota di Jawa maupun luar Jawa. Tanpa bermaksud mengabaikan peran lainnya, yang diangkat sebagai model Kepala Sekolah Pemberani adalah Drs. Sutrisno, orang yang paling bertanggung jawab (peran sentral) dalam mentransformasikan SD Muhammadiyah Sapen Jogja dari kondisi awal sekolah “kandang kambing” menjadi sekolah unggul-berkemajuan.

Ada dua pencapaian penting yang dilakukan beliau, yaitu: berani bercita-cita dan berani mewujudkan cita-cita. Pada tahun 1980-an, kala proses awal perintisan, cita-cita menjadikan sekolah unggul-berkemajuan belum terpipirkan di kalangan pimpinan sekolah Muhammadiyah. Dan, ketika cita-cita itu dilontarkan, sebagaian besar menertawakan, sesuatu yang aneh, sesuatu yang ganjil. Pada titik ini, keberanian melahirkan cita-cita dan menyampaikan kepada stakeholder suatu prestasi yang luar biasa.

Baca juga: Para Perintis Sekolah Berkemajuan

Yang lebih luar biasa lagi adalah, keberanian mewujudkan cita-cita agung itu menjadi suatu kenyataan. Dalam mewujudkan cita-cita agung itu, modalnya bukan uang melimpah, tetapi dengan “modal dengkul”, kalau istilah sekarang dinamakan “modal sosial”, yaitu dengan mengubah budaya leha-leha, santai, menjadi budaya disiplin. Dengan demikian, modalitas awal pengembangan SD Muhammadiyah Sapen Jogja adalah kedisiplinan.

Dari pengalaman sukses SD Muhammadiyah Sapen Jigja bisa ditarik pelajaran bahwa keberanian kepala sekolah dalam pengembaraan cita-cita agung, yang dinilai nyleneh, bahkan dianggap gila pada zamannya adalah langkah/modal awal yang berharga, untuk kemudian disusul dengan keberanian mewujdkan cita-cita agung itu menjadi kenyataan.

Apabila dua kunci pengembangan sekolah maupun madrasah dapat dipegang, yaitu pimpinan Majelis Dikdasmen yang peduli dan kepemimpinan kepala sekolah pemberani bisa dihadirkan dan dikolaborasikan maka cita-cita besar yang visioner untuk membalikkan realitas empirik sekolah-madrasah dari piramida normal menjadi piramida terbalik akan terwujud dalam waktu relatif singkat. Semoga…

Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan PDM Kota Solo.

Berita Terbaru

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...