Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Membiasakan Disiplin Sejak Dini, Kunci Kesuksesan Mahasiswa

Dr. Elinda Rizkasari, Editor: Sholahuddin
Sabtu, 3 Mei 2025 16:21 WIB
Membiasakan Disiplin Sejak Dini, Kunci Kesuksesan Mahasiswa
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dr. Elinda Rizkasari (dok. pribadi).

Kata disiplin mungkin merupakan satu kata yang sekarang sudah sangat mahal sekali di negara Indonesia. Banyak orang yang menganggap budaya disiplin merupakan budaya yang sangat ketat dan kaku. Padahal disiplin merupakan salah satu tonggak suatu kesuksesan dimulai dari kedisiplinan.

Disiplin bisa dijelaskan sebagai sikap yang mengikuti dan menghormati tata tertib, norma, atau prinsip.  Selain itu, disiplin juga merujuk pada kemampuan untuk mengatur diri sendiri dengan mematuhi instruksi atau aturan yang telah ditetapkan. Istilah disiplin  berasal dari kata Latin disciplina, yang memiliki arti ‘pembelajaran’. Istilah yang sama juga berakar dari kata pengikut, yang berarti ‘murid atau pendukung’.

Kita perlu salut terhadap budaya disiplin di luar negeri, salah satu contohnya adalah negara Sakura Jepang. Negara yang dikenal dengan negara Matahari terbit tersebut dari sejak zaman dahulu terkenal dengan budaya negeri yang paling disiplin. Dari budaya disiplin kerja, budaya disiplin kebersihan, budaya disiplin waktu dan sebagainya.

Disiplin masyarakat Jepang ditanamkan sejak dini dan menjadi bagian dari budaya mereka. Disiplin orang Jepang terlihat dari berbagai aspek kehidupan dengan prinsip “5S” yaitu: seiri (ringkas), memisahkan barang yang diperlukan dan tidak diperlukan, seiton (rapi), menyimpan barang di tempat yang tepat, Seiso (bersih), membersihkan segala sesuatu, seiketsu (rawat), memelihara kebersihan dan kerapian dan shitsuke (rajin), melaksanakan 4S secara berulang-ulang dan terus mempertahankannya.

Kemudian ditambah dengan prinsip negara Jepang dengan prinsip “5S Plus Plus” yaitu tata tertib, dalam hal ini, orang Jepang tertib dalam antrean, naik lift, naik kereta api dsb. Kemudian dalam hal kebersihan, orang Jepang menjaga kebersihan lingkungan, seperti membuang sampah pada tempatnya dan tidak ada sisa makanan. Kemudian dalam hal pengendalian diri, orang Jepang tidak tertawa, berteriak, atau menangis berlebihan. Prinsip di Sekolah, siswa di sekolah Jepang bertanggung jawab untuk membersihkan ruang kelas dan lingkungan sekolah. Dan yang terakhir adalah nilai-nilai. Disiplin di negara Jepang juga terkait dengan kesetiaan kepada mikado, pengorbanan diri untuk negara dan pemujaan terhadap leluhur.

Dari data penelitian media Internasional tahun 2024, menunjukkan negara Jepang masuk dalam kategori tujuh negara paling disiplin di dunia. Negara-negara dikenal disiplin itu antara lain Singapora, Jepang, Swiss, Norwegia, Belanda dan negara Korea Selatan. Terus di mana posisi Indonesia?

Kadang kita merasa malu sebagai warga negara Indonesia, karena budaya Indonesia terkenal dengan “jam ngaret” yang masih dibawa dari nenek moyang hingga sekarang. Contohnya, ketika kita sudah janjian kepada teman atau kerabat, teman kita bertanya apakah sudah berangkat atau belum? Kemudian jawabannya adalah “otw” atau on the way yang maknanya ‘dalam perjalanan’, padahal sebenarnya dia masih berada di rumah.

Menilik dari hal yang kecil tersebut, kemudian menjalar yang lebih besar seperti sewaktu rapat, tender, lelang dll. Ketika ada undangan rapat, diundang pukul 09.00 pagi, tetapi mulainya baru pukul 09.30, bahkan mulai pukul 10.00 pagi. Hal seperti ini kemudian menjadi membudaya di Indonesia yang banyak dimaklumi oleh banyak orang.

Tanpa kita sadari bahwa hal seperti itu perlahan membunuh mental warga negara Indonesia.  Secara tidak sadar kita sudah tertinggal jauh dengan negara yang lain. Bayangkan, Singapura yang luas wilayahnya hanya 735,7 km² dengan Jumlah penduduk pada tahun 2023 sebesar 5,918 juta, tetapi negara itu sangat maju serta sangat Makmur. Menurut Trading Economics, pendapatan per kapita di Singapura tahun 2023 mencapai 65.422,46 dolar AS. Angka ini setara dengan 518% dari rata-rata dunia. Ditambah lagi, pengangguran di Singapura digaji oleh negara. Pemerintah Singapura memberikan tunjangan pengangguran sebesar S$6.000 atau sekitar Rp74 juta per bulan selama enam bulan. Tunjangan ini diberikan melalui program SkillsFuture Jobseeker Support yang diluncurkan pada pertengahan April 2025.

Hal ini berbanding terbalik dengan negara Indonesia. Wilayah Indonesia yang sangat luas, 1,905 juta km², dengan jumlah penduduk pada tahun 2023 menyentuh 281,2 juta, namun menurut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada tahun 2024 adalah Rp78,62 juta atau US$4.960,33. Tentunya hal ini sangat jauh dari kata makmur dibandingkan Singapura. Belum lagi jumlah data pengangguran di Indonesia yang setiap tahun terus meningkat.

Telusur punya telusur ternyata salah satu indikator yang mempengaruhi faktor tersebut adalah masalah kedisiplinan. Tingkat kedisiplinan di negara Singapura sangatlah tinggi, masuk dalam tujuh negara terdisiplin di dunia. Tentunya masalah ini harus bisa menjadi evaluasi bersama baik bagi warga negara Indonesia ataupun bagi pemangku jabatan.

Merapikan Kurikulum

Di negara Indonesia pentingnya meluruskan serta merapikan kurikulum serta budaya pengajaran dari sejak dini, baik sejak tingkat PAUD, Playgroup, TK, SD, SMP, SMA hingga pada tingkat perguruan tinggi. Pada usia dini hingga perguruan tinggi, pihak sekolah/perguruan tinggi wajib membudayakan budaya disiplin masuk dalam kurikulum wajib. Tentunya hal ini juga harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) pengajar yang memberikan contoh yang baik. Seperti mengacu pada prinsip negara Jepang yang merujuk pada 5S.

Siswa yang terbiasa disiplin dalam belajar akan lebih siap untuk menghadapi tuntutan di dunia kerja. Ketepatan waktu dan tanggung jawab sangat dihargai. Lebih jauh lagi, budaya disiplin menciptakan lingkungan belajar yang teratur dan aman. Dalam suasana yang mendukung, siswa merasa nyaman untuk berkolaborasi dan berinteraksi dengan teman-teman dan guru mereka. Lingkungan ini memfasilitasi pengembangan keterampilan sosial yang penting, seperti komunikasi, empati, dan kerja sama. Ketika siswa dapat belajar dalam kondisi yang tenang dan kondusif, mereka akan lebih mudah menyerap pengetahuan dan mengembangkan kreativitas.

Manfaat budaya disiplin di Indonesia apabila diterapkan dengan baik akan membuat manfaat terutama bagi peserta didik antara lain: membentuk karakter yang kuat; mendorong kemandirian; menanamkan etika kerja; meningkatkan konsentrasi dan fokus; menyiapkan masa depan yang sukses; mengurangi potensi perilaku negatif dan membangun rasa hormat dan tanggung jawab.

Jadi, budaya disiplin di sekolah sangat penting untuk keberhasilan dan karakter bangsa.  Disiplin bukan hanya aturan; itu adalah fondasi yang mendukung pertumbuhan seseorang dan masyarakat secara keseluruhan.  Sekolah memberikan investasi yang sangat berharga untuk masa depan yang lebih baik dengan menerapkan budaya disiplin yang konsisten. Ini tidak hanya mendidik siswa untuk menjadi pintar, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki rasa hormat, tanggung jawab, dan keinginan untuk berkontribusi bagi negara Indonesia.

Penulis adalah dosen Prodi PGSD Unisri Solo

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar Isi Behavioral Addiction dalam Psikologi Modern Otak yang Terlatih pada Stimulus Instan Kesehatan Mental dan Relasi yang Terganggu Al-Qur’an dan Penjagaan Kesadaran Kecanduan sebagai...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment