Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Bisakah Sekolah Muhammadiyah Tumbuh Menjadi Sekolah Unggul?

Dr. Mohamad Ali, Editor: Sholahuddin
Minggu, 20 April 2025 15:40 WIB
Bisakah Sekolah Muhammadiyah Tumbuh Menjadi Sekolah Unggul?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dr. Mohamad Ali (dok.pribadi).

Berdasarkan laporan Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Non-Formal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat Tanwir di Kupang, 4-6 Desember 2004, jumlah sekolah/madrasah Muhammadiyah adalah 5.346 satuan pendidikan. Belakangan ini diketahui bahwa jumlah itu membengkak mendekati 6.000 satuan pendidikan dengan mengacu pada kepala sekolah/madrasah yang mengikuti Diksuspala (Pendidikan Khusus Kepala Sekolah/Madrasah). Perbedaan ini terjadi karena di beberapa daerah sejumlah sekolah tidak secara eksplisit memakai nama Muhammadiyah, tetapi memilih menggunakan nama tokoh-tokoh Muhammadiyah, meski diselenggarakan oleh Persyarikatan Muhammadiyah.

Melihat data kuantitatif tentu membanggakan, suatu capaian yang patut disyukuri. Tetapi bila menukik pada data kualitatif, jelas sangat memprihatinkan. Dengan satu indikator saja, yaitu jumlah siswa dalam suatu satuan pendidikan (lihat tabel 1) telah tergambar bagaimana postur sekolah/madrasah Muhammadiyah. Satuan pendidikan yang masuk kategori sekolah besar, dengan siswa di atas 400 anak,  berjumlah 610 sekolah/madrasah atau sekitar 12% dari keseluruhan satuan pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa 80% lebih satuan pendidikan Muhammadiyah tidak dalam kondisi baik-baik saja.

Tabel 1.  Kategori sekolah Muhammadiyah

Kategori SekolahRentang Jumlah SiswaJumlah sekolah
Sekolah BesarSiswa di atas 400 anak   610
Sekolah SedangSiswa 101 – 400 anak2.714
Sekolah KecilSiswa di bawah 100 anak2.022
                       Jumlah Total5.346

Jumlah siswa menjadi salah satu indikator yang menentukan dalam melakukan kategorisasi. Pertimbangannya, sebagai sekolah swasta, sekolah harus mencukupi kebutuhan operasional sekolah secara mandiri. Uang BOS (Bantuan Operasional Sekolah) masih jauh dari kata memadai untuk menjalankan roda sekolah secara sehat. Dengan jumlah siswa di atas 400 anak, maka diharapkan sekolah Muhammadiyah mampu menggaji guru secara layak (gaji guru bisa standar UMR) sehingga kualitas layanan pendidikan berjalan secara optimal.

Makna Sekolah Unggul

Tentu saja indikator sekolah unggul bukan sekadar jumlah siswanya di atas 400 anak. Tidak sedikit sekolah Muhammadiyah yang siswanya mencapai 400 anak, tetapi kualitas layanannya  belum prima. Layanan prima yang mengutamakan kepuasan pelanggan dalam bentuk capaian prestasi menjadi tolok ukur utama sekolah unggul. Manifestasi layanan prima adalah kepercayaan masyarakat pada sekolah itu tinggi, sehingga mereka mempercayakan pendidikan putra-putrinya ke sekolah Muhammadiyah unggul.

Secara sederhana, tolok ukur sekolah unggul adalah ketika jumlah peminat/pendaftar melampaui kapasitas sekolah, sehingga untuk memasukinya harus melalui proses seleksi. Proses seleksi bisa dilakukan dengan cara kecepatan waktu dalam mendaftar, yang diterima adalah mereka yang lebih awal mendaftar. Dengan proses seleksi ini, maka kita sering mendengar istilah, misalnya: “tiga tahun mendatang SD Muhammadiyah Sapen kuotanya sudah terpenuhi”. Proses seleksi juga bisa dilakukan dengan cara menyeleksi seluruh pendaftar, misalnya 700 anak kemudian disaring dan yang diterima hanya 250 anak.

Mengapa jumlah pendaftar di sekolah unggul cenderung meningkat? Ini dapat dijelaskan melalui teori mekanisme alokasi posisional. Sekolah unggul dinilai oleh publik mampu mengalokasikan lulusan ke jenjang sekolah unggul di atasnya, demikian seterusnya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Sekolah unggul memiliki mandat besar dari Masyarakat, sehingga setiap tahun arus peserta didik baru cenderung menguat.

Fenomena yang paling kasat mata dari keberadaan sekolah unggul adalah pada bulan Januari, bahkan ada yang lebih awal, proses penjaringan siswa baru telah selesai. Oleh karena itu, ketika sekolah lain sedang sibuk mencari siswa baru, guru-guru dan tenaga kependidikan di sekolah unggul sibuk mempersiapkan tahun ajaran baru dengan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru. Dengan demikian kualitas layanan pendidikan di sekolah unggul akan cenderung semakin meningkat, sehingga masyarakat semakin terpikat dan lengket dengan sekolah.

Bila konsep sekolah unggul kita breakdown, maka di situ dapat kita lihat kualitas guru yang kompeten, visioner. Fasilitas sekolah sangat memadai, sehingga semua potensi anak dapat digali secara optimal sesuai minat dan bakatnya masing-masing. Setiap menjadi juara sesuai potensi dirinya. Untuk mencapai kualifikasi sekolah unggul sebagaimana gambaran tersebut, tentu bukan perkara mudah karena sekolah Muhammadiyah pada umumnya bertumbuh dari bawah dan memulai modal yang serba terbatas. Meski demikian dengan strategi dan langkah-langkah tepat dan terukur sekolah Muhammadiyah yang tumbuh dari bawah bisa tumbuh menjadi sekolah unggul yang dicari dan dirindukan masyarakat.

Pengembangan sekolah menjadi sekolah unggul merupakan proses yang berkelanjutan dan tidak pernah mengenal kata akhir/final. Hal ini terjadi karena setiap zaman aspirasi dan imajinasi masyarakat tentang keunggulan suatu sekolah juga berubah. Oleh karena itu, pengelola dan penyelanggara sekolah Muhammadiyah ditantang dan dituntut untuk terus belajar agar mampu membaca tanda-tanda zaman yang terus berubah itu secara cerdas. Sekolah unggul harus terus beradaptasi (adaptif) dengan perubahan orientasi pendidikan masyarakat. Kala ia berhenti berbenah, berproses, dan beradaptasi dengan tantangan baru, maka sesunggungnya telah mengubur keunggulannya dan ia menjadi sekolah yang biasa-biasa saja (medioker)  

Step by Step on Going Process

Secara sosiologis, sebagian besar sekolah Muhammadiyah tumbuh dari bawah dengan modal yang terbatas. Dengan kualifikasi dan tolok ukur sekolah unggul sebagaimana dibicarakan di atas, bisakah sekolah Muhammadiyah tumbuh menjadi sekolah unggul? Pertanyaan ini bisa dijawab secara singkat, bisa!  Bukankah secara empiris telah terbukti ada sebagian kecil sekolah Muhammadiyah yang tumbuh dan merangkak dari bawah kemudian bisa tampil menjadi sekolah unggul yang sangat diminati masyarakat.

Sekadar contoh, konon SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta pada tahun 1980-an dikenal dengan sebutan “sekolah kandang kambing”, karena saking sederhananya bangunan sehinga menyerupai kandang kambing. Namun dengan kerja keras tim yang dipimpin Prof. Dr. Mukti Ali dan Drs. Sutrisno sebagai kepala sekolah, SD itu kemudian tumbuh menjadi sekolah Muhammadiyah unggul. SD Muhammadiyah Sapen menjadi inspirasi dan model bagi pengembangan sekolah Muhammadiyah unggul lain di berbagai daerah.

Berbeda dengan SD Muhammadiyah Sapen yang mengembangkan keunggulannya secara horizontal (menyamping) dengan memprakarsai dan mendampingi SD Muhammadiyah lain agar tumbuh menjadi sekolah unggul, Perguruan Muhammadiyah Kottabarat Solo mengembangkan keunggulan secara vertikal (ke atas). Setelah berhasil mengembangkan SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat (PK) kemudian bereksperimen dengan mendirikan SMP tahun 2010, kemudian disusul pendidrian SMA pada tahun 2016 di bawah manajemen satu atap Perguruan Muhammadiyah Kottabarat. Baik SD, SMP, maupun SMA Muhammadiyah PK Kottabarat menjadi pilihan pertama dan utama masyarakat dalam menyekolahkan putra-putrinya.

Pengalaman penulis sebagai pengasuh-pengelola sekolah Muhammadiyah dapat tumbuh menjadi sekolah unggul, apabila antara pengelola, stakeholder dan penyelenggara dalam konteks Kottabarat, maupun komite sekolah memiliki cita-cita yang sama untuk menuju pada sekolah unggul. Setelah menyamakan frekuensi dan cita-cita, langkah berikutnya membangun komunikasi yang efektif sehingga setiap gerak langkah kemajuan sekolah, terutama untuk hal-hal yang strategis dibicarakan bersama.

Pada tahap awal tidak mudah melakukan rekrutmen guru baru, gaji masih rendah sementara harus bekerja keras, sehingga guru-guru yang tidak memiliki visi yang sama dengan cita-cita awal para pendiri secara otomatis mundur teratur. Keluar masuk guru menjadi pemandangan yang biasa, namun seiring perjalanan waktu, yang terseleksi atau yang bertahan adalah guru-guru yang bukan hanya kompeten, tetapi memiliki visi yang sama.

Ringkasnya, sekolah Muhammadiyah bisa dan mampu berkembang menjadi sekolah unggul ketika penyelenggara, pengelola, stakeholder memiliki visi yang sama, yaitu membangun sekolah unggul. Langkah kedua, menjalin komunikasi yang efektif untuk memastikan bahwa langkah-langkah sekolah sesuai dengan visi/cita-cita yang telah dicanangkan. Langkah ketiga, menerjemahkan visi dalam aktivitas di sekolah, sehingga guru-guru memiliki visi bersama, visi kolektif memajukan sekolah. 

Penulis adalah Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Pengasuh Perguruan Muhammadiyah Kottabarat, Solo

Esai ditulis di Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta

Berita Terbaru

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...