Berdasarkan laporan Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Non-Formal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat Tanwir di Kupang, 4-6 Desember 2004, jumlah sekolah/madrasah Muhammadiyah adalah 5.346 satuan pendidikan. Belakangan ini diketahui bahwa jumlah itu membengkak mendekati 6.000 satuan pendidikan dengan mengacu pada kepala sekolah/madrasah yang mengikuti Diksuspala (Pendidikan Khusus Kepala Sekolah/Madrasah). Perbedaan ini terjadi karena di beberapa daerah sejumlah sekolah tidak secara eksplisit memakai nama Muhammadiyah, tetapi memilih menggunakan nama tokoh-tokoh Muhammadiyah, meski diselenggarakan oleh Persyarikatan Muhammadiyah.
Melihat data kuantitatif tentu membanggakan, suatu capaian yang patut disyukuri. Tetapi bila menukik pada data kualitatif, jelas sangat memprihatinkan. Dengan satu indikator saja, yaitu jumlah siswa dalam suatu satuan pendidikan (lihat tabel 1) telah tergambar bagaimana postur sekolah/madrasah Muhammadiyah. Satuan pendidikan yang masuk kategori sekolah besar, dengan siswa di atas 400 anak, berjumlah 610 sekolah/madrasah atau sekitar 12% dari keseluruhan satuan pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa 80% lebih satuan pendidikan Muhammadiyah tidak dalam kondisi baik-baik saja.
Tabel 1. Kategori sekolah Muhammadiyah
| Kategori Sekolah | Rentang Jumlah Siswa | Jumlah sekolah |
| Sekolah Besar | Siswa di atas 400 anak | 610 |
| Sekolah Sedang | Siswa 101 – 400 anak | 2.714 |
| Sekolah Kecil | Siswa di bawah 100 anak | 2.022 |
| Jumlah Total | 5.346 | |
Jumlah siswa menjadi salah satu indikator yang menentukan dalam melakukan kategorisasi. Pertimbangannya, sebagai sekolah swasta, sekolah harus mencukupi kebutuhan operasional sekolah secara mandiri. Uang BOS (Bantuan Operasional Sekolah) masih jauh dari kata memadai untuk menjalankan roda sekolah secara sehat. Dengan jumlah siswa di atas 400 anak, maka diharapkan sekolah Muhammadiyah mampu menggaji guru secara layak (gaji guru bisa standar UMR) sehingga kualitas layanan pendidikan berjalan secara optimal.
Makna Sekolah Unggul
Tentu saja indikator sekolah unggul bukan sekadar jumlah siswanya di atas 400 anak. Tidak sedikit sekolah Muhammadiyah yang siswanya mencapai 400 anak, tetapi kualitas layanannya belum prima. Layanan prima yang mengutamakan kepuasan pelanggan dalam bentuk capaian prestasi menjadi tolok ukur utama sekolah unggul. Manifestasi layanan prima adalah kepercayaan masyarakat pada sekolah itu tinggi, sehingga mereka mempercayakan pendidikan putra-putrinya ke sekolah Muhammadiyah unggul.
Secara sederhana, tolok ukur sekolah unggul adalah ketika jumlah peminat/pendaftar melampaui kapasitas sekolah, sehingga untuk memasukinya harus melalui proses seleksi. Proses seleksi bisa dilakukan dengan cara kecepatan waktu dalam mendaftar, yang diterima adalah mereka yang lebih awal mendaftar. Dengan proses seleksi ini, maka kita sering mendengar istilah, misalnya: “tiga tahun mendatang SD Muhammadiyah Sapen kuotanya sudah terpenuhi”. Proses seleksi juga bisa dilakukan dengan cara menyeleksi seluruh pendaftar, misalnya 700 anak kemudian disaring dan yang diterima hanya 250 anak.
Mengapa jumlah pendaftar di sekolah unggul cenderung meningkat? Ini dapat dijelaskan melalui teori mekanisme alokasi posisional. Sekolah unggul dinilai oleh publik mampu mengalokasikan lulusan ke jenjang sekolah unggul di atasnya, demikian seterusnya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Sekolah unggul memiliki mandat besar dari Masyarakat, sehingga setiap tahun arus peserta didik baru cenderung menguat.
Fenomena yang paling kasat mata dari keberadaan sekolah unggul adalah pada bulan Januari, bahkan ada yang lebih awal, proses penjaringan siswa baru telah selesai. Oleh karena itu, ketika sekolah lain sedang sibuk mencari siswa baru, guru-guru dan tenaga kependidikan di sekolah unggul sibuk mempersiapkan tahun ajaran baru dengan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi guru. Dengan demikian kualitas layanan pendidikan di sekolah unggul akan cenderung semakin meningkat, sehingga masyarakat semakin terpikat dan lengket dengan sekolah.
Bila konsep sekolah unggul kita breakdown, maka di situ dapat kita lihat kualitas guru yang kompeten, visioner. Fasilitas sekolah sangat memadai, sehingga semua potensi anak dapat digali secara optimal sesuai minat dan bakatnya masing-masing. Setiap menjadi juara sesuai potensi dirinya. Untuk mencapai kualifikasi sekolah unggul sebagaimana gambaran tersebut, tentu bukan perkara mudah karena sekolah Muhammadiyah pada umumnya bertumbuh dari bawah dan memulai modal yang serba terbatas. Meski demikian dengan strategi dan langkah-langkah tepat dan terukur sekolah Muhammadiyah yang tumbuh dari bawah bisa tumbuh menjadi sekolah unggul yang dicari dan dirindukan masyarakat.
Pengembangan sekolah menjadi sekolah unggul merupakan proses yang berkelanjutan dan tidak pernah mengenal kata akhir/final. Hal ini terjadi karena setiap zaman aspirasi dan imajinasi masyarakat tentang keunggulan suatu sekolah juga berubah. Oleh karena itu, pengelola dan penyelanggara sekolah Muhammadiyah ditantang dan dituntut untuk terus belajar agar mampu membaca tanda-tanda zaman yang terus berubah itu secara cerdas. Sekolah unggul harus terus beradaptasi (adaptif) dengan perubahan orientasi pendidikan masyarakat. Kala ia berhenti berbenah, berproses, dan beradaptasi dengan tantangan baru, maka sesunggungnya telah mengubur keunggulannya dan ia menjadi sekolah yang biasa-biasa saja (medioker)
Step by Step on Going Process
Secara sosiologis, sebagian besar sekolah Muhammadiyah tumbuh dari bawah dengan modal yang terbatas. Dengan kualifikasi dan tolok ukur sekolah unggul sebagaimana dibicarakan di atas, bisakah sekolah Muhammadiyah tumbuh menjadi sekolah unggul? Pertanyaan ini bisa dijawab secara singkat, bisa! Bukankah secara empiris telah terbukti ada sebagian kecil sekolah Muhammadiyah yang tumbuh dan merangkak dari bawah kemudian bisa tampil menjadi sekolah unggul yang sangat diminati masyarakat.
Sekadar contoh, konon SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta pada tahun 1980-an dikenal dengan sebutan “sekolah kandang kambing”, karena saking sederhananya bangunan sehinga menyerupai kandang kambing. Namun dengan kerja keras tim yang dipimpin Prof. Dr. Mukti Ali dan Drs. Sutrisno sebagai kepala sekolah, SD itu kemudian tumbuh menjadi sekolah Muhammadiyah unggul. SD Muhammadiyah Sapen menjadi inspirasi dan model bagi pengembangan sekolah Muhammadiyah unggul lain di berbagai daerah.
Berbeda dengan SD Muhammadiyah Sapen yang mengembangkan keunggulannya secara horizontal (menyamping) dengan memprakarsai dan mendampingi SD Muhammadiyah lain agar tumbuh menjadi sekolah unggul, Perguruan Muhammadiyah Kottabarat Solo mengembangkan keunggulan secara vertikal (ke atas). Setelah berhasil mengembangkan SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat (PK) kemudian bereksperimen dengan mendirikan SMP tahun 2010, kemudian disusul pendidrian SMA pada tahun 2016 di bawah manajemen satu atap Perguruan Muhammadiyah Kottabarat. Baik SD, SMP, maupun SMA Muhammadiyah PK Kottabarat menjadi pilihan pertama dan utama masyarakat dalam menyekolahkan putra-putrinya.
Pengalaman penulis sebagai pengasuh-pengelola sekolah Muhammadiyah dapat tumbuh menjadi sekolah unggul, apabila antara pengelola, stakeholder dan penyelenggara dalam konteks Kottabarat, maupun komite sekolah memiliki cita-cita yang sama untuk menuju pada sekolah unggul. Setelah menyamakan frekuensi dan cita-cita, langkah berikutnya membangun komunikasi yang efektif sehingga setiap gerak langkah kemajuan sekolah, terutama untuk hal-hal yang strategis dibicarakan bersama.
Pada tahap awal tidak mudah melakukan rekrutmen guru baru, gaji masih rendah sementara harus bekerja keras, sehingga guru-guru yang tidak memiliki visi yang sama dengan cita-cita awal para pendiri secara otomatis mundur teratur. Keluar masuk guru menjadi pemandangan yang biasa, namun seiring perjalanan waktu, yang terseleksi atau yang bertahan adalah guru-guru yang bukan hanya kompeten, tetapi memiliki visi yang sama.
Ringkasnya, sekolah Muhammadiyah bisa dan mampu berkembang menjadi sekolah unggul ketika penyelenggara, pengelola, stakeholder memiliki visi yang sama, yaitu membangun sekolah unggul. Langkah kedua, menjalin komunikasi yang efektif untuk memastikan bahwa langkah-langkah sekolah sesuai dengan visi/cita-cita yang telah dicanangkan. Langkah ketiga, menerjemahkan visi dalam aktivitas di sekolah, sehingga guru-guru memiliki visi bersama, visi kolektif memajukan sekolah.
Penulis adalah Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Pengasuh Perguruan Muhammadiyah Kottabarat, Solo
Esai ditulis di Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta
MBG, Syirik dan Tauhid
Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...
Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa
Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...
Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?
“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...
Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka
Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....
Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka
Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...
Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih
Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...
Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”
Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...
Muhammadiyah dan Rokok…
Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...
Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka
“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...
Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton
Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...
Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu
Daftar Isi Dakwah yang Kehilangan Akhlak Kenapa Fenomena Ini Diberi Panggung? Candaan Boleh, Tapi Jangan Berlebihan Krisis Ilmu di Tengah Budaya Viral Dari Popularitas ke...
MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup
Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...






