Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) adalah suatu wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah dalam membina integritas dan nilai-nilai Islam. IMM juga memiliki peran dalam menjaga integritas mahasiswa Muhammadiyah serta mendorong kader untuk menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan berkontribusi secara positif untuk masyarakat. Organisasi ini juga menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan pribadi yang positif, serta memupuk semangat keislaman dan peduli sosial.
Dalam era yang terus berkembang dengan tantangan sosial maupun dinamika global yang kompleks, peran IMM menjadi semakin sangat penting. Dengan memperkuat peran dan eksistensi IMM, kita dapat memastikan bahwa mahasiswa Muhammadiyah terus menjadi kekuatan positif dalam membawa perubahan yang berarti bagi masyarakat secara keseluruhan. Dalam melanjutkan peran dan eksistensinya, IMM juga perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman dan tantangan yang ada. Organisasi ini perlu terus memperbarui strategi dan program kerjanya agar relevan dengan kebutuhan dan harapan mahasiswa Muhammadiyah saat ini. Adapun dengan Muhammadiyah identik dengan organisasi yang selalu berkembang dan memunculkan gagasan pembaharuan yang spirit.
Dilansir dari Suara Muhammadiyah, yang disampaikan oleh narasumber ke-2 yaitu Prof. Ai Fathimah Nur Fuad, menyampaikan bahwa, “Muhammadiyah identik dengan organisasi yang selalu berkembang dan memunculkan gagasan pembaruan sebagai wujud spirit.”
Secara sederhana dapat diungkapkan bahwa IMM adalah sebuah organisasi Muhammadiyah yang memiliki tekad untuk meningkatkan kulitas diri serta memiliki komitmen yang kuat tentang religiositas, intelektualitas, dan humanitas, dan tentunya dengan tawadu dan tasamuh. Secara filosofi IMM juga sebagai gerakan intelektual. Salah satu tujuannya yaitu agar dapat mengembangkan kreativitas berpikir para kader. Intelektual merupakan sebuah ciri khas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Karena intelektual itu adalah artikulaor untuk melakukan sebuah perubahan.
Sebagai organisasi pergerakan dan perubahan, IMM harus menjadi berani mengadvokasi kebenaran dan keadilan dalam menghadapi semua problematika masyarakat. Kader IMM memiliki tanggung jawab untuk menjembatani kaum-kaum yang terpingkirkan (marginal), tertindas maupun lemah (mustad’affin), untuk mengaspirasikan kritik dan sarannya, serta dapat melakukan perubahan terhadap sistem sosial yang tidak ada keberpikahakan terhadap rakyat.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah juga perlu peningkatan kapasitas dan profesionalisme anggota organisasi agar dapat mudah tercapai tujuan organisasi dan agar dapat menjadi agen of change yang efektif untuk membangun masa depan yang lebih baik. Kader maupun pimpinan juga harus membangun jaringan (relasi) dengan berbagai pihak untuk memperkuat gerakan perubahan. Dengan adanya banyak jaringan dapat mempermudah suatu program kerja yang ada dan dapat efektif pula suatu kegiatan.
Paham keislaman dan kemuhammadiyahan yang menjadi landasan gerakan tidak sepenuhnya tertanam dan melembaga di internal Persyarikatan. Oleh karena itu, perlu adanya peneguhan kembali terhadap paham Islam dan nilai-nilai ideologi Muhammadiyah secara masif dan terstruktur di seluruh tingkatan dan lini Persyarikatan. Muhammadiyah juga perlu meningkatkan perkembangan amal usaha dengan merespons zaman terutama amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Muhammadiyah harus mampu mendakwahi tiga generasi saat ini, yaitu generasi milenial, generasi Z, generasi alpa, sebagai bentuk investasi masa depan luar biasa sekaligus mempersipakan generasi Indonesia yang lebih baik.
Orbit Dakwah
Oleh karen itu, generasi-generasi tersebut tidak boleh terlalu jauh dari orbit dakwah dan gerakan Muhammadiyah. Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menilai Muhammadiyah juga memerlukan reformasi kaderisasi dan diaspora kader ke berbagai lingkungan dan bidang kehidupan untuk mempersiapkan diaspora kader di berbagai struktur dan lingkungan di luar maupun ke dalam agar gerakan Islam ini mengalami perluasan melalui peran para kadernya. Karena digitalisasi dan intensitas internasionalisasi Muhammadiyah harus dilakukan secara masif dan terstruktur karena era digitalisasi tak bisa dibendung. Jadi perlu dipersiapkan dengan baik dalam pengelolaan organisasi dan administrasi maupun dalam publikasi dan pengembangan aktivitas.
IMM dituntut untuk lebih berani dan progresif dalam melangkah atau menciptakan metode dakwah baru, namun tidak yang melunturkan prinsip-prinsip ideologi yang ada di IMM. Agar IMM masa kini tidak mengalami stagnan atau jalan di tempat yang terkesan itu- itu saja dalam berdakwah maupun dalam hal perkaderan. Sehingga peran IMM dapat berdigdaya dan dapat melahirkan kader-kader untuk Indonesia yang lebih baik. IMM juga terkadang sangat rentan tentang persoalan-persoalan yang seharusnya menjadi poin kritis IMM dalam hal mengenal kesenjangan sosial yang mana membutuhkan objektivitas dalam mengkritik pemerintah yang menyeleweng dan tidak pro terhadap masyarakat. Hal tersebut dapat mencederai prinsip atau religius, intelektual, maupun humanitas IMM sebagai lokomotif perubahan atas ketidakadilan.
Untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dengan semangat fastabiqul khairat yang diridai Allah SWT. Salah satu poin penting dalam gerakan mahasiswa, salah satu unsur dalam lembaga pendidikan tinggi, dengan gagasan yang inspiratif untuk memulai peradaban baru di tengah masyarakat, untuk mencerahkan kehidupan dan memperbaiki pola pikir masyarakat yang religius. Karena kelahiran IMM yang didasari kebutuhan masyarakat dan Muhammadiyah dengan dilandasi amal gerak yang sesuai fungsi proporsinya di tangan masyarakat. Tujuan dari gerakan IMM dapat menghidupkan kembali kegembiraan beragama Islam, baik di bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan kemahasiswaan. Kebribadian IMM menegaskan bahwa setiap anggota IMM diharap dapat mmapu meningkatkan kemampuan ilmiah dan ilmunya di tenggah masyarakat yang lebih baik.
Penulis adalah peserta Lomba Menulis Opini Milad ke-61 IMM yang diselenggarakan IMM Sukoharjo.
Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?
Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...






