Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Syifa Fauziah Aldiningsih, Editor: Sholahuddin
Minggu, 12 April 2026 11:30 WIB
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Syifa Fauziah Aldiningsih

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm (ilmu) dan ru’yah (penglihatan langsung) (Rasyid, 2020). Hakikat syahadah ini sesuai seperti yang termaktub dalam QS. Al-Maidah: 106, tentang wasiat. Wasiat dari orang yang akan meninggal hendaknya disaksikan oleh  dua orang Muslim yang adil. Urgensi syahadah ini juga terdapat dalam persoalan transaksi dalam Islam (QS. An-Nisa: 6). Syahadah memiliki posisi yang penting sebagai bukti tentang peristiwa yang telah terjadi.

Proses syahadah ini bertransformasi dalam dunia digital, dari kesaksian mata secara langsung hingga menjadi  kesaksian di atas layar. Perkembangan dunia virtual ini bukan lagi dimensi abu-abu.  Majma’ al-Fiqh al-Islami telah merumuskan sebagaimana yang telah dicatat oleh Wahbah Al-Zuhayli dalam karyanya Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh bahwa komunikasi langsung melalui media digital mampu menyatukan majelis secara virtual (Ittihadul Majlis) (Al-Zuhayli, 1985, Volume 7).

Perkembangan dunia virtual telah memudahkan urusan, akan tetapi rentan terhadap manipulasi yang dapat dilakukan seperti deepfake. Berdasarkan Fatwa MUI No.24 Tahun 2017, bahwa siapa yang buru-buru menekan tombol share hanya karena percaya apa yang dilihat tanpa adanya verifikasi, maka ia dianggap telah memberikan Syahadat az-Zur (kesaksian palsu) di ruang digital (Harahap, 2017).

Kegiatan sehari-hari yang dihabiskan dalam media sosial adalah sebagai bentuk dan kesaksian ketika meninggalkan jejak seperti like, comment, share dan lainnya. Tindakan-tindakan ini dengan mudah dilakukan hanya dengan jempol saja, maka disebutlah ”saksi jempol”. Analoginya seperti seseorang yang berjalan di atas pasir, maka setiap langkah akan meninggalkan jejak. Maka dari itu, pentingnya komunikasi dalam media sosial sesuai dengan moralitas dalam etika Islam (Ahmad Nurrohim dkk., 2024). Dan tindakan seperti ini bukan tanpa konsekuensi, akan tetapi suatu saat dapat dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Klik, Share, dan Like sebagai Kesaksian Digital

Interaksi dari setiap berita yang beredar di media sosial menjadi cerminan atas persetujuan atau penolakan. Tombol like bukan hanya diartikan sebagai suka atas informasi di dalamnya, akan tetapi menyaratkan persetujuan atas hal itu. Begitupun dengan share yang berarti ikut menyampaikan dan menyebarkan. Jika informasi belum terverifikasi dan bahkan termasuk ke dalam hoaks, maka sama saja seseorang yang telah memberikan like yaitu menyetujuinya dan share yang berarti mengungkapkan kesaksian palsu dan berdosa atas perbuatannya. Tindakan manusia merupakan objek pembimbingan karakter qur’ani, dan menjadi tolok ukur keberhasilan petunjuk Al-Qur’an (Nurrohim, 2019).

Fenomena hoaks politik yang kerap ramai di media sosial, maka orang yang ikut membagikannya dianggap bahwa ia yakin akan kebenaran berita tersebut. Jika masih ada ketidakpastian dalam sebuah informasi, maka kewajiban akan tabayun atau verifikasi akan memunculkan kemaslahatan dalam masyarakat (Sukmaningtyas dkk., 2024). Share ini dapat dianalogikan seperti sebuah bola salju, semakin banyak yang ikut membagikan maka akan semakin besar dampaknya. Tindakan ini sejalan dengan konsep dosa jariyah, begitupun sebaliknya jika apa yang dibagikan ialah ilmu bermanfaat maka akan menjadi ladang pahala jariyah.

Penyebar berita palsu yang dengan sengaja kerap kali karena adanya penyakit hati seperti iri, dengki dan sombong. Di sisi lain, jiwa manusia seringkali condong pada hawa nafsu yang cenderung melakukan tindakan sesuai insting. Dan menjadi sumber perbuatan buruk dan tercela (Nurrohim, 2016).

Kredibilitas Sumber (Jarh wa Ta’dil Digital)

Dimensi Jarh wa Ta’dil (kritik dan penilaian perawi hadis) dapat diadaptasi pada media sosial. Perawi hadits menyampaikan perkataan Nabi ﷺ dengan silsilah yang lengkap. Sehingga untuk konfirmasi tentang suatu hadis, dapat ditelusuri melalui integritas para perawi yang ikut menyampaikannya.  Begitupun dalam media sosial, sebuah berita dapat diverifikasi validitasnya melalui sumber atau akun yang menyampaikannya.

Kriteria sumber atau akun yang tepecaya dapat dikenali dari jelas identitasnya, independen dan tidak memihak kebencian. Selain itu, rekam jejak dari sebuah sumber juga mempengaruhi kredibilitas sebagaimana perawi hadis lemah. Sumber atau akun yang menyajikan konten yang mengandung unsur kesombongan dan pamer kekuasaan, sebagaimana pada analisis semantik “mukhtalan fakhura” sebagai karakter yang menjauhkan dari kebenaran fakta objektif (Nurrohim dkk., 2024).

Sikap analisis terhadap integritas dan kepercayaan akun, menjadi dorongan untuk berani unfollow, mute dan block bahkan report setiap akun yang terdeteksi menyebarkan hoaks agar tidak semakin melebar dampak dari kepalsuan tersebut. Ini merupakan penolakan terhadap fenomena post-truth dan bias konfirmasi. Era post-truth menayangkan eksklusivisme suatu kelompok yang hanya bersedia menerima pandangan yang sejalan dengan yang diyakini saja. Titik tumpu kepercayaan kelompok ini hanya pada emosional atau subjektif dan cenderung abai terhadap fakta objektif yang bisa saja merupakan fakta yang benar.  Analogi sederhana dalam forensik digital terhadap akun yaitu seperti memastikan latarbelakang seseorang ketika sedang bercerita tentang kisahnya. Prinsip Jarh wa Ta’dil yang dinamis sangat penting sebagai pedoman setiap muslim dalam konsumsi berita media sosial pada kehidupan sehari-hari.

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Qurán dan Tafsir Universitas Muhammadiyah Surakarta

Referensi

Ahmad Nurrohim, Sukmaningtyas, A. N. I., Asda Amatullah, Fathimah Salma Az-Zahra, Ammar Muhammad Jundy, Tiffani Lovely, & Muhammad Syahidul Haqq. (2024). Etika Komunikasi Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Komunikasi di Zaman Modern. Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir, 4(2), 556–576. https://doi.org/10.19109/jsq.v4i2.23981

Al-Zuhayli, W. (1985). Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (Vol. 7). Dar al-Fikr.

Harahap, I. (2017). Pendekatan al-Maslahah dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Yurisprudentia: Jurnal Hukum Ekonomi, 3(1), 273–302. https://doi.org/10.24952/yurisprudentia.v3i1.679

Nurrohim, A. (2016). Antara Kesehatan Mental dan Pendidikan Karakter: Pandangan Keislaman Terintegrasi. Attarbiyah: Journal of Islamic Culture and Education, 1(2), 273–302. https://doi.org/10.18326/attarbiyah.v1i2.273-302

Nurrohim, A. (2019). Al-Tarjih fi Al-Tafsir: Antara Makna Al-Qur’an dan Tindakan Manusia. HERMENEUTIK, 12(1), 93. https://doi.org/10.21043/hermeneutik.v13i2.6385

Nurrohim, A., Ma’rifah, H. K., & Rahman, O. (2024). Qur’anic Semantics of Arrogance: A Synonymity Study of Istikbar Mukhtalan Fakhur and Marahan. Solo International Collaboration and Publication of Social Sciences and Humanities, 2(3), 355–368. https://doi.org/10.61455/sicopus.v2i03.293

Rasyid, A. (2020). Kesaksian dalam Perspektif Hukum Islam. eL-Qanuniy: Jurnal Ilmu-ilmu Kesyariahan dan Pranata Sosial, 6(1), 29–41.

Sukmaningtyas, A. N. I., Ahmad Nurrohim, Asda Amatullah, Fathimah Salma Az-Zahra, Ammar Muhammad Jundy, Tiffani Lovely, & Muhammad Syahidul Haqq. (2024). Etika Komunikasi Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Komunikasi di Zaman Modern. Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir, 4(2), 556–576. https://doi.org/10.19109/jsq.v4i2.23981

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Pendidikan, Kepemimpinan, dan Masa Depan Bangsa: Refleksi dari Indonesia dan Iran

Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan fondasi kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan suatu bangsa. Jika ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah bagaimana negara...

Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...