Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Membentuk Profil Aktivis Berdampak

Mahda Khufiati Syaharani, Editor: Sholahuddin
Kamis, 13 Maret 2025 14:45 WIB
Membentuk Profil Aktivis Berdampak
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Mahda Khufiati Syaharani (Dok. pribadi).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) merupakan gerakan mahasiswa Islam dan organisasi otonom di bawah naungan organisasi Muhammadiyah. IMM bertujuan mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. IMM sebagai organisasi perkaderan dan pergerakan menjadikan IMM memiliki tugas ganda, yaitu mempersiapkan kader-kader untuk keberlangsungan ikatan ke depan sekaligus menjadi dinamisator kebijakan-kebijakan eksternal yang mempengaruhi berjalannya gerakan ikatan. Kebijakan yang sesuai dengan kultur budaya dan moral yang ada di masyarakat akan menjadikan kebijakan tersebut objektif sesuai kebutuhan.

Di post-pandemic era ini minat kader IMM terhadap kebermanfaatan organisasi mulai berkurang. Perspektif timbal balik selalu diperdebatkan. Pergerakan yang berasaskan pada kepentingan tertentu semakin merajalela sehingga terjadi kemunduran nalar kritis yang cenderung stagnan, pragmatis, dan mudah terbawa situasi. Kader-kader IMM cenderung terjebak pada gerakan sosial lama yang sifatnya konservatif. Perlu kemasifan misi enlightenment movement sebagai basis gerakan IMM yang sifatnya akselerasi dan inklusif terutama di ranah grassroot (akar rumput). Jika tidak, maka IMM akan mengalami ketertinggalan dan cenderung kurang adaptif dengan zaman.

Sebagai agent of change, IMM merupakan salah satu pelangsung misi enlightenment movement yang digagas oleh Muhammadiyah sebagai usaha untuk memberantas kebodohan dan membangun nalar kritis mahasiswa. Untuk merealisasikan hal tersebut, tentu dibutuhkan ilmu untuk kemudian diamalkan sehingga aksi yang digelorakan tidak hanya omong kosong. Seorang akademisi harus membangun intelektual yang dalam sehingga mampu memberikan dampak bagi sekitar, tidak hanya ilmu yang ditelannya sendiri. Dengan tujuan IMM yang mengusahakan terbentuknya akademisi Islam, tentunya menjadi seorang intelektual adalah tanggung jawab utama yang diembannya.

Tugas Mengubah Dunia

Tugas utama yang diemban oleh seorang intelektual adalah mengubah dunia, bukan hanya menginterpretasikan dunia. Sifat intelektual tersebut yang menjadikan ia bersikap aktif dalam sejarah dan melakukan pembenahan terhadap realitas sosial. Setiap apa yang dilakukan oleh intelektual profetik adalah sesuai dengan maqasid asy-syari’ah yang terdiri dari agama, jiwa, keturunan, harta, akal, dan ekologi.

Sifat yang dibawa oleh intelektual profetik adalah agama untuk kemanusiaan dan menjadikan agama sebagai pemecah persoalan-persoalan sosial empiris, ekonomi, pengembangan masyarakat, penyadaran hak-hak politik rakyat, dan mengeluarkan belenggu manusia dari ketidakadilan. Proses transformasi sosial yang dilakukan sesuai dengan tiga pilar dalam etika profetik, yaitu humanisasi, liberasi, dan transendensi. Hal ini sesuai dengan Tri Kompetensi Dasar milik IMM. Humanisasi wujud implementasi dari humanitas, liberasi wujud dari intelektualitas, dan transendensi wujud dari religiositas.

Tri Kompetensi Dasar (TKD) menjadi landasan utama dalam menyistemkan perkaderan dan pergerakan di dalam IMM. Religiositas yang berbasis pada nilai moral agama Islam yang hakikatnya menjadi akar terbentuknya intelektualitas dan humanitas. Intelektualitas sebagai identitas seorang akademisi yang mempunyai keahlian tertentu sehingga mampu menjadi landasan yang berbasis data dan realita. Dengan religiositas dan intelektualitas, menjadikan rasa humanitas tumbuh secara fitrah manusia yang merupakan makhluk sosial, dimana manusia selalu membutuhkan makhluk hidup lainnya.

Implementasi salah satu dari enam penegasan IMM yakni, “Ilmu Amaliah dan Amal Ilmiah” adalah adanya keterkaitan ilmu dari ketiga TKD tersebut, sehingga IMM harus mampu menghasilkan dampak religiositas, intelektualitas, dan humanitas untuk kehidupan berdasarkan ilmu pengetahuan dan analisis sosial. IMM harus mampu menjadi manifestasi gerakan yang mampu membawa dampak jangka panjang yang mampu dirasakan generasi berikutnya. Hal ini sesuai dengan corak dari kepemimpinan berdampak yang tidak hanya berfokus pada pencapaian organisasi, tetapi juga pada menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi individu, komunitas, dan masyarakat luas. Oleh karena itu, sebagai aktivis mahasiswa, IMM harus mampu menciptakan perubahan sosial.

Aktivis adalah orang yang rela berkorban, rela berjuang dengan ikhlas dan tanpa mengharap imbalan karena peduli dengan lingkungannya. Aktivis IMM sesungguhnya lahir dari jenjang perkaderan dasar yaitu Darul Arqam Dasar (DAD) yang merupakan perkaderan wajib yang harus ditempuh oleh kader IMM. Di perkaderan ini mulai diberikan orientasi dasar tentang Muhammadiyah dan IMM itu sendiri.

Di sinilah awal para kader IMM berdiaspora. Diaspora-diaspora yang akan melahirkan aktivis-aktivis baru yang akan membawa perubahan. Sesungguhnya buah yang matang bukan buah yang ditanam kemarin hari. Namun, buah yang pohonnya telah menempa banyak situasi. Ia akan tetap berdiri dan terus melahirkan buah-buah yang matang sehingga mampu dinikmati oleh manusia.

Para aktivis IMM diharapkan mampu terus belajar, berproses, dan berjuang bersama-sama untuk mencapai sebuah perubahan. Perubahan yang akan mewujudkan tujuan IMM dan tujuan Muhammadiyah itu sendiri. Perubahan yang juga akan menyejahterakan umat, bangsa dan negara. Serta perubahan yang akan membawa peradaban zaman lebih maju dan lebih baik lagi.

Aktivis yang berdampak adalah mereka yang tidak hanya rela berkorban namun mampu menginspirasi, memotivasi, dan memandu orang lain untuk mencapai potensi terbaik mereka, tetapi tetap berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan etika sehingga mampu menghasilkan gerakan proaktif berbasis kolaborasi. Gerakan proaktif yang menghasilkan perubahan dan keterdampakan yang akan menjadi sebuah kultur baru, sehingga memunculkan karya yang konkret bagi IMM. Dengan demikian, aktivis IMM akan terus adaptif dengan zaman dan dengan segala karakteristik ideologi gerakannya.

Penulis adalah Ketua Umum PK IMM Siti Munjiyah FKIP UMS

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...