Sebagai anak muda yang baru mengenal dan belajar parenting, rasanya belajar langsung dari surat Luqman ini merupakan sebuah paket sederhana dan ringan untuk dipahami serta dipelajari. Karena belajar pola asuh ini sejatinya agak tricky. Akan tetapi, jika melihat dari surah Luqman ini sendiri kita akan diberikan gambaran umum secara ringkas, bagaimana pola asuh yang baik. Saya rasa, bagi kita yang baru belajar tentang parenting, mengetahui isi kandungan surat Luqman ini mengenai pola asuh, merupakan sebuah hal yang ringkas dan akan mampu menjadi fondasi yang baik untuk kita belajar parenting selanjutnya. Sebenarnya, Luqman sendiri bukanlah sosok Nabi atau Rasul, tetapi namanya abadi dalam Al-Qur’an sebab kepandaiannya dalam memberikan pola asuh terhadap anaknya. Luqman sendiri dikaruniai oleh Allah dengan Ilmu Hikmahnya, antara lain berupa ilmu, agama, benar dalam ucapan.
Berikut ini beberapa pesan-pesan Luqman terhadap keluarganya:
Membentuk Amal Ma’ruf Nahi Munkar
Dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 13, Allah SWT berfirman, yang artinya:
“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar.”
Dalam sebuah kitab Tafsir karya Ibnu Katsir, Luqman berpesan kepada putranya sebagai orang yang paling disayanginya dan paling berhak mendapat pemberian paling utama dari pengetahuannya. Oleh karena itulah Luqman dalam wasiat pertamanya berpesan agar anaknya menyembah Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Maka, dengan membuka pola asuh kita terhadap anak dengan keimanan merupakan bentuk cinta kita terhadap anak kita kelak.
Bekal keimanan merupakan bekal utama sebagai pembuka yang Luqman berikan kepada anaknya. Sebab keimanan di sini sebagai fondasi yang kuat, dari orang tua yang sangat menyayangi anaknya. Sama seperti kita, jika kita menyayangi dan mencintai anak kita, maka bekal utama dan pertama yang harus kita tanamkan padanya adalah rasa Iman kepada Allah SWT. Karena dengan bekal iman inilah seorang anak mampu berdiri dengan fondasi yang kokoh dalam hidupnya.
“Hai anakku, sesungguhnya jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Luqman:16).
Ibnu Katsir sendiri mengatakan bahwa seandainya amal sekecil dzarrah itu dibentengi dan ditutupi berada di dalam batu besar yang membisu atau hilang dan lenyap di kawasan langit dan di dalam bumi, maka sesungguhnya Allah pasti akan membalasinya. Demikianlah sesungguhnya Allah, tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya dan tiada sebutir dzarrah pun yang terhalang dari penglihatannya. Pesan ini memberikan pelajaran kepada kita untuk diajarkan kepada anak-anak sebagai bentuk pengawasan atas perbuatan yang kelak mereka lakukan bahwa segala sesuatu diawasi oleh Allah, maka ini akan menumbuhkan rasa takut dan taat kepada Allah SWT.
Ambil Hikmahnya
Dari sana kita dapat mengambil hikmah, bahwasannya dalam mendidik anak perlu adanya penanaman nilai-nilai kebaikan amalan perbuatan, memberikan pengertian kepada anak mana yang baik dan yang salah, memberikan nasihat kepada anak bahwa segala sesuatu yang dia kerjakan pastilah diketahui oleh Allah SWT, dan setiap perbuatan yang dikerjakannya pasti akan mendapat balasan. Demikianlah anak akan lebih paham dan berhati-hati dengan perbuatan yang dilakukannya. Maka, tentulah anak akan selalu taat dalam berbuat kebaikan karena memiliki rasa takut dalam dirinya.
Dalam surah Luqman ayat 17, Allah swt berfirman yang artinya:
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegalah mereka dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.”
Dalam ayat tersebut Luqman berpesan kepada anaknya agar selalu mengerjakan yang baik. Tidak hanya itu, ia pun berpesan agar anaknya juga mampu membawa kemaslahatan terhadap sekitarnya dengan mencegah dari apa-apa yang buruk terjadi di sekelilingnya. Luqman pun mengajarkan bahwa selalu ada masalah yang akan menimpa, maka dari itu rasa sabar haruslah senantiasa kita siram pada diri kita. Begitulah yang ia ajarkan terhadap anaknya, keduanya saling berhubungan yaitu membawa kebaikan dan rasa sabar, keduanya saling menguatkan, sebab dalam berbuat baik kita pasti akan mendapat kesulitan dan kita harus bersabar karenanya.
Tidak Sombong, dan Senantiasa Sederhana
“Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18).
Sombong adalah suatu penyakit yang mana penyakit tersebut dapat merusak amal perbuatan yang dimiliki oleh seseorang. Pesan Luqman dari surah di atas kepada anaknya memberikan pelajaran kepada kita, bahwasannya sebagai manusia, apa pun yang kita miliki, dan dalam keadaan apa pun, kita tidak dibenarkan untuk merasa lebih baik dengan cara yang angkuh, karena hal tersebut merupakan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah SWT. Dengan memberikan pelajaran yang demikian, anak akan memiliki sikap rendah diri, dan selalu menghormati apa yang dimilikinya dan juga orang lain.
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 19).
Seburuk-buruk suara ialah suara keledai, karena tatkala suaranya memekik karena melihat setan. Maka pesan selanjutnya adalah, bagaimana kita mendidik anak yang mampu melunakkan suaranya, tidak berteriak-teriak dalam berbicara karena hal itu adalah perbuatan yang kurang baik. Sebab di satu sisi kurang menghargai lawan bicara juga termasuk perbuatan yang tidak disukai Allah.
Kesederhanaan dalam berbuat menjadi pesan terakhir yang bisa di sampaikan dalam tulisan ini. Dengan sikap sederhana yang kita lakukan, artinya bersikap pertengahan (tidak berlebihan) seperti dalam berjalan maupun berbicara, merupakan perbuatan yang harus ditanamkan kepada anak, agar kelak dirinya mampu menjadi pribadi yang tidak berlebih-lebihan terhadap segala sesuatu.
Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari pola asuh yang Luqman benar-benar tanamkan pada keluraga dan juga anak-anaknya. Dari sana kita dapat belajar bahwa seorang yang sederhana seperti Luqman dapat mengajarkan sesuatu yang sangat berarti bagi anak-anaknya, menjadikan diri kita tidak insecure meski bukan siapa-siapa yang memiliki kedudukan tinggi atau pun harta yang lebih. Akan tetapi dari hikmah kisah Luqman inilah, kita dapat belajar bahwa pola asuh yang baik berasal dari usaha seorang orang tua yang selalu ingin terbaik bagi anak-anaknya, tentunya dengan pondasi keutamaan iman yang kuat serta pendidikan yang senantiasa berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW
Penulis adalah Mahasiswa FKIP UMS, kader IMM Kota Solo, Anggota Bidang IPMawati PP IPM
Refrensi
Jamal. 2005. Tahapan Mendidik Anak: Teladan Rasulullah SAW. Bandung: Irsyad Baitus Salam.
Pengajian di Masjid Darul Hayat Solo, Mubaligh Muhammadiyah: Bersyukur Itu Ibadah 24 Jam
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Cabang Solo Utara, Dwi Jatmiko, menyampaikan pengajian bertema “Charging Power Ketakwaan” di Masjid Darul Hayat Banyuanyar RT...
Bukan Sekadar Harta, Ini Warisan Terbaik Orang Tua Menurut Tafsir Al-Kahfi Ayat 82
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Orang tua kerap bersusah payah demi kebaikan hidup anaknya, rela bekerja keras pagi hingga malam demi menyiapkan kenyamanan hidup anak. Namun dalam...
Mendidik Anak dengan Kesabaran dalam Perspektif Al-Qur’an
Pendidikan kesabaran (ṣabr) sebagai salah satu nilai fundamental dalam Al-Qur’an sangat penting untuk pengembangan karakter manusia, terutama dalam konteks pendidikan. Pendidikan karakter sebaiknya diterapkan sejak ...
Berkomunikasi di Era Digital: Masihkah Kita Menjaga Etika Al-Qur’an?
Kondisi masyarakat Indonesia yang semakin modern menyebabkan berkembangnya pula teknologi digital. Bersamaan dengan itu teknologi kini bukan hanya menghasilkan sebuah kecanggihan informasi namun menjadi sarana...
Relevansi Tafsir Al-Qur’an dalam Menjawab Krisis Moral Generasi Z
Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya bagi Generasi Z yang lahir dan tumbuh di tengah kemajuan tersebut....
Ketika Masalah Datang Bertubi-Tubi: Belajar Sabar dari Al-Qur’an
Setiap orang pasti pernah berada pada titik di mana masalah datang silih berganti. Terkadang satu masalah saja sudah cukup membuat seseorang merasa lelah, apalagi jika...
Memahami Al-Qur’an di Era Modern: Pentingnya Pendekatan Kontekstual dalam Kehidupan Kontemporer
Al-Qur’an merupakan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak mengatur hubungan manusia dengan tuhan-Nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dalam...
Mengupas Bahasa Langit Secara Membumi: Sebuah Artikel tentang Ilmu Tafsir Al-Qur’an
Daftar IsiApa Itu Ilmu Tafsir?Sejarah Singkat: Dari Lisan Nabi hingga Era DigitalRagam Pendekatan TafsirTafsir di Era Kita: Relevansi di Tengah Laju ZamanTafsir sebagai Perjalanan SpiritualDaftar...
Relevansi Tafsir Kontemporer dalam Isu Kesetaraan Gender
Perkembangan wacana keislaman di era modern menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk memahami Al-Qur’an secara lebih kontekstual. Hal ini terutama terlihat dalam pembahasan isu gender dan...
Membaca Tafsir Al-Qur’an di Era Teknologi: Adaptasi dan Relevansi
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara memahami ajaran agama. Salah satu perubahan yang paling signifikan terlihat...
Ketentuan Fidyah dan Qadha Puasa dalam Islam
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Namun, dalam kondisi tertentu seperti sakit, perjalanan jauh, atau usia lanjut, Islam...
Orang Bertakwa Pasti Meyakini Kebenaran Al-Qur’an
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Puasa Ramadan target utamanya adalah membentuk insan bertakwa. Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko...






