Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Wajah Unggul Pendidikan dalam Muhammadiyah

Dwi Jatmiko, Editor: Sholahuddin
Kamis, 5 Desember 2024 09:10 WIB
Wajah Unggul Pendidikan dalam Muhammadiyah
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dwi Jatmiko (Dok. pribadi).

Wajah Muhammadiyah adalah pelopor berkemajuan. Muhammadiyah memiliki gebrakan yang sangat penting dalam perkembangan lembaga pendidikan di Indonesia. Dipelopori oleh K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923), Muhammadiyah berdiri pada tahun 1912. Mungkin bisa dikemukakan di sini, bahwa melalui perjuangan yang tidak mudah, K.H. Ahmad Dahlan berhasil membawa Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan pembaharuan di bidang pendidikan.

Hasil dari perjuangan Kiai Ahmad Dahlan bisa kita lihat dari banyaknya lembaga pendidikan yang didirikan oleh Muhammadiyah yang berkeunggulan dan berkemajuan. Kata berkemajuan mempunyai arti yang sangat dalam. Kata maju menunjukkan langkah ke depan bukan ke belakang, dengan tambahan awalan ber berakhiran an menjadi kata sifat yang menunjukkan gerak progresif, adanya proses yang berlangsung terus menerus secara dinamis (Syamsuddin dalam Fanani, 2017).

Muhammadiyah dengan perspektif Islam berkemajuan secara terarah, terukur dan berkelanjutan, terus menyinari negeri dan semesta kehidupan. Warga Muhammadiyah telah mengakui dan menjadi bagian dari kehadiran perguruan Muhammadiyah yang berkualitas. Perguruan Muhammadiyah dengan ribuan sekolah yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air, dari Sabang sampai Merauke, dengan jumlah siswa yang besar. Hal itu perlu disiapkan secara maksimal kesehatan fisik dan mental para siswanya, sehingga dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang mempunyai kualitas fisik maupun mental yang sehat sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) pembangunan yang potensial. Menurut situs Muhammadiyah.or.id, yang menempatkan Muhammadiyah berkemajuan dengan amal usaha nyata bukan omon-omon, yaitu dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas sebanyak 5.346 sekolah. SD/MI berjumlah 2.453 sekolah. SMP/MTs berjumlah 1.599 sekolah. SMA/MA/SMK berjumlah 1.294 sekolah.

Integrasi wajah unggul dalam pendidikan, sekolah-sekolah Muhammadiyah mengimplementasikan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan; berorientasi menciptakan generasi penerus yang bertakwa, unggul, ber-akhlaqul karimah, mandiri, serta bermisi dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Di samping itu, juga menerapkan semangat nasionalisme dan patriotisme serta senantiasa mengikuti perkembangan zaman dan antikorupsi.

Adanya ciri utama tersebut menggerakkan pendidikan Muhammadiyah menuju sekolah yang berkemajuan dan berkeunggulan. Sependapat Mohammad Ali (2005: 158-160), yang pasti output dari sekolah Muhammadiyah memiliki kepastian tolok ukur: 1) tertib ibadah (Al-Islam), 2) mahir baca tulis Al-Qur’an, 3) berwawasan kebangsaan, 4) pengetahuan akademis tinggi, 5) keterampilan berbahasa asing dan 6) keterampilan komputer.

Perkembangan Teknologi

Sejalan dengan pesan yang disampaikan K.H. Ahmad Dahlan, bahwa para peserta didik di Muhammadiyah untuk selalu mengikuti perkembangan teknologi. Siswa-siswa Muhammadiyah tidak boleh ketinggalan zaman. Maka sekolah pendidikan karakter berbasis teknologi merupakan hal yang harus selalu dikedepankan di setiap lembaga pendidikan Muhammadiyah. Tapi siswa-siswa Muhammadiyah juga harus tetap menanamkan nilai-nilai keagamaan yang ada di dalam persyarikatan Muhammadiyah.

Jatuh bangun memang pernah dialami pendidikan Muhammadiyah, namun jatuh bangun merupakan sunatullah dari sebuah perjuangan. Berbagai persoalan dan kendala harus dihadapi dan dicarikan solusinya. Pendidikan Muhammadiyah terus berbenah menjadi layanan pendidikan yang berkemajuan dengan selalu belajar sepanjang hayat yang muaranya mampu mencetak generasi yang berprestasi dan ber-akhlakul karimah.

Manajemen pendidikan Muhammadiyah yang mengintegrasikan dimensi keislaman dengan kekinian bermula dari rasa keprihatinan mendalam Ahmad Dahlan terhadap kondisi pendidikan Indonesia saat itu yang dikotomis, antara pendidikan Islam tradisional dengan pendidikan model yang sekuler.

Wajah unggul pendidikan Muhammadiyah bisa dilihat dari kolaborasi, mulai dari stakeholder baik siswa, orang tua, guru, dan seluruh keluarga besar selalu memahami visi dan misi yang diemban. Kolaborasi dan kerja sama yang dibangun di atas kerukunan menjadi pilar penting untuk berjuang membawa masa depan pendidikan Muhammadiyah. Berjuang memajukan sekolah bukan hanya tanggung jawab profesi guru tapi juga tanggung jawab semua pihak. Pertanggungjawabannya bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Berjuang memajukan wajah pendidikan Muhammadiyah adalah dalam rangka menolong agama Allah SWT.

Pendidikan Muhammadiyah dengan layanan penuh kasih sayang, seperti mendidik anak sendiri. Selain itu para pendidik juga diharapkan bisa sering melakukan berbagai inovasi dalam kegiatan pembelajaran. Langkah Muhammadiyah tidak pernah surut untuk berperan memajukan pendidikan di Nusantara ini. Perjuangan Muhammadiyah dalam dunia pendidikan sudah terlihat dengan jelas dan hasilnya pun dapat dinikmati bersama dan tidak pelit ilmu. Pendidikan Muhammadiyah hasilnya bisa dilihat dari habituasi lulusannya, kuat dalam akhlaqul karimah, seperti rajin salat, patuh, hormat kepada guru, mengaji, dan orang tua dimanapun.

Wajah unggul yang menanjak secara nyata dapat dilihat dari sisi religius, taat beragama dan berakhlak mulia. Berbuat baik kepada orang tua, guru, dan sesama. Memiliki motivasi tinggi dan berprestasi. Gemar membaca, menulis, dan berkreasi. Berdisiplin, bekerja keras, dan mandiri. Berilmu dan berkeahlian tinggi. Bekerjasama dan bersosialisasi di masyarakat. Cinta bangsa dan kemanusiaan semesta. Sebagai petik praktik baik dari wajah berkeunggulan dengan kegiatan pembiasaan.

Kegiatan pembiasaan dilaksanakan secara rutin, baik harian, mingguan, bulanan dan tahunan, dan tehnik pelaksanaannya ada yang terstruktur dan spontan atau berupa direct dan indirect learning, yang bertujuan melatih dan membimbing peserta didik bersikap dan berperilaku dengan menananmkan nilai-nilai karakter baik sehingga menjadi habituasi yang terinternalisasi dalam hati dan jiwa peserta didik.

Kegiatan harian pendidikan Muhammadiyah mulai dari penyambutan peserta didik, salam pagi/embun pagi, one day one surah (Surat pendek Al-Qur’an), menyanyikan lagu daerah dan kebangsaan, infak sedekah, salat duha berjemaah, salat zuhur dan asar berjemaah, gerakan pungut sampah (GPS) lima menit sebelum pembelajaran dimulai, Jumat bersih dan sehat, hari berbahasa Arab, Iawa, Inggris setiap pekan (Senin-Selasa: Bahasa Indonesia; Rabu: Bahasa Inggris; Kamis: Bahasa Jawa; Jumat: Bahasa Arab), literasi pagi, numerasi, pendidikan antikorupsi (PAK).

Kegiatan mingguan adanya upacara, hizbul wathan, dokter kecil, senam, senin rapi, jum’at bersih, sehat, dan ibadah. Lalu, adanya kegiatan bulanan. Aktivitas ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap bulan bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kompetitif, sportif dan keberanian, yaitu dengan melaksanakan student’s performances. Kegiatan bulanan terdiri dari kegiatan: reading, experiences days, tantangan mendongeng, pidato dan pidato Islam dai cilik (pildacil), bank sampah, nutrition day dan kegiatan life skill seperti cara mengambil dan menyimpan buku. Cara mengucapkan salam. Cara berbicara yang santun dan lemah lembut. Cara makan dan minum. Cara berjalan di hadapan orang yang lebih tua. Akhirnya selamat Milad ke-112 kepada Muhammadiyah. Rumah besar anak bangsa Indonesia yang berkemajuan dan berkeunggulan!

Penulis adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...