Istilah teologi belum populer dan jarang sekali diperbincangkan dalam forum-forum resmi Muhammadiyah. Meski demikian para analis sosial ataupun pengkaji Islam mulai meraba-raba secara hipotetis, model teologi seperti apakah yang dikembangkan oleh persyarikatan Muhammadiyah. M. Amin Abdullah (2000: 91-109) berupaya mencandera corak teologi Muhammadiyah dengan sebutan “teologi praksis sosial”, a faith in action. Senapas dengan pencanderaan Abdullah, Bahrus Surur-Iyunk (2005) menilai nalar kalam Muhammadiyah kontemporer bercorak “teologi amal saleh”.
Secara konsepsional teologi Muhammadiyah dapat dipahami sebagai pandangan keagamaan Islam yang terinspirasikan oleh ajaran Al-Qur’an dan sunah, baik dari sisi normativitas maupun historisitasnya dalam memahami fenomena gerakan Muhammadiyah (Abdullah, 2000: 94). Pengertian ini bisa dijadikan titik tolak dalam perbincangan teologi Muhammadiyah.
Perlu digarisbawahi di awal, esai ini bukan bermaksud memperbincangkan teologi Muhammadiyah, tetapi teologi bermuhammadiyah. Sama-sama memperbincangkan teologi di mana titik perbedaannya? Teologi Muhammadiyah berarti memperbincangkan fenomena gerakan Muhammadiyah dari sudut pandang teologis, sedangkan teologi bermuhammadiyah usaha mempertanggungjawabkan pilihan untuk bermuhammadiyah (baik menjadi warga, simpatisan, kader, dan pimpinan Muhammadiyah) secara logis, kritis, dan sistematis.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa teologi Muhammadiyah merupakan perbincangan akademis baik dilakukan oleh kaum akademisi, peneliti, baik yang berlatar belakang aktivis Muhammadiyah maupun dari luar. Sedangkan teologi bermuhammadiyah dilakukan oleh orang dalam (atau aktivis) Muhammadiyah yang berusaha mempertanggunjawabkan pilihannya untuk bergabung dengan gerakan Muhammadiyah secara logis, kritis, dan sistematis.
Penulis esai ini bukan seorang teolog, tetapi seorang pendidik/guru di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Oleh karena itu sudah pada tempatnya bila mempertanggungjawabkan pilihan bergabung dalam Muhammadiyah. Menjadi pendidik di sekolah ataupun perguruan tinggi Muhammadiyah bukan sekadar kerja-kerja profesional yang bersifat transaksional, Ssaya memberikan apa dan mendapatkan apa dari Muhammadiyah”. Bermuhammadiyah yang otentik melampaui (beyond) hal-hal yang bersifat transaksional demikian itu. Di tengah kebuntuan inilah penulis mencoba mencari kerangka jawaban yang lebih mendasar, jawaban yang bersifat teologis.
Berteologi secara Kontekstual
Berteologi (theoligizing) untuk meminjam Peter L. Berger (1991: xi) dapat diartikan sebagai refleksi sistematis tentang agama. Teologi bermuhammadiyah berarti refleksi kritis, logis, dan sistematis tentang paham agama dan keyakinan hidup yang dirumuskan oleh persyarikatan Muhammadiyah. Dengan demikian, refleksi penulis merupakan ikhtiar intelektual yang bersifat tentatif dan usaha yang tidak pernah mengenal kata akhir. Setiap aktivis ataupun pimpinan Muhammadiyah dapat melakukan hal serupa bila ingin mempertanggungjawabkan pilihannya.
Dalam rentang sebulan terakhir penulis menjadi fasilitator/narasumber Pendidikan Khusus Kepala Sekolah Muhammadiyah (Diksuspala) di berbagai daerah di Tanah Air dengan membawakan materi Kemuhammadiyahan. Dalam kesempatan inilah penulis banyak berinteraksi dan berdialog dengan para kepala sekolah/madrasah Muhammadiyah mulai dari yang muridnya di bawah 100 anak sampai yang di atas 1000 anak, dari yang berada di kota besar sampai pelosok pedalaman. Bahkan pulau-pulau terpencil yang sekolah pemerintah pun tidak mampu menjangkaunya.
Sekolah ataupun madrasah Muhammadiyah didirikan bukan sekadar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga sekaligus menjadi corong ataupun simpul-simpul gerakan dakwah Muhammadiyah. Seiring perjalanan waktu, nama Muhammadiyah masih menempel di papan nama, tetapi nilai-nilai ataupun ideologi Muhammadiyah melemah sehingga tidak mampu lagi memberi warna dalam perjalanan sekolah Muhammadiyah.
Urusan teknis administratif sekolah dan ditambah keruwetan birokrasi kedinasan dan kemajelisan menyita perhatian baik pendidik maupun kepala sekolah sampai-sampai menelantarkan sisi fundamental mengapa dan untuk apa sekolah Muhammadiyah didirikan. Tidak sedikit sekolah Muhammadiyah yang berjalan tanpa arah, pendidik setiap pagi berangkat dan siang hari pulang tanpa memiliki ikatan dengan arah dasar paham dan cita-cita hidup Muhammadiyah. Pada titik inilah pendekatan teologi mendesak dihadirkan.
Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah menandaskan, “Dengan Muhammadiyah ini mudah-mudahan umat Islam dapat diantarkan ke gerbang surga Jannatun Na’im dengan keridlaan Allah”. Perlu dicermati istilah “ke gerbang surga Jannatun Na’im”. Dengan demikian Muhammadiyah tidak menggaransi para aktivis ataupun pimpinan secara otomatis masuk ke dalam surga Jannatun Na’im, perahu besar persyarikatan mampu mengantarkan sampai ke pintu gerbang surga.
Teologi Keunggulan
Setelah diantar sampai gerbang surga Jannatun Na’im, masalah berikutnya adalah untuk memasuki surga Jannatun Na’im tentu diperlukan tiket dan yang akan memasukinya harus memiliki dan membeli tiket itu. Lalu bagaimana cara mendapatkan tiket itu? Tiket diperoleh dengan jalan partisipasi aktif dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenarnya-benanya sesuai profesi yang digeluti dan kapasitas diri kita masing-masing.
Gambaran masyarakat Islam yang sebenar-benarnya masih sangat abstrak, sehingga diperlukan ilustrasi yang lebih kongkrit. Sekadar ilustrasi secara politik diberi kebebasan untuk berekspresi dengan bertanggungjawab, secara ekonomi semua warga sejahtera dan hidup secara layak, dan seluruh warga berbahagia, wellbeing. Ringkasnya, masyarakat Islam yang sebenar-benarnya adalah masyarakat ideal seperti suasana surgawi.
Dengan demikian tiket surga Jannatun Na’im diperoleh dengan jalan berpartisipasi aktif dalam proses mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, masyarakat ideal laksana surga. Lalu apa yang dilakukan oleh pendidik, khususnya kepala sekolah, untuk turut serta mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya?
Sekolah atau madrasah merupakan miniatur masyarakat dalam skala yang lebih kecil. Dengan demikian kepala sekolah dan pendidik memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menciptakan iklim sekolah yang kondusif untuk terciptanya layanan prima kepada seluruh peserta didik dan stakeholder. Mewujudkan sekolah yang seunggul-unggulnya dengan menciptakan suasana sekolah yang menggembirakan dan memajukan seluruh warga sekolah.
Bertitik tolak dari penjelasan di atas dapat ditarik benang merah bahwa menjadi pendidik maupun kepala sekolah Muhammadiyah merupakan salah satu cara atau pintu masuk untuk bermuhammadiyah. Dengan bermuhammadiyah kita diantar ke pintu gerbang surga Jannatun Na’im. Bagi kepala sekolah maupun pendidik bisa mendapatkan tiket untuk memasuki surga Jannatun Na’im dengan berpartisipasi aktif mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dengan jalan mengembangkan sekolah atau madrasah sehingga tercipta suasana sekolah yang menggembirakan dan memajukan melalui pelayanan prima.
Berdasarkan penjelasan teologis ini kita memahami bahwa mengelola dan memimpin sekolah Muhammadiyah bukan sekadar urusan teknis adminitratif ataupun hal-hal yang bersifat duniawiyah semata seperti untuk memperoleh gaji ataupun sertifikasi pendidik. Lebih dari itu, menjadi pendidik dan kepala sekolah merupakan kerja-kerja kemanusiaan yang berdimensi teologis. Ringkasnya, teologi bermuhammadiyah bagi para pengelola maupun penyelenggara sekolah Muhammadiyah harus mampu menggerakkan menjadi sekolah yang benar-benar unggul dan berkemajuan yang pada urutannya dapat terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan PDM Kota Solo
Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka
Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...
Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (2/Selesai)
Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. tidak cukup hanya diucapkan. Kecintaan tersebut perlu diwujudkan melalui keyakinan, sikap, dan amal dalam kehidupan sehari-hari. Ada berbagai cara untuk...
Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)
Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...
Buah dari Muhasabah Diri
Kemajuan peradaban dan kesibukan manusia dalam mengejar tujuan, popularitas, serta harta dapat membuat seseorang lalai dan melewati batas yang telah Allah Swt. tetapkan. Dalam kondisi...
Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain
Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...
Dingin…
Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...
Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas
Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...
Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...
Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo
Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....







