Di penghujung bulan Oktober 2024, SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Solo (sering disebut SMA Muh PK Kottabarat) menggelar program Live in Society bagi siswa kelas X. Tahun ini, sekolah bekerja sama dengan Pimpinan Ranting Muhammadiyah di Kota Solo. Program Live in Society adalah serangkaian kegiatan siswa kelas X untuk belajar pengabdian pada masyarakat. Sekolah menggandeng 10 PRM untuk menjadi laboratorium siswa dalam aksi nyata pemberdayaan masyarakat. Kesepuluh PRM tersebut antara lain PRM Sumber Kottabarat, Serengan, Nusukan, Keprabon, Banyuanyar, Semanggi, Pajang, Pajang Utara, Sriwedari, dan Jebres Timur.
Beragam kegiatan dilakukan oleh siswa kelas X. Secara teknis, siswa dibagi menjadi 10 kelompok. Tiap kelompok memiliki projek untuk merancang kegiatan dakwah kemasyarakatan di tingkat PRM. Gerakan literasi menjadi salah satu perhatian penting dari setiap kelompok. Maka dari itu, setiap kelompok mendesain rumah baca di tiap PRM untuk memperkuat gerakan literasi. Selain membuat rumah baca, tiap kelompok juga merancang kegiatan lain yang sesuai kearifan dan kebutuhan ranting setempat.
Implementasi Live in Society
Pembentukan rumah baca ini dimaksudkan untuk menggerakkan literasi masyarakat di daerah sekitar PRM. Seperti yang dilakukan kelompok yang terjun ke PRM Sumber yang masuk di wilayah Pimpinan Muhammadiyah Cabang (PCM) Kottabarat, selama tiga hari, Kamis-Sabtu (31 Oktober- 2 November 2024) akan berkegiatan di Masjid Baitul U’la dan Gedung SD Muhammadiyah 15 Sumber. Mereka akan menggelar beragam kegiatan untuk kemasyarakatan antara lain mendesain dan membuat rumah baca untuk anak-anak remaja wilayah Sumber, membuat kelas kreatif ilmiah bagi siswa Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) untuk mengenalkan budaya sains melalui percobaan ilmiah, festival literasi dengan kegiatan dongeng dan membaca, serta lomba-lomba untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kreativitas remaja di daerah sekitar ranting.
Kegiatan Live in Society ini dirancang untuk melatih kepemimpinan, kerja sama tim, solidaritas siswa sekaligus menumbuhkan karakter problem solver dalam diri siswa. Dalam tahap persiapan, siswa diajak mengenal ragam aktivitas yang ada PRM sekaligus mengidentifikasi tantangan dakwah yang dihadapi. Tahap selanjutnya, siswa merumuskan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan berdasarkan hasil diskusi dengan PRM, hasil pengamatan karakteristik wilayah PRM, serta hasil konsultasi dengan guru pendamping. Dari tahapan ini, tiap kelompok siswa menyusun proposal pengabdian masyarakat di sekitar PRM untuk dipresentasikan di hadapan dewan guru.
Tahap pelaksanaan (implementasi), siswa terjun ke PRM yang bekerja sama dengan sekolah. Selama program ini, siswa belajar langsung di masyarakat dengan berperan aktif dalam melayani dan memberikan kontribusi dalam ikhtiar pengembangan masyarakat. Saya mencatat berbagai program tiap kelompok yang mereka rancang. Selain rumah baca, kegiatan festival literasi dengan mendongeng, pelatihan UMKM, mengajar siswa TK, mengajak siswa TK keliling tempat bersejarah di Kota Solo, pelayanan pengobatan gratis, membuat kelas kreatif dengan percobaan ilmiah untuk remaja, pelaksanaan donor darah, program dan pelatihan karakter ramah lingkungan untuk masyarakat. Semua program tersebut, dirancang sesuai kebutuhan warga di sekitar ranting masing-masing.
Pendidikan Tauhid Aktif
Program Live in Society dirancang agar siswa memiliki karakter problem solver. Pemecahan masalah atau problem solving merupakan soft skill mengenai proses memahami tantangan untuk menemukan solusi yang efektif. Tujuan problem solving adalah menemukan solusi yang tepat dari sebuah permasalahan. Melalui program ini, siswa dilatih untuk mampu mendefinisikan masalah dengan jelas, mampu mengumpulkan informasi secara rinci dan sistematis, membangun pola pikir konstruktif, mampu membiasakan diri dengan pemodelan pengabdian yang dilakukan secara bertahap, serta siswa dilatih kemampuan berkomunikasi dengan seluruh pihak terkait dalam menyukseskan rancangan program mereka.
Semua proses tersebut mengarah pada karakter problem solver yang ada pada diri siswa. Proses pendidikan ini, hemat saya akan mendorong siswa memiliki tauhid aktif. Pendidikan tauhid aktif sangat penting didorong untuk menumbuhkan generasi-generasi yang memadukan keimanan dan amal salih. Tauhid aktif merupakan proses tauhid yang responsif terhadap persoalan yang dihadapi manusia dalam setiap tahap kehidupan. Tauhid ini menyeimbangkan relasi ketuhanan dan kemanusiaan serta sosial sebagaimana yang dicontohkan pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan.
Berkaca dari sejarah hidup Kiai Ahmad Dahlan, harapan besar bagi kita untuk tumbuhnya generasi bertauhid aktif, yang mampu mendorong kehidupan keumatan yang berkemajuan sangat dinantikan. Mereka kelak akan menjadi penerus Risalah Islam Berkemajuan yang mampu memecahkan persolan umat. Kita sadari, persoalan lama seperti kemiskinan dan kebodohan masih ada. Sementara itu, persoalan baru sudah nyata mengadang di hadapan kita. Dan, Live in Society merupakan sebuah ikhtiar menuju arah tauhid aktif tersebut.
Penulis adalah guru SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Kota Solo
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






