Pembelajaran mendalam (deep learning) adalah pendekatan pedagogis yang menitik beratkan pada kedalaman pemahaman dan penguasaan konsep, tidak lagi pada luasnya materi atau hapalan fakta semata. Siswa yang berhasil secara akademis dengan meraih nilai yang tinggi, belum tentu mencerminkan pemahaman yang mendalam, melainkan hasil dari hapalan terhadap materi yang diujikan (Marton & Säljö, 1976). Dalam pendekatan pembelajaran mendalam, yaitu pendekatan yang memuliakan proses belajar, dengan menekankan penciptaan suasana pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) melalui integrasi empat dimensi pengembangan diri: olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olahraga (kinestetik) secara holistik dan terpadu (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025).
Implementasi pendekatan ini bertujuan untuk mewujudkan delapan dimensi profil lulusan, termasuk penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan kemandirian. Melalui siklus memahami, mengaplikasi, dan merefleksi, siswa tidak hanya menjadi cerdas secara akademis tetapi juga memiliki keterampilan adaptasi yang kuat untuk menghadapi tantangan abad ke-21.
Bulan Ramadan bukan sekadar momen ritual ibadah rutin, melainkan sebuah “laboratorium” pendidikan yang sangat relevan dengan konsep pembelajaran. Sejalan dengan visi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, Ramadan menawarkan momentum emas untuk mentransformasi proses belajar di sekolah menjadi lebih berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Di sekolah, kegiatan Ramadan dapat menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna karena siswa belajar langsung melalui pengalaman nyata. Sekolah mengemas secara kreatif untuk mengadakan kegiatan Ramadan. Rata-rata sekolah menggelar kegiatan di antaranya buka bersama (ifthar) dan pesantren Ramadan atau bisa disebut pesantren kilat. Mayoritas kegiatan dilaksanakan di lingkungan sekolah dan masih minim yang memilih melakukannya di luar sekolah .
Berbeda halnya dengan di SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat, Kota Solo, menggelar kegiatan Ramadan secara kreatif. Salah satunya, kegaitan dikemas dengan berbasis projek. Kegiatan ini dilakukan siswa kelas VI yang dinamai dengan belajar mendalam pada Ramadan berbasis projek. Di sela-sela mempersiapkan tes kemampuan akademik (TKA) terintegrasi dengan asesmen nasional (AN), kegiatan Ramadan kali ini menjadi moment penting dan bermakna bagi siswa kelas VI.
Kegiatan projek ini yang dikemas selama pembelajaan di bulan Ramadan. Pada pembelajaran harian, ada alokasi 2 JP (jam pembelajaran) khusus digunakan untuk mengerjakan projek. Dimulai di awal masuk di pembelajaran Ramadan hingga akhir pembelajaran menjelang libur akhir Ramadan dan Idulfitri. Kegiatan ini memiliki tujuan yaitu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi siswa melalui penyelesaian masalah dunia nyata. Kegiatan ini mendorong pembelajaran mendalam, memotivasi siswa, serta mengembangkan keterampilan sosial dan tanggung jawab untuk menghasilkan produk akhir yang otentik.
Mempersiapkan kegiatan projek ini dilakukan di awal bulan Februari sebelum memasuki bulan Ramadan. Dalam mempersiapkan, utamanya adalah membagi siswa dalam kelompok, menentukan tema sebanyak jumlah kelompok, menyusun rancangan kegiatan produktif, dan kolaborasi dengan mitra. Empat hal pokok tersebut menjadi kunci dalam sukses mempersiapkan kegiatan mendalam pada Ramadan berbasis projek. Persiapan merupakan kegiatan yang sangat penting untuk dilakukan, karena sukses menyiapkan sama dengan menyiapkan kesuksesan.
Pertama, membagi siswa dalam kelompok. Jumlah siswa kelas VI sebanyak 54 yang terbagai dalam 19 siswa putra dan 35 siswa putri. Dalam pembagian kelompok dibagi menjadi 8 kelompok yaitu 3 kelompok putra dan 5 kelompok putri. Banyak anggota dalam setiap kelompok antara 6 atau 7 siswa. Pembagian jumlah anggota kelompok harus merata dan seimbang agar peran dan tugas dalam kelompok dapat dilaksanakan dengan maksimal.
Kedua, menentukan tema. Tema disusun berdasarkan mementum Ramadan. Banyak tema yang dibuat menyesuaikan jumlah kelompok, yaitu 8 tema. Berikut ini tema 8 tema yang menjadi kegiatan projek: 1) cara mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadan, 2) cara menyelesaikan hapalan Al-Qur’an Juz 30 di bulan Ramadan, 3) kiat sehat dan bugar di bulan Ramadan, 4) kiat menggapai lailatul qadar, 5) amalan yang dapat merusak puasa, 6) ketentuan zakat dalam islam, 7) ketentuan dan keutamaan salat tarawih, dan 8) ketentuan dan tata cara salat Idulfitri. Setiap kelompok mendapat satu tema yang dibagi oleh guru. Semua tema berkaitan dengan Ramadan.
Ketiga, menyusun rancangan kegiatan produktif. Rancangan kegiatan menjadi hal yang penting. Keterlibatan siswa dalam proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan merupakan bentuk pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan murid. Siswa dilibatkan dalam koordinasi untuk menentukan jenis kegiatan serta diberi peran sebagai pelaksana utama dalam implementasinya.
Keempat, kolaborasi dengan mitra. Kolaborasi dengan mitra sangat utama dilakukan. Pihak yang menjadi mitra dalam berkolaborasi kegiatan projek ini yaitu orang tua siswa. Orang tua siswa berperan sebagai pendamping dalam mempersiapkan, memantau dan membantu kegiatan. Koordinasi dengan orang tua dilakukan di kegiatan POMG (pertemuan orang tua murid dengan guru).
Rangkaian Kegiatan
Kegiatan mendalam pada Ramadan berbasis projek menitikberatkan pada penguasaan materi yang mendalam agar siswa memiliki kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif dalam memecahkan masalah. Guru memiliki fleksibilitas untuk mengeksplorasi kegiatan Ramadan secara dinamis dan tidak hanya terpaku pada kegaitan yang monoton.
Kegiatan Ramadan yang mendalam berbasis projek merupakan salah satu inovasi atau pengembangan dari pendekatan deep learning yang bertujuan untuk menciptakan proses belajar yang lebih hidup melalui interaksi intelektual yang kuat antara guru dan siswa. Sejalan dengan tujuan, kegiatan Ramadan berbasis projek yang dilakukan SD Muhammadiyah PK Kottabarat sangatlah berkorelasi.
Adapun rangkaian kegiatannya antara lain: Pertama, menyusun materi sesuai tema. Secara berkelompok siswa sudah dibagi tema masing-masing. Kemudian, setiap kelompok membagi tugas ke anggotanya. Setiap anggota mencari artikel atau sumber informasi terkait tema. Dari materi tersebut selanjutnya diresume menjadi satu materi.
Materi yang sudah disusun, selanjutnya kemas menjadi sebuah brosur. Brosur berfungsi sebagai media publikasi cetak yang diterbitkan. Terdiri dari sedikit halaman (umumnya 1-4 halaman), dan berfungsi menyampaikan informasi produk secara terperinci. Pada halaman 1 berisi tentang profil kelompok dan tema. Pada halaman 2, berisi tentang landasaan Al-Qur’an dan hadis yang terkait dengan tema tiap-tiap kelompok sesuai pembagiannya. Kemudian pada halaman 3, berisi tentang materi yang sudah diresume. Pada halaman 4 atau halaman terakhir, berisi tentang daftar pustaka. Brosur yang sudah dibuat secara lengkap materinya selanjutnya didesain menggunakan aplikasi Canva dan dicetak sebanyak-banyaknya.
Kedua, membuat produk. Produk yang dibuat tiap-tiap kelompok berbeda-beda. Ada yang membuat poster, membuat infografis, membuat mading, cerita bergambar (cergam) dan bahkan ada yang membuat komik. Informasi dari semua produk tentunya sesuai tema pada kelompok masing-masing. Bentuk produk yang lain seperti: maket masjid, kartu ucapan hari raya, papan target Ramadan hingga video pendek atau vlog. Pembuatan produk ini dilakukan di jam projek yang sudah dialokasikan waktu 2 JP disetiap pembelajaran harian selama Ramadan.
Ketiga, melaksanakan kegitan gelar projek. Kegiatan gelar projek adalah puncak dari pembelajaran mendalam pada Ramadan berbasis projek, di mana semua kelompok merayakan proses belajarnya dengan memamerkan produk Ramadan mereka kepada audiens (orang tua, guru, atau siswa lain). Produk yang sudah dibuat, ditampilkan pada stand yang sudah disiapkan oleh sekolah. Setiap kelompok menghias dan menata stand. Dikerjakan oleh semua kelompok dan dibantu oleh guru pendamping maupun orang tua pendamping.
Setiap pengujung diberi brosur tersebut. Brosur menjadi sarana untuk mempromosikan informasi terkait tema dari masing-masing kelompok. Pengunjung berkesempatan untuk bertanya terkait materi dan produk. Setiap kelompok wajib menjelaskan terkait materi dan menjawab semua pertanyaan dari pengujung yang mengajukan pertanyaan.
Kegiatan gelar projek dihadiri oleh semua orang tua kelas VI. Pengujung diberi kesempatan untuk menilai stan yang ada. Hasil dari penilaian tersebut maka akan terpilih stan dari kelompok terbaik dan terfavorit. Selanjutnya, akan diberi reward oleh sekolah. Puncak dari kegiatan gelar projek, ditutup dengan kegaitan buka bersama orang tua dan pemberikan reward sebagai bentuk apresiasi.
Seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan tentunya membawa pembelajaran yang berkesadaran (mindful learning), yaitu menciptakan suasana belajar yang sadar, aktif, dan melibatkan seluruh potensi diri (olah pikir, hati, rasa, dan raga) secara holistik. Terwujudnya pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). yaitu mengaitkan tema dengan bulan Ramadan pada kehidupan nyata sehingga relevan bagi siswa dan membantu mereka memahami secara mendalam. Rancangan kegiatan secara mengembirakan (joyful learning), yaitu memastikan proses belajar berlangsung dalam suasana yang positif, interaktif, dan memotivasi siswa untuk terus mengeksplorasi rasa ingin tahunya.
Merencang dan mengimplementasikan kegitan sekolah yang terkait dengan momentum Ramadan tentunya tidak hanya sebatas rutinitas saja. Merancang kegiatan yang bermakna dan berkesadaran akan memberi ruang ekpresi murid yang seluas-luasnya dan menjadi model pembelajaran mendalam (deep learning).
Penulis adalah guru SD Muhammadiyah PK Kottabarat, alumnus Magister Pendidikan Dasar UMS
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






