Merawat Kader “Ideologis” Muhammadiyah

Esai ini saya tulis karena ada hal yang membuat saya harus merefleksikan hasil diskusi dengan siswa. Ketika berdiskusi dengan siswa saat awal pembelajaran Kemuhammadiyahan tema kaderisasi, saya tanyakan langsung kepada siswa.

“Siapa yang siap jadi kader IPM?”

Ada yang menjawab siap dan tidak siap. Saya coba perdalam alasan yang tidak siap. Alasan yang diungkap adalah tidak bisa membagi waktu dalam organisasi.

Sepintas dari cuplikan kisah di atas menggambarkan pemahaman kader dari sisi organisatoris. Bahwa umumnya siswa atau masyarakat masih melihat kader itu adalah pengurus di organisasi. Memang benar, kader merupakan jantung suatu organisasi. Kader juga berarti anggota inti yang menjadi bagian terpilih dalam lingkup dan lingkungan pimpinan serta mendampingi di sekalian kepemimpinan.