Setiap Idulfitri, kita diajarkan untuk saling memaafkan. Kalimat “mohon maaf lahir dan batin” diucapkan berulang-ulang, mengalir begitu ringan dari anak kepada orang tua. Namun, di balik tradisi yang sakral itu, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan secara jujur: apakah kita sebagai orang tua juga sudah pantas untuk dimaafkan oleh anak-anak kita?
Lebaran sering dimaknai sebagai momentum spiritual untuk membersihkan diri dari dosa kepada sesama. Akan tetapi, dalam lingkup keluarga, makna itu kerap berhenti pada seremonial. Anak-anak diminta bersimpuh, mencium tangan, dan mengucapkan maaf, sementara orang tua jarang melakukan refleksi yang sama terhadap cara mereka mengasuh sepanjang tahun. Di sinilah parenting menemukan makna terdalamnya dan sekaligus ujian terberatnya.
Lebaran sesungguhnya adalah ruang belajar kehidupan yang sangat konkret bagi anak. Di dalamnya, anak belajar tentang empati, kerendahan hati, serta arti memaafkan. Namun, semua itu tidak akan tertanam hanya melalui kata-kata, melainkan melalui pengalaman yang mereka rasakan secara langsung. Seorang ibu muda di sebuah kota kecil di Jawa pernah bercerita bahwa setiap Lebaran, anaknya selalu terlihat enggan bersalaman dengan keluarga besar. Setelah ditelusuri, ternyata anak tersebut merasa “dipaksa” melakukan ritual tanpa memahami maknanya. Ia melakukannya karena takut dimarahi, bukan karena kesadaran.
Kisah ini mungkin sederhana, tetapi mencerminkan realitas yang lebih luas. Banyak anak menjalani tradisi Lebaran sebagai kewajiban sosial, bukan sebagai proses pembelajaran nilai. Padahal, anak-anak adalah peniru ulung. Mereka tidak hanya mendengar apa yang diajarkan, tetapi merekam apa yang dilakukan orang tua. Jika orang tua mengajarkan meminta maaf tetapi tidak pernah memberi contoh, maka nilai itu akan kehilangan maknanya.
Salah satu ironi terbesar dalam praktik pengasuhan saat ini adalah ketika nilai-nilai hanya diajarkan sebagai simbol, bukan sebagai kebiasaan hidup. Lebaran menjadi panggung di mana nilai-nilai ditampilkan, tetapi tidak selalu dihidupi. Banyak orang tua yang dengan mudah meminta anak untuk bersikap sopan, tetapi dalam keseharian masih terbiasa meninggikan suara, kurang mendengarkan, atau bahkan terlalu sibuk dengan dunia digital. Tanpa disadari, hal-hal kecil ini membentuk pengalaman emosional anak yang jauh lebih kuat dibandingkan nasihat apa pun.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Child and Family Studies (2022) menunjukkan bahwa kualitas hubungan emosional dalam keluarga lebih berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak dibandingkan dengan frekuensi pemberian nasihat atau aturan. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kehangatan dan keteladanan cenderung memiliki empati yang lebih tinggi serta kemampuan regulasi emosi yang lebih baik. Artinya, parenting bukan soal seberapa sering kita mengajarkan nilai, tetapi seberapa konsisten kita menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Orang Tua Juga Perlu Belajar Meminta Maaf
Ada satu praktik sederhana dalam pengasuhan yang sering diabaikan, tetapi memiliki dampak luar biasa: keberanian orang tua untuk meminta maaf kepada anak. Seorang ayah pernah mengaku bahwa selama bertahun-tahun ia tidak pernah sekalipun meminta maaf kepada anaknya, meskipun sadar sering bersikap keras. Ia beranggapan bahwa wibawa orang tua harus dijaga. Namun, suatu hari, setelah konflik kecil yang berujung tangis, ia mencoba hal yang berbeda. Ia mendekati anaknya dan berkata, “Maaf ya, Ayah salah.”
Respons anaknya di luar dugaan. Anak itu memeluknya erat sambil menangis. Sejak saat itu, hubungan mereka berubah. Lebih hangat, lebih terbuka. Momen seperti ini menunjukkan bahwa meminta maaf bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan. Anak belajar bahwa kesalahan adalah bagian dari manusia, dan kejujuran adalah jalan untuk memperbaiki hubungan. Lebaran adalah momentum paling tepat untuk memulai kebiasaan ini. Bukan hanya anak yang meminta maaf, tetapi juga orang tua yang berani mengakui kekurangan dalam pengasuhan.
Di tengah kemajuan teknologi, keluarga modern menghadapi tantangan baru: jarak emosional yang tidak selalu terlihat. Orang tua dan anak mungkin berada dalam satu ruang yang sama, tetapi tidak benar-benar terhubung. Sebuah laporan dari Unicef (2021) menyoroti bahwa meningkatnya penggunaan gawai dalam keluarga berkontribusi pada menurunnya kualitas interaksi langsung antara orang tua dan anak. Anak menjadi lebih banyak berinteraksi dengan layar daripada dengan manusia di sekitarnya. Fenomena ini sering terlihat saat Lebaran. Ketika keluarga berkumpul, tidak sedikit anak yang justru sibuk dengan ponsel. Lebih mengkhawatirkan lagi, orang tua pun melakukan hal yang sama.
Lebaran yang seharusnya menjadi momentum mempererat hubungan justru berubah menjadi kebersamaan yang semu. Padahal, bagi anak, kehadiran orang tua secara utuh jauh lebih bermakna dibandingkan apa pun yang bisa diberikan secara materi.
Mengembalikan makna Lebaran dalam pengasuhan tidak membutuhkan langkah yang rumit, tetapi membutuhkan kesadaran. Orang tua perlu mulai menghadirkan interaksi yang lebih tulus dan bermakna, bukan sekadar menjalankan tradisi. Lebaran dapat dijadikan ruang dialog yang hangat antara orang tua dan anak, tempat di mana perasaan didengarkan tanpa dihakimi. Dalam suasana yang penuh kehangatan, anak akan lebih mudah memahami makna meminta maaf dan memaafkan sebagai kebutuhan emosional, bukan sekadar kewajiban.
Pada saat yang sama, orang tua juga perlu berani membuka diri, mengakui kesalahan, dan memperbaiki pola komunikasi. Ketika anak melihat bahwa orang tua juga belajar, mereka akan tumbuh dalam lingkungan yang sehat secara emosional. Mengurangi distraksi digital selama momen kebersamaan juga menjadi langkah penting. Kehadiran yang utuh dengan perhatian penuh adalah bentuk kasih sayang yang paling sederhana, tetapi sering terabaikan.
Selain itu, melibatkan anak dalam aktivitas Lebaran, seperti menyiapkan hidangan, bersilaturahmi, atau berbagi dengan sesama, akan membantu mereka memahami nilai kehidupan secara nyata. Pengalaman-pengalaman inilah yang akan membekas, jauh melampaui kemewahan atau simbol perayaan.
Lebaran dan Tanggung Jawab yang Lebih Besar
Pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang memperbaiki hubungan antarindividu, tetapi juga tentang memperbaiki cara kita mendidik anak. Kita sering berharap anak menjadi pribadi yang santun, empatik, dan berkarakter. Namun, harapan itu tidak akan pernah terwujud jika tidak dimulai dari cara kita memperlakukan mereka setiap hari.
Lebaran hanyalah satu momen, tetapi makna yang ditanamkan di dalamnya bisa membentuk karakter anak seumur hidup. Maka, di tengah gema takbir dan hangatnya silaturahmi, mungkin inilah saatnya kita tidak hanya berkata kepada anak:
“Maafkan Ayah dan Ibu.”
Tetapi juga berani berjanji: Kami akan lebih hadir. Kami akan lebih mendengar. Kami akan lebih sabar. Kami akan belajar menjadi orang tua yang lebih baik. Karena dalam parenting, yang paling penting bukanlah siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling mau berubah. Dan mungkin, di situlah makna Lebaran yang sesungguhnya.
Penulis adalah dosen prodi PGSD Unisri Surakarta
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...
Self-Love dan Konsep Syukur dalam Islam: Mencintai Diri sebagai Amanah Ilahi
Di era media sosial yang serba kompetitif, istilah self-love sering kali disalahpahami sebagai bentuk narsisme atau pemanjaan diri yang berlebihan. Namun, jika kita menggali lebih...
Child Grooming: Kejahatan Tersembunyi di Era Digital dan Tantangan terhadap Perlindungan Anak
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam etika berkomunikasi (Nurrohim, 2024). Internet dan media sosial memungkinkan interaksi tanpa batas ruang...
Valid Nggak Nih? Menguji Keaslian Konten Lewat Kacamata Langit
Daftar IsiSiapa “Si Fasiq” sekarang?Kenapa Otak Kita Gampang Termakan?Panduan Tabayyun dalam 60 DetikMenjadi kritis tidak harus menjadi jurnalis investigasi. Sebelum jempolmu menyentuh tombol share, luangkan 60...






