
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Guru Besar Optimasi dan Logistik Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Eko Setiawan, menegaskan hidup berdampingan dengan risiko bencana merupakan pilihan rasional sekaligus ikhtiar strategis dalam membangun masyarakat tangguh bencana.
Hal tersebut disampaikan Eko dalam Jumpa Pers Pengukuhan Guru Besar bertajuk “Hidup Berdampingan dengan Risiko Bencana: Ikhtiar menuju Masyarakat Tangguh-Bencana”. Ia mengawali paparannya dengan mengutip pernyataan George Santayana, “Those who do not remember the past are condemned to repeat it”, sebagai refleksi atas rentetan bencana alam yang terus terjadi di Indonesia.
“Kita menyaksikan banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatra, erupsi Gunung Semeru, Marapi, dan sejumlah gunung api lainnya. Ini menunjukkan bahwa bencana terjadi semakin sering dan menimbulkan kerugian besar,” ujarnya, Senin, (19/1/2026).
Berdasarkan data Emergency Events Database (EM-DAT), sepanjang tahun 2024 tercatat 393 bencana alam di dunia yang menyebabkan 16.753 kematian, berdampak pada 167,2 juta orang, serta menimbulkan kerugian ekonomi mencapai US$ 241,95 miliar.
Eko menjelaskan posisi geografis Indonesia yang berada di atas Ring of Fire menjadikan negeri ini sangat rentan terhadap bencana. Sekitar 80 persen gempa bumi terbesar dunia terjadi di wilayah tersebut, yang memiliki sekitar 452 gunung berapi aktif. “Sejarah mencatat letusan Krakatau 1883, Tambora 1815, tsunami Aceh, hingga banjir bandang dan longsor yang terjadi belakangan ini. Semua ini menunjukkan bahwa bencana adalah keniscayaan,” jelasnya.
Ia memaparkan, risiko dapat dipahami sebagai kemungkinan terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan dengan konsekuensi negatif. Menurutnya, BNPB merumuskan risiko sebagai hasil perkalian antara bahaya dan kerentanan, serta berbanding terbalik dengan kapasitas. “Artinya, semakin tinggi bahaya dan kerentanan suatu kelompok, serta semakin rendah kapasitasnya, maka semakin besar risiko yang ditanggung,” terangnya.
Menghadapi realitas tersebut, Eko menilai alih-alih menghindari bencana, sesuatu yang hampir mustahil, masyarakat perlu mengembangkan sikap hidup berdampingan dengan risiko bencana. Sikap tersebut memiliki sejumlah dimensi penting.
Pertama, peningkatan kesadaran risiko (risk awareness). Menurutnya, kesadaran yang baik terbukti meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana. Kesadaran ini dapat ditumbuhkan melalui pendidikan kebencanaan. “Kedua, adaptasi berkelanjutan, termasuk integrasi adaptasi perubahan iklim dengan mitigasi bencana,” lanjutnya.
Perlunya Big Data
Ketiga, pentingnya pengambilan keputusan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Eko menekankan perlunya pemanfaatan big data, machine learning, kecerdasan buatan (AI), serta pengambilan keputusan kebencanaan berbasis bukti (evidence-based disaster decision making). “Di sini pendidikan kembali memegang peran kunci agar manusia well-equipped dalam hidup berdampingan dengan risiko bencana,” tegasnya.
Keempat, integrasi kajian risiko bencana dalam perencanaan pembangunan dan perumusan kebijakan. Menurutnya, pembangunan tanpa mempertimbangkan risiko bencana justru berpotensi memperbesar kerugian di masa depan. Kelima, pelibatan komunitas dan organisasi keagamaan.
Eko menilai, karakter masyarakat Indonesia yang guyub dan religius menjadi modal sosial penting dalam pengurangan risiko bencana. “Pelibatan organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah terbukti dapat mengamplifikasi upaya hidup berdampingan dengan risiko bencana. Banyak riset yang mendokumentasikan peran ini,” katanya.
Eko menegaskan risiko bencana akibat potensi bahaya alam merupakan keniscayaan. Oleh karena itu, ketangguhan masyarakat (disaster-resilient society) menjadi krusial. “Masyarakat yang tangguh adalah mereka yang mampu pulih dan bangkit kembali setelah bencana,” ungkap Eko.
Ia menambahkan, berbagai indikator dan indeks ketangguhan telah dikembangkan, di antaranya Disaster Resilience Scorecard for Cities dari UNDRR serta kajian Cutter (2016) tentang indikator ketangguhan masyarakat.
Dalam konteks ini, manajemen bencana menjadi sangat relevan. Ia menjelaskan bahwa manajemen bencana mencakup empat siklus, yaitu mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, serta pemulihan dan rekonstruksi. “Mitigasi dan kesiapsiagaan dilakukan sebelum bencana, sedangkan tanggap darurat dan pemulihan dilakukan setelah bencana terjadi,” jelasnya.
Ia menegaskan, berbagai karya UMS di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dapat dibaca dalam kerangka pikir tersebut, yakni ikhtiar menuju masyarakat tangguh-bencana.
Menutup paparannya, Eko mengajak masyarakat untuk memaknai tanda-tanda kebesaran Allah sebagaimana tertuang dalam QS. Ali Imran ayat 190-191. “Mari kita gunakan berbagai ‘api’ yang telah disediakan Sang Khaliq, yakni akal dan ilmu pengetahuan, untuk membaca tanda-tanda kebesaran-Nya dan membangun ketangguhan menghadapi bencana,” ujarnya.
Mahasiswa UMS Gagas Gerakan Udara Bersih untuk Pelajar lewat GerakDampak Academy
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Abi Umaroh, mahasiswa Magister Ilmu Hukum (MIH) Fakultas Hukum dan Ilmu Politik (FHIP)...
UMS Nilai Penguatan Literasi Harus Jadi Prioritas Pembangunan Nasional
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 2026 dinilai berpotensi menghambat upaya peningkatan budaya literasi di Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan...
Mahasiswa Geografi UMS Gagas Program Mengajar Desa di Karanganyar
KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Mahasiswa Program Studi Geografi Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggagas program Pengabdian Mengajar Desa di Desa Segorogunung, Kabupaten Karanganyar. Kegiatan yang...
Mahasiswa UMS Bentuk Lembaga Ibu Sigap, Dorong Desa Blimbing Mandiri Cegah Stunting
SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Pengembangan Prestasi dan Riset Mahasiswa (PRISMA) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membentuk Lembaga Ibu Sigap di...
UMS Kenalkan Teknologi Tepat Guna, Dongrak Produktivitas Batik Desa Wisata Jarum
KLATEN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus mendorong penguatan industri kreatif berbasis masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna bagi perajin batik di Desa Wisata...
UMS Perkuat Kesejahteraan Pegawai lewat BPJS, Dakes, dan Layanan Konseling
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat layanan bagi dosen dan tenaga kependidikan melalui peningkatan program kesejahteraan, layanan kesehatan, hingga dukungan kesehatan mental....
UMS Dampingi Desa Wisata Jarum Kembangkan Produk Ecoprint Berdaya Saing
KLATEN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Salah satunya diwujudkan lewat pelatihan kewirausahaan, penamaan...
Pendaftar PMB UMS 2026 Meningkat, Persaingan Masuk Kampus Kian Ketat
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Minat masyarakat melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus meningkat. Hingga Senin (27/7/2026) pukul 14.00 WIB, jumlah pendaftar Penerimaan Mahasiswa Baru...
FT UMS Kenalkan Industri Batik Ramah Lingkungan kepada Mahasiswa Internasional
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada mahasiswa internasional melalui kegiatan field study membatik di Batik MY,...
Dosen PAI UMS Raih Penghargaan Publikasi Internasional Terbaik di AICIRE 2026
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas academica Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) UMS,...
Atlet UMS Sumbang Emas untuk Indonesia di Kejuaraan Asia Pencak Silat 2026
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Atlet Tapak Suci UMS, Kirana Tias Savira, berhasil mempersembahkan medali emas...
Lantik 79 Dokter Baru, FK UMS Tekankan Profesionalisme dan Pengabdian
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melantik dan mengambil sumpah 79 dokter baru Angkatan LIX Tahun 2026 dalam prosesi di...






