Di banyak masjid dan musala, kajian Islam menjadi agenda rutin yang memperkaya keimanan jemaah. Ilmu yang disampaikan ustadz atau dai memang tidak ternilai harganya. Tapi ada satu hal yang sering dilupakan sebagian orang: meski ilmu itu gratis, bensin motor atau ongkos mobil ke lokasi kajian tidak pernah gratis.
Fenomena ini sering jadi bahan obrolan bahkan sindiran getir di kalangan para pendakwah. Ustaz diundang mengisi kajian dari jarak jauh, tapi begitu selesai, hanya disambut ucapan “Jazakallahu khairan” tanpa selembar pun amplop. Bukankah ini ironis? Dakwah sering dimaknai hanya soal keikhlasan, padahal keikhlasan tidak berarti menutup mata pada kebutuhan realistis.
Antara Ideal dan Realitas
Dalam Islam, memberi ilmu adalah amal jariyah. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Maka tidak heran bila banyak ustaz rela meluangkan waktu, bahkan menunda kepentingan pribadi, demi menyampaikan dakwah. Namun, apakah berarti seorang ustaz harus selalu dianggap “tidak boleh menerima” imbalan?
Mari kita lihat kenyataannya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat, rata-rata harga bensin (Pertalite) berada di kisaran Rp10.000 per liter. Biaya transportasi umum di perkotaan bisa mencapai Rp20.000–Rp50.000 sekali jalan.
Di pedesaan, ongkos bisa lebih tinggi karena jarak tempuh dan akses jalan. Seorang ustaz yang menempuh perjalanan pulang-pergi 30 kilometer setidaknya mengeluarkan Rp30.000–Rp50.000 untuk bensin. Itu belum termasuk makan siang atau biaya lain yang kadang harus ditanggung.
Artinya, ketika panitia kajian tidak memberi uang transport, beban itu ditanggung ustaz. Pertanyaannya: sampai kapan kita hanya menuntut “ikhlas” dari mereka, sementara kita sendiri pelit menghargai jerih payahnya? Terlebih kita menadapatkan ilmu yang diperjuangkannya selama menempuh keilmuan agama saat itu.
Sindiran untuk Panitia yang Pelit
Ada fenomena yang cukup menyedihkan: panitia bisa menggelontorkan jutaan rupiah untuk menyewa sound system, mendesain spanduk, bahkan menyediakan snack melimpah untuk jemaah. Tapi ketika menyangkut transport ustaz, tiba-tiba ada kalimat sakti: “Kan dakwah itu ikhlas, Pak Ustaz. Nanti Allah yang balas.”
Betul, Allah Maha Membalas. Tapi apakah kita lupa bahwa Allah juga memerintahkan umatnya untuk berlaku adil dan menghargai jasa orang lain? Bayangkan jika seorang tukang bangunan dipanggil memperbaiki atap masjid.
Setelah selesai, panitia berkata: “Maaf ya, Pak. Kerja memperbaiki masjid kan pahala, nanti Allah yang balas.” Tentu tukang itu akan tersinggung. Lalu kenapa hal seperti ini dianggap wajar saat terjadi pada ustaz?
Di sinilah letak masalahnya. Sebagian orang masih menganggap profesi ustaz bukanlah sesuatu yang perlu dihargai secara finansial. Padahal, justru ustazlah yang menopang kebutuhan spiritual jemaah.
Dakwah Itu Butuh Biaya
Moeslim Abdurrahman dalam bukunya Islam yang Memihak menyebut bahwa dakwah bukan hanya seruan spiritual, melainkan juga praktik sosial yang bersinggungan dengan ekonomi, budaya, dan realitas sehari-hari. Maka wajar bila dakwah membutuhkan sumber daya, termasuk uang.
Lihat saja organisasi-organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah atau NU. Mereka memiliki lembaga dakwah, mendirikan sekolah, rumah sakit, dan media. Semua itu bergerak dengan prinsip dakwah, tetapi jelas membutuhkan dana operasional yang tidak sedikit.
Begitu pula pada level paling sederhana: ustaz kampung yang diminta mengisi pengajian. Kehadirannya memang untuk menyampaikan ilmu, tapi proses menuju ke sana dari bensin, waktu, hingga tenaga adalah biaya yang nyata.
Ikhlas Tidak Sama dengan Gratis
Kata “ikhlas” sering dijadikan tameng untuk menutupi rasa malas dan enggan memberi. Padahal, keikhlasan ustaz berdakwah tidak akan berkurang hanya karena ia diberi uang transport. Justru, memberi transport adalah bentuk penghormatan dan penghargaan.
Seorang ustaz bisa saja menolak amplop dengan alasan cukup. Namun panitia tetap punya kewajiban moral untuk menyiapkannya. Sebab, memberi transport bukan soal membayar ilmu karena ilmu tidak ternilai harganya, tetapi soal mengganti biaya perjalanan dan bentuk penghargaan.
Rasulullah SAW pun tidak melarang umat Islam untuk menerima atau memberi upah bagi jasa yang halal. Bahkan dalam hadis riwayat Bukhari, disebutkan bahwa seorang sahabat yang mengobati orang dengan bacaan Al-Fatihah diberi upah seekor kambing, dan Rasulullah membolehkannya.
Sudah saatnya jemaah dan panitia masjid mengubah cara pandang terhadap dakwah. Jangan hanya menuntut ustaz datang tepat waktu, memberi tausiah panjang, lalu pulang tanpa kepastian transport. Jika jemaah bisa menyisihkan uang untuk membeli kopi kekinian Rp25.000, mengapa terasa berat menyisihkan jumlah yang sama untuk ustaz yang telah datang dengan susah payah?
Memberi transport bukan soal besar-kecilnya nominal, tapi soal penghargaan. Bahkan Rp50.000 dalam amplop sederhana bisa sangat berarti bagi seorang ustaz yang datang dari jauh.
Dakwah Perlu Realistis
Dakwah memang lahir dari keikhlasan, tapi dijalankan dengan kaki yang melangkah, bensin yang terbakar, dan perut yang juga butuh makan. Maka tidak ada salahnya jika kita lebih realistis. Memberi transport ustaz bukanlah mengurangi nilai pahala, justru melengkapinya dengan akhlak mulia: menghargai dan memuliakan orang yang menyampaikan ilmu.
Jangan sampai ada lagi cerita ustaz yang pulang dengan dompet tipis, sementara panitia merasa sudah cukup dengan ucapan “semoga Allah membalas.” Ingat, ucapan itu indah, tapi bensin motor tetap harus dibayar dengan rupiah.
Kita luput bisa membayar untuk selain agama padahal kita harus memperioritaskan hal yang berkaitan dengan agama terlebih ilmu agama. Maka mari kita berbenah dan membawa cermin akhlak kita masing-masing.
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...
Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?
Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?
Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...






