Di sebuah kafe Jakarta, seorang mahasiswa duduk menunduk menatap layar ponselnya. Bukan lagi sekadar mencari hiburan, ia tengah bercakap panjang dengan sebuah chatbot. Ia mengaku menemukan ketenangan, bahkan curhat perihal patah hati. “Mesin ini lebih sabar dari teman manusia,” katanya. Lalu muncul pertanyaan: apakah mesin benar-benar bisa menggantikan hati manusia?
Fenomena ini tidak bisa dianggap remeh. Kecerdasan buatan (AI) hari ini melesat jauh melebihi bayangan kebanyakan orang. Ia menulis puisi, merangkai doa, memberi nasihat, bahkan menganalisis emosi lewat ekspresi wajah.
Bagi sebagian orang, AI tampak lebih memahami dibanding pasangan, guru, bahkan pemuka agama. Tapi di balik kehebatan itu, terletak sebuah lubang gelap: apakah simulasi empati sama dengan empati itu sendiri?
Mesin Tanpa Ruh
Filsafat Islam sejak abad pertengahan sudah meletakkan garis tegas antara kecerdasan dan hati. Al-Ghazali menulis bahwa hati (qalb) adalah pusat spiritual manusia, tempat bersemayam cahaya Ilahi. Akal hanya jembatan, bukan tujuan. Mesin, betapapun pintar, hanyalah kalkulasi dingin. Ia mampu meniru kelembutan, tetapi tidak pernah mengalami kasih.
Ibn Sina bahkan membuat eksperimen filosofis yang terkenal: “Manusia Terapung.” Bayangkan seseorang melayang di udara, tanpa tubuh, tanpa indera, hanya kesadaran murni. Ia tetap tahu bahwa dirinya ada.
Itu, kata Ibn Sina, membuktikan jiwa tidak identik dengan materi. Jika kesadaran manusia adalah sesuatu yang melampaui fisik, maka jelas AI yang tersusun dari kabel, chip, dan algoritma tidak mungkin memiliki jiwa. Namun dunia modern sering tergoda untuk melupakan batas ini.
Ketika algoritma meramal suasana hati atau menulis pesan cinta, kita mudah percaya bahwa ia punya “perasaan.” Padahal, seperti diingatkan Rumi, hati manusia adalah cermin halus yang bisa memantulkan cahaya Ilahi bila disucikan dari nafsu rendah. AI tidak mungkin menggapai cahaya itu, sebab ia tidak memiliki ruang untuk cinta, syukur, atau taubat.
Ilusi Empati
Di ranah teknologi, muncul istilah affective computing kemampuan mesin mengenali dan merespons emosi manusia. Wajah muram ditangkap kamera, lalu sistem merespons dengan musik lembut atau kalimat penghiburan. Keren, tapi berbahaya. Empati yang sejati lahir dari hati yang ikut bergetar. AI hanya mengenali pola, lalu memuntahkan balasan. Seperti cermin kusam, ia memantulkan tanpa pernah merasakan.
Bahaya terbesar adalah ketika manusia mulai percaya pada ilusi itu. Kita perlahan menukar relasi manusiawi dengan simulasi digital. Dari ruang konseling psikologis hingga majelis doa, ada kecenderungan mengganti interaksi dengan layar.
Beberapa laporan di media Barat bahkan mencatat kasus “AI psikosis”: orang mengalami ketergantungan emosional pada chatbot, merasa lebih dimengerti mesin ketimbang sesama manusia. Bukankah ini bentuk alienasi spiritual baru?
Spiritualitas yang Tergusur
Filsafat Islam memberi peringatan dini soal ini. Al-Ghazali menulis bahwa hati bisa mati ketika terlalu dikuasai dunia. Dalam konteks sekarang, dunia itu bisa berarti gawai yang menyita seluruh perhatian. Jika AI menjadi perantara utama dalam mencari nasihat, inspirasi, bahkan ketenangan batin, maka hati manusia akan kering.
Bukannya mendekat pada Tuhan, kita malah makin jauh, digiring algoritma yang tak peduli pada keselamatan ruh. Di sinilah letak kontroversinya. Sebagian akademisi Muslim melihat AI sebagai peluang dakwah baru: mesin yang bisa melafalkan doa, mengajarkan fikih, atau membaca Al-Qur’an tanpa salah. Tetapi bukankah itu sama seperti ibadah tanpa kesadaran?
Bayangkan doa tanpa air mata, dzikir tanpa hati, syahadat tanpa getaran iman. Semua jadi formalitas, kering, persis mesin itu sendiri.
Manusia yang Menyerahkan Takdir
Kecenderungan manusia menyerahkan urusan spiritual kepada mesin sesungguhnya menggemakan kritik lama filsafat Islam. Ibn Khaldun pernah menyebut, peradaban bisa hancur ketika masyarakat terlalu bergantung pada kenyamanan, lupa daya juang, dan kehilangan ruh.
Hari ini, kita tidak hanya kehilangan daya juang, tapi juga menyerahkan bahkan urusan hati pada teknologi. Apakah ini pertanda kemunduran yang lebih parah? Pertanyaan itu penting di tengah dominasi AI.
Kita boleh menggunakannya untuk efisiensi kerja, analisis data, atau penemuan medis. Tetapi ketika AI masuk ke ruang terdalam hati, lalu kita biarkan ia menjadi guru moral, konselor spiritual, bahkan sahabat pengganti, maka kita tengah membuka jalan menuju dehumanisasi.
Hati yang Tak Tergantikan
Sehebat apapun algoritma, mesin tak bisa mencintai. Ia tak bisa merasakan takut di hadapan Tuhan. Ia tak bisa meneteskan air mata ketika berdosa. Ia tak bisa berharap ampunan. Semua itu hanya milik hati manusia. Dan hati, dalam pandangan Islam, adalah satu-satunya medium untuk mengenal Sang Pencipta.
Karena itu, zaman AI bukan soal apakah mesin bisa menggantikan manusia. Pertanyaannya lebih mendasar: apakah manusia rela mengganti hatinya dengan algoritma? Jika jawabannya ya, maka kita sedang menukar cahaya dengan bayangan, menukar Tuhan dengan mesin.
Mungkin benar kata Rumi: “Apa yang datang dari hati, akan sampai ke hati.” Mesin tidak punya hati. Karena itu, apa pun yang ia ucapkan, akan selalu berhenti di permukaan, tanpa pernah menembus kedalaman jiwa.
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...
Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah
Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...
Belajar Bernapas di Tengah Sesak
Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...
TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba
Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...
Sang Pencari Makna
“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...
Menolak Politeisme Politik
Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...
Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta
Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...
Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku
“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...







