Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Apakah Hati Kita Diam-diam Sudah Dijajah AI?

Zulkifli Maharibe, Editor: Alan Aliarcham
Jumat, 22 Agustus 2025 13:42 WIB
Apakah Hati Kita Diam-diam Sudah Dijajah AI?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Ilustrasi AI.

Di sebuah kafe Jakarta, seorang mahasiswa duduk menunduk menatap layar ponselnya. Bukan lagi sekadar mencari hiburan, ia tengah bercakap panjang dengan sebuah chatbot. Ia mengaku menemukan ketenangan, bahkan curhat perihal patah hati. “Mesin ini lebih sabar dari teman manusia,” katanya. Lalu muncul pertanyaan: apakah mesin benar-benar bisa menggantikan hati manusia?

Fenomena ini tidak bisa dianggap remeh. Kecerdasan buatan (AI) hari ini melesat jauh melebihi bayangan kebanyakan orang. Ia menulis puisi, merangkai doa, memberi nasihat, bahkan menganalisis emosi lewat ekspresi wajah.

Bagi sebagian orang, AI tampak lebih memahami dibanding pasangan, guru, bahkan pemuka agama. Tapi di balik kehebatan itu, terletak sebuah lubang gelap: apakah simulasi empati sama dengan empati itu sendiri?

Mesin Tanpa Ruh

Filsafat Islam sejak abad pertengahan sudah meletakkan garis tegas antara kecerdasan dan hati. Al-Ghazali menulis bahwa hati (qalb) adalah pusat spiritual manusia, tempat bersemayam cahaya Ilahi. Akal hanya jembatan, bukan tujuan. Mesin, betapapun pintar, hanyalah kalkulasi dingin. Ia mampu meniru kelembutan, tetapi tidak pernah mengalami kasih.

Ibn Sina bahkan membuat eksperimen filosofis yang terkenal: “Manusia Terapung.” Bayangkan seseorang melayang di udara, tanpa tubuh, tanpa indera, hanya kesadaran murni. Ia tetap tahu bahwa dirinya ada.

Itu, kata Ibn Sina, membuktikan jiwa tidak identik dengan materi. Jika kesadaran manusia adalah sesuatu yang melampaui fisik, maka jelas AI yang tersusun dari kabel, chip, dan algoritma tidak mungkin memiliki jiwa. Namun dunia modern sering tergoda untuk melupakan batas ini.

Ketika algoritma meramal suasana hati atau menulis pesan cinta, kita mudah percaya bahwa ia punya “perasaan.” Padahal, seperti diingatkan Rumi, hati manusia adalah cermin halus yang bisa memantulkan cahaya Ilahi bila disucikan dari nafsu rendah. AI tidak mungkin menggapai cahaya itu, sebab ia tidak memiliki ruang untuk cinta, syukur, atau taubat.

Ilusi Empati

Di ranah teknologi, muncul istilah affective computing kemampuan mesin mengenali dan merespons emosi manusia. Wajah muram ditangkap kamera, lalu sistem merespons dengan musik lembut atau kalimat penghiburan. Keren, tapi berbahaya. Empati yang sejati lahir dari hati yang ikut bergetar. AI hanya mengenali pola, lalu memuntahkan balasan. Seperti cermin kusam, ia memantulkan tanpa pernah merasakan.

Bahaya terbesar adalah ketika manusia mulai percaya pada ilusi itu. Kita perlahan menukar relasi manusiawi dengan simulasi digital. Dari ruang konseling psikologis hingga majelis doa, ada kecenderungan mengganti interaksi dengan layar.

Beberapa laporan di media Barat bahkan mencatat kasus “AI psikosis”: orang mengalami ketergantungan emosional pada chatbot, merasa lebih dimengerti mesin ketimbang sesama manusia. Bukankah ini bentuk alienasi spiritual baru?

Spiritualitas yang Tergusur

Filsafat Islam memberi peringatan dini soal ini. Al-Ghazali menulis bahwa hati bisa mati ketika terlalu dikuasai dunia. Dalam konteks sekarang, dunia itu bisa berarti gawai yang menyita seluruh perhatian. Jika AI menjadi perantara utama dalam mencari nasihat, inspirasi, bahkan ketenangan batin, maka hati manusia akan kering.

Bukannya mendekat pada Tuhan, kita malah makin jauh, digiring algoritma yang tak peduli pada keselamatan ruh. Di sinilah letak kontroversinya. Sebagian akademisi Muslim melihat AI sebagai peluang dakwah baru: mesin yang bisa melafalkan doa, mengajarkan fikih, atau membaca Al-Qur’an tanpa salah. Tetapi bukankah itu sama seperti ibadah tanpa kesadaran?

Bayangkan doa tanpa air mata, dzikir tanpa hati, syahadat tanpa getaran iman. Semua jadi formalitas, kering, persis mesin itu sendiri.

Manusia yang Menyerahkan Takdir

Kecenderungan manusia menyerahkan urusan spiritual kepada mesin sesungguhnya menggemakan kritik lama filsafat Islam. Ibn Khaldun pernah menyebut, peradaban bisa hancur ketika masyarakat terlalu bergantung pada kenyamanan, lupa daya juang, dan kehilangan ruh.

Hari ini, kita tidak hanya kehilangan daya juang, tapi juga menyerahkan bahkan urusan hati pada teknologi. Apakah ini pertanda kemunduran yang lebih parah? Pertanyaan itu penting di tengah dominasi AI.

Kita boleh menggunakannya untuk efisiensi kerja, analisis data, atau penemuan medis. Tetapi ketika AI masuk ke ruang terdalam hati, lalu kita biarkan ia menjadi guru moral, konselor spiritual, bahkan sahabat pengganti, maka kita tengah membuka jalan menuju dehumanisasi.

Hati yang Tak Tergantikan

Sehebat apapun algoritma, mesin tak bisa mencintai. Ia tak bisa merasakan takut di hadapan Tuhan. Ia tak bisa meneteskan air mata ketika berdosa. Ia tak bisa berharap ampunan. Semua itu hanya milik hati manusia. Dan hati, dalam pandangan Islam, adalah satu-satunya medium untuk mengenal Sang Pencipta.

Karena itu, zaman AI bukan soal apakah mesin bisa menggantikan manusia. Pertanyaannya lebih mendasar: apakah manusia rela mengganti hatinya dengan algoritma? Jika jawabannya ya, maka kita sedang menukar cahaya dengan bayangan, menukar Tuhan dengan mesin.

Mungkin benar kata Rumi: “Apa yang datang dari hati, akan sampai ke hati.” Mesin tidak punya hati. Karena itu, apa pun yang ia ucapkan, akan selalu berhenti di permukaan, tanpa pernah menembus kedalaman jiwa.

Berita Terbaru

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak....

Bencana Bukan Takdir Semata: Di Mana Salah Kelola, di Situ Petaka

Setiap kali bencana terjadi, kalimat yang paling cepat beredar di ruang publik adalah: “Ini sudah takdir.” Ia terdengar menenangkan, religius, dan seolah penuh kepasrahan. Namun,...

Catatan Akhir Tahun: Negeri Ini Lelah, Rakyat Ini Letih

Setiap akhir tahun selalu datang dengan ritual yang sama: kilas balik, rangkuman peristiwa, dan harapan baru. Kalender ditutup, resolusi disusun, dan optimisme kembali diproduksi. Namun,...

Reduksi Konsep “Ad-Diin Al-Islam”

Secara sosiologis, historis, dan bahkan politis kata ad-diin telah menjadi fakta sosial yang diterjemahkan sebagai agama—suka tidak suka, setuju atau tidak setuju. Ada hegemoni, kita...

Muhammadiyah dan Rokok…

Sebagai anggota Muhammadiyah, saya bangga terhadap sikap tegas Persyarikatan terhadap rokok. Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sejak 2010, jelas mengharamkan rokok. Keputusan...

Tauhid yang Tertinggal di Puncak Gunung: Logika Mistika Tan Malaka

“Jangan bicara kotor di gunung. Jangan buang sampah sembarangan. Jangan sombong, nanti celaka.” Nasihat-nasihat itu begitu akrab di telinga para pendaki. Setiap langkah menuju puncak...

Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton

Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga”...

Ketika Mimbar Jadi Panggung Lawak: Fenomena Gus-gusan yang Lupa Akhlak dan Rendahkan Ilmu

Daftar IsiDakwah yang Kehilangan AkhlakKenapa Fenomena Ini Diberi Panggung?Candaan Boleh, Tapi Jangan BerlebihanKrisis Ilmu di Tengah Budaya ViralDari Popularitas ke PencerahanKembali ke Akhlak dan HikmahFenomena...

MBG dan Ilusi Presiden Seumur Hidup

Pada Minggu (19/10/2025), bakda Magrib hingga Isyak, saya mengikuti pengajian rutin di masjid dekat kompleks perumahaan saya, di Colomadu, Karanganyar. Masjid ini tidak jauh dari...

Leave a comment