Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Aman atau Lupa?

Faruq Alfarizi, Editor: Sholahuddin
Kamis, 3 April 2025 17:13 WIB
Aman atau Lupa?
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Faruq Alfarizi (Dok. pribadi).

Gimana kawan-kawanku, apakah masih ingat dengan aku? Dulu yang sering banget suarakan, seperti “Free Palestine, end the war Gaza” tapi ke mana suara itu sekarang?  Anehnya ke mana Negara Timur Tengah? Apakah kalian takut dengan negara yang benderanya memiliki 50 bintang? Atau karena genjatan senjata itu yang membuat kalian lupa dengan kita dan kalian sudah mengira kita amandari semua ancaman zionis itu? Tentu jawabnya tidak.   Ini sebagian kecil dari dosa mereka, karena jika dituliskan kurasa luasnya laut di bumi tak kan cukup menjadi sebuah kertas 

Pertama, Israel terus membombardir Gaza, membunuh jurnalis Mohammed Saleh alBardawil, istrinya dan ketiga anak mereka dalam serangan terhadap rumah mereka di Khan Younis. Padahal pada Hukum hummaniter Internasional dan resolusi Majelis Umum PBB melarang kekerasan dan pembunuhan terhadap jurnalistik, tapi apalah daya pelaku masih bebas berkeliaran bahkan memiliki kesempatan untuk berulah kedua kalinya jika dibiarkan. Seakan akan hukum itu tidak berlaku bagi orang yang memiliki kuasa, Terus apa solusinya?

Kedua, pasukan Israel juga menyerang Beirut Lebanon, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai tujuh lainnya dalam serangan kedua di pinggiran Kota Dahiyeh dalam waktu kurang dari seminggu. Kekejaman zionis tidak hanya pada wilayah Palestina tetapi meluas ke Libanon yang merupakan bagian dari wilayah Syam yang memiliki banyak keistimewaan yang memiliki julukan sebagai negeri para nabi, banyak nabi diturunkan disana untuk mengajarkan risalah risalahnya

Ketiga, polisi Israel telah menahan setidaknya 12 orang saat ribuan orang memprotes di Yerusalem Barat menyerukan kembalinya kesepakatan gencatan senjata Gaza. Pengumuman tentang genjatan senjata Gazaini diumumkan secara resmi pada Rabu, 15 Januari 2025.  Tetapi kok masih banyak sekali kasus-kasus yang mengingkari genjatan senjata tersebut.  Apakah ini hanya sebatas pengalihan isu aja? Itu yang perlu kita kawal bersama sama karna ribuan nyawa manusia yang ada disana 

Keempat, dan beginilah anak-anak Palestina merayakan Idulfitri di reruntuhan

bangunan di Gaza. Sedih dan marah menjadi satu. Sedih melihat orang Gaza merayakan Idulfitri dengan segala macam ancaman dari zionis, dan marah terhadap orang yang melupakan sahabat kita di sana yang mengalami penderitaan. Kekejaman zionis itu bukan alasan untuk merayakan Idulfitri dengan keceriaan dan semangatnya

Perilaku Israel terhadap Gaza tidak dapat dibenarkan. Pembunuan terhadap anak-anak dan perempuan serta pengeboman terhadap rumah sakit yang ada di Gaza perlu dihentikan. Hal tersebut sudah termasuk ke dalam genosida yakni penghancuran suatu bangsa atau kelompok etnis dan korban tewas akibat genosida Israel itu 48.577 orang korban jiwa yang melingkupi (anak-anak, perempuan, orang tua dan warga sipil lainnya).

Suarakan Lagi

Sebagai manusia yang masih memiliki hati dan akal sehat, ayo suarakan lagi apa yang menjadi perhatian kita. Saudara saudara kita masih membutuhkan kita seperti bagian tubuh yang terluka maka bagian tubuh yang lainya juga merasakan sakit itu. Ada beberapa cara untuk menyikapi dan membantu saudara saudara kita yang ada di gaza di antaranya: senantiasa mendoakan, menyebarkan informasi yang berkaitan dengan Gaza, memboikot produk yang terafiliasi dengan Israel, ikut aksi solidaritas dan memeerikan donosi terbaik kita.

Kecil tetapi berarti seperti kisah semut yang membawa setetes air untuk Nabi Ibrahim dan sungguh indah jawaban si semut, “Aku tau setetes air yang kubawa tidak akan bisa memadamkan api besar Namrud. Tetapi dengan ini aku bisa memastikan di pihak mana kah aku berada (di pihak Allah). Makna dari kisah semut relate dengan kondisi sekarang untuk membantu penduduk yang tengah berduka. Bantuan tersebut dapat melalui apapun seperti sumbangan hingga doa. Sebab bantuan yang di berikan akan menjadi ladang amal yang diganjar pahala.

Semoga kejadian di Gaza dapat membangkitkan empati dan solidaritas di kalangan umat manusia, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi umat lainya. Gaza sendiri memiliki penduduk yang beragam, meskipun mayoritas beragama Islam, tetapi ada juga minoritas Kristen dan lainnya. Oleh karena itu penting untuk memahami bahwa konflik di Gaza bukan  hanya tentang agama, melainkan juga tentang hak asasi manusia dan keadilan bagi semua penduduk, tanpa memandang agama atau latar belakang.

Penulis adalah Ketua Umum Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Moh. Hatta IMM Kota Solo.

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar Isi Behavioral Addiction dalam Psikologi Modern Otak yang Terlatih pada Stimulus Instan Kesehatan Mental dan Relasi yang Terganggu Al-Qur’an dan Penjagaan Kesadaran Kecanduan sebagai...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment