Riuh modernitas membawa gelombang baru dalam kehidupan berorganisasi. Tatanan kehidupan instan dan pragmatis kian membuat masalah baru semakin kompleks. Konsumsi arus media digital yang simpang siur membuat para pemuda meraba-raba akan arti dari organisiasi. Bahkan, arah individu maupun kolektif acapkali berubah sesuai dengan tren yang ada tanpa memperhatikan nilai budi dan daya nalar sebagai jati diri dari sebuah organisasi.
Memasuki babak revolusi industri 5.0 para pemuda yang lahir dalam rahim teknologi agaknya akan semakin bias terhadap arti perjuangan. Nilai-nilai ideologis yang dulu menjadi kompas arah gerak organisasi kini mudah terkikis oleh arus pragmatisme dan hedonisme yang dibungkus rapi dalam kemasan modernitas. Dalam gelanggang inilah, kader-kader IMM berhadapan dengan pertarungan sunyi: mempertahankan nilai budi dan merawat daya nalar di tengah kepungan erosi moral dan kelesuan intelektual.
World Population Review mengeluarkan hasil riset tentang kecerdasan intelektual atau Intelligence Quotient (IQ) masyarakat Indonesia, hasil tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia hanya memiliki IQ sebesar 78,49. Angka tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat bawah daftar negara-negara Asia, bahkan dunia. Sebagai perbandingan, standar IQ rata-rata manusia modern berkisar 85 hingga 105, menegaskan adanya jurang ketimpangan dalam kualitas kecerdasan yang melanda negeri ini.
Kondisi ini diperkuat dengan laporan GoodStats mengenai skor rata-rata Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA). Indonesia menempati posisi 12 terendah di dunia dalam kategori penilaian skor matematika, sains dan literasi membaca. Skor tersebut menunjukkan lesunya daya nalar yang dimiliki oleh bangsa indonesia.
Namun, krisis ini tidak hanya berhenti pada aspek intelektualitas. Keanggunan moral pun mengalami kemerosotan yang signifikan. Derasnya arus media yang masuk juga mempengaruhi pola pikir dan perilaku pemuda. Hilangnya sosok role model yang berkompeten, menyebabkan tidak efektifnya transfer karakter kepada para pemuda zaman kini. Hilangnya sosok inilah yang menyebabkan pemuda bingung akan arti nilai budi.
Hal ini semakin diperparah dengan ekosistem digital yang bersifat liberal-anarkis, di mana batas nilai dan norma menjadi kabur. Minimnya regulasi etik menyebabkan hilangnya filter budaya yang masuk, sehingga akses terhadap berbagai informasi menjadi nyaris tanpa batas. Dalam keadaan ini, arus informasi yang tercampur antara faktual dan yang manipulatif kerap kali menjadi propaganda untuk menatar aktor-aktor rentan seperti para pemuda, yang secara psikologi sedang mencari jati diri.
Fakta-fakta tersebut agaknya telah cukup membuktikan keadaan realitas zaman sekarang yang semakin tidak sehat: etika moral selalu dikhianati, nalar selalu dibunuh, baik buruk ditentukan oleh media sosial, dan intitusi sekolah maupun lingkungan yang toxic.
Merangkai Lapar, Nalar, dan Akar
Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas) menegaskan bahwa rasa lapar adalah pemantik utama sebuah penggerakan. Di dalam rasa lapar individu maupun kolektif akan terpaksa melakukan sesuatu untuk memenuhi “kebutuhan” dasar mereka, dan kebutuhan ini bisa mejadi dasar perubahan sosial yang lebih besar dan luas. Kebutuhan dalam hal ini bukan hanya bersifat biologis, melainkan kebutuhan terhadap kesadaran, pengetahuan, dan kebutuhan akan kebebasan.
Bagi seorang kader, pembangunan taraf berpikir harus merujuk kepada kata lapar, sehingga ini bukan hanya menjadi pilihan yang opsional, melainkan kebutuhan primer sebagai seorang kader IMM. Sebagaimana Djazman Al-kindi semenjak menaruh pondasi IMM, ia menaruh harap lebih kepada para kader untuk melanjutkan IMM sebagai perawat nalar dan pembangun budi.
Harapan Djazman Al-kindi ia tuangkan dalam merumuskan makna akan kader itu sendiri sebagai orang-orang terpilih karena sudah terdidik, sehingga merasa berkewajiban mempertahankan dan mengembangkan keyakinan hidup dan tujuan organisasi.
Yang mana tujuan dari IMM itu sendiri selaras dengan makna pembangunan taraf berpikir dan penghiasan diri dengan moral, yakni untuk mencetak akademisi Islam yang berakhlak mulia dan setia terhadap cita-cita Muhammadiyah.
Pada akhirnya, rasa lapar akan ilmu digerakkan oleh nalar yang jernih, maka akan melahirkan pemahaman dan pengetahuan yang tidak dangkal. Ilmu yang diperoleh tidak sekadar menjadi tumpukan informasi, melainkan menjadi ilmu yang “mengakar”—ilmu yang kokoh, mendalam, dan memberikan arah perjuangan yang jelas.
Inilah nilai daripada lapar, nalar dan akar yang menjadi bingkai pondasi agar cita-cita yang diharapkan oleh Djazman Al-Kindi ketika meletakkan dasar IMM lebih siap dan sesuai.
“Masjid bagian dari kampus”, begitu ungkap Djazman Al-Kindi ketika pidato peresmian masjid kampus Universitas Muhamamdiyah Surakarta. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa masjid adalah bagian dari pembelajaran kampus yang tak dapat dipisahkaan.
Seakan kehilangan sisi historisnya, realita masjid saat ini telah kehilangan ruh sebagai sebuah bangunan peribadahan. Fenomena ini terjadi akibat pandangan yang sempit terhadap makna ibadah, yang direduksi hanya pada aktivitas shalat dan mengaji semata tanpa diimbangi dengan tempat belajar. Sehingga fungsinya sebagai tempat produksi manusia paripurna yang mengintegrasikan keilmuan dan keislaman menjadi hilang.
Seyogianya, masjid menjadi tempat pengajaran ilmu dunia dan akhirat yang melibatkan basis anak muda di dalamnya, bahkan pengajaran moral dan pertukaran gagasan seharusnya menjadi aktivitas utama, bukan hanya praktik ibadah ritual semata.
Masjid yang telah bertransformasi menjadi ruang akhirat semata tentu akan kehilangan daya tariknya di mata pemuda, khususnya para kader. Oleh karena itu, di sanalah peran kader IMM untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana sedia kala. Dengan demikian, masjid akan menjadi wadah untuk memikirkan dan menghasilkan solusi atas permasalahan-permasalahan yang timbul dewasa ini.
Dari masjidlah timbul jawaban atas solusi-solusi untuk meredam gelombang Indonesia cemas, dana pendidikan yang dikebiri, perbaikan moral bangsa dan banyak hal lainya, dengan berangkat pada nilai-nilai Islam sebagai landasan penyelasaian masalah.
Tri Kompetensi Dasar (Trikoda) IMM menjadi landasan awal bagi para kader IMM untuk menyetorkan propasal perubahan. Religiusitas, intelektualitas, dan humanitas harus bersinergi untuk membentuk insan yang kamil pembawa perubahan. Nilai-nilai Trikoda tersebut hendaknya dimanifestasikan dalam bentuk aksi sosial nyata kepada masyarakat luas. Sehingga muatan nilai ini akan membawa dampak signifikan bagi transformasi masyarakat menjadi lebih baik.
Dewasa ini, proposal perubahan IMM hendaknya dicicil dengan bukti nyata, bukan sekedar ide yang terkungkung di dalam pikiran, melainkan juga dapat direalisasikan dalam aksi pencerdasan akal dan budi luhur. Di dalam ranah mahasiswa, hendaknya IMM kembali merevitalisasi tradisi keilmuan Islam sebagai basis gerakan dakwah yang universal.
Sebagaimana Kuntowijo yang menginginkan pengilmuan Islam yang berbasis objektifikasi. Dengan maksud, nilai-nilai keilmuan Islam tidak hanya dikonsumsi oleh internal ummatnya saja, melainkan untuk rahmat bagi seluruh alam.
Termasuk dalam ranah media sosial. IMM dituntut untuk adaptif terhadap perkembagan zaman, ia harus ikut serta mewarnai media sosial dengan konten edukatif yang dikemas dalam bentuk semenarik mungkin, agar menjadi bahan tanding dari konten tidak bermutu yang hanya akan membuat kebusukan pada otak (brain rot).
Dapat disimpulkan, setidaknya ada tiga muatan isu peta pembawa perubahan yang bisa digagas oleh IMM yakni nilai pendidikan, pembebasan dan perawatan moral. Muatan isu tersebut harus dikemas di dalam kotak pandora perubahan yang sasaranya adalah manusia secara universal.
Oleh karena itu, di tengah tantangan semakin kompleks ini, kader IMM dituntut untuk menjadi pencerah, penjaga moral, dan penggerak transformasi sosial yang menciptakan perubahan berbasis nilai. Bukan sekadar menjadi penonton atau pengamat, melainkan menjadi pelaku sejarah yang membumikan nilai Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas dalam setiap denyut nadi perjuangan.
Penulis adalah peserta Lomba Menulis Opini Milad ke-61 IMM yang diselenggarakan oleh IMM Sukoharjo.
KBGO Dinilai jadi Ancaman Serius Kesehatan Mental
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Adam Malik Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkolaborasi dengan komisariat Averroes Fakultas Teknik (FT) UMS...
Lebih dari Sekadar Hafalan, Tasmi’ 30 Juz Jadi Spirit Perjuangan Kader IMM Solo
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Kader Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Solo menuntaskan Hafalan Al-Qur’an 30 Juz di Masjid Balai Muhammadiyah PDM Solo pada Sabtu...
Buka Puasa Bersama Alumnus MABAS UMS, Jaga Api Dakwah Berdampak
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko menegaskan esensi buka puasa bersama alumnus Ma’had Abu Bakar Ash-Shiddiq (MABAS) Universitas Muhammadiyah...
Sambut Ramadan, PRA Bangetayu Kulon Santuni Santri Panti Asuhan ‘Aisyiyah
SEMARANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, suasana hangat dan penuh keakraban terasa di Panti Asuhan ‘Aisyiyah, Jalan Srikandi X/61, Kota Semarang,...
Ramadan, Hizbul Wathan UMS Ajak Mahasiswa dan Warga Ikut Edukasi dan Aksi Bersih
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM—Hizbul Wathan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menghadirkan kegiatan inspiratif bertajuk “NGASIH (Ngabuburit Asik Sambil Bersih-Bersih)” pada Senin (23/2/2026), di Area Kampus 1 dan...
PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi Sosialisasikan KHGT
SAMBI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi, Kab. Boyolali, menggelar kegiatan Kajian dan Sosialisasi KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal) bertempat di Aula Masjid At-Taqwa, Sabtu (21/2/2026). Kegiatan...
Sebanyak 8 PCNA di Karanganyar Ikuti Gelar Baitul Arqam untuk Perkuat Ideologi Kader
KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Sebanyak delapan Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) se-Kabupaten Karanganyar telah melaksanakan Darul Arqam Nasyiatul Aisyiyah (DANA) I pada 16–17 Februari 2026 bertempat di SMP...
Pengurus IMM Pondok Shabran dan IMM Muhammad Abduh Resmi Dilantik
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Pimpinan Komisariat (PK) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pondok Hajjah Nuriyah Shabran dan IMM Muhammad Abduh Fakultas Agama Islam (FAI) UMS periode 2026-2027 resmi dilantik,...
IPM PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Gelar Tarhib Ramadan dengan “Pelita”
SAMBI, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PR IPM) PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi menggelar kegiatan Pelita (Pelajar Ikhtiar Taat)...
Peluncuran Buku “Nalar Futurology Maroon” Warnai Pelantikan IMM Shabran dan IMM Muhammad Abduh
PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Pelantikan Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan IMM Muhammad Abduh Fakultas Agama Islam (FAI) UMS berlangsung khidmat di...
Redefinisi Padusan, IPM Pilih Bersihkan Kali Jenes
SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Menjelang datangnya bulan Ramadan, Pimpinan Daerah (PD) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kota Solo menggelar aksi simbolis yang mendobrak kebiasaan lama. Pada Ahad...
‘Aisyiyah Gatak Bekali Orang Tua Siswa tentang Pendidikan Anak
SUKOHARJO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Bertempat di Gedung Tirto Wirejo Wironanggan, Rabu (04/02/2026), Majelis PAUD-Dasmen Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Gatak, Kabupaten Sukoharjo menggelar acara menarik yaitu seminar parenting untuk...






