Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Syifa Nabila Putri, Editor: Sholahuddin
Sabtu, 11 April 2026 18:37 WIB
Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat kita cerna seperti contoh orang-orang yang hidup dengan bergelimang harta, rumah super mewah bak istana, koleksi mobil-mobil dengan harta fantastis, perhiasan atau uang dengan nilai yang tak pernah terpikirkan oleh kita. Kita mengira mereka adalah orang-orang yang dapat membeli segala hal, apapun yang mungkin belum bis kita beli namun mereka bisa membelinya berkali-kali.

Berkecukupan yang banyak orang-orang impikan diluar sana, ada orang yang sangat berkecukupan, ditambah dengan kesuksesan yang banyak membuat orang-orang iri dengan pencapaiannya, karena tak semua orang dapat mendapatkan nasib yang sama, karena semua orang tidak mendapatkan ujian kehidupan yang sama. Kehidupan yang nyaman, dengan segala fasilitas yang lebih dari cukup, semua kenikmatan, semua prestasi, semua harta, semua nya terasa sempurna dimata kita, semua terlihat indah dibenak kita. Kebanyakan orang akan mengira “hidup dia Bahagia ya”, “enak ya jadi dia, sangat berkecukupan, apapun yang diinginkan bisa didapatin dengan mudah, sedang kita?” dan masih banyak lagi ucapan-ucapan orang diluar sana. Namun, adakah yang mengira, adakah yang terfikirkan, “apakah dengan segala harta dan fasilitas yang dia dapatkan, dia merasa Bahagia? Apakah hidupnya seindah yang kita kira?”

Allah Subhanahu Wata’ala sudah memberikan nikmat yang berlimpah untuk semua makhluk-Nya termasuk kita sebagai hamba-Nya, namun banyak dari kita tidak bersyukur dan membandingkan kehidupan dengan orang lain, yang belum pasti mereka juga bahagia seperti yang kita kira, kita tak pernah tau apakah kehidupan layak yang kita kira indah itu adalah sebuah cobaan atau kenikmatan? Dalam Islam ada istilah istidraj, istidraj menurut Ahmad Nurrohim dalam agama Islam diartikan bahwa Allah memberikan kenikmatan duniawi serta keberhasilan dalam menggapai sesuatu kepada seseorang yang mungkin telah menyimpang dari ajaran agama yang benar. Kejadian seperti ini banyak dianggap sebuah kenikmatan yang luas. Bukannya menjadi berkah keberhasilan namun menjadi ujian dari Allah untuk menguji keimanan dan ketakwaan seseorang, dapat juga menjadi peringatan untuk Kembali ke jalan yang benar. Jadi kita tidak dapat menyimpulkan kesuksesan dan kenikmatan seseorang dari harta, material, atau keberhasilan yang dapat diraihnya.

Ada seseorang yang hidupnya dipenuhi harta, anak-anak, dan istri yang sangat rupawan, namun apakah menjaminnya dia bahagia? Hatinya penuh dengan iman? Tidak akan terjamin semua seperti itu. Hidup sudah enak, nyaman, ingin apa saja dapat di penuhi, lantas mengapa hati ini terasa kosong? Padahal semua keinginan sudah terpenuhi, kebahagiaan semu tidak akan menggantikan keimanan kita

Banyaknya kenikmatan material tidak menjamin penuhnya keimanan seseorang, terkadang seseorang akan merasa hidupnya hampa, senyap dan taka da gairah lagi. Hal tersebut dapat dipicu karena kosongnya hati, hati yang kosong akan menyebabkan Futur yang artinya dalam Islam merupakan kondisi menurunnya semangat, kelesuan, atau rasa malas beribadah setelah sebelumnya rajin dan giat. Ini adalah fenomena psikologis-spiritual yang manusiawi, namun berbahaya jika dibiarkan. Penyebab Kekosongan hati bisa muncul karena berbagai sebab. Pertama, jauh dari Allah. Ketika hubungan dengan Allah melemah, hati akan kehilangan sumber kekuatannya. Allah berfirman: “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Kedua, terlalu bergantung pada dunia. Mengandalkan materi, jabatan, atau manusia untuk kebahagiaan membuat hati rentan kecewa saat semuanya tidak sesuai harapan. Ketiga, lalai dari zikir dan ibadah. Hati yang tidak diberi makanan ruhani akan menjadi keras dan kosong. Ibarat jasad tanpa ruh, hati yang tidak diisi dengan zikir akan mati secara spiritual.

Kewajiban utama seorang hamba adalah, pertama, menaati perintah Allah Swt. dengan mengabdikan diri hanya kepada-Nya, dan kedua, menghindari segala bentuk perbuatan yang menyekutukan-Nya (Ahmad nurrohim,2025) namun terkadang dengan banyaknya nikmat yang kita dapat kadang kita lupa dengan sang pencipta, yang telah memberikan nikmat itu kepada kita. Akibatnya hidup hampa dan kosong. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al ‘Araf: 182-183 artinya: Artinya: “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh”.

Dari ayat ditas dapat kita pahami bahwasanya orang-orang yang lalai akan nikmat Allah dan kufur dengannya maka Allah dapat mebiarkan mereka juga pula menambahkan nikmatNya sebagai ujian mereka di dunia yang fana ini oleh karena itu kunci kebahagiaan bukanlah soal harta, material atau keindahan, namun kebahagiaan dengan penuhnya rasa iman dan takwa kita kepada sang pencipta. Kebahagiaan dapat dirasakan oleh manusia di saat manusia merasa cukup dan  bersyukur dalam hidupnya atas rahmat ataupun musibah yang Allah berikan.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa kebahagiaan itu terletak pada iman dan takwa manusia sebagai hamba kepada Allah. yaitu dengan menempuh jalan yang benar, berjuang mempertahankan kebenaran dan keadilan, meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt., dan perbuatan tercela lainnya yang hanya sia-sia. Jadi dengan iman dan ketakwaan, segala hal  yang mungkin kurang dimata manusia lain, segala hal yang mungkin tidak Bahagia dimata orang lain, namun dengan itu semua terasa tenang, damai dengan hati yang penuh dengan iman. Karena segala sesuatu tidak akan dinilai dari segala yang nyata saja.

Share:

Berita Terbaru

Pendidikan, Kepemimpinan, dan Masa Depan Bangsa: Refleksi dari Indonesia dan Iran

Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, melainkan fondasi kualitas sumber daya manusia dan kepemimpinan suatu bangsa. Jika ingin melihat masa depan sebuah negara, lihatlah bagaimana negara...

Hardiknas 2026: Sekolah Makin Banyak, Tapi Kenapa Masa Depan Anak Muda Terasa Makin Gelap?

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Anak-anak memakai seragam terbaik, guru berdiri di lapangan sekolah, pidato tentang masa depan bangsa kembali...

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...