Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat kita cerna seperti contoh orang-orang yang hidup dengan bergelimang harta, rumah super mewah bak istana, koleksi mobil-mobil dengan harta fantastis, perhiasan atau uang dengan nilai yang tak pernah terpikirkan oleh kita. Kita mengira mereka adalah orang-orang yang dapat membeli segala hal, apapun yang mungkin belum bis kita beli namun mereka bisa membelinya berkali-kali.
Berkecukupan yang banyak orang-orang impikan diluar sana, ada orang yang sangat berkecukupan, ditambah dengan kesuksesan yang banyak membuat orang-orang iri dengan pencapaiannya, karena tak semua orang dapat mendapatkan nasib yang sama, karena semua orang tidak mendapatkan ujian kehidupan yang sama. Kehidupan yang nyaman, dengan segala fasilitas yang lebih dari cukup, semua kenikmatan, semua prestasi, semua harta, semua nya terasa sempurna dimata kita, semua terlihat indah dibenak kita. Kebanyakan orang akan mengira “hidup dia Bahagia ya”, “enak ya jadi dia, sangat berkecukupan, apapun yang diinginkan bisa didapatin dengan mudah, sedang kita?” dan masih banyak lagi ucapan-ucapan orang diluar sana. Namun, adakah yang mengira, adakah yang terfikirkan, “apakah dengan segala harta dan fasilitas yang dia dapatkan, dia merasa Bahagia? Apakah hidupnya seindah yang kita kira?”
Allah Subhanahu Wata’ala sudah memberikan nikmat yang berlimpah untuk semua makhluk-Nya termasuk kita sebagai hamba-Nya, namun banyak dari kita tidak bersyukur dan membandingkan kehidupan dengan orang lain, yang belum pasti mereka juga bahagia seperti yang kita kira, kita tak pernah tau apakah kehidupan layak yang kita kira indah itu adalah sebuah cobaan atau kenikmatan? Dalam Islam ada istilah istidraj, istidraj menurut Ahmad Nurrohim dalam agama Islam diartikan bahwa Allah memberikan kenikmatan duniawi serta keberhasilan dalam menggapai sesuatu kepada seseorang yang mungkin telah menyimpang dari ajaran agama yang benar. Kejadian seperti ini banyak dianggap sebuah kenikmatan yang luas. Bukannya menjadi berkah keberhasilan namun menjadi ujian dari Allah untuk menguji keimanan dan ketakwaan seseorang, dapat juga menjadi peringatan untuk Kembali ke jalan yang benar. Jadi kita tidak dapat menyimpulkan kesuksesan dan kenikmatan seseorang dari harta, material, atau keberhasilan yang dapat diraihnya.
Ada seseorang yang hidupnya dipenuhi harta, anak-anak, dan istri yang sangat rupawan, namun apakah menjaminnya dia bahagia? Hatinya penuh dengan iman? Tidak akan terjamin semua seperti itu. Hidup sudah enak, nyaman, ingin apa saja dapat di penuhi, lantas mengapa hati ini terasa kosong? Padahal semua keinginan sudah terpenuhi, kebahagiaan semu tidak akan menggantikan keimanan kita
Banyaknya kenikmatan material tidak menjamin penuhnya keimanan seseorang, terkadang seseorang akan merasa hidupnya hampa, senyap dan taka da gairah lagi. Hal tersebut dapat dipicu karena kosongnya hati, hati yang kosong akan menyebabkan Futur yang artinya dalam Islam merupakan kondisi menurunnya semangat, kelesuan, atau rasa malas beribadah setelah sebelumnya rajin dan giat. Ini adalah fenomena psikologis-spiritual yang manusiawi, namun berbahaya jika dibiarkan. Penyebab Kekosongan hati bisa muncul karena berbagai sebab. Pertama, jauh dari Allah. Ketika hubungan dengan Allah melemah, hati akan kehilangan sumber kekuatannya. Allah berfirman: “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Kedua, terlalu bergantung pada dunia. Mengandalkan materi, jabatan, atau manusia untuk kebahagiaan membuat hati rentan kecewa saat semuanya tidak sesuai harapan. Ketiga, lalai dari zikir dan ibadah. Hati yang tidak diberi makanan ruhani akan menjadi keras dan kosong. Ibarat jasad tanpa ruh, hati yang tidak diisi dengan zikir akan mati secara spiritual.
Kewajiban utama seorang hamba adalah, pertama, menaati perintah Allah Swt. dengan mengabdikan diri hanya kepada-Nya, dan kedua, menghindari segala bentuk perbuatan yang menyekutukan-Nya (Ahmad nurrohim,2025) namun terkadang dengan banyaknya nikmat yang kita dapat kadang kita lupa dengan sang pencipta, yang telah memberikan nikmat itu kepada kita. Akibatnya hidup hampa dan kosong. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al ‘Araf: 182-183 artinya: Artinya: “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh”.
Dari ayat ditas dapat kita pahami bahwasanya orang-orang yang lalai akan nikmat Allah dan kufur dengannya maka Allah dapat mebiarkan mereka juga pula menambahkan nikmatNya sebagai ujian mereka di dunia yang fana ini oleh karena itu kunci kebahagiaan bukanlah soal harta, material atau keindahan, namun kebahagiaan dengan penuhnya rasa iman dan takwa kita kepada sang pencipta. Kebahagiaan dapat dirasakan oleh manusia di saat manusia merasa cukup dan bersyukur dalam hidupnya atas rahmat ataupun musibah yang Allah berikan.
Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa kebahagiaan itu terletak pada iman dan takwa manusia sebagai hamba kepada Allah. yaitu dengan menempuh jalan yang benar, berjuang mempertahankan kebenaran dan keadilan, meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt., dan perbuatan tercela lainnya yang hanya sia-sia. Jadi dengan iman dan ketakwaan, segala hal yang mungkin kurang dimata manusia lain, segala hal yang mungkin tidak Bahagia dimata orang lain, namun dengan itu semua terasa tenang, damai dengan hati yang penuh dengan iman. Karena segala sesuatu tidak akan dinilai dari segala yang nyata saja.
Self-Love dan Konsep Syukur dalam Islam: Mencintai Diri sebagai Amanah Ilahi
Di era media sosial yang serba kompetitif, istilah self-love sering kali disalahpahami sebagai bentuk narsisme atau pemanjaan diri yang berlebihan. Namun, jika kita menggali lebih...
Child Grooming: Kejahatan Tersembunyi di Era Digital dan Tantangan terhadap Perlindungan Anak
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam etika berkomunikasi (Nurrohim, 2024). Internet dan media sosial memungkinkan interaksi tanpa batas ruang...
Valid Nggak Nih? Menguji Keaslian Konten Lewat Kacamata Langit
Daftar IsiSiapa “Si Fasiq” sekarang?Kenapa Otak Kita Gampang Termakan?Panduan Tabayyun dalam 60 DetikMenjadi kritis tidak harus menjadi jurnalis investigasi. Sebelum jempolmu menyentuh tombol share, luangkan 60...
Diam-Diam Menghancurkan: Krisis Kesehatan Mental yang Kita Abaikan di Era Modern
Ada seseorang di kantor Anda yang datang setiap hari, mengerjakan tugasnya, tertawa di saat yang tepat, dan tampak baik-baik saja. Tapi malam harinya, ia berbaring...
Rahasia Harmoni Rumah Tangga dalam Tafsir Kontemporer dan Psikologi Modern
Eksistensi institusi keluarga di era disrupsi saat ini tengah menghadapi badai modernisasi yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga merambah ke ranah fundamental nilai-nilai...
Makna Parenting yang Sering Hilang Saat Lebaran
Setiap Idulfitri, kita diajarkan untuk saling memaafkan. Kalimat “mohon maaf lahir dan batin” diucapkan berulang-ulang, mengalir begitu ringan dari anak kepada orang tua. Namun, di...
Belajar Mendalam pada Ramadan
Pembelajaran mendalam (deep learning) adalah pendekatan pedagogis yang menitik beratkan pada kedalaman pemahaman dan penguasaan konsep, tidak lagi pada luasnya materi atau hapalan fakta semata. Siswa yang...
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...





