Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Antara Kelahiran dan Harapan: IMM di Persimpangan Peradaban

Gandi Teguh Ardiansyah, Editor: Sholahuddin
Selasa, 25 Maret 2025 16:58 WIB
Antara Kelahiran dan Harapan: IMM di Persimpangan Peradaban
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Gandi Teguh Ardiansyah (Dok. pribadi).

“Sejarah akan mencatat mereka yang berani berpikir, bergerak, dan berkorban untuk peradaban.” — Ahmad Syafii Maarif

Dalam arus waktu yang terus berdenyut, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) lahir sebagai perahu yang mengarungi samudra zaman. Ia bukan sekadar organisasi mahasiswa, tetapi juga cerminan intelektualisme Islam yang bercita-cita membangun peradaban. Kini, di jejak langkah yang ke-61, IMM telah menapaki perjalanan panjang, melewati riak dan gelombang sejarah yang sarat dengan kerikil penghalang, menghadapi badai tantangan, serta menjemput fajar harapan.

Namun, sebagaimana sejarah selalu menuntut keberlanjutan, IMM hari ini harus menatap masa depan dengan kesadaran penuh: Apakah ia masih menjadi nakhoda perubahan? Atau kah ia akan hanyut dalam arus modernitas yang tanpa arah?

Sejak kelahirannya pada 14 Maret 1964, IMM telah menegaskan dirinya sebagai kawah candradimuka bagi mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter dan berkomitmen terhadap nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.

Dalam sejarahnya, IMM selalu berorientasi pada pembentukan kader yang berkualitas, bukan sekadar menjadi organisasi yang sibuk mengumpulkan massa tanpa arah perjuangan yang jelas. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, “Sedikit orang yang berfikir dan bekerja itu lebih baik daripada banyak orang yang berpangku tangan.” Kemudian M. Djazman Alkindi, salah satu pendiri IMM, menjadikan prinsip ini sebagai landasan dalam membangun generasi yang siap menjadi pemimpin di berbagai lini kehidupan. Setidaknya begitu yang ditegaskan dalam buku Ilmu Amaliah Amal Ilmiah. IMM didirikan dengan semangat pembaruan, menjadi jembatan antara dunia akademis dan dakwah Islam. Dalam peluh para pendirinya, tertanam cita-cita luhur: menciptakan mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak dan berjiwa sosial.

Prof. Dr. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, pernah berpesan, “IMM harus menjadi kekuatan strategis dalam membangun bangsa, bukan sekadar organisasi yang terjebak dalam romantisme sejarah.” Pesan ini menjadi refleksi bahwa IMM tidak boleh terlena, hanya menjadi gerakan yang sibuk mengagungkan masa lalu, tetapi harus terus beradaptasi dengan perubahan zaman.

IMM telah menorehkan sejarah dalam berbagai lini: advokasi mahasiswa, gerakan intelektual Islam, hingga kontribusi dalam kebijakan publik. Namun, di tengah arus globalisasi, IMM dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks. Digitalisasi, kapitalisme akademis, serta degradasi moral generasi muda menjadi realitas yang tak bisa dihindari. IMM harus menjawab pertanyaan mendasar: Apakah ia masih menjadi kawah candradimuka intelektual Muslim yang progresif, atau sekadar simbol yang kehilangan daya dobrak?

Dari Retorika ke Aksi Nyata

Dalam enam dekade perjalanan, IMM telah banyak berkiprah dalam berbagai sektor. Namun, di samping itu tantangan yang semakin besar menuntut IMM untuk lebih dari sekadar beretorika. IMM tidak boleh hanya menjadi ruang nostalgia bagi generasi yang datang dan pergi. Ia harus menjadi laboratorium gagasan, tempat lahirnya pemikiran kritis yang mampu menjawab problematika zaman. Jika dahulu IMM menjadi wadah perlawanan terhadap ketidakadilan struktural, hari ini IMM harus bertransformasi menjadi pusat inovasi dan solusi. Tidak hanya berhenti di Retorika dan gagasan semata, tapi harus mampu menjadi solusi dalam aksi nyata.

Buya Ahmad Syafii Maarif pernah menegaskan, “IMM harus menjadi garda terdepan dalam membela nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan, bukan hanya terjebak dalam kepentingan politik sesaat.” IMM harus lebih dari sekadar organisasi; ia harus menjadi ekosistem intelektual yang mampu menghubungkan dunia akademik, sosial, dan ekonomi. Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, IMM perlu memahami bahwa perjuangan tidak lagi cukup dengan demonstrasi di jalanan atau wacana di ruang-ruang diskusi. IMM harus mampu membangun narasi di dunia maya berlanjut untuk kemudian menjelma ke dunia nyata, merebut ruang intelektual di platform digital, serta melahirkan kader yang tidak hanya cakap dalam ilmu, tetapi juga tangguh dalam moralitas.

Masa depan IMM bukan sekadar soal bertahan, tetapi soal menjemput peran sebagai lokomotif perubahan. Jika IMM ingin tetap relevan dalam 10, 20, atau bahkan 50 tahun ke depan, maka ia harus berani melakukan transformasi fundamental. Berani mengambil kayuh perubahan mengikuti deras ombak modernitas yang makin tinggi dan deras.

Prof. Dr. Amien Rais, mantan Ketua MPR RI yang juga pernah aktif dalam IMM, pernah berpesan, “IMM harus menjadi gerakan mahasiswa yang tidak hanya berpikir lokal, tetapi juga berpikir global. Tantangan ke depan semakin kompleks, dan IMM harus siap menjawabnya.”

Untuk ikatanku, kita harus melakukan derap langkah perubahan:

1. Memperkuat Paradigma Intelektual Islam yang Progresif.

Islam bukan hanya doktrin dogmatis, tetapi juga semangat pembebasan yang membangun peradaban. IMM harus mampu menerjemahkan ajaran Islam ke dalam narasi yang relevan dengan problematika kontemporer, dari isu lingkungan, ketimpangan ekonomi, perkembangan kecerdasan buatan, sampai pada isu tambang.

2. Membangun Kepemimpinan Berbasis Nilai.

IMM harus menanamkan etika kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan, bukan sekadar ambisi kekuasaan. IMM tidak boleh hanya menghasilkan pemimpin yang pandai berbicara, tetapi juga yang mampu memberikan solusi. Nakhoda IMM adalah tanggung jawab moral yang besar, bukan ajang unjuk mencari nama dan jabatan.

3. Menguatkan Peran dalam Ekonomi Berkeadilan

Dalam dunia yang didominasi oleh kapitalisme global, IMM perlu menawarkan model ekonomi alternatif yang lebih berkeadilan. Kader IMM harus dilatih untuk tidak hanya menjadi pemikir, tetapi juga menjadi pelaku perubahan di sektor riil. Seperti semangat yang telah menjadi darah daging dalam pergolakan Muhammadiyah pada rekam jejak yang yang tertoreh sepanjang langkahnya.

4. Menjadi Jembatan antara Tradisi dan Modernitas

IMM harus menjaga akar spiritualitasnya dalam Islam, sekaligus merangkul perubahan zaman tanpa kehilangan identitas. IMM harus mampu menghadirkan solusi bagi persoalan kontemporer tanpa kehilangan ruh dakwahnya. Tetap berpegang teguh pada Trikoda IMM: Religiositas, Intelektualitas, dan Humanitas.

Epik yang Belum Usai

IMM adalah epik yang belum usai. Ia adalah kisah perjuangan yang masih terus ditulis oleh lintas generasi. Dalam setiap pemikiran yang lahir, dalam setiap langkah yang diambil, IMM memiliki tanggung jawab sejarah yang besar: menjadi obor peradaban, bukan sekadar pelengkap dalam pusaran zaman.

Di usianya yang ke-61, IMM tidak boleh hanya merayakan sejarah, tetapi harus menyiapkan masa depan. Bukan sekadar mempertahankan eksistensi, tetapi juga memastikan bahwa eksistensi itu bermakna. Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Anwar Abbas, tokoh Muhammadiyah, IMM harus selalu berada di garis depan dalam memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan keilmuan. Jangan pernah lelah berjuang, sebab perubahan besar selalu dimulai dari keberanian berpikir dan bertindak.”

Sejarah telah mencatat IMM sebagai bagian dari perubahan. Kini, tugas IMM adalah memastikan bahwa ia tetap menjadi aktor utama dalam antek-antek baru peradaban. Sebab, perjuangan tidak pernah berhenti—ia hanya berganti medan, tantangan dan strategi.

“Selamat Milad ke-61, IMM! Semoga terus menjadi mata air bagi peradaban, menjadi cahaya bagi kebangkitan, dan menjadi lokomotif bagi perubahan”.

Penulis adalah peserta Lomba Menulis Opini dalam rangka Milad ke-61 IMM yang diselenggarakan oleh IMM Sukoharjo.

Berita Terbaru

Belajar Mendalam pada Ramadan

Pembelajaran mendalam (deep learning) adalah pendekatan pedagogis yang menitik beratkan pada kedalaman pemahaman dan penguasaan konsep, tidak lagi pada luasnya materi atau hapalan fakta semata. Siswa yang...

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar Isi Behavioral Addiction dalam Psikologi Modern Otak yang Terlatih pada Stimulus Instan Kesehatan Mental dan Relasi yang Terganggu Al-Qur’an dan Penjagaan Kesadaran Kecanduan sebagai...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Leave a comment