Persaingan di dunia pendidikan sangat ketat. Antar-instansi pendidikan saling bersaing untuk menjadi yang terbaik. Hal ini merupakan tantangan besar bagi kita khususnya sekolah Muhammadiyah. Berbagai inovasi di dunia pendidikan dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut. Salah satu cara yang dilakukan adalah melakukan kegiatan studi tiru ke sekolah– sekolah yang unggul. Hal ini dilakukan untuk dapat melakukan ATM (amati tiru modifikasi). Tujuannya supaya dapat berjalan selaras dengan berbagai perubahan-perubahan di dunia pendidikan, sehingga dapat senantiasa mengikuti perubahan zaman.
Ada pepatah “Didiklah anakmu sesuai zamannya.” Ada perubahan zaman yang semakin pesat. Belum lagi perkembangan teknologi yang semakin canggih. Semuanya menuntut kita harus bisa mengimbanginya. Kita harus kokoh dalam menggenggam dasar atau fondasi pendidikan, khususnya pendidikan di sekolah Muhammadiyah. Pendidikan yang utama adalah pendidikan karakter. Karakter siswa sangat menentukan sebuah keberhasilan dalam pendidikan. Buat apa pintar jika tidak diimbangi dengan akhlak yang baik. Seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bapak Haedar Nashir di situs Muhammadiyah.id. Beliau menyampaikan, salah satu ciri pelajar Muhammadiyah yang berkemajuan adalah taat beribadah dan berakhlak mulia. Berdasarkan apa yang disampaikan oleh Bapak Haedar Nashir, maka dari itu, untuk membentuk pelajar Muhammadiyah yang unggul dan berkemajuan harus memiliki karakter yang baik. Karakter yang baik adalah salah satu ciri siswa Muhammadiyah yang unggul dan berkemajuan. Apakah karakter itu?
Karakter atau watak menurut Wikipedia adalah sifat batin yang memengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya. Selain itu, arti karakter menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yaitu tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Watak atau karakter seseorang bisa terbentuk karena proses pembelajaran. Saya pernah mendengar ada ungkapan, “Watuk bisa diobati, nek watak ora bisa diubah”. Ungkapan tersebut mengandung arti bahwasanya jika sakit batuk bisa sembuh dengan minum obat. Namun jika watak tidak bisa diubah karena sudah pembawaan lahir. Saya sebagai guru tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Salah satu alasan saya menolak pernyataan tersebut adalah bahwa watak atau karakter seseorang terbentuk karena proses pembelajaran yang dilakukan terus menerus, bukan karena dibawa seseorang sejak lahir. Batu yang keras lama–lama akan terkikis oleh air hujan. Seperti halnya watak atau karakter seseorang akan terbentuk jika dibentuk sejak dini secara berkelanjutan.
Penanaman karakter sebaiknya dilakukan sejak dini. Hal ini dikarenakan karakter merupakan nilai–nilai dasar yang perlu ditanamkan atau diajarkan terlebih dahulu sebelum mengajarkan materi lainnya. Kalau siswa sudah memiliki karakter sudah bagus, insyallah siswa akan lebih mudah menerima pelajaran lainnya. Penanaman karakter merupakan sebagai pondasi awal di dunia pendidikan. Watak seseorang terbentuk dipengaruhi beberapa faktor salah satunya adalah lingkungan. Di antaranya lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lingkungan-lingkungan tersebut sangat mempengaruhi pembentukan karakter siswa.
Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga salah satu penentu pembentukan watak atau karakter siswa yang pertama dan utama. Bagaimana siswa itu dididik dan diperlakukan. Hal ini sangat berpengaruh sekali terhadap perkembangan watak atau karakter siswa. Misal, jika siswa itu berada di lingkungan keluarga yang kondisinya kurang kondusif akan membentuk watak dan karakter yang kurang baik. Demikian juga sebaliknya jika siswa tinggal di lingkungan keluarga yang baik dan mendukungnya insyallah siswa akan memiliki karakter yang baik juga. Apalagi siswa sekolah dasar mereka akan selalu melihat dan meniru apa yang dilihat. Maka dari itu, peran sekolah sangat besar dalam membentuk karakter peserta didik menjadi saleh dan salehah. Harapan saya sekolah-sekolah Muhammadiyah menekankan pentingnya penanaman karakter demi terbentuknya penerus bangsa yang baik.
Bagaimana bisa menghasilkan generasi pelajar Muhammadiyah yang unggul, berkemajuan, dan berkarakter? Bagaimana kita membentuk karakter siswa Muhammadiyah? Apa ciri yang menonjol pada diri siswa Muhammadiyah? Apa pembeda pelajar Muhammadiyah dengan yang lainnya? Ada beberapa langkah untuk membentuk karakter siswa Muhammadiyah. Watak atau karakter pelajar Muhammadiyah bisa dibentuk dengan menanamkan beberapa pembiasaan. Watak atau karakter inilah yang akan dijadikan sebagai identitas pelajar Muhammadiyah sehingga menjadi hal yang membedakan pelajar Muhammadiyah dengan pelajar lainnya. Adapun langkah-langkah pembentukan karakter siswa Muhammadiyah sebagai berikut.
Pertama-tama kita senantiasa menanamkan habituasi atau pembiasaan-pembiasaan yang positif dan dilakukan secara terus menerus. Contohnya, setiap pembelajaran diawali dengan pembiasaan yang baik. Di antaranya; siswa selalu diajak berdoa. Yaitu, selalu membaca doa atau basmallah setiap kali melakukan aktivitas belajar. Baca hamdallah setelah kita mengakhiri sebuah kegiatan pembelajaran. Setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai siswa diajak membaca Al-Qur’an atau iqra (bagi siswa kelas kecil yang belum bisa baca Al-Qur’an). Pembiasaan salat duha dan salat wajib secara jemaah dan tepat waktu. Kegiatan murajaah bersama setiap hari dilakukan supaya tidak lupa dengan hafalan-hafalan surat pendeknya, hadis, dan doa sehari – hari.
Pembiasaan-pembiasaan positif ini dilakukan untuk membentuk karakter siswa dengan pendekatan agama. Hal ini dilakukan karena memiliki tujuan supaya siswa selalu ingat kepada Allah SWT. Semuanya semata-mata hanya karena Allah. Selain itu, setiap kegiatan belajar mengajar harus selalu bersumber kepada Al-Qur’an dan hadis. Sebagai misal kita mengajar tentang cahaya kepada siswa. Kita tunjukkan dan membaca bersama-sama ayat Al-Qur’an yang ada kaitannya dengan cahaya. Ayat Al-Qur’an yang ada kaitannya dengan cahaya adalah Surat An Nur ayat 35. Kemudian siswa diajak membaca Al-Qur’an bersama-sama. Kemudian siswa diajak mencari arti ayat tersebut. Hal ini dimaksudkan siswa mengetahui bahwa apa yang dipelajari semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Dan semuanya dari Allah SWT. Siswa akan senantiasa bersyukur dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semua ini merupakan perwujudan dari kurikulum syariah yang dikembangkan di SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Kota Solo.
Kedua, penanaman dan pembentukan karakter siswa dari segi sosial. Manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri. Kita ajak siswa untuk peduli kepada teman atau orang lain. Kita bangun rasa empati pada diri siswa. Adanya rasa empati insyallah akan terbentuk hati yang lembut. Hati yang memiliki rasa kasih sayang antarsesama. Jika suatu hari nanti siswa menemui seorang teman yang membutuhkan pertolongan. Siswa akan tergerak hatinya untuk menolong temannya dengan ikhlas. Sehingga akan tercipta rasa kerukunan dan kebersamaan di antara siswa.
Ketiga, kita senantiasa ajarkan beberapa budaya yang baik. Salah satunya adalah jujur. Jujur adalah sifat yang harus ditanamkan sejak dini pada siswa. Dari kecil siswa sudah takut dosa akan kebohongan. Insyallah kelak akan jadi pemimpin yang amanah dan dapat dipercaya. Kemudian budaya antre, tegur sapa, ucap salam ketika berjumpa. Budaya antre melatih siswa untuk menghargai hak orang lain dan juga melatih rasa kesabaran. Tegur sapa dan ucap salam senantiasa saat jumpa. Hal ini untuk membentuk karakter siswa yang ramah. Selain itu siswa dibiasakan dengan kata-kata ajaib. Yaitu, tolong, maaf, permisi, dan terima kasih. Hal ini diharapkan siswa memiliki hati yang besar, bertanggung jawab, jujur dan berjiwa ksatria.
Beberapa habituasi di atas jika dilakukan terus menerus insyallah sekolah Muhammadiyah tidak akan hilang ciri khasnya. Yaitu, sekolah yang unggul dan berkemajuan. Unggul dalam budi pekerti dan prestasi. Berkemajuan dalam akademiknya.
Penulis adalah pengajar di SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat, Kota Solo.
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...






