Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Manusia sebagai Ihsan: Berperilaku Baik terhadap Lingkungan Hidup

Aziz Akbar Mukasyaf, Editor: Sholahuddin
Kamis, 7 November 2024 14:50 WIB
Manusia sebagai Ihsan: Berperilaku Baik terhadap Lingkungan Hidup
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Aziz Akbar Mukasyaf (dok. pribadi).

Di zaman modern ini, kita sering dihadapkan pada berbagai permasalahan lingkungan hidup, mulai dari polusi hingga perubahan iklim. Sementara itu, dalam ajaran Islam, manusia diangkat sebagai khalifah atau pemimpin di bumi dengan tanggung jawab besar: menjaga, melestarikan, dan memakmurkan alam. Dengan posisi ini, seorang muslim sejatinya dituntut untuk menerapkan ihsan atau kebaikan dalam setiap perilakunya terhadap lingkungan.

Dalam Al-Qur’an, Surah Al Baqarah ayat 30 mengingatkan bahwa Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki amanah untuk mengelola bumi dengan bijak, tanpa merusak keseimbangannya. Memahami posisi ini berarti kita dituntut untuk mencegah segala bentuk kerusakan yang dapat merusak keberlangsungan hidup. Selain itu salah satu konsep yang ditekankan dalam Islam adalah ihsan yang mana turunan dari Islam adalah rahmatan lil alamin, yakni melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh, termasuk dalam menjaga lingkungan hidup. “Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan dalam segala hal…” (H.R. Muslim). Rasulullah SAW mengajarkan bahwa Allah SWT menetapkan ihsan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk terhadap alam. Ihsan dalam konteks lingkungan berarti menggunakan sumber daya alam dengan bijaksana dan berusaha memelihara keseimbangan alam sebagai bentuk penghormatan terhadap ciptaan Allah.

Dalam Surah Al-A’raf ayat 31, Allah SWT juga memperingatkan umat manusia agar tidak berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya. “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan penuh harap (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan”. Larangan ini mencakup segala bentuk eksploitasi alam yang merugikan, seperti deforestasi tanpa reboisasi, pencemaran air, dan eksploitasi yang tidak bertanggung jawab. Sebagai muslim yang ihsan, kita dituntut menjaga keharmonisan dengan alam melalui perilaku yang baik dan bijak.

Melarang Menebang Pohon

Rasulullah SAW telah memberi contoh nyata dalam menjaga lingkungan. Dalam berbagai hadis, beliau melarang penebangan pohon dan pembunuhan hewan sembarangan. Bahkan dalam kondisi perang, beliau menginstruksikan agar umatnya tetap menghormati alam dan tidak melakukan perusakan tanpa sebab yang jelas. Dalam salah satu hadis shohih-nya yaitu “Jika seorang muslim menanam pohon atau menabur benih, kemudian ada burung, manusia, atau hewan yang memakannya, maka itu adalah sedekah baginya”. (H.R. Bukhari). Hadis tersebut mengajarkan, menanam pohon bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga bernilai sedekah. Setiap makhluk yang mengambil manfaat dari pohon tersebut, baik itu burung, hewan, maupun manusia, akan mendatangkan pahala bagi orang yang menanamnya. Dengan demikian, tindakan kecil seperti menanam pohon dapat menjadi kontribusi positif bagi alam sekaligus amal saleh di sisi Allah.

Sebagai manusia yang berperan sebagai khalifah di bumi, sudah seharusnya kita menunjukkan tindakan nyata sebagai bentuk tanggung jawab. Kita dapat memulai dari tindakan sederhana namun berarti, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat air, menanam pohon, atau mendaur ulang barang-barang. Setiap tindakan kecil yang dilakukan dengan niat ihsan dan ikhlas akan bernilai sebagai ibadah dan akan mendatangkan kebaikan bagi lingkungan dan generasi mendatang. Selain itu, jika dilakukan dengan ikhlas, tindakan ini bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Dengan kesadaran ini, mari kita jaga bumi ini sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah SWT. Semoga tindakan baik kita hari ini bisa menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang dan mendapatkan ridha dari Allah SWT.

Penulis: Aziz Akbar Mukasyaf, S.Hut., M.Sc., Ph.D., Dosen Fakultas Geografi, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Berita Terbaru

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...