Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Menggagas Gerakan 3 R di Sekolah Sebagai Media Pendidikan Karakter

Hendro Susilo, Editor: Sholahuddin
Rabu, 21 Februari 2024 17:28 WIB
Menggagas Gerakan 3 R di Sekolah Sebagai Media Pendidikan Karakter
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Program Eco-Bhinneka Muhammadiyah saat melakukan aksi kampanye mengurangi sampah plastik di area car free day Jl. Slamet Riyadi, Kota Solo, beberapa waktu lalu. (Foto ilustrasi/Sholahuddin).

Baru baru ini kelompok studi Tajdid Pendidikan berdiskusi dengan sejumlah siswa tingkat SMA yang membicarakan tema lingkungan dan gaya hidup. Pembicaraan ini dilatarbelakangi perkembangan isu lingkungan yang semakin gencar diperbincangkan masyarakat. Isu global warming dan kerusakan tanah akibat kekeringan harus mendapatkan perhatian. Kerusakan tanah dan kekeringan ini akan berdampak pada matinya pohon, dan akan berimbas pada ketahanan pangan masyarakat.

Kondisi suhu bumi yang terus meningkat akan mengakibatkan kekeringan dan berdampak pada bidang pertanian. Melihat fenomena ini, Muhammadiyah memberikan pandangannya dengan menginisiasi fikih ketahanan pangan. Ini merupakan bentuk sumbangsih keprihatinan sekaligus menggagas sebuah gerakan untuk ketahanan pangan agar tidak terjadi kelaparan pada umat manusia. Gerakan ini patut kita dukung dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran tinggi Kembali pada diskusi yang dilakukan oleh kelompok Studi Tajdid Pendidikan, ada hal yang menarik terjadi saat diskusi berlangsung.

Isu limbah plastik terangkat dalam diskusi tersebut. Limbah plastik botol yang setiap hari bertambah akibat konsumsi, tanpa sadar akan menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah bila tidak dikelola. Padahal, dalam literatur sampah, plastik botol ini akan menyebabkan pencemaran seperti pencemaran udara jika sampah botol plasti dibakar, pertumbuhan tanaman terganggu, pencemaran tanah, ataupun pencemaran air.

Salah satu siswa yang ikut diskusi berpendapat untuk mengatasi fenomena sampah botol plastik. Bentuk dukungan kongkrit kita adalah dengan memilah sampah botol plastik (anorganik) dan sampah organik, ujarnya dalam forum diskusi tersebut.

Dinamika Diskusi

Saya mendengarkan dengan seksama kemudian merenungkan, perilaku memilah sampah ini perlu pembiasaan yang konsisten. Bila “memilah” tidak menjadi kebiasaan maka akan sulit diterapkan. Perilaku memilah itu memerlukan kesadaran yang tinggi. Saya sering melihat tempat sampah yang bertuliskan: sampah organik dan sampah anorganik, namun isinya sampah masih seringkali tercampur baur.

Kampanye Program Eco-Bhinneka Muhammadiyah di area car free day Jl. Slamet Riyadi Kota Solo, beberapa waktu lalu. (Foto ilustrasi/Sholahuddin).

Untuk menumbuhkan kesadaran, perlu ada gerakan bersama. Dalam konteks pendidikan, gerakan tersebut perlu diinstitusionalisasi oleh lembaga seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di sekolah Muhammadiyah. Institusionalisasi merupakan sebuah proses organisasi menetapkan suatu karakter yang ditentukan oleh komitmen organisasi dengan prinsip dan nilai-nilai. Jika karakter peduli lingkungan dengan gaya hidup perilaku memilah sampah yang diwujudkan melalui organisasi, maka ini akan menjadi gerakan bersama yang pada akhirnya akan membudaya.

Sampah Botol Plastik

Sampah botol harus di kelola. Ini sebagai upaya mengurangi timbunan sampah botol plastik di tempat pembungan akhir (TPA) sampah. Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan dan diterapkan di sekolah yakni melalui 3 R yaitu reduce, reuse, dan recycle. Reduce ini upaya untuk mengurangi semua bentuk perilaku maupun aktivitas yang dapat menghasilkan sampah botol plastik. Misalnya siswa disarankan membawa tumbler sendiri ke sekolah. Reuse ini merupakan bentuk memanfaatkan kembali sampah botol ke fungsi awal atau dijadikan benda yang bernilai seni. Dan recycle yaitu mengelola kembali sampah botol menjadi barang yang bermanfaat dan bernilai ekonomis. Recycle ini bisa kerjasama dengan para aktivis lingkungan atau lembaga yang bergerak di pengolahan limbah.

Jika ini konsisten dilakukan, maka akan berkontribusi pada berkurangnya kuantitas sampah botol di TPA, mengurangi polusi lingkungan, mewujudkan sirkulasi ekonomi dan terpenting adalah menjaga keseimbangan ekosistem yang saat ini perlu dijaga karena telah tampak kerusakan-kerusakan lingkungan yang terjadi. Mari kita jadikan Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 41 menjadi spirit spiritualitas untuk membangun karakter peduli lingkungan dengan perilaku dan gaya hidup, yang salah satunya konsisten memilah sampah.

Penulis adalah aktivis Kelompok Studi Tajdid Pendidikan Kota Solo

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...