Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Kader Muhammadiyah untuk Bangsa

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Rabu, 23 Oktober 2024 05:26 WIB
Kader Muhammadiyah untuk Bangsa
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sholahuddin (dok. pribadi)

Sejak Minggu (20/10/2024) malam, warga Muhammadiyah semringah. Malam itu, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan susunan Kabinet Merah Putih yang akan membantunya selama lima tahun ke depan.  Ada enam kader Muhammadiyah yang masuk kabinet maupun menduduki jabatan strategis lainnya. Mereka adalah Abdul Mu’ti sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah; Fajar Riza Ul Haq sebagai Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah; Raja Juli Antoni sebagai Menteri Kehutanan; Dzulfikar Ahmad Tawalla sebagai Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia; Fauzan sebagai Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi; Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai Wakil Kepala Badan Haji dan Umrah. Belakangan Muhadjir Effendy juga dilantik sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji.

Bahkan, ada yang bilang bukan hanya nama-nama di atas yang masuk istana dari keluarga besar Muhammadiyah. Setidaknya ada 15 orang. Wow, banyak sekali.  Misalnya Budiman Sujatmiko yang alumnus SMA Muhammadiyah 1 Jogja yang tentu saja pernah aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sekolah setempat. Mereka masuk istana melalui partai politik maupun jalur-jalur lainnya.

Semringah? Ya ini wajar-wajar saja. Sudah lama orang Muhammadiyah merindukan kader-kader Kiai Ahmad Dahlan ini  tampil menjadi bagian gerakan politik kenegaraan. Tampaknya Prabowo sebagai Presiden pascareformasi yang paling banyak mengakomodasi kader-kader Muhammadiyah. Saya juga kaget. Ada fenomena apa ini? Sebagai orang pinggiran baik di Muhammadiyah maupun sebagai warga negara, saya tidak punya akses informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan ini. Namun, saya masih ingat betul, kata-kata Prabowo saat menyampaikan visi dan misi pada Dialog Publik Calon Presiden dan Wakil Presiden yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelang pemilihan presiden Februari lalu. “Saya nyaman bekerja sama dengan orang-orang Muhammadiyah,” ujar Prabowo sembari menyebut beberapa nama kader Muhammadiyah yang ada di lingkarannya, Jumat (4/11/2023), di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Apakah komposisi  kabinet ini sebagai bentuk kenyamanan Prabowo terhadap  Muhammadiyah? Entahlah…

Kesemringahan warga persyarikatan ini bisa lihat di grup-grup percakapan aktivis persyarikatan. Media-media sosial yang dikelola persyarikatan juga memberikan ucapan selamat kepada mereka. Saya baca banyak komentar di medsos yang menunjukkan kegembiraan mereka. Tentu saja, saya sebagai wong cilik di persyarikatan juga ikut gembira. Selama kegembiraan ini diekspresikan dalam batas wajar, tidak berlebihan, itu sah-sah saja. Semoga saja—pinjam istilah A. Syafi’i Ma’arif—fenomena ini bisa mengakhiri “kefakiran” Muhammadiyah dalam melahirkan pemimpin bangsa. Itu harapan saya.

Namun, selain bangga, saya juga deg-degan. Saya ingat, jabatan ini bukan hadiah yang selalu mengenakkan. Saya berdebar, apakah kinerja mereka nanti bisa sesuai ekspektasi warga persyarikatan? Apakah mereka mampu menjawab harapan publik yang begitu tinggi kepada kader-kader Muhammadiyah? Apakah mereka benar-benar mampu membawa nilai-nilai kemuhammadiyahan dalam ranah kebangsaan? Itu setidaknya pertanyaan yang berkelindan di kepala saya.

Sebagai kader persyarikatan, para penguasa baru ini membawa misi yang tidak ringan. Di pundak mereka membawa nama besar Muhammadiyah. Di Pundak mereka membawa misi besar persyarikatan untuk membawa pencerahan di bidang tugas masing-masing. Mereka berkewajiban mengejawentahkan nilai-nilai, manhaj, ideologi Muhammadiyah yang begitu mulia itu pada ranah kebangsaan dan pemerintahan.  Mereka harus punya added value (nilai tambah) dibanding para pejabat lainnya. Mereka harus membawa misi memajukan Indonesia dalam makna sebenar-benarnya. Sungguh berat

Habitus Baik

Apalagi habitus Muhammadiyah dengan habitus pemerintahan tentu jauh berbeda. Di Muhammadiyah, habitus-nya adalah orang-orang ikhlas. Orang-orang baik yang mengabdikan harta, pikiran dan tenaga secara berjemaah guna mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Saya tidak mengatakan kekuasaan sebagai sebagai habitus yang buruk. Tapi, apakah masih relevan kita bicara keikhlasan di ranah kekuasaan? Suka tidak suka, para kader Muhammadiyah tersebut adalah para penguasa. Mereka diberi otoritas untuk menjalankan tugas-tugas tertentu. Dunia kekuasaan itu penuh tantangan dan godaan. Ada anggaran triliunan yang berputar di sana. Ada beragam kepentingan. Ada orang-orang partai, ada pengusaha, ada oligarki, ada orang-orang pemburu proyek, serta seabrek kelompok kepentingan lainnya. Ini yang menjadi tantangan besar para kader Muhammadiyah.

Saya teringat kata-kata Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln. Dia pernah mengatakan, “Semua orang bisa tahan dengan kesengsaraan, tapi bila kau ingin mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan.”  Artinya kekuasaan bisa saja mengubah karakter seseorang. Ya karena banyak godaan di sana. Menggiurkan.  Sebagai warga persyarikatan, tentu kita perlu terus men-support mereka agar para kader itu mampu menjalankan amanah sebaik-baiknya. Kita perlu terus mengingatkan mereka akan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyah. Semangat ijtihad, tadjid, Islam berkemajuan teruslah menjadi spirit yang mengiringi langkah mereka.

Saya berharap mereka bisa membawa perubahan-perubahan besar di bidangnya masing-masing. Kita berdoa mereka adalah negarawan yang selalu bicara masa depan, bukan orang pragmatis yang bicara kedudukan. Minimal, mereka tetap menjadi lilin yang bersinar di tengah lorong gelap kekuasaan. Tapi yang terakhir ini menjadi harapan “selemah-lemah iman”.

Ini baru awal. Baru tiga hari bekerja. Kita hanya bisa berdoa dan berharap. Selanjutnya, “kekuasaan” yang akan menguji mereka. Apakah mereka tetap jadi kader-kader sejati Muhammadiyah dan bangsa, atau berubah jadi kader oportunis? Sejarah yang akan membuktikan.

Selamat bekerja kawan. Doaku menyertaimu…

Blulukan, 22 Oktober 2024

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Muhammadiyahsolo.com

Berita Terbaru

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...