Sejak Minggu (20/10/2024) malam, warga Muhammadiyah semringah. Malam itu, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan susunan Kabinet Merah Putih yang akan membantunya selama lima tahun ke depan. Ada enam kader Muhammadiyah yang masuk kabinet maupun menduduki jabatan strategis lainnya. Mereka adalah Abdul Mu’ti sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah; Fajar Riza Ul Haq sebagai Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah; Raja Juli Antoni sebagai Menteri Kehutanan; Dzulfikar Ahmad Tawalla sebagai Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia; Fauzan sebagai Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi; Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai Wakil Kepala Badan Haji dan Umrah. Belakangan Muhadjir Effendy juga dilantik sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji.
Bahkan, ada yang bilang bukan hanya nama-nama di atas yang masuk istana dari keluarga besar Muhammadiyah. Setidaknya ada 15 orang. Wow, banyak sekali. Misalnya Budiman Sujatmiko yang alumnus SMA Muhammadiyah 1 Jogja yang tentu saja pernah aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sekolah setempat. Mereka masuk istana melalui partai politik maupun jalur-jalur lainnya.
Semringah? Ya ini wajar-wajar saja. Sudah lama orang Muhammadiyah merindukan kader-kader Kiai Ahmad Dahlan ini tampil menjadi bagian gerakan politik kenegaraan. Tampaknya Prabowo sebagai Presiden pascareformasi yang paling banyak mengakomodasi kader-kader Muhammadiyah. Saya juga kaget. Ada fenomena apa ini? Sebagai orang pinggiran baik di Muhammadiyah maupun sebagai warga negara, saya tidak punya akses informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan ini. Namun, saya masih ingat betul, kata-kata Prabowo saat menyampaikan visi dan misi pada Dialog Publik Calon Presiden dan Wakil Presiden yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelang pemilihan presiden Februari lalu. “Saya nyaman bekerja sama dengan orang-orang Muhammadiyah,” ujar Prabowo sembari menyebut beberapa nama kader Muhammadiyah yang ada di lingkarannya, Jumat (4/11/2023), di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Apakah komposisi kabinet ini sebagai bentuk kenyamanan Prabowo terhadap Muhammadiyah? Entahlah…
Kesemringahan warga persyarikatan ini bisa lihat di grup-grup percakapan aktivis persyarikatan. Media-media sosial yang dikelola persyarikatan juga memberikan ucapan selamat kepada mereka. Saya baca banyak komentar di medsos yang menunjukkan kegembiraan mereka. Tentu saja, saya sebagai wong cilik di persyarikatan juga ikut gembira. Selama kegembiraan ini diekspresikan dalam batas wajar, tidak berlebihan, itu sah-sah saja. Semoga saja—pinjam istilah A. Syafi’i Ma’arif—fenomena ini bisa mengakhiri “kefakiran” Muhammadiyah dalam melahirkan pemimpin bangsa. Itu harapan saya.
Namun, selain bangga, saya juga deg-degan. Saya ingat, jabatan ini bukan hadiah yang selalu mengenakkan. Saya berdebar, apakah kinerja mereka nanti bisa sesuai ekspektasi warga persyarikatan? Apakah mereka mampu menjawab harapan publik yang begitu tinggi kepada kader-kader Muhammadiyah? Apakah mereka benar-benar mampu membawa nilai-nilai kemuhammadiyahan dalam ranah kebangsaan? Itu setidaknya pertanyaan yang berkelindan di kepala saya.
Sebagai kader persyarikatan, para penguasa baru ini membawa misi yang tidak ringan. Di pundak mereka membawa nama besar Muhammadiyah. Di Pundak mereka membawa misi besar persyarikatan untuk membawa pencerahan di bidang tugas masing-masing. Mereka berkewajiban mengejawentahkan nilai-nilai, manhaj, ideologi Muhammadiyah yang begitu mulia itu pada ranah kebangsaan dan pemerintahan. Mereka harus punya added value (nilai tambah) dibanding para pejabat lainnya. Mereka harus membawa misi memajukan Indonesia dalam makna sebenar-benarnya. Sungguh berat
Habitus Baik
Apalagi habitus Muhammadiyah dengan habitus pemerintahan tentu jauh berbeda. Di Muhammadiyah, habitus-nya adalah orang-orang ikhlas. Orang-orang baik yang mengabdikan harta, pikiran dan tenaga secara berjemaah guna mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Saya tidak mengatakan kekuasaan sebagai sebagai habitus yang buruk. Tapi, apakah masih relevan kita bicara keikhlasan di ranah kekuasaan? Suka tidak suka, para kader Muhammadiyah tersebut adalah para penguasa. Mereka diberi otoritas untuk menjalankan tugas-tugas tertentu. Dunia kekuasaan itu penuh tantangan dan godaan. Ada anggaran triliunan yang berputar di sana. Ada beragam kepentingan. Ada orang-orang partai, ada pengusaha, ada oligarki, ada orang-orang pemburu proyek, serta seabrek kelompok kepentingan lainnya. Ini yang menjadi tantangan besar para kader Muhammadiyah.
Saya teringat kata-kata Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln. Dia pernah mengatakan, “Semua orang bisa tahan dengan kesengsaraan, tapi bila kau ingin mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan.” Artinya kekuasaan bisa saja mengubah karakter seseorang. Ya karena banyak godaan di sana. Menggiurkan. Sebagai warga persyarikatan, tentu kita perlu terus men-support mereka agar para kader itu mampu menjalankan amanah sebaik-baiknya. Kita perlu terus mengingatkan mereka akan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyah. Semangat ijtihad, tadjid, Islam berkemajuan teruslah menjadi spirit yang mengiringi langkah mereka.
Saya berharap mereka bisa membawa perubahan-perubahan besar di bidangnya masing-masing. Kita berdoa mereka adalah negarawan yang selalu bicara masa depan, bukan orang pragmatis yang bicara kedudukan. Minimal, mereka tetap menjadi lilin yang bersinar di tengah lorong gelap kekuasaan. Tapi yang terakhir ini menjadi harapan “selemah-lemah iman”.
Ini baru awal. Baru tiga hari bekerja. Kita hanya bisa berdoa dan berharap. Selanjutnya, “kekuasaan” yang akan menguji mereka. Apakah mereka tetap jadi kader-kader sejati Muhammadiyah dan bangsa, atau berubah jadi kader oportunis? Sejarah yang akan membuktikan.
Selamat bekerja kawan. Doaku menyertaimu…
Blulukan, 22 Oktober 2024
Penulis adalah Pemimpin Redaksi Muhammadiyahsolo.com
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...
Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah
Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...
Belajar Bernapas di Tengah Sesak
Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...
TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba
Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...
Sang Pencari Makna
“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...
Menolak Politeisme Politik
Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...
Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta
Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...
Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku
“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...







