Masjid hanya sebagai tempat peribadatan merupakan fenomena yang banyak kita temui sekarang ini. Padahal fungsi masjid bukan itu semata melainkan secara umum untuk mengekspresikan ketakwaan orang beriman. Berdasarkan hal tersebut, Kelompok Studi Tajdid Pendidikan mengangkat tema obrolan terkait fungsi masjid. Apalagi akhir-akhir ini, fenomena masjid menjadi tempat wisata dikarenakan bangunannya yang megah menjadi daya tarik tersendiri bagi umat. Untuk mengupas fenomena tersebut, kami mencoba menelaah dan mendiskusikan tentang fungsi masjid serta pengembangannya di channel Youtube talkMu.
Masjid adalah tempat untuk mengekspresikan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa menurut konsep Islam merupakan predikat tertinggi, karena dia merupakan akumulasi dari iman, Islam dan ihsan (Yunahar Ilyas, 2002: 18-20). Hal ini menunjukkan bahwa masjid sebagai tempat hamba mengekspresikan keimanannya kepada Allah SWT, melaksanakan ibadah kepada-Nya dan berbuat ihsan atas nama-Nya. Masjid tidak hanya berfungsi ibadah, khususnya salat dengan segala rangkaiannya. Akan tetapi masjid berfungsi juga sebagai sarana sosial seperti pendidikan, pengajian dan kegiatan sosial lainnya.
Perbincangan saya dengan Zaki Setiawan, anggota komunitas Tajdid Pendidikan, dimulai dari sejarah dan fungsi masjid di masa Rasulullah SAW. “Untuk memudahkan identifikasi, fungsi masjid mencakup dan bergerak di bidang ipoleksosbudhankam,” ujar Zaki. Masjid difungsikan oleh Rasulullah SAW selain tempat beribadah, juga untuk pembinaan dalam keimanan, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan keamanan. Sudah terbukti dalam sejarah, dari masjid lahir para pemimpin umat. Mengapa demikian? Karena di masjid pendidikan dilaksanakan bagi masyarakat Islam. Kita lihat bagaimana Rasulullah dahulu memulai pendidikan mental dan fisik para pengikutnya yang diawali dari masjid.
Berdialog tentang pendidikan masyarakat Islam, maka harus dilihat fungsi masjid. Tengok sejarah Islam pada masa periode awal, masjid menjadi lembaga pendidikan utama. Pun, di era kejayaan Islam, masjid tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga sebagai pusat kegiatan intelektualitas. Hal ini bisa dibaca dari tulisan J. Pedersen dalam bukunya berjudul Arabic Book. Sejak awal perkembangannya, masjid terbukti memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan pendidikan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia.
Masjid Kottabarat
Dalam skala nasional, ada contoh masjid yang dikembangkan bersamaan dengan pendidikan. Masjid tersebut adalah Masjid Al-Azhar di Kebayoran Baru. Ada yayasan yang menaungi masjid dan sekolah sehingga berkembang pesat. Pendidikan berkembang pesat mulai dari TK sampai Universitas Al-Azhar Indonesia. “Sementara itu, di Kota Solo juga ada masjid yang dikembangkan fungsinya bersamaan dengan pendidikan, seperti masjid Kottabarat,” ujar Zaki dalam diskusi tersebut.
Masjid Kottabarat mengembangkan bidang sosial budaya, dalam hal ini pendidikan, sosial kemasyarakatan serta kajian-kajian. Hadirnya Perguruan Muhammadiyah Kottabarat mulai dari tingkat TK, SD, SMP, dan SMA yang diawali dari masjid bisa menjadi oase dan harapan bertumbuhnya masyarakat muslim yang unggul dalam SDM.
Faktanya belum semua masjid menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Kebanyakan masjid hanya menjalankan salah satu fungsinya saja, yaitu sebagai tempat peribadatan. Itu saja belum maksimal. Hal ini mengindikasikan tata pengelolaan yang kurang optimal dari takmir (pengelola masjid). Tata kelola yang kreatif dan produktif menjadi kebutuhan manakala menginginkan masjid memiliki fungsi pengembangan kehidupan umat dalam mengekspresikan ketakwaan.
Pengelolaan masjid bisa dikembangkan berdasarkan kondisi masyarakat dan jamaah. Artinya, pengelola masjid harus kreatif dan membaca kondisi sosial jamaah. Misalnya pengelolaan masjid yang mengambil “genre” bidang sosial ekonomi dalam pengembangannya. Sebut saja masjid Jogokariyan di Yogyakarta yang mengembangkan fungsi ekonomi dan kesejahteraan jamaah. Termasuk masjid K.H. Ahmad Badawi di Solo yang mencoba mengembangkan fungsi masjid untuk memperkuat ekonomi dan sosial masyarakat (jamaah) melalui kajian dan kegiatan sosial lainnya. Ini menjadi contoh cara pengelolaan masjid yang dinamis.
Di akhir perbincangan, kami berpendapat bahwa masjid bisa dikembangkan menjadi pusat membangun kualitas sumber daya manusia. Fungsi masjid bisa dikembangkan bukan hanya dalam tempat ibadah saja, melainkan tempat untuk mengekspresikan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Langkah itu bisa dilakukan melalui pengembangan baik bidang pendidikan, sosial ekonomi serta budaya. Apabila fungsi masjid bisa dikembangkan, maka cita-cita menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dengan kualifikasi SDM yang unggul dan sejahtera bisa tercapai. Maka, come back to masjid dan kembangkan fungsinya untuk membangun kualitas umat.
Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?
Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...
IMM Jateng-DIY Gandeng MPKU PP Muhammadiyah, Gagas Program Holistik Kesehatan dan Kebencanaan
YOGYAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah dan IMM DIY mengadakan pertemuan dengan Majelis Pembina Kesehatan Umum Pimpinan Pusat...
Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna
Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...
Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks
Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...
Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya
Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...
Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka
Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...
Darul Arqam Paripurna IMM Tekankan Gagasan dan Mentalitas Kader
SEMARANG, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) menggelar kegiatan Darul Arqam Paripurna (DAP) tingkat nasional di Gedung Kuliah Bersama (GKB) II Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus),...
Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan
Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...
Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...
Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?
Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....
Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?
Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...
Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?
Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...






