Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Ortom

Rita Pranawati: Pendidikan Inklusif Bukan Sekadar Menerima ABK

Redaksi, Editor: Alan Aliarcham
Kamis, 11 Juni 2026 17:23 WIB
Rita Pranawati: Pendidikan Inklusif Bukan Sekadar Menerima ABK
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, Rita Pranawati, dalam Pelatihan Pendidikan Inklusif yang diselenggarakan PP 'Aisyiyah melalui Majelis PAUD Dasmen bersama Program INKLUSI 'Aisyiyah, Rabu (10/6/2026).

YOGYAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pendidikan inklusif harus dipahami sebagai pendidikan yang berkeadilan, yakni mampu memberikan layanan sesuai kebutuhan setiap peserta didik.

Pandangan itu disampaikan Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar, Rita Pranawati, dalam Pelatihan Pendidikan Inklusif yang diselenggarakan PP ‘Aisyiyah melalui Majelis PAUD Dasmen bersama Program INKLUSI ‘Aisyiyah, Rabu (10/6/2026).

Pelatihan yang diikuti lebih dari 800 guru PAUD, Kelompok Bermain, dan TK ABA dari berbagai daerah di Indonesia itu menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pendidik dalam menghadirkan layanan pendidikan yang ramah bagi seluruh anak, termasuk anak berkebutuhan khusus.

Rita menegaskan pendidikan inklusif merupakan kunci untuk mewujudkan pendidikan bermutu bagi semua sekaligus mendukung keberhasilan program wajib belajar 13 tahun. “Tanpa inklusivitas maka wajib belajar 13 tahun tidak akan tercapai. Tanpa kualitas pembelajaran yang baik tentu tidak akan tercapai SDM yang berkualitas,” ujarnya.

Menurut Rita, peserta didik saat ini tumbuh dalam lingkungan yang semakin kompleks. Perkembangan kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, perubahan iklim, hingga persoalan ketahanan pangan memengaruhi kehidupan anak dan keluarga sehingga kebutuhan peserta didik menjadi semakin beragam.

Karena itu, pendidikan inklusif tidak boleh dipahami sekadar menerima peserta didik penyandang disabilitas di sekolah. Yang lebih penting adalah memastikan setiap anak memperoleh layanan yang sesuai dengan kebutuhannya.

“Paradigma bahwa pendidikan inklusi adalah pendidikan berkeadilan. Maknanya bahwa keadilan bukan sama rata, tetapi pendidikan inklusif adalah pendidikan yang memberikan layanan yang sesuai kebutuhan peserta didik,” jelas Rita.

Pendekatan Berbeda

Ia menambahkan, setiap anak membutuhkan pendekatan yang berbeda agar dapat berkembang secara optimal. Sekolah perlu melakukan identifikasi sejak dini untuk memahami kebutuhan peserta didik dan menentukan bentuk layanan yang tepat. “Semakin cepat anak-anak teridentifikasi maka treatment kita juga akan lebih cepat. Akan lebih baik,” katanya.

Rita menegaskan identifikasi dini menjadi fondasi penting dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. “Identifikasi murid penyandang disabilitas itu sangat penting. Karena itu adalah gerbang bagaimana kita memberikan stimulus,” ujarnya.

Dalam paparannya, Rita menjelaskan tujuh pilar kebijakan akomodasi yang layak dalam pendidikan inklusif, yakni identifikasi murid penyandang disabilitas, pengembangan kapasitas unit layanan disabilitas, peningkatan kompetensi guru, adaptasi kurikulum dan pembelajaran, penyediaan sarana dan teknologi pendukung, pembiayaan serta program afirmasi, dan penguatan dukungan komunitas.

Pada aspek sarana dan prasarana, ia menekankan pentingnya lingkungan belajar yang aksesibel bagi seluruh peserta didik, termasuk ketersediaan marka, akses masuk, dan fasilitas sanitasi yang ramah disabilitas. “Kita berharap sekolah-sekolah ‘Aisyiyah juga punya standar yang sama,” ujarnya.

Rita juga menyoroti masih terbatasnya layanan pendidikan inklusif di Indonesia. Ia menyebut jumlah satuan pendidikan yang memiliki peserta didik penyandang disabilitas meningkat sekitar 17 persen pada Februari 2025 dan mencapai 26 persen pada Desember 2025.

Hingga Desember 2025 tercatat sekitar 170.778 peserta didik penyandang disabilitas, sementara jumlah Guru Pendamping Khusus (GPK) yang tersedia baru mencapai 11.534 orang. Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan penguatan layanan pendidikan inklusif masih cukup besar.

Melalui penguatan kapasitas guru dan satuan pendidikan, Rita berharap pendidikan inklusif dapat terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh peserta didik. “Pendidikan bermutu bagi semua memerlukan proses pembaruan. Kita tidak bisa stagnan. Spirit kemajuan pendidikan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus diwujudkan dan digulirkan menjadi hal yang bisa dirasakan manfaatnya hingga ruang kelas kita,” ucapnya.

Berita Terbaru

FORSAKADA Tinjau RS PKU Muhammadiyah Surakarta, Dukung Health Tourism Kota Solo

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – RS PKU Muhammadiyah Surakarta menerima kunjungan kerja dan hospital tour dari pengurus dan anggota Forum Staf Ahli Kepala Daerah (FORSAKADA) Provinsi Jawa...

Pengurus Baru KM3 DPD IMM Jateng Dilantik, Fokus Rekonstruksi Arah Dakwah

SALATIGA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah (KM3) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Tengah resmi melantik pengurus baru periode 2026–2028 di...

Sekolah Gender DPD IMM Jateng Dorong Kader Perempuan Aktif di Ruang Publik

SALATIGA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Bidang IMMawati Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Jawa Tengah menggelar Sekolah Gender, Politik, dan Demokrasi di Hotel Laras Asri,...

Ustaz Dwi Jatmiko: Setiap Manusia Beriman Pasti Pernah Terluka

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM-Ustaz Dwi Jatmiko menyampaikan materi “Hati Bercahaya Melepas luka, Mengobati Hati” saat mengisi Kuliah Subuh Muhammadiyah Gajahan, Kota Solo, di TK ABA, Patang Puluhan,...

Awalussanah MIM Digdaya Bolon, Wakil Dekan FKIP UMS Tekankan Adab Lebih dari Sekadar Prestasi

KARANGANYAR, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Wakil Dekan I Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Miftakhul Huda, hadir sebagai keynote speaker dalam Awalussanah...

Inovasi SafeTKI Antar Mahasiswa UMS Raih Silver Medal JDIE 2026 di Jepang

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mengukir prestasi di tingkat internasional. Tim mahasiswa UMS meraih Silver Medal pada ajang Japan Design, Idea, &...

Prodi Ilmu Komunikasi UMS Perluas Jejaring Internasional hingga Afrika Selatan

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperluas jejaring internasional melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan University...

Sambut Tahun Pelajaran Baru, SMP Muliska Perkuat Profesionalisme Guru

SOLO, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – SMP Muhammadiyah 5 Surakarta (Muliska) menggelar Workshop Pembelajaran sebagai bagian dari persiapan menyambut Tahun Pelajaran 2026/2027, Rabu (8/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di...

Pandangan Muhammadiyah tentang Tahlilan dan Esensi Takziah

PABELAN, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Perbincangan mengenai tradisi tahlilan kembali mencuat setelah sejumlah unggahan di media sosial menampilkan keluhan keluarga yang sedang berduka karena merasa terbebani menyediakan...

Kader IMM Didorong Jadi Pemimpin Transformasi Ekologis

SALATIGA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Krisis ekologis bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi berakar pada cara pandang manusia terhadap alam. Karena itu, kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) didorong...

Benchmarking ke Kampus Malaysia UKM, Rektor UMS Perkuat Kolaborasi Internasional

SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terus memperkuat daya saing global melalui pengembangan jejaring internasional. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan benchmarking Rektor...

BURT DPR RI Apresiasi Layanan Personalized Treatment RS PKU Muhammadiyah Surakarta

SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM — RS PKU Muhammadiyah Surakarta menerima kunjungan kerja Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI untuk meninjau pelayanan kesehatan bagi peserta Program Jamkestama...