
Revolusi pendidikan tengah berlangsung. Hadirnya konsep merdeka belajar dalam dunia pendidikan telah mengubah paradigma belajar dan pola perilaku belajar anak didik dan pelaku pendidikan. Konsep merdeka belajar merupakan kebijakan terbaru dalam dunia pendidikan nasional. Konon konsep merdeka belajar adalah kebijakan terobosan yang diluncurkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim, yang bertujuan mengembalikan otoritas pengelolaan pendidikan kepada sekolah dan pemerintah daerah. Konsep ini berfokus pada materi yang esensial dan fleksibel sesuai dengan minat, bakat, dan kebutuhan masing-masing karaktertik siswa. Merdeka belajar memberikan otoritas dan fleksibilitas pengelolaan pendidikan di level sekolah.
Dalam perspeketif psikologi, proses pembelajaran yang berlangsung antara guru dan murid, bukan sekadar proses tranfer pengetahuan (tranfer of knowladge) saja. Psikologi memandang proses pembelajaran yang berlangsung di ruang kelas maupun yang berlangsung di luar ruang kelas merupakan proses sosio-intelektual yang melibatkan hampir seluruh ranah (domain) kejiwaan, yaitu ranah kognitif, afektif, konatif dan aspek-aspek psikomotor. Untuk itu dalam proses pembelajaran tersebut seorang guru dituntut untuk tidak hanya mengedepankan salah satu domain saja.
Dari sini dapat diambil suatu pemahaman bahwa tugas seorang guru bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi juga melaksanakan tugas dan fungsi sosiokultural. Artinya seorang guru hendaklah tidak semata-mata bertindak sebagai guru (dengan huruf G) atau seorang resi yang menurunkan ilmu kepada sang murid, tetapi juga harus dapat menempatkan diri sebagai kawan atau teman. Kadang-kadang guru juga harus belajar kepada muridnya. Sehingga dalam pelaksanaan tugasnya seorang guru hendaklah dapat menempatkan diri sebagai seorang fasilitator yang bertugas menjembatani proses alih pengetahuan dari seorang guru kepada murid.
Dengan keadaan yang demikian ini maka dalam proses pembelajaran tersebut akan terbentuk suatu suasana belajar yang dialogis, karena dalam diri siswa telah tumbuh trust atau kepercayaan bathin kepada gurunya, bahwa mereka (para gurunya) adalah orang-orang terpercaya yang akan memberikan perlindungan dan menjamin masa depannya. Sehingga murid atau siswa tidak merasa dibebani oleh target-target akademik tertentu. Dengan adanya trust dari murid kepada gurunya dan dari guru terhadap siswanya ini maka proses pembelajaran akan terasa nyaman dan tidak menegangkan. Murid akan terstimulasi untuk berani mengemukakan pendapatnya atau bahkan berani mengkritisi apa yang disampaikan gurunya. Dengan demikian konsep belajar CBSA (cara belajar siswa aktif) akan dapat berjalan lancar karena interaksi sosial guru-murid berlangsung dengan sangat personal. Hubungan yang bersifat patron-klien antara guru-murid terkikis oleh nuansa hubungan sosial yang berimbang .
Pelaksanaan konsep ini menuntut kebesaran jiwa seorang guru, karena dalam kultur Indonesia (lebih-lebih di Jawa) seorang guru selalu diposisikan atau memposisikan diri sebagai sosok yang tidak boleh dibantah, tidak boleh dikritik dan harus ditempatkan setingkat atau dua tingkat di atas kedudukan murid. Dalam kultur Jawa murid adalah merupakan subordinasi dari guru dan guru merupakan superordinasi. Idiom bahwa guru merupakan sosok yang selalu harus digugu dan ditiru seakan berlaku mutlak. Oleh karena itu tanpa kebesaran jiwa sang guru, konsep kesetaraan ,kesejajaran dan kemitraan dalam hubungan guru-murid yang penulis tawarkan ini niscaya akan bisa terlaksana.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Untuk memperlancar proses belajar-mengajar, para guru selain harus menciptakan suasana kemiteraan, kesejajaran dan kesetaraan hubungan guru dan murid. Guru harus memperhatikan beberapa faktor, baik yang terdapat di dalam diri siswa maupun faktor lingkungan yang ada di luar diri siswa. Pertama, kemampuan siswa. Para guru dan tenaga kependidikan lainnya harus menyadari setiap individu mempunyai kemampuan belajar yang berbeda-beda. Hal ini perlu diperhatikan oleh guru karena hasil penelitian menujukkan adanya hubungan yang positif antara kemampuan siswa dengan hasil belajarnya (Lavin, 1965; Naylor, 1972 ; Goldstain, 1974; Fotheringtham & Carel 1980; Husen, 1975). Dalam interaksi intelektuanya, seorang guru harus bisa mengarahkan proses pembelajaran siswa pada kemampuan awal siswa. Kemampuan awal adalah kemampuan yang telah dipunyai oleh siswa sebelum ia mengikuti pengajaran (Dick & Carey, 1990 ; Worell & Stilwell, 1981). Kemampuan awal ini menggambarkan kesiapan siswa dalam menerima pelajaran. Kemampuan awal ini penting diketahui guru sebelum memulai program pengajarannya.
Dengan demikian dapat diketahui apakah siswa telah mempunyai keterampilan atau pengetahuan yang merupakan prasyarat (prerequisite) mengikuti pelajaran. Tanpa kemampuan prasyarat ini siswa tidak dapat diharapkan mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Kedua, motivasi, yaitu tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah tujuan tertentu (Morgan, 1986). Ada tidaknya motivasi pada siswa dapat disimpulkan dari observasi tingkah laku. Apabila siswa mempunyai motivasi yang positif maka ia akan memperlihatkan minat, mempunyai perhatian dan ingin ikut serta, bekerja keras serta bersedia menyelesaikan tugas hingga tuntas. Berdasarkan sumbernya motivasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang datangnya dari dalam diri siswa yang bersangkutan dan motivasi ekstrinsik yaitu dorongan yang datangnya atau sumbernya dari luar diri siswa. Untuk proses belajar mengajar, motivasi intrinsik lebih menguntungkan karena biasanya bertahan lebih lama. Motivasi ektrinsik dapat diberikan oleh guru dengan cara mengatur kondisi dan situasi belajar yang kondusif.
Faktor dari Luar Siswa
Pertama, faktor guru. Dalam proses belajar mengajar, guru akan menjadi fokus perhatian siswa. Oleh karena itu dalam presentasi intektualnya seorang guru harus memperhatikan aspek-aspek yang berkaitan dengan masalah persepsi sosial, yaitu penampilan fisik, ciri-ciri sosial demografis dan penggunaan komunikasi non verbal.
Kedua, kondisi Lingkungan tempat belajar. Tempat belajar yang bersih, rapi dan tenang akan menciptakn rasa senang dan tentram untuk proses belajar mengajar, sebaliknya tempat belajar yang berisik (noise), kotor dan sesak (density) akan menyebabkan kejenuhan (uncomfortable) dan membunuh motivasi siswa untuk belajar. Tempat belajar yang menyenangkan tidak perlu mewah, yang penting bisa membuat siswa betah dan nyaman. Ketiga, interaksi sosial siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Hubungan sosial dalam lingkungan belajar yang kooperatif akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Sebaliknya hubungan sosial yang rigit/kaku dan formal akan cenderung membuat siswa sebagai peserta didik menjadi apatis, dalam arti siswa malas untuk mengembangkan perilaku-perilaku akdemis, seperti berkompetisi secara fair, serta cenderung berlaku individualis. Keempat, fasilitas pembelajaran. Ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran akan sangat mempengaruhi minat siswa untuk giat belajar. Sekolah yang memiliki kelengkapan fasilitas belajar dan fasilitas sosial yang memadai akan mendorong siswa untuk suka belajar.
Kelima, materi pelajaran. Tidak semua siswa suka dengan mata pelajaran tertentu. Karena itu guru dituntut jeli menangkap fenomena ini. Siswa yang menyukai pelajaran tertentu maka ia akan terdorong untuk belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Demikian pula sebaliknya ketidaksukaan terhadap mata pelajaran tertentu membuat siswa enggan mengikuti pelajaran tersebut. Oleh karena itu guru dituntut bagaimana mengorganisasi semua pelajaran dengan baik dan bisa disukai oleh semua siswa-siswinya. Keenam, metode pengajaran. Metode dialogis dalam proses pengajaran akan lebih disukai siswa dari pada model pengajaran yang bersifat satu arah. Maksud pengajaran dialogis adalah melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar. Siswa tidak hanya dijadikan objek pengajaran. Setiap subjek yang diajarkan perlu dibuat semenarik mungkin. Misalnya dengan memakai alat peraga, memberi deskripsi dengan contoh atau ilustrasi tertentu. Setiap proses belajar harus dibuat aktif dengan mengajak siswa menemukan atau membuktikan sesuatu dan sedapat mungkin hal itu berguna dan memberikan efek bangga pada siswa.
Penutup
Keberhasilan siswa dalam proses belajarnya bukanlah terletak pada diri siswa semata, tetapi juga pada guru sebagai fasilitator akademik dan institusi sekolah sebagai penyelengara pendidikan. Oleh karena itu dalam mengantarkan siswa menuju prestasi puncak hendaklah tiga kompenan ini, membangun suatu sinergi yang kuat, dalam arti ketiganya menempatkan posisi sosial dan kultural pada suatu tataran perilaku yang egalitarian. Dengan sikap egalitarian dari sekolah, guru dan siswa ini maka akan tercipta keseimbangan sosial dan kultural akademis di lingkungan pendidikan sehingga sekolahan sebagai lingkungan pendidikan tidak menjadi tempat yang membosankan bagi aktivitas siswa.
Untuk itu hendaklah dipahami dan disadari oleh kita semua bahwa banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar siswa, mulai faktor yang melekat pada diri siswa itu sendiri, faktor pada diri guru dan faktor yang melakat pada institusi sekolah. Semoga catatan kecil ini berguna dan bermanfaat bagi para guru, terutama pada saat PGRI memperingati ulang tahunnya. Selamat ulang Tahun. Hormat dan cinta kami untuk para guru.
Penulis adalah dosen psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
Sumber : Buletin Tajdid Pendidikan MPI PDM Kota Solo, Agustus 2023/edisi 5 Tahun
TKA Bukan Momok
Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...
Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan
Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...
Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang
Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...
Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam
Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...
Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA
Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...
Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan
Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...
Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali
Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...
Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser
Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...
Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial
Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...
Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia
Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...
Indonesia Darurat Kesehatan Mental
Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...
Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan
Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...





