Merawat dan Memajukan Indonesia

Muktamar Muhammadiyah ke-47 menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara Pancasila yang ditegakkan di atas falsafah kebangsaan yang luhur dan sejalan dengan ajaran Islam. Negara Pancasila merupakan kesepakatan (konsensus). Muhammadiyah menggunakan istilah Darul Ahdi was Syahadah. Yaitu konsensus nasional dan tempat pembuktian atau kesaksian untuk menjadi negara yang aman dan damai.

Sejarah mencatat bahwa proses perumusan dasar negara Pancasila dilakukan melalui dialog yang bermartabat di antara para founding fatherĀ bangsa. Pancasila merupakan hasil pemikiran banyak tokoh bangsa saat itu dan menjadi konsensus sebagai tali yang mengikat seluruh bangsa.

Substansi yang terkandung dalam seluruh sila Pancasila sejalan dengan nilai-nilai Islam. Maka dapat dikatakan bahwa Pancasila itu Islami. Pengintegrasian keislaman dan keindonesiaan dalam kehidupan berbangsa terus diupayakan menuju kehidupan yang dicita-citakan. Yaitu baldatun thayibatun warabbun ghafur (negara yang baik dan dirahmati Allah).

Sekilas kita tengok sejarah, sidang BPUPKI pertama pada tanggal 29 Mei 1945 membahas dasar negara. Di antara tokoh yang mengutarakan konsep dasar negara adalah Muhammad Yamin, Mr Supomo, dan Ir Soekarno. Di akhir masa sidang pertama, panitia 9 merumuskan rancangan pembukaan undang-undang dasar dan Piagam Jakarta.