Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tarjih & Tajdid

Merawat dan Memajukan Indonesia

Hendro Susilo (Pengajar PKn di SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta), Editor: Yusuf R. Yanuri
Jumat, 2 September 2022 04:00 WIB
Merawat dan Memajukan Indonesia

Muktamar Muhammadiyah ke-47 menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara Pancasila yang ditegakkan di atas falsafah kebangsaan yang luhur dan sejalan dengan ajaran Islam. Negara Pancasila merupakan kesepakatan (konsensus). Muhammadiyah menggunakan istilah Darul Ahdi was Syahadah. Yaitu konsensus nasional dan tempat pembuktian atau kesaksian untuk menjadi negara yang aman dan damai.

Sejarah mencatat bahwa proses perumusan dasar negara Pancasila dilakukan melalui dialog yang bermartabat di antara para founding father bangsa. Pancasila merupakan hasil pemikiran banyak tokoh bangsa saat itu dan menjadi konsensus sebagai tali yang mengikat seluruh bangsa.

Substansi yang terkandung dalam seluruh sila Pancasila sejalan dengan nilai-nilai Islam. Maka dapat dikatakan bahwa Pancasila itu Islami. Pengintegrasian keislaman dan keindonesiaan dalam kehidupan berbangsa terus diupayakan menuju kehidupan yang dicita-citakan. Yaitu baldatun thayibatun warabbun ghafur (negara yang baik dan dirahmati Allah).

Sekilas kita tengok sejarah, sidang BPUPKI pertama pada tanggal 29 Mei 1945 membahas dasar negara. Di antara tokoh yang mengutarakan konsep dasar negara adalah Muhammad Yamin, Mr Supomo, dan Ir Soekarno. Di akhir masa sidang pertama, panitia 9 merumuskan rancangan pembukaan undang-undang dasar dan Piagam Jakarta.

Terlihat pada alinea ketiga, tampak titik temu pandangan golongan keagamaan dan golongan kebangsaan. Kompromi antar dua golongan tersebut nampak juga pada alinea terakhir yang dimuat sebagai dasar negara.

Sidang pertama PPKI menyetujui naskah Piagam Jakarta dengan sedikit perubahan. Salah satunya alinea keempat Pembukaan UUD NKRI Tahun 1945 pada anak kalimat yang berbunyi ”Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Kalimat itu diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Ada nilai kebesaran dan keteladanan dari tokoh bangsa yang harus menjadi refleksi generasi muda. Penghilangan tujuh kata, dalam konteks keislaman, tidak ada substansi yang hilang. Justru terjadi proses perubahan  dari konsep syariat kepada konsep tauhid.

Peran Ki Bagus Hadikusumo dalam menghilangkan tujuh kata pada sila pertama Pancasila merupakan sebuah kearifan yang membawa inspirasi keislaman di Indonesia. Beliau merupakan sosok negarawan sekaligus intelektual yang patut diteladani generasi muda.

Peristiwa singkat yang terkait dengan perubahan sila pertama ini telah menyelamatkan negara. Dorongan perenungan bagi anak-anak muda saat ini dari para tokoh peletak dasar negara sangat diperlukan. Para founding father bangsa bisa menemukan perumusan dasar negara yang tepat.

Tantangan saat ini adalah bahwa Pancasila perlu lebih membumi. Kita perlu implementasi dari nilai-nilai luhur Pancasila agar moralitas bangsa terjaga. Pancasila sebagai etika hidup bersama harus mendorong segenap warga memegang teguh landasan Pancasila sebagai nilai dan etika hidup bersama.

Terlebih, jika kesadaran sejarah meredup, makna Pancasila melemah dan jika tidak ada usaha mendalami dan membuktikannya dalam perilaku, maka dipastikan moralitas bangsa akan menjauh dari nilai kebangsaan. 

Bagaimana menjadikan Pancasila benar-benar hidup di setiap sendi kehidupan? Menganggap Pancasila bertentangan dengan Islam adalah salah besar.

M Natsir pernah mengatakan bahwa Pancasila adalah Islam yang diamalkan di Indonesia. Untuk menumbuhkan dan mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bersama, perlu integritas, komitmen dan konsistensi agar Pancasila jangan hanya sebagai jargon yang minus implementasi.

Pancasila yang dianggap sebagai sekedar lip service semata menyebabkan bangsa kita keropos. Maka, sangat tepat Muhammadiyah menyebut negara Pancasila sebagai Darul Ahdi was Syahadah. Yakni negara kesepakatan dan menjadi ajang pembuktian perjuangan menuju hidup berkemajuan di berbagai bidang.

Berita Terbaru

Dari GWO Sriwedari, Belajar Jadi Manusia Seutuhnya

Dua kali saya menyaksikan tampilan seni budaya dalam bentuk drama dan pagelaran seni daerah nusantara persembahan dari siswa SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Gelaran...

Membangun Amal Usaha Muhammadiyah Unggulan

Muhammadiyah adalah sebuah organisasi yang bergerak atas semangat al-Ma’un dan Al-Ashr (dari etos ke spirit peradaban) dan berkhidmat untuk membangun kemanusiaan, keumatan, kebangsaan, dan internasional...

Apa yang Bisa Dilakukan oleh Pimpinan Muhammadiyah dalam Menghadapi Penurunan Jumlah Warganya?

SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pernyataan Denny JA mengenai penurunan yang signifikan dalam jumlah warga Muhammadiyah dalam 20 tahun terakhir merupakan isu yang perlu dipertimbangkan dengan serius...

Historical Walking, Ikhtiar Pembumian Nilai Kemuhammadiyahan

Sepanjang yang saya ketahui, ada dua buku yang mengupas perjalanan Sejarah Muhammadiyah kota Surakarta. Pertama, Matahari Terbit di Kota Bengawan yang ditulis oleh Dr Mohamad...

Mindful Learning dalam Pembelajaran Kimia

Materi kimia sangatlah menarik. Bila seorang guru mampu membangkitkan minat dan motivasi siswa, materi kimia bisa menjadi sarana berpikir kritis, kreatif, membentuk karakter ilmiah dan...

STEM and Digitalisation (3): Manpower Development, Coaching Students, and Reflective Thinking

Diskusi dan sharing pengelolaan pendidikan bersama akademisi Nanyang Polytechnic Singapura berlanjut sampai hari ke -10. Tema Pengembangan sumber daya manusia untuk pertumbuhan ekonomi, membangun cara...

Melekat Kelas Baru

Di awal tahun pelajaran baru, satuan pendidikan menyiapkan awal tahun pelajaran. Kegiatan awal tahun ditandai adanya berbagai kegiatan. Salah satunya adalah masa pengenalan lingkungan sekolah...

STEM and Digitalisation (2): Menciptakan Iklim dan Ekosistem Inovasi

Baca seri pertama dari artikel ini di sini Hari ke-2, 3, dan 4 pelatihan, kami berdialog dan sharing dengan Mr Yoon Eng Tong dalam forum...

Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)

RESENSI BUKU Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan) Judul Buku : Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)...

STEM And Digitalisation (1): Refleksi Teachers Course di Nanyang Polytechnic Singapura

Hari ini, Senin 17 Juli 2023 saya berkesempatan untuk belajar secara langsung bersama Dr Judy Emily dari Nanyang Polytechnic (NYP) Singapore untuk mendalami model pendidikan...

Romansa Guru Penggerak

Program guru penggerak merupakan bagian dari program merdeka belajar episode ke lima yang digagas oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Program guru pengerak adalah...

Buku Merawat Intelektualisme Muhammadiyah Telah Terbit

Kabar gembira bagi para aktivis dan kader Muhammadiyah di kota Solo. Pasalnya, buku karya Dr Mohamad Ali yang merupakan catatan–catatan sejarah pergerakan Muhammadiyah di kota...

Leave a comment