Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah pertanyaan dari (alm) Buya Syafii Maarif terkait perkembangan Muhammadiyah. Buya bertanya apakah Muhammadiyah masih berada di jalurnya.
Ada catatan yang menarik. Menurut Buya, warga Muhammadiyah yang mengerti dan memahami betul-betul tentang Muhammadiyah jumlahnya minoritas, sebab umumnya mereka tidak membaca dokumen seperti pidato KH Ahmad Dahlan tahun 1922, dokumen hasil Muktamar, dokumen MKCH, dokumen PHIWM, dan dokumen MADM.
“Sepertinya kita terlalu sibuk dengan amal usaha, tetapi tidak tahu arah akan dibawa ke mana amal usaha tersebut,” ujar Buya dalam sebuah wawancara.
Ini adalah sebuah refleksi sekaligus kritikan yang konstruktif dari Buya Syafii. Muhammadiyah yang besar jangan sampai keropos. Ibarat meraba di dalam kegelapan.
Perasaan memiliki Muhammadiyah berkurang. Apa yang para terdahulu lakukan “Memuhammadiyahkan kembali Muhammadiyah” menjadi dokumen yang semestinya menjadi refleksi bagi generasi selanjutnya.
Merespon hal ini, SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta mengadakan FGD (Focus Group Discussion) yang difasilitasi oleh LPMP Perguruan Muhammadiyah Kottabarat. Dilaksanakan hari Sabtu 27 Agustus 2022 di salah satu ruangan sekolah tersebut.
Dalam forum FGD tersebut, yang menjadi tema bahasan diskusi adalah pemikiran pendidikan KH Ahmad Dahlan. Banyak hal yang menarik dan dapat dijadikan inspirasi terkait pemikiran dan praktik pendidikan yang dilakukan KH Ahmad Dahlan yang mengandung banyak hikmah.
Diawali dari pembahasan tujuh ajaran falsafah Ahmad Dahlan, di mana hal tersebut dapat dipraktikkan dalam dunia pendidikan seperti (a) berlandaskan pada tujuan hidup, (b) tidak sombong, (c) tidak taqlid, (d) mengoptimalkan akal, (e) berani untuk kebenaran, (f) berkorban untuk orang banyak, dan (g) adanya kombinasi teori dan praktik (ilmu dan amal). Sehingga pendidikan Muhammadiyah diorientasikan menciptakan manusia “intelek-ulama atau ulama yang intelek” (baca : berkemajuan).
Dalam forum itu juga dikupas ayat-ayat favorit KH Ahmad Dahlan yang menjadi landasan spirit beliau bergerak dan beramal. Seperti Al-Jatsiyah ayat 23 yang mengandung pelajaran membersihkan diri sendiri, Al Fajr ayat 17-23 yang mengandung ajaran menggempur hawa nafsu dan mencintai harta, Al-Maun ayat 1-7 yang mengandung hikmah tentang pendusta agama, Ar-Rum ayat 30 yang mengandung hikmah apakah arti agama, dan Al-Ashr ayat 1-3 yang mengandung hikmah orang yang merugi dan karakter mukmin yang beruntung. Ayat-ayat tersebut menjadi ayat yang menginspirasi Ahmad Dahlan dalam berdakwah.
Dalam Forum FGD tersebut, dikupas pula kutipan-kutipan KH Ahmad Dahlan yang penuh makna mendalam dan bisa diterapkan dalam pendidikan Muhammadiyah. Salah satu kutipan tersebut di antaranya “Dadiho Kijahi Sing Kemadjoan, Adja Kesel Anggonmu Njamboet Gawe Kanggo Moehammadijah”.
Dalam kalimat tersebut ada kata kunci yang sangat relevan dalam dunia pendidikan, yaitu sholih, alim dan amal. Menciptakan generasi yang sholeh, berilmu dan mau beramal merupakan cakupan materi pendidikan Muhammadiyah yang hendak dicapai.
Materi pendidikan Muhammadiyah mencakup pendidikan moral (akhlak) berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, pendidikan individu untuk membentuk kesadaran dan pribadi yang utuh serta seimbang.
Selanjutnya materi pendidikan kemasyarakatan yang akan mendidik manusia agar mengamalkan ilmu untuk kebaikan dan pengembangan masyarakat. Ketiga cakupan materi pendidikan Muhammadiyah tersebut menjadi materi yang harus terkandung dalam praktik-praktik pendidikan di sekolah Muhammadiyah
Diskusi terkait metode-metode pembelajaran yang dilakukan pun terjadi dalam forum tersebut. Sebagai contoh pemantik, metode kontekstual yang dilakukan Ahmad Dahlan. Keterangan ini di dapat dari Mas Mansur, beliau menjelaskan:
“Ahmad Dahlan gemar sekali mengupas tafsir dan pandai pula tentang hal itu. Kalau menafsirkan sebuah ayat, beliau selidiki lebih dahulu tiap tiap perkataan dalam ayat itu satu demi satu. Beliau lihat kekuatan atau perasaan yang terkandung oleh perkataan itu didalam ayat-ayat yang lain. Barulah beliau sesuaikan dengan keadaan hingga keterangan beliau itu hebat dan dalam, serta tepat”.
Berdasarkan hal tersebut, maka metode kontekstual masih sangat relevan dilakukan dalam praktik pendidikan Muhammadiyah.
Metode-metode lain yang pernah dilakukan Ahmad Dahlan dalam mendidik murid-muridnya adalah metode dialog dan metode amal ilmiah. Ahmad Dahlan selalu bertanya kepada murid-muridnya ingin belajar apa yang hendak diketahui muridnya.
Kisah Ahmad Dahlan yang menjawab pertanyaan muridnya tentang agama dengan menggunakan/memainkan alat musik biola sebagai perumpamaan untuk menjawab apa itu agama sangat cerdas. Beliau memotivasi muridnya untuk belajar agama agar hidup kita indah seperti alunan biola yang beliau mainkan.
Untuk metode amal ilmiah, Ahmad Dahlan juga mempraktikkan kepada muridnya. Ini kita bisa ambil pelajaran dari kisah berikut:
“Dalam kuliah subuh, Ahmad Dahlan mengajarkan surat Al-Maun secara berulang-ulang. Soedja memberanikan diri bertanya; ‘Mengapa pelajarannya tidak ditambah?’ Ahmad Dahlan bertanya, ‘Apa kamu sudah mengerti betul?’ Soedja menjawab dirinya sudah hafal dan mengamalkannya dengan membaca saat shalat. Hal itu diangap salah. Beliau menunjukkan cara menyuruh murid-muridnya pergi ke pasar dan mendapati orang-orang miskin untuk memberikan bantuan.“
Dari kisah tersebut, dapat kita tarik pelajaran bahwa metode praktik (amal ilmiah) menjadi metode yang efektif untuk menanamkan karakter cinta ilmu dan amal, sehingga mendorong siswa untuk menjadi sosok pribadi yang memberikan manfaat serta ikut berkontribusi dalam perkembangan masyarakat di lingkungannya.
Demikian hal-hal yang dapat saya tulis sebagai bagian dari pelaksanaan FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta dalam rangka menelaah dan mendalami pemikiran pendidikan KH Ahmad Dahlan dalam upaya rangkaian penguatan ideologi dan sebagai spirit menggerakkan dakwah Muhammadiyah melalui pendidikan, bersambung.
Dari GWO Sriwedari, Belajar Jadi Manusia Seutuhnya
Dua kali saya menyaksikan tampilan seni budaya dalam bentuk drama dan pagelaran seni daerah nusantara persembahan dari siswa SMA Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Gelaran...
Membangun Amal Usaha Muhammadiyah Unggulan
Muhammadiyah adalah sebuah organisasi yang bergerak atas semangat al-Ma’un dan Al-Ashr (dari etos ke spirit peradaban) dan berkhidmat untuk membangun kemanusiaan, keumatan, kebangsaan, dan internasional...
Apa yang Bisa Dilakukan oleh Pimpinan Muhammadiyah dalam Menghadapi Penurunan Jumlah Warganya?
SURAKARTA, MUHAMMADIYAHSOLO.COM – Pernyataan Denny JA mengenai penurunan yang signifikan dalam jumlah warga Muhammadiyah dalam 20 tahun terakhir merupakan isu yang perlu dipertimbangkan dengan serius...
Historical Walking, Ikhtiar Pembumian Nilai Kemuhammadiyahan
Sepanjang yang saya ketahui, ada dua buku yang mengupas perjalanan Sejarah Muhammadiyah kota Surakarta. Pertama, Matahari Terbit di Kota Bengawan yang ditulis oleh Dr Mohamad...
Mindful Learning dalam Pembelajaran Kimia
Materi kimia sangatlah menarik. Bila seorang guru mampu membangkitkan minat dan motivasi siswa, materi kimia bisa menjadi sarana berpikir kritis, kreatif, membentuk karakter ilmiah dan...
STEM and Digitalisation (3): Manpower Development, Coaching Students, and Reflective Thinking
Diskusi dan sharing pengelolaan pendidikan bersama akademisi Nanyang Polytechnic Singapura berlanjut sampai hari ke -10. Tema Pengembangan sumber daya manusia untuk pertumbuhan ekonomi, membangun cara...
Melekat Kelas Baru
Di awal tahun pelajaran baru, satuan pendidikan menyiapkan awal tahun pelajaran. Kegiatan awal tahun ditandai adanya berbagai kegiatan. Salah satunya adalah masa pengenalan lingkungan sekolah...
STEM and Digitalisation (2): Menciptakan Iklim dan Ekosistem Inovasi
Baca seri pertama dari artikel ini di sini Hari ke-2, 3, dan 4 pelatihan, kami berdialog dan sharing dengan Mr Yoon Eng Tong dalam forum...
Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)
RESENSI BUKU Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan) Judul Buku : Merawat Intelektualisme Muhammadiyah (Refleksi Seabad Matahari Bersinar di Kota Bengawan)...
STEM And Digitalisation (1): Refleksi Teachers Course di Nanyang Polytechnic Singapura
Hari ini, Senin 17 Juli 2023 saya berkesempatan untuk belajar secara langsung bersama Dr Judy Emily dari Nanyang Polytechnic (NYP) Singapore untuk mendalami model pendidikan...
Romansa Guru Penggerak
Program guru penggerak merupakan bagian dari program merdeka belajar episode ke lima yang digagas oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Program guru pengerak adalah...
Buku Merawat Intelektualisme Muhammadiyah Telah Terbit
Kabar gembira bagi para aktivis dan kader Muhammadiyah di kota Solo. Pasalnya, buku karya Dr Mohamad Ali yang merupakan catatan–catatan sejarah pergerakan Muhammadiyah di kota...






