Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Ulas Bahasa

“Acuh” dan “Acuh tak Acuh”

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Senin, 19 Oktober 2026 17:02 WIB
“Acuh” dan “Acuh tak Acuh”
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sholahuddin (Dok.pribadi).

Dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari, sering kita temukan kerancuan pada penggunaan kata acuh maupun acuh tak acuh. Seolah-olah, dua kata itu memiliki makna yang sama. Padahal, dua kata itu punya arti bertolak belakang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), acuh maknanya adalah ‘peduli; mengindahkan’.  Namun, dalam praktik sehari-hari, acuh sering dipergunakan untuk makna yang berkonotasi negatif. Misalnya pada kalimat “Anak itu selalu mengacuhkan nasihat orang tuanya”. Secara sosiologis, kalimat itu sering dimaknai si anak tak memedulikan nasihan orang tuanya karena ada kata acuh di situ.

Padahal, makna sesungguhnya si anak mengindahkan nasihat orang tuanya. Kalau kita ingin membuat kalimat yang maknanya si anak tidak menaruh perhatian terhadap nasihat orang tuanya, kita bisa mengganti kata acuh dengan acuh tak acuh. “Anak itu selalu acuh tak acuh terhadap nasihat orang tuanya. Tentu perlu diperhatikan pula struktur kalimatnya karena acuh merupakan kata kerja, sedangkan acuh tak acuh merupakan kata sifat.

Jadi, mulai sekarang, kita perlu memperhatikan secara serius pilihan kata dalam menuangkan maksud dalam berbahasa. Antara pesan yang ingin disampaikan dengan pilihan kata harus berkesesuaian. Jangan sampai kita memilih kata yang maknanya bertolak belakang dengan pesan yang ingin disampaikan. Meskipun, secara fakta, pilihan kata yang keliru tersebut dimaknai secara sama oleh publik seperti maksud si penutur. Ini namanya salah kaprah, salah yang telah dianggap lazim dan biasa.

Padahal, namanya salah ya tetap salah…

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Antara “Pencinta dan “Pecinta”

Saya yakin, di antara kita, masih ada yang bingung saat membedakan arti pecinta dan pencinta. Dua kata ini sering kita jumpai pada tulisan, artikel, maupun...

Jangan Keliru, antara “Kaus” dan “Kaos”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dua kata, kaus dan kaos itu sama-sama benar. Kalau sebuah kata sudah masuk ke KBBI, tentu itu sudah sah...

Akademik atau Akademis?

Hari ini, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada momentum ini, kita peringati pula sebagai Bulan Bahasa. Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa sangat berkaitan....

Bukan Sekadar Spasi dan Huruf Miring

Saya masih terngiang-ngiang terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas uji materi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2024 tentang Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu. MK...

“Relawan” atau “Sukarelawan?”

Beberapa hari lalu, saya mengedit berita yang dikirim ke grup WhatsApp (WA) kontributor Muhammadiyahsolo.com, SoloMuNewsroom. Berita itu tentang penanaman pohon sebagai penutup acara Jambore Relawan...

Kata dengan Akhiran “-isasi”

Dalam keseharian, kita sering menggunakan kata dengan akhiran -isasi seperti dalam kata kaderisasi, hilirisasi, demokratisasi, dan sebagainya. Seolah kita merasa keren kalau menulis atau berbicara...

Jamaah dan Jemaah

Dalam ber-Muhammadiyah, kita sering menemui kata, terminologi, atau konsep tentang jamaah. Dalam bahasa Arab, jamaah, maknanya ‘berkumpul’.  Warga Persyarikatan adalah jamaah, atau orang-orang yang berkumpul...

Giat, Mohon Izin, dan Projek

Dalam sebuah forum yang digelar sebuah instansi pemerintah, saya mendapati seorang pejabat di sebuah OPD (organisasi perangkat daerah) memaparkan program tahun 2026 berikut anggaran yang...

Kepala Sekolah itu Tidak Membawahi Wakasek

Dalam pemberitaan media, saya sering menemukan penggunaan kata membawahi yang keliru. Misalnya, “Kepala Sekolah SMA X membawahi tiga wakil kepala sekolah (wakasek)….” Saya paham, maksud...

Kalimat “Meneladani Rasulullah” itu Terbalik

Saya sering mendengar orang berceramah atau menulis artikel menggunakan kalimat seperti ini, “Sebagai umat Islam, kita harus ‘meneladani’ Rasulullah.” Pada kesempatan lainnya, para penceramah agama...

Matinya Kepakaran: Perlawanan Terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya

Ketika kita mendengar ataupun membaca tentang “matinya kepakaran”, pasti akan timbul banyak pertanyaan tentangnya. Apakah kepakaran atau keahlian itu benar-benar mati? Atau benarkah itu terjadi...

Resensi Buku: Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia

Judul                           : Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia Penulis                         : Haidar Bagir Penerbit                       : PT Mizan Pustaka Tahun Terbit                : 2019 Jumlah Halaman         :...