Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Ulas Bahasa

Antara “Pencinta dan “Pecinta”

Sholahuddin, Editor: Sholahuddin
Minggu, 9 Agustus 2026 15:35 WIB
Antara “Pencinta dan “Pecinta”
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Sholahuddin (Dok.pribadi).

Saya yakin, di antara kita, masih ada yang bingung saat membedakan arti pecinta dan pencinta. Dua kata ini sering kita jumpai pada tulisan, artikel, maupun saat dipakai dalam bahasa percakapan. Sesungguhnya, dua kata itu, mempunyai makna yang jauh berbeda, meski dari akar kata yang sama: cinta

Beberapa waktu lalu, saya menulis artikel di website ini dengan judul “Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing”. Tulisan itu saya buat sebagai respons atas terbentuknya komunitas pencinta kucing di Muhammadiyah. Nama komunitasnya KucingMu. Komunitas ini viral di media sosial. Heboh…

Dalam artikel tersebut, saya banyak menggunakan frasa pencinta kucing. Mengapa tidak menggunakan pecinta kucing? Saya yakin di antara pembaca lebih familier memakai pecinta kucing ketimbang pencinta kucing. Dulu, saya pun begitu. Untuk menyebut setiap orang yang mencintai sesuatu, saya menyebutnya pecinta….Namun, beberapa tahun belakangan, saya baru mengetahui untuk menyebut orang yang mencintai sesuatu yang tepat adalah pencinta. Misalnya, pencinta kucing. Pencinta, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya adalah ‘orang yang sangat suka, gemar, atau menyayangi sesuatu’. Jadi, pencinta kucing adalah ‘orang yang menyukai atau menyayangi kucing’.  Begitu dalam bahasa yang mudah dipahami.

Lha terus apa makna pecinta? Artinya adalah ‘orang yang bercinta’. Sungguh jauh beda maknanya. Pecinta berasal dari kata dasar cinta ditambah awalan pe-. Sedangkan pencinta berasal dari kata cinta ditambah awalan peN-. Jadi, baik pecinta maupun pencinta pada hakibatnya sama-sama kata baku dalam KBBI, namun penggunaannya harus tepat sesuai maksud si penutur. Kalau keliru, wah, bisa bahaya.

Kalau kita ingin membuat kalimat yang maknanya ‘orang yang menyukai kucing’, tentu yang tepat menggunakan pencinta kucing. Kalau pecinta kucing? Artinya ‘orang yang bercinta dengan kucing’.

Mengerikan bukan?

Berbahasa dengan benar=menghargai akal sehat kita…

Penulis adalah pencinta bahasa Indonesia

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Jangan Keliru, antara “Kaus” dan “Kaos”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dua kata, kaus dan kaos itu sama-sama benar. Kalau sebuah kata sudah masuk ke KBBI, tentu itu sudah sah...

Akademik atau Akademis?

Hari ini, 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada momentum ini, kita peringati pula sebagai Bulan Bahasa. Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa sangat berkaitan....

Bukan Sekadar Spasi dan Huruf Miring

Saya masih terngiang-ngiang terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas uji materi Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2024 tentang Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, beberapa waktu lalu. MK...

“Relawan” atau “Sukarelawan?”

Beberapa hari lalu, saya mengedit berita yang dikirim ke grup WhatsApp (WA) kontributor Muhammadiyahsolo.com, SoloMuNewsroom. Berita itu tentang penanaman pohon sebagai penutup acara Jambore Relawan...

Kata dengan Akhiran “-isasi”

Dalam keseharian, kita sering menggunakan kata dengan akhiran -isasi seperti dalam kata kaderisasi, hilirisasi, demokratisasi, dan sebagainya. Seolah kita merasa keren kalau menulis atau berbicara...

Jamaah dan Jemaah

Dalam ber-Muhammadiyah, kita sering menemui kata, terminologi, atau konsep tentang jamaah. Dalam bahasa Arab, jamaah, maknanya ‘berkumpul’.  Warga Persyarikatan adalah jamaah, atau orang-orang yang berkumpul...

Giat, Mohon Izin, dan Projek

Dalam sebuah forum yang digelar sebuah instansi pemerintah, saya mendapati seorang pejabat di sebuah OPD (organisasi perangkat daerah) memaparkan program tahun 2026 berikut anggaran yang...

Kepala Sekolah itu Tidak Membawahi Wakasek

Dalam pemberitaan media, saya sering menemukan penggunaan kata membawahi yang keliru. Misalnya, “Kepala Sekolah SMA X membawahi tiga wakil kepala sekolah (wakasek)….” Saya paham, maksud...

Kalimat “Meneladani Rasulullah” itu Terbalik

Saya sering mendengar orang berceramah atau menulis artikel menggunakan kalimat seperti ini, “Sebagai umat Islam, kita harus ‘meneladani’ Rasulullah.” Pada kesempatan lainnya, para penceramah agama...

Matinya Kepakaran: Perlawanan Terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya

Ketika kita mendengar ataupun membaca tentang “matinya kepakaran”, pasti akan timbul banyak pertanyaan tentangnya. Apakah kepakaran atau keahlian itu benar-benar mati? Atau benarkah itu terjadi...

Resensi Buku: Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia

Judul                           : Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia Penulis                         : Haidar Bagir Penerbit                       : PT Mizan Pustaka Tahun Terbit                : 2019 Jumlah Halaman         :...