Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Tajuk

Meneguhkan Ideologi, Memperbarui Strategi

Soleh Amini Yahman, Editor: Sholahuddin
Senin, 10 Agustus 2026 14:23 WIB
Meneguhkan Ideologi, Memperbarui Strategi
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Simbol Muhammadiyah (Muhammadiyah.or.id).

Muhammadiyah tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kegelisahan, pemikiran, dan cita-cita besar K.H. Ahmad Dahlan untuk menghadirkan Islam sebagai kekuatan yang mencerahkan kehidupan. Ketika Muhammadiyah didirikan pada 1912, yang dibangun bukan sekadar sebuah organisasi, melainkan sebuah gerakan yang diharapkan mampu menerjemahkan gagasan keislaman ke dalam kehidupan nyata. Karena itu, memahami Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari gagasan dan pokok pikiran pendirinya.

Dalam perjalanan panjangnya, Muhammadiyah kemudian merumuskan berbagai pedoman yang menjadi fondasi gerakan. Di antaranya adalah Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, serta Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Rumusan-rumusan tersebut menjadi pijakan ideologis yang menuntun warga Muhammadiyah dalam memahami siapa dirinya, untuk apa gerakannya, dan ke arah mana perjuangannya hendak dibawa.

Di sinilah pentingnya membedakan antara ideologi dan strategi. Ideologi menyangkut nilai-nilai dasar dan prinsip yang menjadi jati diri Muhammadiyah. Ideologi bersumber dari prinsip ajaran Islam sehingga tidak semestinya berubah hanya karena zaman berubah. Yang dapat dikembangkan adalah cara memahami, merumuskan, dan mengomunikasikannya agar tetap relevan dengan persoalan kehidupan yang terus bergerak.

Sementara itu, strategi perjuangan bersifat lebih dinamis. Muhammadiyah memiliki tradisi khittah yang menunjukkan bahwa strategi gerakan dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Sejarah mencatat berbagai rumusan strategi, mulai dari Langkah Muhammadiyah 1938–1940 hingga Khittah Palembang, Ponorogo, Ujung Pandang, Surabaya, dan Denpasar. Kesemuanya menunjukkan bahwa Muhammadiyah memiliki kemampuan untuk membaca perubahan tanpa harus kehilangan identitasnya.

Dengan demikian, menjadi Muhammadiyah bukan berarti hidup dalam romantisme masa lalu. Justru tantangan terbesar gerakan adalah bagaimana nilai-nilai lama yang fundamental dapat terus dihadirkan dalam konteks baru. Dunia berubah, masyarakat berubah, teknologi berubah, dan problem kemanusiaan pun semakin kompleks. Namun, perubahan itu tidak boleh membuat Muhammadiyah kehilangan arah. Nilai boleh tetap, tetapi strategi harus mampu bergerak.

Tauhid yang Melahirkan Gerakan

Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah memberikan fondasi penting bagi cara warga Muhammadiyah memandang kehidupan. Kehidupan manusia harus berlandaskan tauhid; manusia tidak hidup sendiri, tetapi hidup bermasyarakat; dan kehidupan bersama perlu ditata berdasarkan nilai-nilai Islam untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan yang hakiki.

Dari sini tampak bahwa tauhid dalam Muhammadiyah bukan sekadar keyakinan yang berhenti dalam hati. Tauhid harus melahirkan tanggung jawab sosial. Keimanan mendorong manusia untuk berbuat ihsan dan islah, memperbaiki kehidupan dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama. Karena itu, perjuangan menegakkan Islam harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan mengikuti keteladanan perjuangan Rasulullah Muhammad Saw.

Tidak kalah penting, perjuangan tersebut membutuhkan organisasi. Muhammadiyah sejak awal menyadari bahwa cita-cita besar tidak cukup dikerjakan secara individual. Gerakan membutuhkan sistem, kebersamaan, ketertiban, dan pembagian peran. Organisasi menjadi instrumen untuk mengubah gagasan menjadi amal nyata.

Karena itu, Muhammadiyah pada hakikatnya adalah gerakan Islam yang menjalankan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar, baik kepada individu maupun masyarakat. Gerakan tersebut diarahkan untuk membangun kehidupan yang damai, sejahtera, berkeadilan, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Menjadi Gerakan yang Berkemajuan

Kepribadian Muhammadiyah memberi pesan bahwa dakwah tidak boleh berhenti pada kata-kata. Muhammadiyah harus bergerak membangun di berbagai bidang dengan tetap berpegang pada ajaran Allah dan Rasul-Nya serta menempuh jalan yang diridai Allah. Karena itu, aktivitas Muhammadiyah selalu memiliki dimensi keagamaan sekaligus kemasyarakatan.

Kepribadian tersebut juga menuntut Muhammadiyah untuk memperbanyak kawan, mengembangkan ukhuwah, berpandangan luas, aktif dalam perkembangan masyarakat, dan bekerja sama dalam berbagai ikhtiar untuk kemaslahatan. Muhammadiyah bahkan menempatkan dirinya sebagai bagian dari kehidupan kebangsaan dengan ikut membantu pembangunan negara menuju masyarakat yang adil dan makmur.

Pesan tersebut semakin relevan hari ini. Muhammadiyah memiliki sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, lembaga sosial, dan berbagai amal usaha lainnya. Semua itu bukan sekadar institusi, tetapi merupakan medium dakwah dan pelayanan kemanusiaan. Amal usaha harus menjadi bukti bahwa Islam mampu menghadirkan rahmat, ilmu, pelayanan, profesionalitas, dan kemajuan.

Pada titik ini, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah menjadi sangat penting. Kehidupan islami tidak hanya berbicara mengenai kehidupan pribadi, tetapi juga keluarga, masyarakat, organisasi, pengelolaan amal usaha, profesi, bisnis, kehidupan berbangsa dan bernegara, lingkungan, ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga seni dan budaya. Artinya, menjadi warga Muhammadiyah adalah menghadirkan nilai Islam dalam seluruh ruang kehidupan.

Jangan Kehilangan Arah, Jangan Takut Berubah

Tantangan Muhammadiyah hari ini tentu berbeda dengan tantangan ketika K.H. Ahmad Dahlan merintis gerakan ini lebih dari satu abad yang lalu. Persoalan umat semakin kompleks. Perubahan teknologi berlangsung sangat cepat. Kehidupan sosial mengalami transformasi. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan digital yang sama sekali berbeda dengan generasi sebelumnya.

Dalam situasi semacam itu, Muhammadiyah tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang dahulu dilakukan oleh para pendahulu?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Bagaimana nilai perjuangan para pendahulu itu kita wujudkan untuk menjawab persoalan hari ini?”

Di sinilah strategi menjadi penting. Ideologi memberikan arah, sedangkan strategi menentukan langkah. Ideologi menjaga Muhammadiyah agar tidak kehilangan jati diri; strategi membuat Muhammadiyah tidak kehilangan relevansi.

Maka, memperbarui strategi bukan berarti meninggalkan ideologi. Sebaliknya, strategi yang terus diperbarui justru merupakan cara untuk menjaga agar ideologi tetap hidup. Muhammadiyah perlu terus membaca zaman, memahami perubahan masyarakat, mengembangkan ilmu pengetahuan, memperkuat profesionalitas amal usaha, membuka ruang dialog, dan melahirkan kader yang memiliki kedalaman keislaman sekaligus kecakapan menghadapi masa depan.

Pada akhirnya, Muhammadiyah adalah gerakan yang dibangun untuk menghadirkan Islam dalam kehidupan nyata. Cita-cita besarnya adalah terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, lahir dan batin, serta diridai Allah Swt.—masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Karena itu, tugas generasi Muhammadiyah hari ini bukan sekadar mempertahankan apa yang telah diwariskan. Tugas kita adalah merawat nilai, membaca zaman, dan menemukan cara-cara baru untuk menghadirkan kemaslahatan. Muhammadiyah tidak boleh kehilangan akar, tetapi juga tidak boleh kehilangan masa depan.

Ideologinya diteguhkan, strateginya diperbarui, amalnya diperluas, dan manfaatannya harus semakin dirasakan oleh masyarakat. Itulah semangat Langkah Baru  melangkah ke depan tanpa kehilangan arah.

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Pembelajaran Mendalam dan Profil Pelajar Berkemajuan….

Tahun ajaran baru 2026/2027 baru saja dimulai. Pendekatan pembelajaran mendalam semakin masif disosialisasikan serta diterapkan di satuan pendidikan. Tujuan pembelajaran mendalam untuk mencetak generasi yang...

Turun ke Bawah, Rangkul Anak Muda

Proses pengaderan Persyarikatan di arus bawah, di Cabang dan Ranting, masih menjadi persoalan serius, khususnya di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo. Umumnya, pengurus...

Jangan Antikritik

Pesan jangan antikritik ini sampaikan Pak Marpuji Ali saat acara “Silaturahim dan Buka Bersama” yang diikuti oleh seluru GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) Perguruan Muhammadiyah...

Kompak Menyongsong Kemajuan

Memasuki abad kedua perjalanannya, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa-masa awal kelahirannya. Pada era Kiai Haji Ahmad Dahlan tantangan utamanya adalah kebodohan, kemiskinan, dan...

Selamat Datang SMP Muhammadiyah PKBS Kota Solo

Dalam AD/ART Persyarikatan Muhammadiyah tentang identitas organisasi disebutkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid. Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan...

Paradoks Kaum Muda di Muhammadiyah

Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis hasil riset perihal ketertarikan kaum muda, generasi Z dan milenial, terhadap gerakan Muhammadiyah. Riset bertajuk...

Fitri dalam Kesederhanaan Muhammadiyah

Setiap kali bulan Ramadan berakhir, umat Islam memasuki momentum spiritual yang sarat makna yaitu Idulfitri. Hari raya ini bukan sekadar penanda selesainya ibadah puasa, tetapi...

Sekolah Muhammadiyah sebagai Laboratorium Pengaderan Organisasi

Kita ketahui bersama bahwa ada dua jenis organisasi, yakni organisasi kader dan organisasi massa. Keduanya berbeda dalam hal kuantitas dan kualitas. Organisasi kader lebih menekankan...

Memprihatinkan, Indeks Persepsi Korupsi Indonesia Merosot

Beberapa hari lalu, Transparency International Indonesia  (TII) merilis hasil riset terbaru tentang Indeks Persepsi Korupsi (IPK). Hasil riset ini selalu dipublikasikan setiap awal tahun untuk...

Memperluas Dakwah Ekonomi Persyarikatan

Salah satu keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar tahun 2015 adalah perlunya memperluas gerakan ekonomi Persyarikatan, selain gerakan pendidikan dan kesehatan. Penguatan di bidang ekonomi...

Menyiapkan Generasi Adaptif dan Kompetitif

Hal menarik di era Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) saat ini adalah adanya kebijakan penerapan mata pelajaran (mapel) Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). KKA...

Kurikulum untuk Mencipakan Kecerdasan Unggul

Menurut laporan Unesco, fenomena disinformasi digital telah menjadi ancaman yang serius terhadap kohesi sosial dan kualitas demokrasi di berbagai negara. Persoalan ini bukan sekadar masalah...