Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Self-Love dan Konsep Syukur dalam Islam: Mencintai Diri sebagai Amanah Ilahi

Zahra Lu’lu’a Salsabila, Editor: Sholahuddin
Sabtu, 11 April 2026 18:32 WIB
Self-Love dan Konsep Syukur dalam Islam: Mencintai Diri sebagai Amanah Ilahi

Di era media sosial yang serba kompetitif, istilah self-love sering kali disalahpahami sebagai bentuk narsisme atau pemanjaan diri yang berlebihan. Namun, jika kita menggali lebih dalam melalui kacamata Islam, mencintai diri sendiri adalah sebuah kewajiban spiritual yang berakar kuat pada satu konsep fundamental: Syukur. Sebagaimana dijelaskan dalam penelitian Asmoro dan Nurrohim (2025) mengenai tafsir kata syukur, ibadah ini memiliki dimensi “ego-benefit” yang signifikan.

Artinya, ketika seseorang bersyukur, manfaat terbesarnya justru kembali kepada kesehatan mental dan stabilitas emosional dirinya sendiri. Dengan bersyukur, kita berhenti membandingkan diri dengan standar artifisial duniawi dan mulai menghargai keunikan potensi yang telah Allah titipkan sebagai bentuk penghormatan terhadap Sang Pencipta.

Mencintai diri sendiri dalam Islam juga berarti menjaga apa yang telah Allah amanahkan, baik secara fisik maupun psikis. Ahmad Nurrohim (2016) menekankan bahwa kesehatan mental (tuma’ninah) adalah hasil dari integrasi antara karakter yang mulia dan penerimaan diri yang tulus. Islam memandang jiwa yang tenang (nafs al-mutma’innah) sebagai puncak dari pencapaian spiritual manusia.

Oleh karena itu, melakukan perawatan diri (self-care) atau menjaga batasan mental dari pengaruh lingkungan yang buruk bukanlah bentuk keegoisan, melainkan upaya menjalankan tanggung jawab untuk menjaga titipan Tuhan. Hal ini diperkuat oleh pemikiran Nurrohim (2020) dalam Epistemologi Tafsir Kontemporer, yang menyebutkan bahwa pemahaman agama harus mampu menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam agar relevan dengan kebutuhan batin modern.

Sering kali kita merasa sulit untuk mencintai diri sendiri saat berada dalam pusaran kegagalan atau tekanan hidup. Di sinilah peran syukur hadir sebagai energi transformatif yang dahsyat. Menurut Nurrohim dan Istiqomah (2024) dalam buku Kesehatan Jiwa dalam Al-Qur’an, syukur adalah bentuk kecerdasan spiritual yang memungkinkan seseorang tetap memiliki regulasi emosi yang stabil meski di tengah badai.

Syukur mampu mengubah sudut pandang dari rasa putus asa menjadi pencarian hikmah yang mendewasakan. Inilah bentuk tertinggi dari self-love: memberikan ruang bagi diri untuk tumbuh melalui kesabaran dan rasa cukup (qana’ah), sehingga kegagalan tidak lagi dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai proses penyempurnaan jiwa.

Menariknya, konsep syukur ini juga bisa bersinergi dengan identitas budaya dan lokalitas yang membentuk jati diri kita. Riset Rahman dan Nurrohim (2025) menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal memperkuat bagaimana individu menginternalisasi rasa syukur ke dalam perilaku sehari-hari secara autentik. Mencintai diri berarti juga menerima akar sejarah dan identitas sosial kita sebagai bagian dari skenario Ilahi.

Sebagaimana ditegaskan dalam pemikiran Nurrohim (2019), pemahaman kita terhadap teks suci harus mewujud dalam tindakan nyata yang positif terhadap diri sendiri. Dengan mengintegrasikan syukur ke dalam setiap lini kehidupan, kita tidak hanya mencintai diri secara dangkal, tetapi membangun benteng jiwa yang kokoh, stabil, dan penuh kedamaian yang memancar dalam interaksi sosial kita.

Sebagai langkah praktis dalam menumbuhkan self-love, kita perlu melakukan refleksi mendalam terhadap nikmat-nikmat eksistensial yang sering kali terabaikan. Menurut Nurrohim (2022) dalam kajiannya tentang dakwah digital, transformasi diri dimulai dari kemampuan menyaring informasi dan narasi negatif di ruang siber yang sering kali merusak kepercayaan diri.

Menjaga kesehatan mental melalui batasan diri yang sehat (boundaries) adalah implementasi nyata dari cinta kepada diri sendiri. Akhirnya, dengan memahami konsep syukur secara menyeluruh seperti yang dipetakan dalam analisis tren oleh Ayuni, Nirwana, dan Nurrohim (2023) kita diajak untuk menyadari bahwa mencintai diri adalah sebuah perjalanan panjang untuk kembali kepada fitrah manusia yang mulia, tangguh, dan senantiasa terhubung dengan sumber segala cinta, yaitu Allah Swt.

Selain aspek internal, self-love yang berbasis syukur memiliki dampak signifikan terhadap relasi sosial seseorang. Nurrohim (2021) dalam kajiannya tentang Moderasi Beragama menjelaskan bahwa individu yang telah berdamai dengan dirinya sendiri cenderung lebih inklusif dan toleran terhadap perbedaan.

Ketika seseorang bersyukur atas eksistensinya, ia tidak merasa terancam oleh kelebihan orang lain. Inilah yang disebut sebagai kesalehan personal yang berujung pada kesalehan sosial; mencintai diri dengan cara yang benar akan melahirkan empati yang tulus, karena kita memandang orang lain juga sebagai sesama pembawa amanah Ilahi yang patut dihormati.

Di sisi lain, tantangan terbesar self-love saat ini adalah fenomena filter bubble dan standar kecantikan atau kesuksesan yang semu di dunia digital. Afifah dan Nurrohim (2024) dalam studi mereka mengenai transformasi digital mengingatkan bahwa algoritma sering kali memaksa kita untuk terus membandingkan diri (social comparison).

Tafsir kontekstual terhadap ayat-ayat syukur memberikan kita “perisai digital” untuk menyadari bahwa apa yang tampak di layar hanyalah fragmen kecil dari kenyataan. Dengan mencintai diri secara kontekstual, kita belajar untuk memvalidasi diri berdasarkan standar ketakwaan dan ketenangan batin, bukan berdasarkan jumlah likes atau pengikut di media sosial.

Selanjutnya, penting untuk memahami bahwa self-love dalam Islam juga mencakup aspek intelektual, yaitu memberikan hak bagi akal untuk terus berkembang. Ayuni, Nirwana, dan Nurrohim (2023) mencatat bahwa tren pendidikan Islam masa kini mulai mengintegrasikan kesehatan mental ke dalam kurikulum formal.

Mencintai diri berarti tidak membiarkan pikiran kita terpapar oleh narasi hoaks atau konten yang merusak moral. Sebagaimana perintah untuk memakan makanan yang halalan thayyiban, kita juga diperintahkan untuk mengonsumsi informasi yang sehat bagi jiwa. Syukur dalam hal ini mewujud dalam bentuk upaya menjaga kejernihan berpikir sebagai modal utama untuk beribadah dan berkarya.

Dalam konteks menghadapi kegagalan yang traumatis, Islam menawarkan konsep ridha sebagai bentuk self-love yang paling radikal. Nurrohim dkk. (2023) dalam penelitian tentang Hermeneutika Digital menyebutkan bahwa memahami takdir memerlukan kedalaman interpretasi yang tidak kaku.

Bersyukur saat lapang adalah hal biasa, namun bersyukur dalam sempit adalah bukti bahwa seseorang benar-benar mencintai dirinya dalam lindungan Tuhan. Kita tidak lagi menghakimi diri sendiri atas kegagalan yang terjadi di luar kendali, melainkan menerimanya sebagai bagian dari proses “pembersihan” atau pendewasaan jiwa agar lebih siap menerima tanggung jawab yang lebih besar di masa depan.

Lebih jauh lagi, integrasi antara sains dan wahyu memberikan pemahaman bahwa menjaga kesehatan fisik adalah bagian tak terpisahkan dari syukur. Nurrohim dkk. (2024) dalam publikasi terbaru mengenai Integrasi Sains menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki sistem biologis yang sangat kompleks yang harus dijaga fungsinya. Mencintai diri berarti memberikan hak tubuh untuk istirahat yang cukup, nutrisi yang baik, dan aktivitas fisik yang teratur. Syukur bukan lagi sekadar konsep abstrak di atas sajadah, melainkan gaya hidup sehat yang menghargai setiap sel tubuh sebagai mukjizat hidup yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Khalik.

Masa depan penerapan self-love dan syukur ini akan sangat bergantung pada bagaimana kita menavigasi otoritas keagamaan di ruang siber. Nurrohim (2023) menekankan pentingnya mencari rujukan spiritual yang menyejukkan dan memotivasi, bukan yang membebani jiwa dengan rasa bersalah yang tidak perlu.

Dengan mengikuti bimbingan yang tepat, self-love akan bertransformasi menjadi kekuatan pendorong untuk mencapai insan kamil (manusia sempurna). Pada akhirnya, syukur adalah kunci yang membuka pintu cinta sejati—cinta yang bermula dari pengenalan diri, berlanjut pada penerimaan tulus, dan bermuara pada pengabdian penuh kepada Allah Swt.

Referensi

Nurrohim, A. (2021). Moderasi Beragama di Tengah Pluralitas: Tantangan dan Harapan.

Afifah, A. N., & Nurrohim, A. (2024). Transformasi Tafsir Al-Qur’an di Era Digital: Studi Analisis Komperatif.

Nurrohim, A., dkk. (2023). Digital Hermeneutics: Navigating Quranic Interpretation in the Internet Age.

Nurrohim, A. (2023). Otoritas Keagamaan dan Pergeseran Tafsir di Ruang Siber.

Nurrohim, A., dkk. (2024). Integration of Science and Revelation in Contemporary Quranic Interpretation.

Nurrohim, A. (2022). Digital Da’wah: Challenges and Opportunities in the Millennial Era.

Asmoro, S. R. & Nurrohim, A. (2025). Komparasi Antara Tafsir Amin Al Khulli Dan Quraish Shihab Mengenai Kata Syukur sebagai Landasan Pendidikan Islam.

Nurrohim, A. (2016). Antara Kesehatan Mental dan Pendidikan Karakter: Pandangan Keislaman Terintegrasi.

Nurrohim, A. (2020). Epistemologi Tafsir Kontemporer: Relevansi Teks dalam Ruang Digital.

Nurrohim, A. & Istiqomah, K. (2024). Kesehatan Jiwa Dalam Al-Qur’an (Buku).

Rahman, M. V. A. & Nurrohim, A. (2025). Nyuuksemaang: Konsep Rasa Syukur dalam Interpretasi Bahasa Bali.

Share:

Berita Terbaru

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...

Child Grooming: Kejahatan Tersembunyi di Era Digital dan Tantangan terhadap Perlindungan Anak

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam etika berkomunikasi (Nurrohim, 2024). Internet dan media sosial memungkinkan interaksi tanpa batas ruang...

Valid Nggak Nih? Menguji Keaslian Konten Lewat Kacamata Langit

Daftar IsiSiapa “Si Fasiq” sekarang?Kenapa Otak Kita Gampang Termakan?Panduan Tabayyun dalam 60 DetikMenjadi kritis tidak harus menjadi jurnalis investigasi. Sebelum jempolmu menyentuh tombol share, luangkan 60...

Diam-Diam Menghancurkan: Krisis Kesehatan Mental yang Kita Abaikan di Era Modern

Ada seseorang di kantor Anda yang datang setiap hari, mengerjakan tugasnya, tertawa di saat yang tepat, dan tampak baik-baik saja. Tapi malam harinya, ia berbaring...

Rahasia Harmoni Rumah Tangga dalam Tafsir Kontemporer dan Psikologi Modern

Eksistensi institusi keluarga di era disrupsi saat ini tengah menghadapi badai modernisasi yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga merambah ke ranah fundamental nilai-nilai...

Makna Parenting yang Sering Hilang Saat Lebaran

Setiap Idulfitri, kita diajarkan untuk saling memaafkan. Kalimat “mohon maaf lahir dan batin” diucapkan berulang-ulang, mengalir begitu ringan dari anak kepada orang tua. Namun, di...

Belajar Mendalam pada Ramadan

Pembelajaran mendalam (deep learning) adalah pendekatan pedagogis yang menitik beratkan pada kedalaman pemahaman dan penguasaan konsep, tidak lagi pada luasnya materi atau hapalan fakta semata. Siswa yang...

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...