Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka

Hanif Syairafi Wiratama, Editor: Sholahuddin
Sabtu, 28 Februari 2026 13:01 WIB
Cinta Ditolak, Parang Bertindak: Ketika Romantisme Berubah Jadi Celaka
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Hanif Syairafi Wiratama (dok.pribadi).

Kabar dari Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau mengguncang ruang publik: seorang mahasiswa diduga membacok mahasiswi di ruang ujian karena cintanya ditolak. Ruang yang seharusnya menjadi tempat adu gagasan dan integritas akademis mendadak berubah menjadi lokasi kekerasan. Parang mengalahkan pena. Emosi mengalahkan etika. Dan, cinta kata yang sering kita puja tiba-tiba berubah menjadi alasan untuk melukai.CI

Peristiwa ini bukan sekadar kriminalitas biasa. Ia membuka luka tentang cara kita memaknai cinta. Mengapa penolakan bisa memicu amarah sedemikian brutal? Mengapa sebagian anak muda merasa berhak atas perasaan orang lain? Di sinilah kita melihat krisis moral yang lebih dalam daripada sekadar kasus individu.  Cinta dalam budaya populer sering digambarkan sebagai perjuangan total. Lagu, film, dan media sosial meromantisasi obsesi sebagai bukti kesetiaan. Penolakan dianggap penghinaan, bukan hak personal. Ketika imajinasi romantik tidak diimbangi kedewasaan emosi, cinta bisa berubah menjadi bara yang membakar akal sehat.

Kita hidup di era ketika posesif sering disalahartikan sebagai perhatian. Kalimat seperti “kalau bukan aku, tidak boleh siapa-siapa” terdengar dramatis dan dianggap bukti cinta mendalam. Padahal di baliknya tersembunyi benih kekerasan. Cinta sejati menghormati kebebasan, bukan mengurungnya dalam ketakutan. Namun narasi populer sering menukar batas sehat dengan intensitas emosi.

Mahasiswa adalah kelompok terdidik yang seharusnya akrab dengan diskursus etika dan rasionalitas. Ironisnya, ruang akademis pun tak kebal dari ledakan amarah personal. Ketika cinta ditolak, yang muncul bukan refleksi diri, melainkan rasa kepemilikan yang terluka. Seolah-olah perasaan orang lain bisa dituntut seperti hak administratif.

Kasus di Riau itu memperlihatkan bagaimana obsesi bisa berubah menjadi agresi. Penolakan tidak diterjemahkan sebagai hak perempuan untuk memilih. Ia dipersepsikan sebagai penghinaan yang harus “dibalas”. Ini bukan sekadar persoalan asmara gagal, tetapi kegagalan memahami batas dan martabat manusia.

Ada dimensi lain yang perlu dibicarakan secara jujur: konstruksi maskulinitas. Sebagian laki-laki dibesarkan dengan keyakinan bahwa penolakan adalah aib. Ego menjadi terlalu rapuh untuk menerima kata “tidak”. Dalam budaya tertentu, harga diri ditempatkan di atas segalanya. Ketika ditolak, yang terasa bukan sekadar kecewa, tetapi kehormatan yang runtuh.

Padahal kedewasaan justru diukur dari kemampuan menerima penolakan. Cinta bukan kontrak sepihak. Ia harus lahir dari kerelaan dua pihak. Ketika satu pihak memaksakan kehendak, itu bukan lagi cinta, melainkan dominasi. Dan dominasi yang gagal sering berujung pada kekerasan.  Ruang ujian di kampus menjadi simbol tragis. Ia melambangkan masa depan dan harapan. Namun, di sana pula terjadi tindakan yang mencoreng makna pendidikan. Ini menampar kita semua: gelar dan IPK tidak otomatis melahirkan kedewasaan moral.

Krisis Pendidikan Emosi di Kampus

Perguruan tinggi sering fokus pada capaian akademik. Diskusi tentang manajemen emosi, relasi sehat, dan kesehatan mental masih dianggap pelengkap. Padahal justru di usia mahasiswa, dinamika cinta dan relasi sangat intens. Tanpa pendampingan nilai yang kuat, konflik personal bisa meledak menjadi tragedi.  Kasus ini juga menjadi alarm tentang pentingnya literasi relasi. Mahasiswa perlu memahami konsep consent (persetujuan), batas pribadi, dan penghormatan terhadap pilihan orang lain. Cinta yang sehat tidak menuntut balasan dengan ancaman. Ia menerima kemungkinan gagal tanpa menghilangkan kemanusiaan.

Kita juga perlu berhenti menyederhanakan peristiwa ini sebagai “khilaf sesaat”. Kekerasan tidak lahir dalam satu detik. Ia tumbuh dari pola pikir yang salah, dari kebiasaan memaklumi posesif, dari candaan yang merendahkan perempuan. Jika akar ini tidak dicabut, tragedi serupa bisa terulang. Peristiwa di UIN Suska Riau seharusnya menjadi momentum refleksi kolektif. Kampus bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter. Pendidikan tanpa etika hanya melahirkan kecerdasan yang dingin. Dan kecerdasan tanpa empati bisa berbahaya. Cinta tidak pernah membenarkan kekerasan. Jika ada darah yang tertumpah atas nama cinta, maka itu bukan cinta itu ego yang kehilangan kendali. Kita perlu berani mengatakan bahwa penolakan adalah hak, bukan tantangan untuk dibalas. Bahwa harga diri tidak runtuh hanya karena perasaan tidak terbalas.

Krisis moral cinta ini mengingatkan kita bahwa generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar teori. Mereka membutuhkan teladan, dialog terbuka, dan pendidikan emosi yang serius. Jika tidak, ruang-ruang belajar bisa kembali berubah menjadi ruang trauma. Dan kita semua akan bertanya lagi, mengapa cinta yang seharusnya menghidupkan justru berubah menjadi ancaman.

Penulis adalah kader muda Muhammadiyah

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Aku Tidak Durhaka, Aku Hanya Lelah Terluka

Ada luka yang tidak pernah terlihat di kulit, tetapi terus berdarah di dalam hati. Luka itu bukan datang dari teman, pasangan, atau orang asing, melainkan...

Membangun Cinta kepada Nabi Muhammad Saw. (Bagian I)

Kasih sayang Allah Swt. kepada manusia salah satunya diwujudkan melalui petunjuk yang disampaikan para nabi dan rasul. Allah Swt. tidak membiarkan manusia hidup tanpa pedoman,...

Jangan Remehkan Satu Menit Orang Lain

Dalam hidup, kita sering diajarkan menghitung tahun, mengejar target bulanan, dan menyusun rencana lima tahunan. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa perubahan terbesar justru sering...

Dingin…

Kang Karto siuman. Ia bangun dari hibernasi yang panjang. Selama hibernasi, dia puasa bicara situasi politik di kampungnya. Kang Karto menyepi dari keramaian setelah melahap...

Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah yang Luwes dan Luas

Sentralisasi pendidikan Muhammadiyah di Solo sangat dinamis, luas dan luwes. Konsep sentralisasi pendidikan sebagai sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan secara terpusat di mana segala keputusan,...

Satu Arah, Banyak Sekolah: Refleksi atas Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

“Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo”, judul artikel yang ditulis oleh Dr. Mohamad Ali, Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo pada laman...

Awal Mula Sentralisasi Pendidikan Muhammadiyah Solo

Salah satu manifestasi gerakan Muhammadiyah yang paling mudah ditangkap dan dirasakan oleh publik adalah hadirnya lembaga pendidikan formal mulai dari jenjang pra-sekolah, sekolah, sampai tingkat...

Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan

Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....

Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah

Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...

Peta Mutu Pendidikan Kota Solo

Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....

Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing

Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...

Politeisme Politik Indonesia

Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...