
Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga” dengan suara lirih, di media sosial muncul ucapan “Selamat Hari Pahlawan 🇮🇩,” dan di kantor pemerintahan bendera dikibarkan setengah tiang.
Namun, setelah upacara selesai, kesunyian kembali datang. Kita sibuk dengan urusan masing-masing. Pertanyaannya: apa yang tersisa dari Hari Pahlawan selain seremoni dan status media sosial? Di zaman Bung Tomo, menjadi pahlawan berarti berani mengangkat bambu runcing melawan peluru.
Di zaman kita sekarang, menjadi pahlawan seharusnya berarti berani melawan kebodohan, ketidakadilan, dan korupsi yang menggerogoti negeri ini. Tapi anehnya, semakin banyak gelar pahlawan nasional yang diberikan, semakin sedikit orang yang benar-benar berani mengambil risiko untuk membela kebenaran.
Kita seolah hidup di zaman yang bukan kekurangan pahlawan, tapi kelebihan penonton. Semua orang punya komentar, semua merasa benar, tapi sedikit sekali yang mau bergerak.
Dari Pahlawan ke Selebriti
Zaman dulu, pahlawan dikenal karena perjuangannya. Zaman sekarang, banyak dikenal karena followers-nya. Narasi kepahlawanan bergeser dari medan perang ke layar ponsel. Anak-anak muda lebih mengenal nama artis TikTok daripada nama Cut Nyak Dien. Para influencer bisa menginspirasi jutaan orang untuk membeli barang, tapi belum tentu bisa menginspirasi satu orang untuk berbuat baik.
Padahal, dalam catatan sejarah, para pahlawan justru tidak mencari ketenaran. Mereka berjuang bukan karena ingin dikenal, tapi karena ingin merdeka. Bung Tomo tak punya kamera, tapi suaranya mengguncang Surabaya. Kartini tak punya akun media sosial, tapi tulisannya masih menggugah hati hingga kini. Mereka bukan bintang mereka bara api.
Kini, kita sering memuja keberhasilan tanpa perjuangan. Mengidolakan kemewahan tanpa nilai. Maka jangan heran jika kata “pahlawan” hari ini lebih sering dipakai untuk promosi: Pahlawan UMKM, Pahlawan Rupiah, Pahlawan Lingkungan, atau bahkan Pahlawan Like dan Share. Kita kreatif dalam membuat slogan, tapi lupa menyalakan semangat.
Pahlawan Tanpa Medali
Meski begitu, tidak semua semangat kepahlawanan padam. Masih banyak pahlawan yang tidak terlihat di layar kaca. Pahlawan yang tidak menuntut disebut pahlawan. Mereka adalah guru di pelosok, tenaga medis di daerah terpencil, petani yang terus menanam meski hasilnya tak seberapa, dan relawan yang mengorbankan waktu untuk sesama.
Mereka tidak memegang senjata, tapi melawan kebodohan dan kemiskinan. Mereka tidak berorasi di podium, tapi mengubah hidup orang lewat tindakan kecil yang konsisten. Sayangnya, di negeri ini, pahlawan tanpa tanda jasa seringkali juga tanpa penghargaan.
Guru yang mendidik generasi bangsa digaji pas-pasan. Petani yang memberi makan negeri sering dibiarkan berjuang sendiri. Ironisnya, yang paling banyak bicara soal nasionalisme justru yang paling sedikit memberi bukti.
Seorang ulama besar, Syekh Yusuf al-Makassari, pernah berkata, “Jihad terbesar bukan melawan musuh di luar, tapi hawa nafsu dalam diri.” Itulah yang hari ini paling sulit kita menangkan. Kita kalah oleh keinginan untuk hidup nyaman, aman, dan tidak mau repot.
Antara Patriotisme dan Kenyamanan
Patriotisme dulu diukur dari darah dan air mata. Sekarang, patriotisme sering diukur dari seberapa sering kita update status bertema perjuangan. Kita bangga menjadi “anak bangsa”, tapi cuek saat melihat sampah berserakan. Kita marah jika bendera dikibarkan terbalik, tapi diam ketika korupsi merajalela.
Kita hafal lagu perjuangan, tapi enggan berjuang melawan ego dan kepentingan pribadi. Itulah paradoks kepahlawanan hari ini: semangat besar, aksi kecil. Kita terlalu sibuk mencari kenyamanan, padahal sejarah bangsa ini dibangun oleh orang-orang yang justru meninggalkan kenyamanannya.
Menjadi Pahlawan di Zaman Sekarang
Menjadi pahlawan hari ini tidak harus berperang. Tidak perlu bambu runcing atau seragam. Cukup mulai dari hal-hal kecil yang jarang dilakukan orang:
-Menjaga integritas di tengah sistem yang korup.
-Menolak ikut-ikutan hoaks dan ujaran kebencian.
-Mengajar anak-anak dengan sabar dan kasih sayang.
-Berani menyampaikan kebenaran, walau tidak populer.
-Membantu tanpa harus viral.
Itu semua bentuk kepahlawanan yang sejati. Seperti kata Buya Hamka, “Pahlawan ialah orang yang berani berkata benar di saat orang lain takut mengucapkannya.” Jadi, Hari Pahlawan bukan hanya untuk mengingat masa lalu, tapi menguji diri kita hari ini masih adakah semangat itu di dada kita? Apakah kita sedang memperjuangkan sesuatu yang lebih besar dari diri kita, atau sekadar mempertahankan zona nyaman?
Dari Ingatan ke Tindakan
Kita sering menyebut nama-nama pahlawan dengan penuh hormat. Tapi penghormatan sejati bukanlah pada nama, melainkan pada nilai yang mereka perjuangkan. Pahlawan sejati tidak butuh monumen, karena perjuangannya sudah tertulis di hati orang-orang yang mau melanjutkannya.
Hari ini, mungkin kita tidak bisa seperti Bung Tomo yang berteriak di tengah kobaran api. Tapi kita bisa menjadi guru yang menyalakan api semangat di dada murid. Kita mungkin tidak bisa seperti Pattimura yang mengangkat parang, tapi kita bisa mengangkat kesadaran di tengah masyarakat.
Kita mungkin tidak gugur di medan perang, tapi jangan biarkan jiwa kita gugur karena diam. Sebab kemerdekaan bukan hanya hasil perjuangan, tapi juga hasil penjagaan. Dan kalau hari ini kita masih lebih suka menjadi penonton ketimbang pelaku, maka kita sedang mengkhianati pengorbanan para pahlawan itu sendiri.
Jadi, di Hari Pahlawan ini mari berhenti hanya mengenang. Mari bergerak, karena bangsa ini tidak butuh lebih banyak status, tapi lebih banyak tindakan.
Adab, Warisan Nabi Muhammad Saw. yang Harus Diamalkan
Di zaman ketika ilmu semakin mudah didapat, justru adab semakin sulit ditemukan. Banyak orang cerdas, tetapi kurang santun. Banyak yang pandai berbicara, tetapi kurang menghormati....
Negara Minta Kita Rajin Membaca, tapi Buku Terasa Mewah
Setiap tanggal Hari Buku Nasional atau Hari Pendidikan Nasional, kita selalu mendengar kalimat yang sama: minat baca masyarakat Indonesia harus meningkat. Pemerintah, sekolah, kampus, hingga...
Peta Mutu Pendidikan Kota Solo
Pada Jumat (14 Juli 2026) sore, saya membaca postingan di sebuah akun di Facebook tentang peringkat TKA (Tes Kemampuan Akademik) jenjang SMP di Kota Solo....
Dakwah Muhammadiyah Melalui Kucing
Seorang teman aktivis pencinta kucing, Rabu (8/7/2026) malam, tiba-tiba telepon. “Selamat ya Muhammadiyah mendirikan KucingMU,” ujarnya dengan suara ceria. Dia menyampaikan ucapan selamat ke saya,...
Politeisme Politik Indonesia
Praksis politik di Indonesia itu, fully politeistik (penuh kemusyrikan). Nilai-nilai ketuhanan (kebenaran dan kebaikan universal) tidak menjadi pusat orientasi, tapi orientasinya adalah kepentingan-kepentingan. Saat bicara...
Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah
Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...
Belajar Bernapas di Tengah Sesak
Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...
TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba
Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...
Sang Pencari Makna
“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...
Menolak Politeisme Politik
Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...
Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta
Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...
Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku
“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...






