Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Refleksi

Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton

Rivaldi Tamapedung, Editor: Alan Aliarcham
Senin, 17 November 2025 12:29 WIB
Kita Bukan Kekurangan Pahlawan, Tapi Kelebihan Penonton
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono Boyolali menggelar kegiatan inspiratif bertajuk “Ngopi” (Ngobrol Pahlawan Indonesia) di halaman sekolah pada Senin, (10/11/2025). (Humas)

Setiap 10 November, bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu kata yang berat tapi kian terasa ringan diucapkan: pahlawan. Di sekolah-sekolah, anak-anak menyanyikan lagu “Gugur Bunga” dengan suara lirih, di media sosial muncul ucapan “Selamat Hari Pahlawan 🇮🇩,” dan di kantor pemerintahan bendera dikibarkan setengah tiang.

Namun, setelah upacara selesai, kesunyian kembali datang. Kita sibuk dengan urusan masing-masing. Pertanyaannya: apa yang tersisa dari Hari Pahlawan selain seremoni dan status media sosial? Di zaman Bung Tomo, menjadi pahlawan berarti berani mengangkat bambu runcing melawan peluru.

Di zaman kita sekarang, menjadi pahlawan seharusnya berarti berani melawan kebodohan, ketidakadilan, dan korupsi yang menggerogoti negeri ini. Tapi anehnya, semakin banyak gelar pahlawan nasional yang diberikan, semakin sedikit orang yang benar-benar berani mengambil risiko untuk membela kebenaran.

Kita seolah hidup di zaman yang bukan kekurangan pahlawan, tapi kelebihan penonton. Semua orang punya komentar, semua merasa benar, tapi sedikit sekali yang mau bergerak.

Dari Pahlawan ke Selebriti

Zaman dulu, pahlawan dikenal karena perjuangannya. Zaman sekarang, banyak dikenal karena followers-nya. Narasi kepahlawanan bergeser dari medan perang ke layar ponsel. Anak-anak muda lebih mengenal nama artis TikTok daripada nama Cut Nyak Dien. Para influencer bisa menginspirasi jutaan orang untuk membeli barang, tapi belum tentu bisa menginspirasi satu orang untuk berbuat baik.

Padahal, dalam catatan sejarah, para pahlawan justru tidak mencari ketenaran. Mereka berjuang bukan karena ingin dikenal, tapi karena ingin merdeka. Bung Tomo tak punya kamera, tapi suaranya mengguncang Surabaya. Kartini tak punya akun media sosial, tapi tulisannya masih menggugah hati hingga kini. Mereka bukan bintang mereka bara api.

Kini, kita sering memuja keberhasilan tanpa perjuangan. Mengidolakan kemewahan tanpa nilai. Maka jangan heran jika kata “pahlawan” hari ini lebih sering dipakai untuk promosi: Pahlawan UMKM, Pahlawan Rupiah, Pahlawan Lingkungan, atau bahkan Pahlawan Like dan Share. Kita kreatif dalam membuat slogan, tapi lupa menyalakan semangat.

Pahlawan Tanpa Medali

Meski begitu, tidak semua semangat kepahlawanan padam. Masih banyak pahlawan yang tidak terlihat di layar kaca. Pahlawan yang tidak menuntut disebut pahlawan. Mereka adalah guru di pelosok, tenaga medis di daerah terpencil, petani yang terus menanam meski hasilnya tak seberapa, dan relawan yang mengorbankan waktu untuk sesama.

Mereka tidak memegang senjata, tapi melawan kebodohan dan kemiskinan. Mereka tidak berorasi di podium, tapi mengubah hidup orang lewat tindakan kecil yang konsisten. Sayangnya, di negeri ini, pahlawan tanpa tanda jasa seringkali juga tanpa penghargaan.

Guru yang mendidik generasi bangsa digaji pas-pasan. Petani yang memberi makan negeri sering dibiarkan berjuang sendiri. Ironisnya, yang paling banyak bicara soal nasionalisme justru yang paling sedikit memberi bukti.

Seorang ulama besar, Syekh Yusuf al-Makassari, pernah berkata, “Jihad terbesar bukan melawan musuh di luar, tapi hawa nafsu dalam diri.” Itulah yang hari ini paling sulit kita menangkan. Kita kalah oleh keinginan untuk hidup nyaman, aman, dan tidak mau repot.

Antara Patriotisme dan Kenyamanan

Patriotisme dulu diukur dari darah dan air mata. Sekarang, patriotisme sering diukur dari seberapa sering kita update status bertema perjuangan. Kita bangga menjadi “anak bangsa”, tapi cuek saat melihat sampah berserakan. Kita marah jika bendera dikibarkan terbalik, tapi diam ketika korupsi merajalela.

Kita hafal lagu perjuangan, tapi enggan berjuang melawan ego dan kepentingan pribadi. Itulah paradoks kepahlawanan hari ini: semangat besar, aksi kecil. Kita terlalu sibuk mencari kenyamanan, padahal sejarah bangsa ini dibangun oleh orang-orang yang justru meninggalkan kenyamanannya.

Menjadi Pahlawan di Zaman Sekarang

Menjadi pahlawan hari ini tidak harus berperang. Tidak perlu bambu runcing atau seragam. Cukup mulai dari hal-hal kecil yang jarang dilakukan orang:

-Menjaga integritas di tengah sistem yang korup.

-Menolak ikut-ikutan hoaks dan ujaran kebencian.

-Mengajar anak-anak dengan sabar dan kasih sayang.

-Berani menyampaikan kebenaran, walau tidak populer.

-Membantu tanpa harus viral.

Itu semua bentuk kepahlawanan yang sejati. Seperti kata Buya Hamka, “Pahlawan ialah orang yang berani berkata benar di saat orang lain takut mengucapkannya.” Jadi, Hari Pahlawan bukan hanya untuk mengingat masa lalu, tapi menguji diri kita hari ini masih adakah semangat itu di dada kita? Apakah kita sedang memperjuangkan sesuatu yang lebih besar dari diri kita, atau sekadar mempertahankan zona nyaman?

Dari Ingatan ke Tindakan

Kita sering menyebut nama-nama pahlawan dengan penuh hormat. Tapi penghormatan sejati bukanlah pada nama, melainkan pada nilai yang mereka perjuangkan. Pahlawan sejati tidak butuh monumen, karena perjuangannya sudah tertulis di hati orang-orang yang mau melanjutkannya.

Hari ini, mungkin kita tidak bisa seperti Bung Tomo yang berteriak di tengah kobaran api. Tapi kita bisa menjadi guru yang menyalakan api semangat di dada murid. Kita mungkin tidak bisa seperti Pattimura yang mengangkat parang, tapi kita bisa mengangkat kesadaran di tengah masyarakat.

Kita mungkin tidak gugur di medan perang, tapi jangan biarkan jiwa kita gugur karena diam. Sebab kemerdekaan bukan hanya hasil perjuangan, tapi juga hasil penjagaan. Dan kalau hari ini kita masih lebih suka menjadi penonton ketimbang pelaku, maka kita sedang mengkhianati pengorbanan para pahlawan itu sendiri.

Jadi, di Hari Pahlawan ini mari berhenti hanya mengenang. Mari bergerak, karena bangsa ini tidak butuh lebih banyak status, tapi lebih banyak tindakan.

Berita Terbaru

Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku

“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...

Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental

Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...

Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah

Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...

Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...

Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone

Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...

Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026

Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...

Ketika Silaturahmi Berubah Jadi Panggung Kesombongan

Idulfitri seharusnya menjadi momen paling sakral dalam perjalanan spiritual seorang Muslim. Setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, dan melatih keikhlasan, hari kemenangan itu datang sebagai...

Idulfitri : Kembali dalam Pelukan Fitrah

Malam-malam terakhir Ramadan selalu terasa berbeda. Ada haru yang sulit dijelaskan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Doa-doa dipanjatkan dengan lebih lirih, istighfar diulang...

Puasa Sepanjang Tahun

Saat bulan Ramadan berlalu, pertanyaan penting yang patut diajukan adalah: what’s next? Apakah puasa selesai bersama berakhirnya Ramadan, atau justru di situlah puasa yang sesungguhnya...

MBG, Syirik dan Tauhid

Rakus, licik, dan jahat. Tiga kata ini sering saya sampaikan ketika dimintai pendapat mengenai politik anggaran program MBG (Makan Bergizi Gratis). Jika melihat pola perencanaan...

Menemukan Diri dalam Keheningan Puasa

Setiap tahun Ramadhan datang dengan suasana yang hampir selalu sama, tetapi rasanya tetap berbeda. Jalanan menjelang maghrib lebih ramai, masjid kembali hidup dengan suara tadarus,...

Sunnatullah: Sumber Islam Berkemajuan?

“Secara tradisional, akidah berfokus pada pertanyaan “apakah Tuhan ada?”, namun dalam Islam Berkemajuan tantangannya melampaui itu, menuju aktualisasi iman dalam kehidupan modern,” demikian disampaikan Prof. ...