Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Ketika Parenting Jadi Ajang Pamer di Media Sosial

Dr. Elinda Rizkasari, Editor: Sholahuddin
Rabu, 27 Agustus 2025 09:45 WIB
Ketika Parenting Jadi Ajang Pamer di Media Sosial
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dr. Elinda Rizkasari (dok. pribadi).

Di era digital sekarang, hampir setiap momen kehidupan keluarga terekam di layar ponsel. Foto anak baru lahir, video lucu mereka merangkak, hingga prestasi akademis, semuanya dibagikan ke media sosial. Seolah-olah parenting bukan lagi soal mendidik anak, melainkan panggung untuk menunjukkan diri sebagai orang tua yang sukses. Fenomena ini semakin terlihat di kalangan orang tua muda; alih-alih hanya berbagi kebahagiaan, media sosial kerap menjadi arena “adu parenting”.

Berbagi momen parenting di media sosial memang memiliki sisi positif: inspirasi menu sehat, tip tumbuh-kembang, dan edukasi seputar anak banyak ditemukan berkat unggahan sesama orang tua. Namun, batas antara berbagi dan pamer sangat tipis. Ketika anak yang belum bisa memilih atau memberi persetujuan sering dijadikan “konten”, dua bahaya besar mengintai: privasi anak terabaikan dan beban psikologis yang mulai terbentuk sejak dini.

Psikolog anak Seto Mulyadi (Kak Seto), dalam salah satu webinar parenting tahun 2024, mengingatkan bahwa orang tua harus menyadari anak memiliki hak atas identitas dan privasi digitalnya sendiri. “Apa yang orang tua unggah hari ini, bisa menjadi jejak digital permanen yang memengaruhi harga diri anak di masa depan,” tegasnya. Pandangan ini sejalan dengan banyak psikolog internasional yang menekankan konsep digital footprint sejak dini.

Melihat unggahan parenting yang ideal di media sosial,  sering menimbulkan tekanan sosial. Banyak orang tua jadi merasa “kurang”, seperti mendapati diri bertanya, “Kenapa anakku belum bisa membaca di usia empat tahun?” atau “Kenapa bekal anakku tidak sekreatif itu?” Perasaan inferior seperti ini muncul karena media sosial biasanya hanya menampilkan versi “terbaik” dari realitas.

Praktisi pendidikan anak usia dini, Najeela Shihab, pernah menyoroti fenomena ini. Menurutnya, media sosial sering memicu toxic comparison di antara orang tua. “Alih-alih fokus mendampingi anak sesuai kebutuhan uniknya, orang tua jadi sibuk mengejar standar ilusi yang dibangun dari unggahan media sosial. Akibatnya, anak kehilangan kebebasan untuk berkembang sesuai potensinya,” ujarnya dalam diskusi “Parenting Digital Era” yang digelar komunitas Keluarga Kita.

Dampak Nyata pada Anak dan Keluarga

Bila tren parenting yang dipamerkan ini dibiarkan berkembang, ada sejumlah konsekuensi nyata yang perlu diwaspadai. Privasi anak menjadi rentan karena foto atau video mereka bisa disalahgunakan oleh pihak tidak bertanggung jawab. Kehilangan momen autentik juga menjadi risiko, ketika orang tua lebih sibuk mencari sudut foto terbaik daripada benar-benar hadir. Relasi dalam keluarga bisa menjadi dangkal karena fokus teralihkan pada citra di media sosial. Bahkan, tekanan berlebih bisa dirasakan anak, yang merasa harus selalu tampil sempurna demi “citra” orang tua di dunia maya.

Peneliti komunikasi digital Universitas Indonesia, Dr. Widya Kartika, menyebut fenomena ini sebagai bentuk “commodification of childhood” atau komodifikasi masa kecil. “Ketika setiap prestasi dan keseharian anak direduksi menjadi konten yang bisa ‘dijual’ ke publik, nilai kemanusiaan anak sebagai individu berkurang. Ia berubah menjadi simbol kebanggaan orang tua, bukan pribadi yang tumbuh secara autentik,” jelasnya.

Isu ini makin relevan jika kita kaitkan dengan data terbaru. Survei We Are Social 2025 mencatat penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 79,5 persen populasi, dengan Generasi Z menyentuh 87 persen. Artinya, hampir separuh anak di bawah 12 tahun sudah bersentuhan dengan media sosial secara langsung maupun tidak langsung.

Lebih dari itu, survei GoodStats YouGov (2025) menunjukkan 82 persen orang tua di Indonesia sudah mengizinkan anaknya mengakses media sosial, tetapi hanya 35 persen yang rutin memantau aktivitas digital anak. TikTok bahkan dinilai sebagai platform paling berisiko, disusul Twitter/X. Fakta ini memperlihatkan bahwa penggunaan media sosial pada keluarga muda sangat masif, sementara kesadaran perlindungan anak masih terbatas.

Parenting bukan kompetisi, melainkan perjalanan panjang penuh cinta dan perhatian. Kehadiran orang tua bukan pencitraan adalah yang paling dibutuhkan anak itu sendiri.

Kesadaran ini bisa dimulai dengan membatasi eksposur anak di dunia maya. Tidak semua momen perlu dipublikasikan. Orang tua juga perlu kembali fokus pada kualitas interaksi. Anak lebih membutuhkan pelukan, perhatian, dan waktu bersama ketimbang like atau komentar. Media sosial tetap bisa digunakan secara sehat, yakni untuk berbagi ilmu dan pengalaman, bukan sebagai ajang pembuktian. Dan, yang terpenting, orang tua harus belajar menghargai privasi anak sebagai hak yang melekat sejak lahir.

Media sosial memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern. Namun, sebagai orang tua, kita perlu bijak menempatkan diri. Jangan sampai parenting berubah menjadi ajang pamer yang justru merugikan anak.

Anak bukan konten, bukan pula trofi kebanggaan untuk ditunjukkan ke dunia maya. Mereka adalah individu yang perlu dibimbing dengan penuh cinta, didampingi dengan kehadiran nyata, dan dihargai martabatnya. Pada akhirnya, keberhasilan orang tua bukan ditentukan oleh seberapa viral postingan di Instagram, melainkan seberapa anak merasa dicintai, aman, dan bahagia di dalam keluarga.

Penulis adalah  dosen Prodi PGSD Unisri Surakarta

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...