Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Menyemai Cahaya di Ujung Negeri: Kiprah Muhammadiyah di Kepulauan Sangihe

Muh. Ali Lintuhaseng, Editor: Sholahuddin
Minggu, 3 Agustus 2025 15:17 WIB
Menyemai Cahaya di Ujung Negeri: Kiprah Muhammadiyah di Kepulauan Sangihe
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Muh. Ali Lintuhaseng (dok. pribadi).

Di ujung utara Indonesia, tempat laut biru Pasifik membentang tanpa batas dan pulau-pulau kecil berdiri gagah di tengah gelombang, terdapat gugusan wilayah yang dikenal sebagai Kepulauan Sangihe. Daerah ini bukan hanya dianugerahi kekayaan alam yang memesona, tetapi juga menyimpan keragaman budaya dan agama yang luar biasa. Masyarakatnya hidup dalam keberagaman suku, bahasa, keyakinan, dan tradisi. Meski berbeda-beda, masyarakat Sangihe menjunjung tinggi toleransi, gotong royong, dan rasa hormat antarsesama. Dalam ruang sosial yang majemuk dan dinamis inilah, Muhammadiyah kemudian menapakkan jejak perjuangannya.

Muhammadiyah, sebuah gerakan Islam modernis yang lahir di Yogyakarta pada tahun 1912, sejatinya dibangun dengan semangat tajdid, pembaruan dalam beragama dan bermasyarakat. Gerakan ini tidak berhenti di pusat kota besar, melainkan menjangkau hingga ke wilayah pinggiran dan perbatasan. Salah satu tonggak bersejarahnya adalah kehadiran Muhammadiyah di Kepulauan Sangihe (dulu Sangihe Talaud) pada tahun 1927, hanya lima belas tahun setelah organisasi ini lahir.

Kehadirannya di Sangihe bukan dalam bentuk arak-arakan megah atau fasilitas serba lengkap. Muhammadiyah hadir dalam kesederhanaannya yang sarat makna, membawa cita-cita membangun masyarakat berkemajuan di tengah keterbatasan infrastruktur, akses transportasi, serta minimnya layanan pendidikan dan keagamaan. Dalam keterbatasan itu justru tersimpan peluang besar untuk menyemai cahaya perubahan.

Sejak awal, Muhammadiyah menempatkan pendidikan sebagai poros utama gerakan sosialnya. Di Sangihe, gerakan ini hadir dengan mendirikan berbagai satuan pendidikan, mulai dari tingkat anak usia dini (PAUD), sekolah dasar, hingga menengah. Langkah ini bukan semata-mata membuka ruang belajar formal, melainkan juga membuka jalan perbaikan kualitas hidup masyarakat.

Dengan semangat keikhlasan dan pengabdian, para guru Muhammadiyah menjalankan peran mereka bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembina karakter dan agen perubahan sosial. Sekolah-sekolah Muhammadiyah menjadi tempat tumbuhnya nilai-nilai religius, kedisiplinan, cinta tanah air, dan semangat kebersamaan. Tidak sedikit alumni dari madrasah dan sekolah Muhammadiyah Sangihe yang kemudian menjadi tokoh masyarakat, pendidik, bahkan pemimpin lokal.

Amal Usaha: Dakwah dalam Tindakan

Tak kalah penting dari pendidikan adalah kiprah dakwah Muhammadiyah yang berakar kuat di masyarakat. Muhammadiyah memahami bahwa dakwah bukan hanya soal ceramah di mimbar, tetapi juga bagaimana ajaran Islam dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari secara nyata. Oleh karena itu, dakwah Muhammadiyah di Sangihe dilakukan melalui beragam pendekatan: pengajian umum mingguan, bulanan, kajian terbatas di rumah-rumah warga, bahkan ceramah dan diskusi keagamaan di lembaga pendidikan.

Gerakan ini tidak kaku dalam metode, melainkan fleksibel, komunikatif, dan adaptif terhadap budaya lokal. Dengan bahasa yang membumi dan pesan yang mencerahkan, kegiatan tablig Muhammadiyah menjangkau berbagai kalangan dari anak-anak, remaja, orang tua, hingga tokoh masyarakat. Inilah dakwah yang mengedepankan keilmuan dan keteladanan, bukan sekadar seruan verbal.

Lebih dari sekadar menyampaikan pesan, Muhammadiyah di Sangihe membuktikan bahwa dakwah juga harus terwujud dalam kerja sosial yang nyata. Hal ini tampak dalam pendirian berbagai amal usaha, seperti masjid, mushola, dan panti asuhan. Lembaga-lembaga ini bukan hanya simbol kehadiran Muhammadiyah, tetapi juga wadah konsolidasi gerakan sosial keumatan.  Panti asuhan Muhammadiyah menjadi tempat pembinaan anak-anak yatim dan dhuafa dengan pendekatan spiritual, pendidikan, dan keterampilan hidup. Sementara itu, masjid dan mushola menjadi pusat kegiatan keagamaan yang terus hidup dari pengajian, diskusi, hingga kegiatan sosial masyarakat.

Dengan seluruh peran tersebut, kehadiran Muhammadiyah di Kepulauan Sangihe telah membentuk ekosistem kebaikan yang menyatu dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan, dakwah, dan amal usaha bersinergi membangun lingkungan yang tercerahkan, harmonis, dan religius. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Muhammadiyah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi sosial-keagamaan masyarakat Sangihe.

Gerakan ini tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun harapan dan karakter, membentuk generasi yang berpikir maju namun tetap berakar pada nilai-nilai Islam yang toleran dan inklusif.  Kini, hampir satu abad setelah kehadirannya di Kepulauan Sangihe, Muhammadiyah telah menorehkan banyak capaian. Namun, tantangan zaman terus berubah. Digitalisasi, perubahan budaya generasi muda, serta tantangan ekonomi global menuntut Muhammadiyah untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Menyemai cahaya di ujung negeri bukan sekadar narasi romantis, melainkan wujud dari perjuangan panjang, konsistensi nilai, dan kerja nyata. Di perbatasan negeri, di tengah pulau-pulau kecil yang mungkin luput dari perhatian pusat, cahaya itu terus menyala menerangi ruang-ruang gelap ketertinggalan dan kebodohan.  Dan selama masih ada keyakinan bahwa perubahan bisa dimulai dari manapun, Muhammadiyah akan terus menyalakan pelita-pelita harapan, bahkan dari tempat yang paling sunyi sekalipun seperti di Kepulauan Sangihe.

Penulis adalah Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sangihe

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

TKA Bukan Momok

Tes Kemampuan Akademik (TKA) dirancang sebagai instrumen asesmen yang menjalankan tiga fungsi utama, yaitu assessment of learning untuk menggambarkan capaian belajar peserta didik, assessment for...

Berbuka atau Balas Dendam? Ancaman Lonjakan Gula Darah di Bulan Ramadan

Azan Magrib berkumandang. Dalam hitungan menit, meja dipenuhi kolak, es buah, sirup, kurma berlumur madu, gorengan, dan minuman manis berwarna mencolok. Setelah hampir 13 jam...

Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Ramadan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. Namun, di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu...

Penerapan KHGT, Babak Baru Peradaban Kalender Islam

Di era modern ini, hampir seluruh dunia sepakat menggunakan kalender berbasis matahari, yakni Kalender Gregorian. Pergantian hari ditetapkan pada pukul 00.00, dan pergantian bulan serta...

Evolusi Sistem Asesmen Pendidikan di Indonesia: Dari UN hingga TKA

Perjalanan sistem ujian di Indonesia mencerminkan dinamika kebijakan pendidikan nasional yang terus berupaya mencari format terbaik untuk mengukur dan meningkatkan mutu pendidikan. Sejak kemerdekaan hingga...

Membangun Ranting dan Cabang Muhammadiyah Unggulan

Ada banyak sorotan dan kritik yang menurut saya penting berkaitan dengan kondisi Muhammadiyah di abad kedua ini. Salah satu yang menonjol adalah kritik tentang krisis...

Saat Mimpi Seorang Anak Patah di Ujung Tali

Pagi itu seharusnya seperti pagi lain bagi seorang anak berusia sepuluh tahun. Usia di mana dunia masih dipenuhi warna pensil, tawa teman sekolah, dan mimpi...

Pesan Mbah Moen pada Guru: Lelah Itu Datang Saat Niat Mulai Bergeser

Banyak guru hari ini mengajar dengan tubuh di kelas, tetapi hatinya tertinggal di rumah kelelahan. Bukan hanya lelah fisik karena jam mengajar, administrasi, dan tuntutan...

Guru Honorer vs Petugas MBG: Saat Kelayakan Gaji Menjadi Cermin Kejanggalan Sosial

Di ruang publik Indonesia hari ini, muncul perbandingan yang terasa menampar nurani: gaji guru honorer kerap kalah dari petugas MBG (Makan Bergizi Gratis). Bukan untuk...

Behavioral Addiction: Saat Pornografi Ubah Cara Kerja Otak Manusia

Daftar IsiBehavioral Addiction dalam Psikologi ModernOtak yang Terlatih pada Stimulus InstanKesehatan Mental dan Relasi yang TergangguAl-Qur’an dan Penjagaan KesadaranKecanduan sebagai Masalah KesadaranMembebaskan Otak, Mengembalikan MartabatTidak...

Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Masyarakat Indonesia saat ini banyak mengalami permasalahan yang mendera. Kenakalan remaja yang tiada henti sepeprti tawuran antar-pelajar, bullying, geng motor dan perilaku lainnya menjadi berita...

Guru Bukan Penjaga Toko, Tapi Penjemput Masa Depan

Sekolah swasta tidak hidup dari “menunggu”, tetapi dari “menjemput”. Ini kenyataan yang kadang pahit, namun harus diakui bersama, terutama oleh para guru. Di tengah persaingan...

Leave a comment