Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Parenting atau Panggung Drama? Fenomena Orang Tua Menyudutkan Anak Demi Konten

Dr. Elinda Rizkasari, Editor: Sholahuddin
Senin, 28 Juli 2025 20:31 WIB
Parenting atau Panggung Drama? Fenomena Orang Tua Menyudutkan Anak Demi Konten
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Dr. Elinda Rizkasari (dok. pribadi).

Belakangan ini, di media sosial ramai dengan video-video orang tua yang memarahi, membentak, bahkan mempermalukan anak-anaknya di depan kamera. Ironisnya, banyak dari video tersebut justru diunggah oleh sang orang tua, lengkap dengan caption seperti “biar netizen yang menilai” atau “buat pelajaran supaya anak kapok.”

Fenomena ini menggambarkan kegelisahan baru dalam dunia pengasuhan: saat parenting berubah menjadi panggung drama digital. Awalnya mungkin dianggap lucu, spontan, atau edukatif. Namun, lama-lama, konten semacam itu menjamur menjadi bentuk nyata dari eksploitasi psikologis yang menjadikan anak sebagai objek tontonan publik, bukan hanya sebagai subjek pendidikan. Padahal, anak-anak sendiri belum memiliki kapasitas untuk menyetujui eksposur digital seperti itu. Apalagi, pada dunia internet tidak pernah lupa serta akan meninggalkan jejak digital seumur hidup. Sekali diunggah, rekaman bisa dibagikan tanpa batas waktu dan ruang.

Penelitian terbaru yang dirilis oleh Sapien Labs pada tahun 2025 menyatakan bahwa anak yang terpapar media sosial sebelum usia 13 tahun lebih rentan mengalami gangguan psikologis, dimulai dari kecemasan, gangguan tidur, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan. Angka hasil penelitian yang sangat mengejutkan, mengingat kini banyak anak sudah “viral” bahkan sejak belum bisa membaca.

Di sisi lain, praktik yang dikenal sebagai sharenting di saat orang tua membagikan konten anak tanpa persetujuan juga kian marak. Survei tahun pada tahun 2025 menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen remaja merasa tidak nyaman dengan jejak digital yang dibuat oleh orang tuanya sejak kecil. Banyak yang mengaku malu, terganggu, bahkan menjauh dari keluarga karena masalah ini.

Bisa dibayangkan, seorang anak kecil yang hari ini menangis karena dijewer oleh orang tuanya lalu videonya viral, mungkin kelak akan tumbuh dengan trauma, rasa rendah diri, bahkan kemarahan tersembunyi pada diri mereka. Dan semuanya terjadi karena momen yang seharusnya menjadi pembelajaran privat justru dibuka menjadi drama publik.

Mengapa terus terjadi? Jawabannya mungkin terletak pada kehausan sebagian orang tua akan validasi sosial dan aktualisasi diri. “Anak harus disiplin,” katanya. Tapi yang dicari justru likes dan komentar. Tak heran jika parenting hari ini terbelah antara yang sungguh-sungguh mendidik dan yang sekadar mencari perhatian.  Di sisi lain, belum semua orang tua memiliki akses ke pengetahuan pengasuhan yang sehat. Banyak yang masih memegang pola lama keras, tanpa ruang dialog mereka karena mengira itulah cara terbaik mendidik anak. Padahal, ilmu psikologi modern telah lama menunjukkan bahwa pendekatan positif dan penuh empati jauh lebih efektif membentuk karakter anak yang tangguh dan berdaya.

Orang Tua Perlu Menyadari

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Pertama, orang tua perlu menyadari bahwa anak adalah individu utuh yang punya hak atas rasa aman, harga diri, dan privasi. Kamera seharusnya tidak menjadi alat kontrol. Bila marah, selesaikan di ruang privat, bukan di depan jutaan pasang mata.  Kedua, perlu ada edukasi parenting berbasis bukti yang lebih luas baik melalui sekolah, komunitas, maupun platform digital yang benar-benar peduli pada keselamatan anak. Kampanye publik juga harus mulai menyinggung bahaya konten viral yang merusak psikologis anak.

Ketiga, pemerintah dan platform media sosial sebaiknya bersinergi dalam mengatur konten anak. Aturan seperti batas usia minimal, persetujuan eksplisit, dan pelaporan konten eksploitasi harus ditegakkan dengan serius. Keempat, yang terakhir dan yang paling penting adalah mari kembalikan esensi dari parenting itu sendiri. Anak tidak butuh menjadi bintang konten. Mereka butuh didengar, dimengerti, dan dibimbing dengan kasih sayang.

Menjadi orang tua bukan berarti punya kuasa atas segalanya. Tapi punya tanggung jawab untuk menciptakan ruang tumbuh yang sehat, tenang, dan penuh cinta. Di luar kamera, jauh dari panggung drama. Dengan memberi contoh yang baik bagi anak, maka kelak anak akan mencontoh kepribadian dari kita.

 Penulis adalah dosen Prodi PGSD Unisri Surakarta

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...