Mobile Swipe Up
Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
Wrapt Top
Wrapt Left
Wrapt Right
Opini

Ketika Status ASN Dianggap Segalanya dan Mentalitas Dilupakan

Adam Aryo Gumilar, Editor: Sholahuddin
Rabu, 23 Juli 2025 19:56 WIB
Ketika Status ASN Dianggap Segalanya dan Mentalitas Dilupakan
MUHAMMADIYAHSOLO.COM - Adam Aryo Gumilar (dok. pribadi).

Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi nasional, terdapat satu ironi yang terus mengemuka dalam kehidupan masyarakat kita, yakni cara sebagian besar orang memandang profesi aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Tak dapat dimungkiri, ASN kerap dipersepsikan sebagai lambang kesuksesan, jaminan stabilitas hidup, dan simbol prestise sosial. Pandangan ini begitu mengakar, hingga banyak orang tua menjadikan status ASN sebagai salah satu doa andalan bagi masa depan anak-anak mereka. Status itu dianggap membawa kemapanan serta status sosial yang tinggi di tengah masyarakat. Tak jarang pula, ASN disebut sebagai “mantu idaman”. Hal itu yang menjadi salah satu alasan mengapa animo pendaftar CPNS selalu tinggi.

Sebenarnya, pola pikir semacam ini masih bisa dimaklumi jika datang dari masyarakat umum yang mendambakan kestabilan di tengah kerasnya persaingan kerja. Namun, yang patut disayangkan, ketika pola pikir ini justru diinternalisasi oleh para ASN itu sendiri. Ketika seorang ASN mulai menganggap status dan kenyamanan sebagai pencapaian utama, maka nilai luhur profesi ini seperti semboyan “bangga melayani bangsa” secara perlahan mulai luntur. Pekerjaan sebagai ASN pun bergeser dari semangat pengabdian menjadi simbol status sosial, menjauh dari esensi pelayanan publik yang seharusnya menjadi fondasi utamanya.

Namun, di balik romantisasi status ASN/PPPK tersebut, tersembunyi realitas getir yang tidak ada romantisnya sama sekali. Baru-baru ini, di berbagai portal media santer memberitakan angka perceraian di kalangan ASN dan PPPK meningkat drastis terutama di daerah seperti Cianjur, Bondowoso, dan Wonogiri. Yang mengejutkan, banyak dari gugatan tersebut justru datang dari pihak ASN yang belum lama diangkat. Fenomena ini seakan memperjelas serta menunjukkan perubahan pola pikir yang cukup memprihatinkan di kalangan ASN. Ketika status dan penghasilan naik, komitmen dan kesetiaan dalam hubungan justru menurun.

Padahal, sebelum diangkat menjadi ASN, barangkali saat hidupnya masih sederhana dan penghasilan terbatas, justru romantisme sering kali tumbuh subur. Dalam kesederhanaan itu, ikatan emosional kadang terasa lebih kuat. Semangat untuk saling menopang secara ekonomi dengan pasangan menjadi fondasi hubungan. Namun,  setelah meraih kenyamanan finansial dan status sosial baru, sebagian di antara mereka justru merasa berhak menuntut “standar baru” dalam hubungan, seolah lupa pada perjuangan dan kebersamaan di masa sulit.

Relasi Kuasa Perburuk Moral

Lebih mengkhawatirkan lagi, terjadi kasus pelecehan seksual yang dilakukan ASN terhadap pegawai non-ASN di Solo. Ini bukan sekadar pelanggaran moral dan hukum, tetapi juga bentuk nyata dari relasi kuasa yang timpang di tubuh birokrasi. Seorang ASN, karena status dan jabatannya, merasa lebih tinggi dan memiliki hak memperlakukan bawahan dengan cara yang tidak pantas. Dalam konteks ini, profesi yang seharusnya menjadi teladan justru menjadi pelaku kekerasan struktural.

Mengapa ini bisa terjadi? Salah satu akar masalahnya terletak pada ketidakmatangan mental dan psikologis para ASN dan PPPK. Banyak di antara mereka belum siap secara emosional dan spiritual untuk menghadapi perubahan status sosial dan ekonomi. Mereka tidak memiliki fondasi nilai yang kuat ketika diuji dengan kekuasaan dan kenyamanan hidup. Dalam perspektif psikologi, ini berkaitan dengan rendahnya tingkat emotional intelligence (kecerdasan emosional) dan self-awareness. Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional Intelligence, menekankan bahwa kecerdasan emosional justru lebih berpengaruh terhadap keberhasilan dan stabilitas hidup seseorang dibandingkan IQ semata.

Dalam pandangan Islam, hal ini pun telah diantisipasi. Dalam surah Al Baqarah ayat (286), Allah menegaskan bahwa manusia tidak akan dibebani lebih dari kemampuannya. Namun, ketika manusia tidak mampu menyeimbangkan amanah dengan nafsu dan ego, kehancuran moral dan sosial bisa menjadi konsekuensinya. Nabi Muhammad SAW juga bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, menjadi ASN bukan hanya tentang menerima gaji dari negara, tetapi juga tanggung jawab sosial, moral, dan spiritual yang besar.

Sudah saatnya pemerintah tidak hanya fokus pada proses seleksi berbasis nilai tes dan administrasi, tetapi juga pembentukan karakter dan kedewasaan mental ASN. Pendidikan prajabatan dan pelatihan rutin harus mencakup materi tentang nilai-nilai integritas, tanggung jawab moral, dan ketahanan emosional. Selain itu, pemerintah harus menyediakan layanan konseling psikologis, khususnya bagi ASN yang mengalami perubahan besar dalam hidupnya, seperti pengangkatan jabatan atau pergeseran lingkungan kerja. Layanan ini harus didukung sistem pelaporan pelanggaran etika dan pelecehan seksual yang aman dan berpihak pada korban, terutama pegawai non-ASN yang sangat rentan terhadap relasi kuasa yang timpang.

Sudah saatnya pola pikir masyarakat dalam memandang ASN dan PPPK bukan simbol kesuksesan, jaminan stabilitas hidup, dan simbol prestise sosial, tetapi pelayan masyarakat. Mereka adalah wajah negara yang seharusnya mencerminkan keadilan, empati, dan tanggung jawab. Jika mereka yang dipercaya untuk melayani justru menjadi pelaku ketidakadilan, maka krisis moral dalam birokrasi akan terus melebar. Pemerintah harus bertindak cepat dan tegas untuk membenahi ini, sebelum publik kehilangan kepercayaan terhadap aparatur negara.

Penulis adalah aktivis di Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kab. Wonogiri.

Rekomendasi Redaksi

Berita Terbaru

Mengapa Pelecehan Masih Dianggap Biasa?

Setiap tahun, nama R.A. Kartini kembali diangkat ke permukaan. Perempuan mengenakan kebaya, kutipan-kutipan inspiratif dibagikan, dan narasi tentang emansipasi memenuhi ruang publik. Kita seolah sepakat...

Dekat Tapi Jauh : Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna

Judul “Dekat Tapi Jauh: Saat Ibadah Tak Lagi Menghadirkan Makna” menggambarkan jarak batin yang sering dialami banyak orang: ritual tetap dijalankan, tetapi rasa kedekatan dengan...

Tabayun di Era Digital: Belajar dari Haditsul Ifki untuk Melawan Hoaks

Di era digital yang serba cepat ini, arus informasi bergerak jauh melampaui kemampuan manusia untuk memverifikasinya. Dalam hitungan detik, sebuah kabar dapat menyebar luas melalui...

Lulus Seleksi, Tapi Dibunuh Biaya

Setiap tahun, ribuan pelajar Indonesia merayakan satu momen yang dianggap sakral: pengumuman kelulusan seleksi masuk perguruan tinggi. Nama yang terpampang di layar seolah menjadi tiket...

Megahnya SPPG, Rapuhnya SD: Ironi dari Majalengka

Majalengka hari ini sedang berdiri di antara dua wajah pembangunan yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, berdiri bangunan SPPG yang megah, bersih, dan tampak...

Kasih Sayang Ayah, Fondasi Kuat bagi Tumbuh Kembang Anak Perempuan

Islam menempatkan anak dalam posisi yang sangat penting dalam konteks pendidikan, karena tugas suci ini termasuk fardlu ‘ain bagi setiap orang tua. Maka dosa besar...

Relevansi QS. Al-Mutaffifin dalam Program MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan ditargetkan...

Mengapa yang Kita Yakini Tak Selalu Kita Jalani?

Fenomena ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika apa yang diyakini sebagai kebenaran ternyata tidak diikuti oleh tindakan nyata....

Hidup di Tengah Notifikasi: Mengapa Kita Mudah Lelah Secara Emosional?

Hidup manusia hari ini hampir tidak pernah benar-benar sepi. Sejak bangun tidur, tangan langsung mencari ponsel untuk melihat pesan, berita, media sosial, atau notifikasi yang...

Mengapa Al-Qur’an Penting dalam Isu Krisis Iklim Global?

Krisis iklim global saat ini tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan krisis cara pandang manusia terhadap alam. Berbagai solusi yang ditawarkan selama ini...

Syahadah di Media Sosial: Persaksian atau Pencitraan?

Sebuah informasi atau berita di dalam Islam, dinyatakan valid dan terverifikasi jika ditemukan adanya saksi mata. Persaksian ini disebut syahadah (pernyataan kebenaran) syarat akan ‘ilm...

Hidup Terlihat Sempurna, Lalu Mengapa Hati Serasa Kosong?

Fenomena sosial yang sering kita lihat dari berbagai sudut mulai dari sosial media, kehidupan sehari-hari atau bahkan di lingkungan sekitar kita. Banyak fenomena yang dapat...