Forum Guru Muhammadiyah (FGM), berdiri tahun 2016, merupakan wadah bagi guru-guru Muhammadiyah untuk pengembangan dan aktualisasi diri. FGM sekaligus sebagai wahana konsolidasi dan pengembangan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Meski telah memiliki wadah untuk berhimpun, akan tetapi tidak sedikit guru Muhammadiyah yang kehilangan arah dan mengalami disorientasi sehingga terjebak dalam rutinitas keseharian. Mereka kesulitan mendefinisikan jati diri atau identitas diri sebagai guru Muhammadiyah, apa perbedaan mendasar guru Muhammadiyah dengan guru-guru lain? Benarkah guru Muhammadiyah terbatas pada mereka yang menjadi pendidik di sekolah Muhammadiyah? Bagaimana dengan aktivis Muhammadiyah yang mengajar di sekolah pemerintah/negeri.
Kalau sekolah Muhammadiyah diibaratkan kapal yang berlayar jauh mengarungi samudra, maka para guru adalah awak kapal dan nakhoda yang bertanggung jawab atas kelancaran perjalanan kapal untuk sampai pada tujuan pendidikan Muhammadiyah. Tujuan pendidikan Muhammadiyah ialah terwujudnya manusia Muslim yang bertakwa, berakhlak mulia, percaya pada diri sendiri, cinta Tanah Air, dan berguna bagi masyarakat dan negara, beramal menuju terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang dirindhai Allah SWT.
Penyelanggara dan pengelola pendidikan Muhammadiyah harus memastikan bahwa kapal bernama sekolah Muhammadiyah dapat meluncur sesuai kiblat yang telah ditentukan. Namun demikian secara empiris dapat dilihat secara kasat mata, tidak sedikit pengelola yang kehilahan arah, sehingga perjalanan kapal berbelok arah tidak sejalan dengan tujuan awal Muhammadiyah. melainkan dibelokkan sesuai kemauan nakhoda kapal.
Kehilangan Arah
Indikator paling kasat mata dari guru-guru Muhammadiyah yang mengalami kehilangan arah adalah dia menjadi guru atau pendidik di sekolah Muhammadiyah tetapi tidak memahami visi dan tujuan pendidikan Muhammadiyah. Dia berada (mengajar) di sekolah Muhammadiyah sekadar mencari pekerjaan. Ia akan segera meninggalkan tanggungjawab sebagai guru ketika ada pekerjaan lain yang dipandang lebih menjanjikan.
Karena mencari pekerjaan di tempat lain yang lebih menjanjikan seringkali membutuhkan waktu yang lama, maka dia terpaksa menjalani profesi guru Muhammadiyah dalam waktu yang tidak singkat. Meski lama bekerja, tetapi nilai-nilai atau pun ideologi Muhammadiyah tidak pernah merasuk dalam sanubarinya. Mereka bekerja setengah hati, bekerja setengah-setengah, sehingga sekolah yang menaungi bukannya bertambah maju, tetapi malah semakin merosot siswanya. Kehadiran mereka justru menjadi beban bagi sekolah Muhammadiyah.
Lebih parah lagi apabila mereka, karena sesuatu dan lain hal, diangkat menjadi seorang kepala sekolah. Maka yang dipikirkan pertama kali bukanlah bagaimana meningkatkan kesejahteraan guru-gurunya, tetapi justru malah bagaimana menyejahterakan dan memperkaya dirinya sendiri. Dia tidak peduli dengan pengembangan aset sekolah, fokusnya bagaimana memperkaya kaya diri sendiri tidak peduli dengan rambu-rambu keuangan persyarikatan. Dia berpikir bahwa kewibawaan seorang kepala sekolah terletak pada kekayaan atau kepemilikan barang-barang mewah, sehingga semakin kaya kepala sekolah akan terlihat semakin berwibawa.
Demikian garis besar sketsa atau potret guru-guru Muhammadiyah yang kehilangan arah dan orientasi kemuhammadiyahannya. Ketika sekolah Muhammadiyah sebagian besar gurunya kehilangan orientasi/arah, maka sekolah Muhammadiyah tinggal simbol atau nama, karena di dalamnya berisi orang-orang yang tidak memiliki komitmen untuk menjadikan sekolah sebagai lahan dakwah, tetapi hanya untuk menuruti hawa nafsu dan keinginan-keinginan pribadi para pengelolanya.
Pertanyaannya adalah, mengapa mereka bisa kehilangan arah? Menjawab masalah ini memerlukan kajian yang mendalam. Suatu daerah dengan daerah lain memiliki kompleksitas permasalahan yang berbeda-beda, demikian pula kondisi suatu sekolah dengan sekolah lainnya. Meskipun muncul kompleksitas masalah yang demikian pelik dan beragam, tetapi ada satu masalah mendasar mengapa guru-guru Muhammadiyah kehilangan arah, yaitu ketiadaan pedoman guru Muhammadiyah yang dapat dijadikan pegangan oleh seluruh guru Muhammadiyah baik yang ada di perkotaan maupun di pelosok pedesaan, bahkan daerah pedalaman.
Pertanyaan selanjutnya adalah, benarkah sepanjang sejarah pendidikan Muhammadiyah belum pernah ada buku pedoman guru Muhammadiyah? Kelemahan mendasar kita selama ini adalah tuna historis, mengabaikan sejarah, dan mengalami keterputusan sejarah, sehingga selalu memulai dari nol lagi ketika melakukan inovasi atau pun pengembangan pendidikan. Padahal para pendahulu kita telah lama memikirkan dan merumuskan pedoman guru Muhammadiyah.
Bila kita bersedia berhenti sejenak dan membuka lembaran-lembaran sejarah akan menemukan bahwa pada tahun 1977 Majelis Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah berhasil menyusun dan mengesahkan secara resmi untuk menjadi Pedoman Guru Muhammadiyah (PGM). Tim penyusun terdiri atas tokoh-tokoh pendidakan dan ulama Muhammadiyah yang terdiri atas: H.R. Darsono, Kiai Sahlan Rosyidi, Drs. Sukadi, H.S. Prodjokusumo, dan H.S. Wignyowardoyo. Bila dibaca dan telaah secara mendalam, muatan dan isi pedoman guru Muhammadiyah masih tetap aktual untuk dijadikan pegangan wajib bagi guru-guru Muhammadiyah.
Sepintas tentang Pedoman Guru Muhammadiyah (PGM)
Majelis Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan PP Muhammadiyah tahun 1977 yang diketuai H.S. Prodjokusumo dan Drs. Haiban sebagai sekretaris dalam kata pengantar diundangkannya PGM menandaskan: “Pedoman ini laksana sebuah kompas bagi nakhoda dan awak kapal, sehingga tidak akan kehilangan arah di samudra luas”. Dengan kalimat lainnya, guru-guru Muhammadiyah yang tidak membaca dan berpegang pada PGM telah kehilangan arah dalam mengemudikan sekolah di tengah gelombang samudra pendidikan yang terus bergolak.

Secara garis besar PGN memuat tiga bagian, yaitu: mukadimah, pedoman umum, dan pedoman pengetrapan kaidah perguruan dasar dan menengah Muhammadiyah. Mengingat keterbatasan ruang, di sini kami bahas bagian kedua, yaitu pedoman umum yang banyak berbicara tentang guru Muhammadiyah. Dalam bab 1, pada Pendahuluan dijelaskan secara antropologi filsafat tentang hakikat makhluk, manusia hidup bermasyarakat, manusia itu guru, dan murid. Di sini ditandasakan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang untuk mengembangkan dirinya harus hidup bermasyarakat. Masyarakat yang maju adalah yang warganya bersedia untuk terus belajar, sehingga di dalam masyarakat hanya ada dua kelompok yaitu guru dan murid yang secara bersama-sama terus belajar dan beramal.
Selanjutnya, pada bab 2 dijelaskan fungsi guru Muhammadiyah yang membahas beberapa konsep kunci dari sudut pandang filsafat pendidikan dan ideologi Muhammadiyah yang meliputi: arti dan fungsi guru Muhammadiyah, guru Muhammadiyah pengemban amanat khalifah, guru Muhammadiyah pengembang amanat risalah islamiyah, guru Muhammadiyah pembina akhlak Muhammadiyah, sikap moral guru Muhammadiyah, tugas profesinya adalah sebagian dari hidupnya, dan guru Muhammadiyah sebagai pembimbing dan penyuluh.
Berdasarkan tampilan sepintas dua bab di atas dapat kita tangkap bahwa PGM memuat dimensi filosofis dan ideologis pendidikan Muhammadiyah yang dapat dijadikan sebagai pedoman guru-guru Muhammadiyah dalam menjalani profesinya di satu sisi sekaligus sebagai usaha untuk mengembangkan Persyarikatan. Dengan memahami, menghayati dan mengamalkan PGM maka guru-guru akan semakin memahami jati diri dan identitas diri sebagai guru Muhammadiyah sehingga ia dapat bekerja dengan penuh totalitas.
Dengan berhenti sejenak dari hiruk-pikuk keseharian dan sudi berselancar ke masa lalu, membuka satu-satu lembaran-lembaran sejarah, kita menemukan kembali arah pendidikan Muhammadiyah. Guru-guru Muhammadiyah yang tengah kebingungan dan kehilangan arah kembali menemukan kiblat pendidikan yang benar. Mengingat pentingnya dokumen ini ada baiknya kita baca ulang, kita kaji kembali, dan kita sosialisasikan serta secara masif kepada para pelaku pendidikan Muhammadiyah.
Penulis adalah Ketua Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo.
Renungan Tahun Baru 1448 Hijriah: Saatnya Pulang kepada Allah
Bismillahirrahmanirrahim. Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, tanpa terasa satu tahun telah berlalu. Hari demi hari kita lewati dengan berbagai cerita. Ada tawa yang pernah menghiasi hidup,...
Belajar Bernapas di Tengah Sesak
Indonesia tidak sedang perang. Mal-mal masih ramai. Konser musik tetap dipenuhi lautan manusia. Kafe-kafe baru terus bermunculan. Linimasa media sosial dipenuhi video liburan, diskon besar-besaran,...
TKA dan Ancaman Marjinalisasi Ismuba
Kebijakan asesmen pendidikan Indonesia kembali memantik kegelisahan pada relung pembelajaran di Muhammadiyah, khususnya bagi pendidikan Ismuba (Al Islam, Ke-Muhammadiyahan dan Bahasa Arab). Tes Kemampuan Akademik...
Sang Pencari Makna
“Aku tahu kehidupan ini tiada arti, namun aku masih percaya bahwa ada suatu makna yang paling berarti, yakni aku (manusia).” Albert Camus – Krisis Kebebasan...
Menolak Politeisme Politik
Salah satu persoalan dakwah Islam di Indonesia saat ini adalah kecenderungannya yang lebih banyak berkonsentrasi pada pembangunan kesalehan individu. Mimbar-mimbar dakwah dipenuhi pembahasan tentang ibadah...
Krisis Peran Perempuan: Refleksi Ketiadaan IMMawati dalam Calon Formatur Musycab XLIV IMM Surakarta
Muhammadiyah dalam sejarahnya sukses melahirkan tokoh-tokoh bangsa dengan berbagai pengaruhnya, termasuk tokoh perempuan. Hal ini dibuktikan dengan adanya organisasi otonom (ortom) khusus perempuan yakni ‘Aisyiah...
Tuhan, Aku Takut Jika Engkau Dipakai untuk Menakutiku
“Tuhan Maha Pengasih, Tuhan Maha Penyayang.” Kalimat ini sering kita dengar sejak kecil, bahkan menjadi hafalan pertama dalam hidup seorang Muslim. Namun entah sejak kapan,...
Perspektif Al-Qur’an tentang Kesehatan Mental
Beberapa hari terakhir, media sosial diramaikan oleh kabar yang menyayat hati. Seorang pemuda ditemukan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan. Tidak ada yang tahu persis...
Antara Gula, Darah, dan Doa: Memaknai Penyakit dalam Pelukan Kasih Allah
Pernahkah kita tertegun melihat hasil laboratorium yang menunjukkan angka gula darah melonjak, atau tensi yang menembus batas normal? Di titik itu, sering kali muncul pertanyaan...
Pengaruh Artificial Intelligence (AI) terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia
Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan. Di Indonesia, kehadiran AI mulai mengubah cara belajar,...
Seni Menjaga Kekhusyukan di Balik Notifikasi Smartphone
Bayangkan kamu sedang membaca Al-Qur’an dengan khusyuk, suara lembut ayat-ayat suci mengalir pelan dari bibirmu—lalu tiba-tiba, ding! Notifikasi masuk ke HP mu. Sebuah meme lucu...
Ruang Imajiner: Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, dan Rakyat Membahas Penentuan 1 Syawal 2026
Malam itu, langit terasa berbeda. Takbir belum berkumandang, tetapi perdebatan sudah riuh di mana-mana. Di masjid, di grup WhatsApp, bahkan di warung kopi, satu pertanyaan...







